Ada kalanya, benda yang paling akrab dengan kita justru yang paling sering kita lalaikan fungsinya. Bantal, misalnya. Ia menopang kepala kita dalam lelap, menjadi saksi bisu mimpi dan kelelahan kita, namun ia ada saat kita tak sadarkan diri. Betapa mengerikan jika kita memperlakukan Al-Qur’an, kalam Allah yang mulia, laksana bantal. Ia ada di dalam dada, tersimpan dalam ingatan, namun hanya menemani kita dalam “tidur” dan kelalaian, tanpa pernah kita ajak terjaga untuk menerangi kegelapan malam. Ini bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah ancaman serius yang pernah disabdakan oleh lisan mulia Rasulullah ﷺ.
Sebuah riwayat yang sampai kepada kita dari kitab agung Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam menukil sebuah percakapan yang begitu menggetarkan. Peringatan ini menunjukkan betapa besarnya bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal.
Disebutkan perihal seorang laki-laki di sisi Nabi ﷺ, maka beliau bersabda: “Dia adalah seorang laki-laki yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal.”
Pada awalnya, pujian ini terdengar unik. Apa maksudnya “tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal”? Imam Abu ‘Ubaid kemudian menyambung dengan penjelasan dari seorang tabi’in mulia, Al-Hasan Al-Bashri, ketika beliau ditanya tentang seorang penghafal Al-Qur’an yang kemudian tidur dan melalaikannya. Jawaban beliau menyingkap makna yang sesungguhnya:
يَتَوَسَّدُ الْقُرْآنَ، لَعَنَ اللَّهُ ذَاكَ
“Dia telah menjadikan Al-Qur’an sebagai bantalnya, semoga Allah melaknat orang itu.”
Makna Mendalam di Balik ‘Bantal Al-Qur’an’
Dari penjelasan Al-Hasan Al-Bashri, kita memahami bahwa frasa ini adalah sebuah majas atau kiasan yang luar biasa dalam. Maknanya bukanlah tidur di atas mushaf secara harfiah. Namun, ia adalah sindiran keras bagi seorang yang telah Allah anugerahi nikmat menghafal Al-Qur’an (jam’ul qur’an), namun ia membiarkan hafalan itu terlelap bersamanya sepanjang malam. Dadanya penuh dengan ayat-ayat Allah, namun lisannya terkunci, dan kakinya enggan berdiri untuk shalat malam (qiyamullail) dengannya.
Ia memperlakukan hafalan Qur’annya seperti bantal: hanya ada untuk menemaninya istirahat dalam kelalaian, bukan untuk membangunkannya dalam ketaatan. Inilah esensi dari bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal; mengubah anugerah teragung menjadi aset yang pasif dan tak bernyawa.
Sebuah Peringatan yang Menggetarkan
Ungkapan “la’anallahu dzaak” (semoga Allah melaknatnya) dari Al-Hasan Al-Bashri bukanlah kalimat ringan. Ia menunjukkan betapa besar dosa melalaikan Al-Qur’an setelah Allah memuliakan seseorang dengannya. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah. Seorang penghafal Al-Qur’an (hamilul qur’an) adalah pembawa panji-panji Islam. Bagaimana mungkin sang pembawa panji justru tertidur lelap saat malam-malam penuh keberkahan memanggil?
Peringatan ini menjadi cambuk bagi jiwa kita semua, para penghafal dan pegiat Al-Qur’an. Sudahkah kita menunaikan hak-hak dari ayat yang kita simpan di dalam dada? Ataukah kita justru telah merasakan bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal tanpa kita sadari, membiarkannya terkubur dalam kesibukan duniawi di siang hari dan lelapnya tidur di malam hari?
Mengubah Bantal Menjadi Cahaya Malam
Lalu, bagaimana cara kita menghindar dari ancaman mengerikan ini? Jawabannya adalah dengan melakukan kebalikannya: menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat terjaga di keheningan malam. Bukan sebagai bantal yang melenakan, melainkan sebagai sumber cahaya yang menerangi sajadah.
