Ada kalanya, benda yang paling akrab dengan kita justru yang paling sering kita lalaikan fungsinya. Bantal, misalnya. Ia menopang kepala kita dalam lelap, menjadi saksi bisu mimpi dan kelelahan kita, namun ia ada saat kita tak sadarkan diri. Betapa mengerikan jika kita memperlakukan Al-Qur’an, kalam Allah yang mulia, laksana bantal. Ia ada di dalam dada, tersimpan dalam ingatan, namun hanya menemani kita dalam “tidur” dan kelalaian, tanpa pernah kita ajak terjaga untuk menerangi kegelapan malam. Ini bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah ancaman serius yang pernah disabdakan oleh lisan mulia Rasulullah ﷺ.
Sebuah riwayat yang sampai kepada kita dari kitab agung Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam menukil sebuah percakapan yang begitu menggetarkan. Peringatan ini menunjukkan betapa besarnya bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal.
ذُكِرَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «ذَاكَ رَجُلٌ لَا يَتَوَسَّدُ الْقُرْآنَ»
Disebutkan perihal seorang laki-laki di sisi Nabi ﷺ, maka beliau bersabda: “Dia adalah seorang laki-laki yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal.”
Pada awalnya, pujian ini terdengar unik. Apa maksudnya “tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal”? Imam Abu ‘Ubaid kemudian menyambung dengan penjelasan dari seorang tabi’in mulia, Al-Hasan Al-Bashri, ketika beliau ditanya tentang seorang penghafal Al-Qur’an yang kemudian tidur dan melalaikannya. Jawaban beliau menyingkap makna yang sesungguhnya:
يَتَوَسَّدُ الْقُرْآنَ، لَعَنَ اللَّهُ ذَاكَ
“Dia telah menjadikan Al-Qur’an sebagai bantalnya, semoga Allah melaknat orang itu.”
Makna Mendalam di Balik ‘Bantal Al-Qur’an’
Dari penjelasan Al-Hasan Al-Bashri, kita memahami bahwa frasa ini adalah sebuah majas atau kiasan yang luar biasa dalam. Maknanya bukanlah tidur di atas mushaf secara harfiah. Namun, ia adalah sindiran keras bagi seorang yang telah Allah anugerahi nikmat menghafal Al-Qur’an (jam’ul qur’an), namun ia membiarkan hafalan itu terlelap bersamanya sepanjang malam. Dadanya penuh dengan ayat-ayat Allah, namun lisannya terkunci, dan kakinya enggan berdiri untuk shalat malam (qiyamullail) dengannya.
Ia memperlakukan hafalan Qur’annya seperti bantal: hanya ada untuk menemaninya istirahat dalam kelalaian, bukan untuk membangunkannya dalam ketaatan. Inilah esensi dari bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal; mengubah anugerah teragung menjadi aset yang pasif dan tak bernyawa.
Sebuah Peringatan yang Menggetarkan
Ungkapan “la’anallahu dzaak” (semoga Allah melaknatnya) dari Al-Hasan Al-Bashri bukanlah kalimat ringan. Ia menunjukkan betapa besar dosa melalaikan Al-Qur’an setelah Allah memuliakan seseorang dengannya. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah. Seorang penghafal Al-Qur’an (hamilul qur’an) adalah pembawa panji-panji Islam. Bagaimana mungkin sang pembawa panji justru tertidur lelap saat malam-malam penuh keberkahan memanggil?
Peringatan ini menjadi cambuk bagi jiwa kita semua, para penghafal dan pegiat Al-Qur’an. Sudahkah kita menunaikan hak-hak dari ayat yang kita simpan di dalam dada? Ataukah kita justru telah merasakan bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal tanpa kita sadari, membiarkannya terkubur dalam kesibukan duniawi di siang hari dan lelapnya tidur di malam hari?
Mengubah Bantal Menjadi Cahaya Malam
Lalu, bagaimana cara kita menghindar dari ancaman mengerikan ini? Jawabannya adalah dengan melakukan kebalikannya: menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat terjaga di keheningan malam. Bukan sebagai bantal yang melenakan, melainkan sebagai sumber cahaya yang menerangi sajadah.
Bangunlah di sepertiga malam terakhir. Basuhlah wajah dengan air wudhu. Lalu berdirilah, biarkan ayat-ayat yang telah kita hafal dengan susah payah mengalir lembut dari lisan. Rasakan setiap hurufnya meresap ke dalam kalbu, menjadi penawar bagi luka dan kelelahan jiwa. Di saat itulah, Al-Qur’an benar-benar hidup. Ia bukan lagi sekadar memori, melainkan dialog terindah antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Sungguh, kenikmatan shalat malam dengan hafalan sendiri adalah puncak kebahagiaan seorang penghafal Al-Qur’an. Ini adalah bukti nyata bahwa kita telah terhindar dari bahaya menjadikan Al-Quran sebagai bantal dan memilih untuk menjadikannya lentera penerang jalan kita.
Mari kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dari kelalaian ini. Semoga Dia menjadikan kita Ahlul Qur’an yang sesungguhnya, yang terjaga bersama Al-Qur’an di malam hari dan berjalan dengan petunjuknya di siang hari. Jangan biarkan amanah mulia ini hanya menjadi hiasan di dalam dada, melainkan jadikan ia ruh yang menghidupkan setiap detik nafas kita.
Jika hati kita tergerak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, bukan sekadar hafalan yang terlelap, maka inilah saatnya mencari bimbingan dan lingkungan yang tepat untuk menjaga api semangat itu tetap menyala. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk mendampingi Anda dalam perjalanan mulia ini.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Cet. Dar Ibnu Katsir).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

