Ada kalanya lisan kita lebih cepat dari pikiran, dan hati kita alpa dari perenungan. Kita mungkin merasa telah akrab dengan Al-Quran, membacanya berulang kali, bahkan menghafal sebagiannya. Namun, di balik keakraban itu, tersimpan sebuah celah sunyi yang rawan dimasuki kelalaian. Sebuah kelalaian yang berujung pada sikap yang tidak semestinya, inilah muara dari bahaya meremehkan Al-Quran yang seringkali tidak kita sadari.
Kisah Ummu Darda’ dan Makna “Aku Telah Membelakanginya”
Mari kita selami sebuah fragmen sejarah yang begitu menyentuh, sebuah pelajaran adab yang datang dari seorang wanita mulia, Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha. Dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam menuturkan sebuah riwayat yang menggugah jiwa.
Dikisahkan, seorang lelaki pernah menemani perjalanan Ummu Darda’. Di tengah perjalanan, beliau bertanya, “Apakah engkau menguasai (hafal) sesuatu dari Al-Quran?” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak menguasai kecuali satu surat, dan sungguh aku telah membacanya berulang-ulang sampai aku membelakanginya (adbartuha).” Seketika, Ummu Darda’ menghentikan tunggangannya dan raut wajahnya berubah. Ia bertanya dengan nada terkejut, “Sungguhkah Al-Quran itu bisa dibelakangi (dianggap selesai dan membosankan)?” Tanpa menunggu lama, beliau berkata, “Ambillah jalan mana saja yang engkau suka (berpisahlah dariku).”
Subhanallah. Pernyataan lelaki itu, “adbartuha,” bukanlah berarti ia lupa. Justru ia telah membacanya begitu sering hingga sampai pada titik jenuh, bosan, dan merasa telah “menamatkannya” sehingga tidak perlu lagi diulang. Inilah sikap yang membuat Ummu Darda’ bergidik. Baginya, Al-Quran bukanlah buku yang bisa ditamatkan lalu diletakkan di rak. Ia adalah samudra yang tak bertepi, sumber petunjuk yang tak pernah kering, dan sahabat yang tak pernah membosankan. Inilah hakikat pertama dari bahaya meremehkan Al-Quran: menganggapnya sebagai objek yang bisa usang.
Saat Ayat Suci Dijadikan Bahan Candaan Duniawi
Kelalaian tidak berhenti di sana. Imam Abu ‘Ubaid melanjutkan dengan menukil perkataan Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama besar dari generasi tabi’in, “Dahulu mereka (para salaf) membenci jika seseorang membaca sebuah ayat Al-Quran terkait suatu urusan dunia yang sedang terjadi.”
Apa maksudnya? Imam Abu ‘Ubaid memberikan contoh yang sangat relevan hingga hari ini. Beliau berkata, ini ibarat seseorang yang ingin bertemu temannya, lalu tiba-tiba temannya itu datang tanpa diundang. Spontan, ia berkata dengan nada bercanda:
جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ
“Engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa.” (Q.S. Thaha: 40)
Sepintas, tidak ada yang salah. Namun, Imam Abu ‘Ubaid menegaskan, “Ini termasuk bentuk istikhfaf (meremehkan) Al-Quran.” Betapa agung pertemuan bersejarah antara Allah dan Nabi Musa yang diabadikan dalam ayat tersebut, lalu kita “meminjamnya” hanya untuk sebuah kebetulan kecil dalam urusan dunia kita. Menggunakan ayat suci sebagai bahan lelucon atau membandingkannya dengan peristiwa remeh adalah bentuk nyata dari bahaya meremehkan Al-Quran. Hal ini mengikis kemuliaan dan kesakralan Kalamullah dari dalam hati kita secara perlahan.
Tiada Tanding, Tiada Banding
Untuk menyempurnakan nasihat ini, dinukil pula perkataan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, “Janganlah engkau membuat tandingan bagi Kitabullah, dan tidak pula bagi Sunnah Rasulullah ﷺ.” Imam Abu ‘Ubaid menjelaskan, maksudnya adalah jangan pernah menjadikan firman Allah dan sabda Rasul-Nya memiliki padanan dari perkataan atau perbuatan manusia biasa.
Al-Quran adalah Al-Furqan, sang pembeda. Ia adalah standar, bukan sesuatu yang dibandingkan dengan standar lain. Menempatkannya setara dengan kutipan filsuf, puisi, atau kata-kata bijak lainnya adalah sebuah kekeliruan adab yang fatal. Ini menunjukkan kita belum sepenuhnya memahami kedudukan Kalamullah. Inilah puncak dari bahaya meremehkan Al-Quran; ketika kita gagal memberikan hak-Nya yang paling agung, yaitu posisi tertinggi di atas segala ucapan.
Saudaraku, perjalanan kita bersama Al-Quran adalah perjalanan seumur hidup untuk belajar memuliakan. Bukan hanya dengan lisan yang fasih, tetapi dengan hati yang tunduk dan adab yang terjaga. Mari kita introspeksi, jangan sampai keakraban kita justru melahirkan kelancangan. Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita dari setiap perbuatan yang dapat mengurangi keagungan Kalam-Nya.
Jika hati kita terpanggil untuk mendalami adab ini secara lebih terstruktur, serta membingkai interaksi kita dengan Al-Quran dalam sebuah metode yang teruji, mungkin inilah saatnya untuk memulai perjalanan yang lebih serius. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menargetkan hafalan, tetapi juga membangun kecintaan dan pengagungan yang hakiki.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1415 H/1995 M.
- Q.S. Thaha: 40
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