Bangunlah di sepertiga malam terakhir. Basuhlah wajah dengan air wudhu. Lalu berdirilah, biarkan ayat-ayat yang telah kita hafal dengan susah payah mengalir lembut dari lisan. Rasakan setiap hurufnya meresap ke dalam kalbu, menjadi penawar bagi luka dan kelelahan jiwa. Di saat itulah, Al-Qur’an benar-benar hidup. Ia bukan lagi sekadar memori, melainkan dialog terindah antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Sungguh, kenikmatan shalat malam dengan hafalan sendiri adalah puncak kebahagiaan seorang penghafal Al-Qur’an. Ini adalah bukti nyata bahwa kita telah terhindar dari bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal dan memilih untuk menjadikannya lentera penerang jalan kita.
Mari kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dari kelalaian ini. Semoga Dia menjadikan kita Ahlul Qur’an yang sesungguhnya, yang terjaga bersama Al-Qur’an di malam hari dan berjalan dengan petunjuknya di siang hari. Jangan biarkan amanah mulia ini hanya menjadi hiasan di dalam dada, melainkan jadikan ia ruh yang menghidupkan setiap detik nafas kita.
Jika hati kita tergerak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, bukan sekadar hafalan yang terlelap, maka inilah saatnya mencari bimbingan dan lingkungan yang tepat untuk menjaga api semangat itu tetap menyala. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk mendampingi Anda dalam perjalanan mulia ini.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Cet. Dar Ibnu Katsir).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Titah Nabi bagi Ahlul Qur’an: Jangan Jadikan Bantal
Dalam hiruk pikuk dunia, mata kita seringkali silau oleh dua hal: limpahan harta dan keluasan ilmu. Kita mudah terpesona pada sosok yang hartanya seolah tak berseri, atau yang ilmunya laksana samudra tak bertepi. Namun, pernahkah kita bertanya, pesona seperti apa yang sesungguhnya layak membuat hati kita cemburu dalam arti yang paling positif? Rasulullah ﷺ, sang penuntun jiwa, telah memberikan jawabannya. Beliau mengarahkan pandangan kita pada dua sosok mulia yang interaksinya dengan karunia Allah menjadi sebuah simfoni abadi, siang dan malam. Ini adalah sebuah pengantar untuk memahami agungnya sebuah perintah untuk penghafal Al-Qur’an.
Dua Sosok yang Layak Dirindukan Kemuliaannya
Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadhailul Qur’an, menukilkan sebuah hadis yang begitu indah. Hadis ini seakan melukiskan potret manusia yang hidupnya paling bernilai di sisi Allah. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak ada hasad (yang dibenarkan) kecuali pada dua orang: seseorang yang Allah anugerahi Al-Qur’an lalu ia mendirikannya (dalam shalat dan membacanya) di sepanjang malam dan siang, dan seseorang yang Allah anugerahi harta lalu ia menginfakkannya di sepanjang malam dan siang.” (Diriwayatkan dalam Fadhailul Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)
Kata hasad di sini bukanlah dengki yang tercela, melainkan ghibthah, yaitu sebuah keinginan luhur untuk memiliki nikmat serupa tanpa berharap nikmat itu hilang dari orang lain. Perhatikanlah, sosok pertama yang kemuliaannya patut kita dambakan adalah Haamilul Qur’an, sang pembawa Al-Qur’an. Namun, bukan sekadar membawa dalam hafalan, melainkan “yaquumu bihi”—ia berdiri tegak bersamanya, menghidupkannya dalam shalat, merenunginya dalam setiap detak waktu, baik di keheningan malam maupun di keramaian siang. Inilah esensi pertama dari perintah untuk penghafal Al-Qur’an: bukan memiliki, tapi menghidupkan.
