Titah Nabi bagi Ahlul Qur’an: Jangan Jadikan Bantal

Dalam hiruk pikuk dunia, mata kita seringkali silau oleh dua hal: limpahan harta dan keluasan ilmu. Kita mudah terpesona pada sosok yang hartanya seolah tak berseri, atau yang ilmunya laksana samudra tak bertepi. Namun, pernahkah kita bertanya, pesona seperti apa yang sesungguhnya layak membuat hati kita cemburu dalam arti yang paling positif? Rasulullah ﷺ, sang penuntun jiwa, telah memberikan jawabannya. Beliau mengarahkan pandangan kita pada dua sosok mulia yang interaksinya dengan karunia Allah menjadi sebuah simfoni abadi, siang dan malam. Ini adalah sebuah pengantar untuk memahami agungnya sebuah perintah untuk penghafal Al-Qur’an.

Dua Sosok yang Layak Dirindukan Kemuliaannya

Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya yang monumental, Fadhailul Qur’an, menukilkan sebuah hadis yang begitu indah. Hadis ini seakan melukiskan potret manusia yang hidupnya paling bernilai di sisi Allah. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Tidak ada hasad (yang dibenarkan) kecuali pada dua orang: seseorang yang Allah anugerahi Al-Qur’an lalu ia mendirikannya (dalam shalat dan membacanya) di sepanjang malam dan siang, dan seseorang yang Allah anugerahi harta lalu ia menginfakkannya di sepanjang malam dan siang.” (Diriwayatkan dalam Fadhailul Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)

Kata hasad di sini bukanlah dengki yang tercela, melainkan ghibthah, yaitu sebuah keinginan luhur untuk memiliki nikmat serupa tanpa berharap nikmat itu hilang dari orang lain. Perhatikanlah, sosok pertama yang kemuliaannya patut kita dambakan adalah Haamilul Qur’an, sang pembawa Al-Qur’an. Namun, bukan sekadar membawa dalam hafalan, melainkan “yaquumu bihi”—ia berdiri tegak bersamanya, menghidupkannya dalam shalat, merenunginya dalam setiap detak waktu, baik di keheningan malam maupun di keramaian siang. Inilah esensi pertama dari perintah untuk penghafal Al-Qur’an: bukan memiliki, tapi menghidupkan.

Sebuah Peringatan Keras: “Jangan Jadikan Al-Qur’an Bantal”

Jika hadis pertama melukiskan puncak kemuliaan, maka hadis berikutnya memberikan peringatan yang menusuk kalbu. Sebuah teguran cinta dari Rasulullah ﷺ agar kita tidak tergelincir setelah meraih anugerah agung berupa hafalan Al-Qur’an.

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، لَا تَوَسَّدُوا الْقُرْآنَ وَاتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Wahai Ahlul Qur’an, janganlah kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal, dan bacalah ia sepanjang malam dan siang.” (Diriwayatkan dalam Fadhailul Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)

Metafora “menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal” (lā tawassadul Qur’an) adalah kiasan yang luar biasa dalam. Bantal adalah teman lelap, simbol istirahat, lambang pasif dan diam. Rasulullah ﷺ seolah berkata, “Wahai para penghafal, jangan sampai hafalan yang ada di dadamu itu hanya menjadi hiasan pengantar tidur. Jangan biarkan ia diam, pasif, dan terlupakan.” Betapa banyak dari kita yang telah berjuang menghafal, namun kemudian membiarkan hafalan itu terkulai lemas, hanya menjadi kenangan manis tanpa interaksi aktif.

Ini adalah sebuah perintah untuk penghafal Al-Qur’an yang sangat fundamental. Harta paling berharga yang dititipkan di dalam dada kita ini bukanlah untuk disimpan, melainkan untuk dizakati melalui lisan yang tak henti melantunkannya dan hati yang tak lelah merenunginya.

Jalan Hidup Sang Ahlul Qur’an

Dua hadis ini membentangkan jalan bagi kita. Di satu sisi, ada puncak kemuliaan bagi mereka yang senantiasa “berdiri” bersama Al-Qur’an. Di sisi lain, ada jurang kelalaian bagi mereka yang menjadikannya “bantal”. Kuncinya ada pada frasa yang diulang dalam kedua riwayat tersebut: “ā-nā-al laili wan nahār” (di sepanjang malam dan siang).

Interaksi dengan Al-Qur’an bukanlah proyek musiman atau agenda sesaat. Ia adalah napas kehidupan seorang mukmin. Ia adalah denyut nadi yang membuat jiwa tetap hidup. Titah untuk terus membacanya siang dan malam adalah resep ilahi agar Al-Qur’an tidak menjadi sekadar memori, tetapi menjelma menjadi pendamping, penasihat, dan cahaya yang menerangi setiap langkah.

Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri: Di manakah posisi Al-Qur’an dalam hidup kita hari ini? Apakah ia menjadi teman qiyamullail kita yang paling setia? Atau ia hanya menjadi bantal yang menemani kelalaian kita? Semoga Allah menganugerahkan kita kekuatan untuk menjalankan perintah untuk penghafal Al-Qur’an ini dengan istiqamah, menjadikan kita insan yang kemuliaannya dirindukan oleh penduduk langit dan bumi.

Menjalin hubungan sedalam ini dengan Al-Qur’an seringkali membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Proses menghidupkan kembali hafalan dan membumikannya dalam amal adalah sebuah perjalanan spiritual yang indah jika ditemani oleh guru yang tepat.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Maktabah Syamilah). Bab: Mā Yu’maru bihi Hāmilul Qur’an min Tilāwatihi.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,