Ada getar yang berbeda saat jemari menyentuh lembaran Mushaf. Bukan sekadar kertas, bukan sekadar tinta. Di sana bersemayam Kalam Sang Pencipta, firman yang menggetarkan Arsy, dan petunjuk yang menerangi semesta. Pernahkah kita merenung, bagaimana para salaf, generasi terbaik umat ini, memandang dan memperlakukan Kalam Allah? Kisah mereka menjadi cermin agung, menunjukkan betapa kemuliaan Al-Quran di mata salaf bukan sekadar teori, melainkan adab suci yang terpatri dalam setiap helaan napas dan gerak laku.

Sentuhan yang Mensucikan Jiwa: Adab Ibnu ‘Umar

Dalam riwayat yang sampai kepada kita melalui kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, terungkap sebuah kebiasaan agung dari seorang sahabat mulia, Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Sebuah cerminan adab yang lahir dari pemahaman mendalam.

أَنَّهُ كَانَ لَا يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ

Bahwasanya beliau (Ibnu ‘Umar) tidak pernah mengambil (menyentuh) Mushaf kecuali dalam keadaan suci. (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Bagi Ibnu ‘Umar, bersuci sebelum menyentuh Mushaf bukanlah sekadar ritual fisik. Ia adalah proses penyiapan batin. Seolah-olah beliau berkata, “Bagaimana mungkin aku berani menyentuh Kalam Yang Maha Suci, jika diriku sendiri belum dalam keadaan suci?” Ini adalah pelajaran pertama bagi kita. Bahwa interaksi kita dengan Al-Qur’an dimulai jauh sebelum lisan kita melantunkannya, yaitu sejak hati dan jasad kita bersiap untuk menyambutnya.

Puncak Penghormatan: Prinsip Agung Imam Malik

Jika adab Ibnu ‘Umar adalah gerbangnya, maka apa yang diajarkan oleh Imam Malik bin Anas adalah puncak dari menara penghormatan. Beliau tidak hanya mensyaratkan suci, tetapi bahkan menaikkan standar adabnya ke level yang lebih menyentuh jiwa. Sikapnya menunjukkan betapa agung kemuliaan Al-Quran di mata salaf.

أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَمَسَّ الْمُصْحَفَ وَإِنَّ كَانَ بِعِلَاقَتِهِ أَوْ قَالَ: فِي غِلَافِهِ أَوْ كَانَ عَلَى وِسَادَةٍ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ. قَالَ: «وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا إِكْرَامًا لِلْقُرْآنِ»

Bahwasanya beliau (Imam Malik) tidak menyukai menyentuh Mushaf—sekalipun dengan talinya, atau dalam sampulnya, atau berada di atas bantal—kecuali dalam keadaan suci. Beliau berkata: “Dan hal itu tiada lain hanyalah untuk memuliakan Al-Qur’an (Ikraman lil-Qur’an).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Subhanallah. Perhatikanlah kalimat penutupnya: “Ikraman lil-Qur’an”, semata-mata untuk memuliakan Al-Qur’an. Imam Malik mengajarkan kita bahwa memuliakan Al-Qur’an bukanlah tentang hukum ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’ semata. Ini adalah tentang rasa. Rasa cinta, rasa takzim, dan rasa pengagungan yang begitu mendalam hingga menyentuh sampulnya pun terasa perlu adab yang sempurna. Beliau seakan ingin memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi dirinya untuk berlaku kurang sopan di hadapan Kalam Ilahi.

Menjaga Izzah Ilmu di Hadapan Dunia

Memuliakan Al-Qur’an ternyata tidak hanya berhenti pada adab fisik. Ia meresap hingga ke dalam sikap dan keputusan hidup. Kisah Ma’mar bin Sulaiman an-Nakha’i adalah bukti nyata bagaimana kemuliaan Al-Qur’an menjadi penjaga kehormatan seorang hamba.

Dikisahkan oleh Abu ‘Ubaid, Ma’mar bin Sulaiman, seorang yang disebut sebagai salah satu orang terbaik, memiliki suatu keperluan kepada seorang penguasa. Seseorang menyarankannya, “Mengapa engkau tidak mendatanginya dan berbicara kepadanya?” Ma’mar menjawab, “Aku sebenarnya telah berniat untuk mendatanginya, namun kemudian aku teringat Al-Qur’an dan ilmu (yang ada padaku), maka aku pun memuliakan keduanya dari hal tersebut (yakni dari menghadap penguasa untuk urusan duniawi).”

Allahu Akbar. Ma’mar bin Sulaiman membatalkan niatnya bukan karena sombong, tetapi karena beliau tidak ingin ‘izzah (kemuliaan) Al-Qur’an dan ilmu yang ia bawa tunduk atau berpotensi direndahkan di hadapan gemerlap kekuasaan dunia. Beliau lebih memilih menjaga kehormatan ilmunya daripada mendapatkan keinginannya. Inilah bukti paling otentik dari kemuliaan Al-Quran di mata salaf; ia menjadi benteng yang menjaga pemiliknya dari ketergantungan pada makhluk.

Cermin Bagi Diri Kita

Tiga kisah ini adalah tamparan lembut bagi kita semua. Sudahkah kita bersuci lahir dan batin saat hendak berinteraksi dengan Mushaf? Sudahkah kita menumbuhkan rasa ‘Ikraman lil-Qur’an’ di dalam sanubari kita? Dan yang lebih dalam, sudahkah Al-Qur’an yang kita hafal dan kita baca menjaga kita dari menundukkan kemuliaan diri di hadapan dunia?

Semoga Allah menganugerahkan kita adab dan cinta kepada Al-Qur’an sebagaimana yang dimiliki oleh para salafush shalih. Semoga setiap sentuhan kita pada Mushaf adalah sentuhan rindu, setiap lantunan adalah ungkapan cinta, dan setiap pemahaman adalah cahaya yang menjaga kehormatan kita di dunia dan akhirat. Mempelajari Al-Qur’an dengan bimbingan yang tepat adalah langkah awal untuk menumbuhkan adab mulia ini, sebuah perjalanan yang bisa kita mulai bersama.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Dar Ibn Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,