Sebuah Peringatan Keras: “Jangan Jadikan Al-Qur’an Bantal”
Jika hadis pertama melukiskan puncak kemuliaan, maka hadis berikutnya memberikan peringatan yang menusuk kalbu. Sebuah teguran cinta dari Rasulullah ﷺ agar kita tidak tergelincir setelah meraih anugerah agung berupa hafalan Al-Qur’an.
“Wahai Ahlul Qur’an, janganlah kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal, dan bacalah ia sepanjang malam dan siang.” (Diriwayatkan dalam Fadhailul Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)
Metafora “menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal” (lā tawassadul Qur’an) adalah kiasan yang luar biasa dalam. Bantal adalah teman lelap, simbol istirahat, lambang pasif dan diam. Rasulullah ﷺ seolah berkata, “Wahai para penghafal, jangan sampai hafalan yang ada di dadamu itu hanya menjadi hiasan pengantar tidur. Jangan biarkan ia diam, pasif, dan terlupakan.” Betapa banyak dari kita yang telah berjuang menghafal, namun kemudian membiarkan hafalan itu terkulai lemas, hanya menjadi kenangan manis tanpa interaksi aktif.
Ini adalah sebuah perintah untuk penghafal Al-Qur’an yang sangat fundamental. Harta paling berharga yang dititipkan di dalam dada kita ini bukanlah untuk disimpan, melainkan untuk dizakati melalui lisan yang tak henti melantunkannya dan hati yang tak lelah merenunginya.
Jalan Hidup Sang Ahlul Qur’an
Dua hadis ini membentangkan jalan bagi kita. Di satu sisi, ada puncak kemuliaan bagi mereka yang senantiasa “berdiri” bersama Al-Qur’an. Di sisi lain, ada jurang kelalaian bagi mereka yang menjadikannya “bantal”. Kuncinya ada pada frasa yang diulang dalam kedua riwayat tersebut: “ā-nā-al laili wan nahār” (di sepanjang malam dan siang).
Interaksi dengan Al-Qur’an bukanlah proyek musiman atau agenda sesaat. Ia adalah napas kehidupan seorang mukmin. Ia adalah denyut nadi yang membuat jiwa tetap hidup. Titah untuk terus membacanya siang dan malam adalah resep ilahi agar Al-Qur’an tidak menjadi sekadar memori, tetapi menjelma menjadi pendamping, penasihat, dan cahaya yang menerangi setiap langkah.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri: Di manakah posisi Al-Qur’an dalam hidup kita hari ini? Apakah ia menjadi teman qiyamullail kita yang paling setia? Atau ia hanya menjadi bantal yang menemani kelalaian kita? Semoga Allah menganugerahkan kita kekuatan untuk menjalankan perintah untuk penghafal Al-Qur’an ini dengan istiqamah, menjadikan kita insan yang kemuliaannya dirindukan oleh penduduk langit dan bumi.
Menjalin hubungan sedalam ini dengan Al-Qur’an seringkali membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Proses menghidupkan kembali hafalan dan membumikannya dalam amal adalah sebuah perjalanan spiritual yang indah jika ditemani oleh guru yang tepat.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Maktabah Syamilah). Bab: Mā Yu’maru bihi Hāmilul Qur’an min Tilāwatihi.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Al-Quran Seluruhnya Agung: Adab yang Sering Terlupa
Ada kalanya, lisan kita mendahului kesadaran hati. Kata-kata yang terasa biasa, yang terdengar lumrah di telinga, ternyata menyimpan kekeliruan adab yang teramat dalam, terutama saat kita berbicara tentang Kalamullah. Mungkin niat kita baik, untuk menyemangati atau menyederhanakan, namun kita lupa bahwa Al-Quran seluruhnya agung, tanpa terkecuali. Ia adalah firman dari Yang Maha Agung, maka tidak ada satu bagian pun darinya yang boleh dianggap kecil atau remeh.
