Al-Quran Seluruhnya Agung: Adab yang Sering Terlupa

Ada kalanya, lisan kita mendahului kesadaran hati. Kata-kata yang terasa biasa, yang terdengar lumrah di telinga, ternyata menyimpan kekeliruan adab yang teramat dalam, terutama saat kita berbicara tentang Kalamullah. Mungkin niat kita baik, untuk menyemangati atau menyederhanakan, namun kita lupa bahwa Al-Quran seluruhnya agung, tanpa terkecuali. Ia adalah firman dari Yang Maha Agung, maka tidak ada satu bagian pun darinya yang boleh dianggap kecil atau remeh.

Teguran Tajam untuk Kata “Surat Kecil”

Bayangkan kita berada dalam sebuah majelis ilmu. Lalu seorang bertanya tentang sebuah surat, menyebutnya sebagai “surat yang kecil” atau “surat yang pendek”. Mungkin kita akan memakluminya. Namun tidak bagi para salafus shalih, yang hati mereka telah terpatri dengan pengagungan terhadap Al-Quran. Simaklah sebuah riwayat berharga dari kitab Fadhail al-Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam berikut ini:

قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي الْعَالِيَةِ: سُورَةٌ صَغِيرَةٌ أَوْ قَالَ: قَصِيرَةٌ. فَقَالَ: «أَنْتَ أَصْغَرُ مِنْهَا وَأَلَمُّ، الْقُرْآنُ كُلُّهُ عَظِيمٌ»

Seorang lelaki berkata kepada Abu al-‘Aliyah: “(Ini) surat yang kecil,” atau ia berkata: “yang pendek.” Maka Abu al-‘Aliyah menjawab: “Engkau lebih kecil dan lebih hina darinya. Al-Quran itu seluruhnya agung.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail al-Qur’an)

Sebuah jawaban yang menusuk, namun menyadarkan. Abu al-‘Aliyah tidak sedang menghina, beliau sedang mendidik dan meluruskan adab. Dengan tegas beliau mengingatkan bahwa manusia, dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, jauh lebih “kecil” dibandingkan satu surat pun dari Al-Quran. Teguran ini menggarisbawahi sebuah hakikat bahwa Al-Quran seluruhnya agung. Tidak ada surat yang superior atau inferior. Yang ada hanyalah Kalamullah yang mulia.

Mengganti “Ringan” dengan “Mudah”

Kekeliruan serupa juga diluruskan dengan penuh hikmah oleh ulama tabiin lainnya, Muhammad bin Sirin. Kisah ini mengajarkan kita tentang presisi dalam memilih kata, antara yang terasa ringan di lisan dengan yang benar menurut timbangan syariat.

قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ لِابْنِ سِيرِينَ: سُورَةٌ خَفِيفَةٌ. قَالَ ابْنُ سِيرِينَ: «مِنْ أَيْنَ تَكُونُ خَفِيفَةً وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا﴾ [المزمل: ٥]، وَلَكِنْ قُلْ: يَسِيرَةٌ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ﴾ [القمر: ١٧]»

Khalid al-Hadzdza’ berkata kepada Ibnu Sirin: “(Ini) surat yang ringan.” Ibnu Sirin menjawab: “Dari mana ia bisa ringan, padahal Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.’ (Q.S. Al-Muzzammil: 5). Akan tetapi, katakanlah: ‘(surat) yang mudah,’ karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?’ (Q.S. Al-Qamar: 17).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail al-Qur’an)

Lihatlah betapa indahnya koreksi dari Ibnu Sirin. Beliau tidak menyalahkan niatnya, namun meluruskan lafaznya. Al-Quran bukanlah perkataan yang “ringan” (khafifah), melainkan “berat” (tsaqil). Berat timbangannya di akhirat, berat kandungan makna dan hukumnya, serta berat amanah untuk mengamalkannya. Namun, di sisi lain, Allah dengan rahmat-Nya menjadikannya “mudah” (yasirah) untuk dihafal, dipelajari, dan diingat. Jadi, meskipun Al-Quran seluruhnya agung dan berat, ia juga dimudahkan bagi hamba-Nya yang tulus.

Memuliakan Al-Quran Dimulai dari Lisan Kita

Dua kisah penuh hikmah ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi kita hari ini. Betapa sering kita mendengar, atau bahkan mengucap, kalimat seperti “Hafalkan surat-surat pendek di juz 30 dulu, ya.” Niatnya adalah memotivasi, namun tanpa sadar kita sedang membuat kategori dalam Al-Quran yang bisa menumbuhkan persepsi keliru, seolah ada surat yang lebih utama hanya karena lebih panjang.

Padahal, kemuliaan surat Al-Ikhlas tidak kalah dari Al-Baqarah dalam esensinya sebagai Kalamullah. Keduanya sama-sama firman Allah yang agung. Prinsip ini harus kita tanamkan dalam diri kita dan anak-anak kita, bahwa Al-Quran seluruhnya agung, dari Al-Fatihah hingga An-Nas.

Kesimpulan: Latih Lisan, Muliakan Kalam Tuhan

Maka, marilah kita mulai melatih lisan kita. Mengganti kata “pendek” atau “kecil” dengan “ringkas”. Mengganti kata “ringan” dengan “mudah dihafal” atau “dimudahkan”. Ini bukan sekadar permainan kata, melainkan wujud nyata dari pengagungan (ta’zhim) kita terhadap kitab suci yang mulia ini, karena kita yakin Al-Quran seluruhnya agung.

Semoga Allah membimbing setiap lisan dan hati kita untuk senantiasa memuliakan-Nya. Dan bagi jiwa-jiwa yang rindu mendalami Al-Quran dengan adab dan pemahaman yang benar, pintu selalu terbuka untuk belajar bersama di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat kita menumbuhkan cinta pada Al-Quran, dimulai dari cara kita memandangnya dan menyebutnya.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surat Al-Muzzammil: 5
  • Al-Qur’an, Surat Al-Qamar: 17
  • Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadhail al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Dar Ibnu Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,