Teguran Tajam untuk Kata “Surat Kecil”
Bayangkan kita berada dalam sebuah majelis ilmu. Lalu seorang bertanya tentang sebuah surat, menyebutnya sebagai “surat yang kecil” atau “surat yang pendek”. Mungkin kita akan memakluminya. Namun tidak bagi para salafus shalih, yang hati mereka telah terpatri dengan pengagungan terhadap Al-Quran. Simaklah sebuah riwayat berharga dari kitab Fadhail al-Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam berikut ini:
Seorang lelaki berkata kepada Abu al-‘Aliyah: “(Ini) surat yang kecil,” atau ia berkata: “yang pendek.” Maka Abu al-‘Aliyah menjawab: “Engkau lebih kecil dan lebih hina darinya. Al-Quran itu seluruhnya agung.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail al-Qur’an)
Sebuah jawaban yang menusuk, namun menyadarkan. Abu al-‘Aliyah tidak sedang menghina, beliau sedang mendidik dan meluruskan adab. Dengan tegas beliau mengingatkan bahwa manusia, dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, jauh lebih “kecil” dibandingkan satu surat pun dari Al-Quran. Teguran ini menggarisbawahi sebuah hakikat bahwa Al-Quran seluruhnya agung. Tidak ada surat yang superior atau inferior. Yang ada hanyalah Kalamullah yang mulia.
Mengganti “Ringan” dengan “Mudah”
Kekeliruan serupa juga diluruskan dengan penuh hikmah oleh ulama tabiin lainnya, Muhammad bin Sirin. Kisah ini mengajarkan kita tentang presisi dalam memilih kata, antara yang terasa ringan di lisan dengan yang benar menurut timbangan syariat.
Khalid al-Hadzdza’ berkata kepada Ibnu Sirin: “(Ini) surat yang ringan.” Ibnu Sirin menjawab: “Dari mana ia bisa ringan, padahal Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.’ (Q.S. Al-Muzzammil: 5). Akan tetapi, katakanlah: ‘(surat) yang mudah,’ karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?’ (Q.S. Al-Qamar: 17).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail al-Qur’an)
Lihatlah betapa indahnya koreksi dari Ibnu Sirin. Beliau tidak menyalahkan niatnya, namun meluruskan lafaznya. Al-Quran bukanlah perkataan yang “ringan” (khafifah), melainkan “berat” (tsaqil). Berat timbangannya di akhirat, berat kandungan makna dan hukumnya, serta berat amanah untuk mengamalkannya. Namun, di sisi lain, Allah dengan rahmat-Nya menjadikannya “mudah” (yasirah) untuk dihafal, dipelajari, dan diingat. Jadi, meskipun Al-Quran seluruhnya agung dan berat, ia juga dimudahkan bagi hamba-Nya yang tulus.
Memuliakan Al-Quran Dimulai dari Lisan Kita
Dua kisah penuh hikmah ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi kita hari ini. Betapa sering kita mendengar, atau bahkan mengucap, kalimat seperti “Hafalkan surat-surat pendek di juz 30 dulu, ya.” Niatnya adalah memotivasi, namun tanpa sadar kita sedang membuat kategori dalam Al-Quran yang bisa menumbuhkan persepsi keliru, seolah ada surat yang lebih utama hanya karena lebih panjang.
Padahal, kemuliaan surat Al-Ikhlas tidak kalah dari Al-Baqarah dalam esensinya sebagai Kalamullah. Keduanya sama-sama firman Allah yang agung. Prinsip ini harus kita tanamkan dalam diri kita dan anak-anak kita, bahwa Al-Quran seluruhnya agung, dari Al-Fatihah hingga An-Nas.
Kesimpulan: Latih Lisan, Muliakan Kalam Tuhan
Maka, marilah kita mulai melatih lisan kita. Mengganti kata “pendek” atau “kecil” dengan “ringkas”. Mengganti kata “ringan” dengan “mudah dihafal” atau “dimudahkan”. Ini bukan sekadar permainan kata, melainkan wujud nyata dari pengagungan (ta’zhim) kita terhadap kitab suci yang mulia ini, karena kita yakin Al-Quran seluruhnya agung.
Semoga Allah membimbing setiap lisan dan hati kita untuk senantiasa memuliakan-Nya. Dan bagi jiwa-jiwa yang rindu mendalami Al-Quran dengan adab dan pemahaman yang benar, pintu selalu terbuka untuk belajar bersama di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat kita menumbuhkan cinta pada Al-Quran, dimulai dari cara kita memandangnya dan menyebutnya.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surat Al-Muzzammil: 5
Al-Qur’an, Surat Al-Qamar: 17
Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadhail al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Ada kalanya lisan kita lebih cepat dari pikiran, dan hati kita alpa dari perenungan. Kita mungkin merasa telah akrab dengan Al-Quran, membacanya berulang kali, bahkan menghafal sebagiannya. Namun, di balik keakraban itu, tersimpan sebuah celah sunyi yang rawan dimasuki kelalaian. Sebuah kelalaian yang berujung pada sikap yang tidak semestinya, inilah muara dari bahaya meremehkan Al-Quran yang seringkali tidak kita sadari.
Kisah Ummu Darda’ dan Makna “Aku Telah Membelakanginya”
Mari kita selami sebuah fragmen sejarah yang begitu menyentuh, sebuah pelajaran adab yang datang dari seorang wanita mulia, Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha. Dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam menuturkan sebuah riwayat yang menggugah jiwa.
Dikisahkan, seorang lelaki pernah menemani perjalanan Ummu Darda’. Di tengah perjalanan, beliau bertanya, “Apakah engkau menguasai (hafal) sesuatu dari Al-Quran?” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak menguasai kecuali satu surat, dan sungguh aku telah membacanya berulang-ulang sampai aku membelakanginya (adbartuha).” Seketika, Ummu Darda’ menghentikan tunggangannya dan raut wajahnya berubah. Ia bertanya dengan nada terkejut, “Sungguhkah Al-Quran itu bisa dibelakangi (dianggap selesai dan membosankan)?” Tanpa menunggu lama, beliau berkata, “Ambillah jalan mana saja yang engkau suka (berpisahlah dariku).”
Subhanallah. Pernyataan lelaki itu, “adbartuha,” bukanlah berarti ia lupa. Justru ia telah membacanya begitu sering hingga sampai pada titik jenuh, bosan, dan merasa telah “menamatkannya” sehingga tidak perlu lagi diulang. Inilah sikap yang membuat Ummu Darda’ bergidik. Baginya, Al-Quran bukanlah buku yang bisa ditamatkan lalu diletakkan di rak. Ia adalah samudra yang tak bertepi, sumber petunjuk yang tak pernah kering, dan sahabat yang tak pernah membosankan. Inilah hakikat pertama dari bahaya meremehkan Al-Quran: menganggapnya sebagai objek yang bisa usang.
Saat Ayat Suci Dijadikan Bahan Candaan Duniawi
Kelalaian tidak berhenti di sana. Imam Abu ‘Ubaid melanjutkan dengan menukil perkataan Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama besar dari generasi tabi’in, “Dahulu mereka (para salaf) membenci jika seseorang membaca sebuah ayat Al-Quran terkait suatu urusan dunia yang sedang terjadi.”
Apa maksudnya? Imam Abu ‘Ubaid memberikan contoh yang sangat relevan hingga hari ini. Beliau berkata, ini ibarat seseorang yang ingin bertemu temannya, lalu tiba-tiba temannya itu datang tanpa diundang. Spontan, ia berkata dengan nada bercanda:
جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ
“Engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa.” (Q.S. Thaha: 40)
Sepintas, tidak ada yang salah. Namun, Imam Abu ‘Ubaid menegaskan, “Ini termasuk bentuk istikhfaf (meremehkan) Al-Quran.” Betapa agung pertemuan bersejarah antara Allah dan Nabi Musa yang diabadikan dalam ayat tersebut, lalu kita “meminjamnya” hanya untuk sebuah kebetulan kecil dalam urusan dunia kita. Menggunakan ayat suci sebagai bahan lelucon atau membandingkannya dengan peristiwa remeh adalah bentuk nyata dari bahaya meremehkan Al-Quran. Hal ini mengikis kemuliaan dan kesakralan Kalamullah dari dalam hati kita secara perlahan.
Tiada Tanding, Tiada Banding
Untuk menyempurnakan nasihat ini, dinukil pula perkataan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, “Janganlah engkau membuat tandingan bagi Kitabullah, dan tidak pula bagi Sunnah Rasulullah ﷺ.” Imam Abu ‘Ubaid menjelaskan, maksudnya adalah jangan pernah menjadikan firman Allah dan sabda Rasul-Nya memiliki padanan dari perkataan atau perbuatan manusia biasa.
Al-Quran adalah Al-Furqan, sang pembeda. Ia adalah standar, bukan sesuatu yang dibandingkan dengan standar lain. Menempatkannya setara dengan kutipan filsuf, puisi, atau kata-kata bijak lainnya adalah sebuah kekeliruan adab yang fatal. Ini menunjukkan kita belum sepenuhnya memahami kedudukan Kalamullah. Inilah puncak dari bahaya meremehkan Al-Quran; ketika kita gagal memberikan hak-Nya yang paling agung, yaitu posisi tertinggi di atas segala ucapan.
Saudaraku, perjalanan kita bersama Al-Quran adalah perjalanan seumur hidup untuk belajar memuliakan. Bukan hanya dengan lisan yang fasih, tetapi dengan hati yang tunduk dan adab yang terjaga. Mari kita introspeksi, jangan sampai keakraban kita justru melahirkan kelancangan. Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita dari setiap perbuatan yang dapat mengurangi keagungan Kalam-Nya.
Jika hati kita terpanggil untuk mendalami adab ini secara lebih terstruktur, serta membingkai interaksi kita dengan Al-Quran dalam sebuah metode yang teruji, mungkin inilah saatnya untuk memulai perjalanan yang lebih serius. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menargetkan hafalan, tetapi juga membangun kecintaan dan pengagungan yang hakiki.
Daftar Referensi
Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1415 H/1995 M.
Q.S. Thaha: 40
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Ada getar yang berbeda saat jemari menyentuh lembaran Mushaf. Bukan sekadar kertas, bukan sekadar tinta. Di sana bersemayam Kalam Sang Pencipta, firman yang menggetarkan Arsy, dan petunjuk yang menerangi semesta. Pernahkah kita merenung, bagaimana para salaf, generasi terbaik umat ini, memandang dan memperlakukan Kalam Allah? Kisah mereka menjadi cermin agung, menunjukkan betapa kemuliaan Al-Quran di mata salaf bukan sekadar teori, melainkan adab suci yang terpatri dalam setiap helaan napas dan gerak laku.
Sentuhan yang Mensucikan Jiwa: Adab Ibnu ‘Umar
Dalam riwayat yang sampai kepada kita melalui kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, terungkap sebuah kebiasaan agung dari seorang sahabat mulia, Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Sebuah cerminan adab yang lahir dari pemahaman mendalam.
Bahwasanya beliau (Ibnu ‘Umar) tidak pernah mengambil (menyentuh) Mushaf kecuali dalam keadaan suci. (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Bagi Ibnu ‘Umar, bersuci sebelum menyentuh Mushaf bukanlah sekadar ritual fisik. Ia adalah proses penyiapan batin. Seolah-olah beliau berkata, “Bagaimana mungkin aku berani menyentuh Kalam Yang Maha Suci, jika diriku sendiri belum dalam keadaan suci?” Ini adalah pelajaran pertama bagi kita. Bahwa interaksi kita dengan Al-Qur’an dimulai jauh sebelum lisan kita melantunkannya, yaitu sejak hati dan jasad kita bersiap untuk menyambutnya.
Puncak Penghormatan: Prinsip Agung Imam Malik
Jika adab Ibnu ‘Umar adalah gerbangnya, maka apa yang diajarkan oleh Imam Malik bin Anas adalah puncak dari menara penghormatan. Beliau tidak hanya mensyaratkan suci, tetapi bahkan menaikkan standar adabnya ke level yang lebih menyentuh jiwa. Sikapnya menunjukkan betapa agung kemuliaan Al-Quran di mata salaf.
Bahwasanya beliau (Imam Malik) tidak menyukai menyentuh Mushaf—sekalipun dengan talinya, atau dalam sampulnya, atau berada di atas bantal—kecuali dalam keadaan suci. Beliau berkata: “Dan hal itu tiada lain hanyalah untuk memuliakan Al-Qur’an (Ikraman lil-Qur’an).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Subhanallah. Perhatikanlah kalimat penutupnya: “Ikraman lil-Qur’an”, semata-mata untuk memuliakan Al-Qur’an. Imam Malik mengajarkan kita bahwa memuliakan Al-Qur’an bukanlah tentang hukum ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’ semata. Ini adalah tentang rasa. Rasa cinta, rasa takzim, dan rasa pengagungan yang begitu mendalam hingga menyentuh sampulnya pun terasa perlu adab yang sempurna. Beliau seakan ingin memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi dirinya untuk berlaku kurang sopan di hadapan Kalam Ilahi.
Menjaga Izzah Ilmu di Hadapan Dunia
Memuliakan Al-Qur’an ternyata tidak hanya berhenti pada adab fisik. Ia meresap hingga ke dalam sikap dan keputusan hidup. Kisah Ma’mar bin Sulaiman an-Nakha’i adalah bukti nyata bagaimana kemuliaan Al-Qur’an menjadi penjaga kehormatan seorang hamba.
Dikisahkan oleh Abu ‘Ubaid, Ma’mar bin Sulaiman, seorang yang disebut sebagai salah satu orang terbaik, memiliki suatu keperluan kepada seorang penguasa. Seseorang menyarankannya, “Mengapa engkau tidak mendatanginya dan berbicara kepadanya?” Ma’mar menjawab, “Aku sebenarnya telah berniat untuk mendatanginya, namun kemudian aku teringat Al-Qur’an dan ilmu (yang ada padaku), maka aku pun memuliakan keduanya dari hal tersebut (yakni dari menghadap penguasa untuk urusan duniawi).”
Allahu Akbar. Ma’mar bin Sulaiman membatalkan niatnya bukan karena sombong, tetapi karena beliau tidak ingin ‘izzah (kemuliaan) Al-Qur’an dan ilmu yang ia bawa tunduk atau berpotensi direndahkan di hadapan gemerlap kekuasaan dunia. Beliau lebih memilih menjaga kehormatan ilmunya daripada mendapatkan keinginannya. Inilah bukti paling otentik dari kemuliaan Al-Quran di mata salaf; ia menjadi benteng yang menjaga pemiliknya dari ketergantungan pada makhluk.
Cermin Bagi Diri Kita
Tiga kisah ini adalah tamparan lembut bagi kita semua. Sudahkah kita bersuci lahir dan batin saat hendak berinteraksi dengan Mushaf? Sudahkah kita menumbuhkan rasa ‘Ikraman lil-Qur’an’ di dalam sanubari kita? Dan yang lebih dalam, sudahkah Al-Qur’an yang kita hafal dan kita baca menjaga kita dari menundukkan kemuliaan diri di hadapan dunia?
Semoga Allah menganugerahkan kita adab dan cinta kepada Al-Qur’an sebagaimana yang dimiliki oleh para salafush shalih. Semoga setiap sentuhan kita pada Mushaf adalah sentuhan rindu, setiap lantunan adalah ungkapan cinta, dan setiap pemahaman adalah cahaya yang menjaga kehormatan kita di dunia dan akhirat. Mempelajari Al-Qur’an dengan bimbingan yang tepat adalah langkah awal untuk menumbuhkan adab mulia ini, sebuah perjalanan yang bisa kita mulai bersama.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Dar Ibn Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta