oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 6, 2026 | Artikel
Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu terjaga dari tipu daya dunia. Pernah tidak, setelah kita melakukan amal saleh yang berat—misalnya bangun shalat Tahajud di malam yang dingin, atau khatam Al-Qur’an dalam waktu singkat—tiba-tiba muncul rasa “gatal” di lidah?
Rasanya ingin sekali bercerita kepada teman kantor, “Duh, ngantuk banget nih, semalam cuma tidur dua jam gara-gara keasyikan dzikir.” Atau mungkin jari kita gatal ingin membuat status di media sosial, “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga amanah juz 30 hari ini.”
Sepintas terdengar seperti syiar atau motivasi, ya? Tapi hati-hati, Sahabat. Jika di sudut hati yang paling dalam ada niat “supaya orang tahu kalau aku ini saleh” atau “supaya orang dengar hebatnya ibadahku”, maka kita sedang terjangkit virus halus bernama Sum’ah.
Beda Riya dan Sum’ah: Si Kembar Perusak Amal
Kalau Riya itu pamer dengan cara memperlihatkan (ingin dilihat), maka Sum’ah berasal dari kata sami’a yang artinya mendengar. Jadi, Sum’ah adalah beramal dengan tujuan agar dibicarakan, didengar, dan diviralkan oleh orang lain.
Intinya begini, ibarat kita sedang menyalakan kembang api di siang bolong. Kita ingin suara ledakannya menggelegar didengar semua orang agar mereka menoleh kagum pada kita. Padahal, apa yang kita dapat? Hanya asap yang hilang tertiup angin dan sampah kertas yang berserakan. Capeknya dapat, tapi nilainya di mata Allah kosong melompong.
Rasanya lelah ya, hidup kalau tujuannya hanya untuk mengejar tepuk tangan manusia? Kita jadi budak pencitraan. Kalau dipuji kita semangat ibadah, kalau tidak ada yang tahu, kita malas-malasan. Hati jadi tidak tenang, selalu gelisah menunggu komentar orang.
Popularitas yang Menghinakan
Sahabat Qur’an, Allah itu Maha Mengetahui isi hati. Kita mungkin bisa menipu manusia dengan kata-kata manis yang terdengar tawadhu, tapi kita tidak bisa menipu Allah. Ancaman bagi pelaku Sum’ah itu sangat menakutkan, karena justru Allah akan membongkar aib niat busuknya di hadapan seluruh makhluk nanti.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya (supaya orang tahu), maka Allah akan memperdengarkan aibnya (di akhirat). Dan barangsiapa yang memamerkan amalannya, maka Allah akan memamerkan keburukan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan malunya. Di dunia kita ingin dikenal sebagai ahli ibadah, tapi di akhirat diumumkan sebagai “Penipu yang haus pujian”. Na’udzubillah.
Kembali ke “Mode Hening” (Silent Mode)
Lalu, bagaimana cara kita selamat dari jebakan ingin terkenal ini?
Jawabannya adalah fokus pada esensi, bukan sensasi.
Sahabat, ibadah itu adalah hubungan privasi kita dengan Allah. Seperti hubungan suami istri yang harmonis, kemesraan itu tidak perlu diumbar ke publik setiap saat. Cukup kita dan Allah yang tahu rasanya nikmat bermunajat.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menutup rapat pintu syirik kecil ini dengan memurnikan tujuan akhir kita. Bahwa pertemuan dengan Allah adalah segala-galanya, dan itu hanya bisa diraih dengan amal yang bersih dari “penyekutuan” (termasuk menyekutukan Allah dengan pujian netizen).
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Tips Praktis: Latih “Tahan Jempol, Tahan Lidah”
Mari kita buat tantangan untuk diri sendiri. Mulai hari ini, cobalah untuk memiliki “Amalan Rahasia”. Punya jadwal sedekah subuh? Jangan cerita ke siapa pun, bahkan pasangan (jika uang pribadi). Punya hafalan Qur’an baru? Jangan buru-buru update status. Biarkan itu menjadi tabungan misterius yang nanti kita buka kejutannya di surga.
Memang berat menahan keinginan untuk cerita. Tapi percayalah, kebahagiaan saat ibadah kita hanya diketahui oleh Allah itu jauh lebih manis dan menenteramkan daripada ribuan “Like” yang semu.
Jadilah seperti akar pohon. Ia bekerja dalam diam, menembus tanah yang gelap, tidak terlihat, tidak dipuji, tapi dialah yang membuat pohon kehidupan kita berdiri kokoh dan berbuah lebat.
Tak perlu terkenal di bumi, asalkan terkenal di langit.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 6, 2026 | Artikel
Sahabat Qur’an yang semoga selalu dalam lindungan Allah dari kejahatan lisan dan tulisan. Pernah tidak, dada rasanya sesak sekali sampai sulit bernapas, bukan karena penyakit asma, tapi karena mendengar nama baik kita dicabik-cabik oleh cerita bohong yang beredar? Kita tidak melakukannya, tapi semua telunjuk mengarah pada kita dengan tatapan jijik.
Sakit? Tentu saja. Rasanya seperti ada pisau tak terlihat yang menancap di punggung. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, bahkan mau keluar rumah pun rasanya malu luar biasa. Wajar kok kalau kita menangis dan marah. Itulah fitnah.
Nah, dalam Islam, menyebarkan berita bohong tentang seseorang itu disebut Buhtan. Ini bukan sekadar gosip ringan. Ini adalah level kejahatan lisan yang paling brutal. Jika ghibah adalah membicarakan keburukan yang nyata, maka buhtan adalah mengada-adakan keburukan yang sama sekali tidak ada.
Membunuh Karakter, Mematikan Masa Depan
Intinya begini, mengapa Al-Qur’an menyebut fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan? Mari kita pakai logika rasa. Jika seseorang dibunuh secara fisik, nyawanya hilang, selesai urusan dunianya, dan dia insya Allah syahid jika dizalimi. Tapi bagaimana dengan korban fitnah?
Korban fitnah itu “dibunuh” berkali-kali setiap hari. Karakternya dibunuh. Kepercayaan orang padanya dimatikan. Rezekinya mungkin diputus. Hubungan keluarganya dihancurkan.
Dia masih hidup berjalan di atas bumi, tapi dianggap “mati” secara sosial oleh masyarakat. Dia menanggung malu seumur hidup. Jahat sekali, bukan? Inilah yang disebut pembunuhan tanpa darah. Pelakunya tersenyum puas, sementara korbannya hancur lebur mentalnya.
Dosa yang Tak Cukup Ditebus dengan Tangisan
Sahabat, seringkali kita meremehkan jempol kita saat meneruskan pesan hoax atau tuduhan tanpa bukti. Kita pikir, “Ah, cuma share doang.” Padahal di sisi Allah, itu adalah dosa raksasa. Allah memberikan peringatan yang sangat keras, bahkan sanksi fisik (hukum cambuk) di dunia bagi mereka yang menuduh orang baik-baik berzina tanpa bukti.
Coba renungkan ketegasan Allah dalam ayat ini:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (cambuklah) mereka delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 4)
Lihat betapa seriusnya Allah menjaga kehormatan hamba-Nya. Orang yang memfitnah, kesaksiannya tidak boleh diterima lagi selamanya. Stempel “Fasik” (pelaku dosa besar) melekat di dahinya.
Ibarat Menebar Bulu Ayam di Tengah Badai
Lalu, bagaimana jika kita terlanjur pernah memfitnah orang? Apakah cukup dengan istighfar?
Sayangnya tidak semudah itu, Sahabat. Dosa fitnah berkaitan dengan Hablumminannas (hak sesama manusia). Allah tidak akan memaafkan sampai korban memaafkan kita.
Bayangkan kita menyobek bantal bulu di atas gedung tinggi saat angin kencang. Bulu-bulu itu terbang ke segala penjuru kota. Lalu kita disuruh mengumpulkan kembali bulu-bulu itu satu per satu sampai bersih. Mustahil, kan? Begitulah fitnah. Berita bohong yang sudah menyebar sulit ditarik kembali.
Namun, bukan berarti pintu taubat tertutup. Solusinya berat, tapi harus dilakukan:
- Akui Kesalahan: Datangi korban, minta maaf, dan bersiaplah menerima amarahnya. Itu risiko.
- Klarifikasi Publik: Umumkan kepada orang-orang yang pernah kita bohongi bahwa berita itu SALAH. Bersihkan nama baik korban sekuat tenaga kita, sebagaimana dulu kita semangat mengotorinya.
- Menangis pada Allah: Mohon ampunan dengan sungguh-sungguh agar Allah melembutkan hati korban untuk memaafkan kita.
Mari Menjadi Perisai, Bukan Pedang
Sahabat Qur’an, di zaman yang penuh fitnah akhir zaman ini, mari kita ubah fungsi lisan dan jempol kita. Jadikan diri kita perisai yang melindungi kehormatan saudara kita, bukan pedang yang melukainya.
Jika mendengar kabar burung yang belum jelas, berhenti di kita. Jangan di-share. Katakan, “Aku tidak percaya sebelum melihat bukti.”
Ingatlah, lebih baik kita diam dan dianggap tidak update berita, daripada kita bicara tapi menyeret kita ke dalam kerak neraka. Mari saling menjaga, mari saling memuliakan.
Semoga Allah menjauhkan kita dari kejamnya fitnah, baik sebagai pelaku maupun korban.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 6, 2026 | Artikel
Sahabat Qur’an yang semoga hatinya selalu disatukan dalam ukhuwah. Pernah tidak, kita sedang duduk tenang, lalu tiba-tiba datang seseorang membisikkan sesuatu: “Eh, kamu tahu nggak? Si Fulan kemarin ngomongin kejelekan kamu lho di sana. Katanya kamu itu…”
Duh, rasanya pasti seperti disiram air panas. Telinga berdengung, dada bergemuruh, dan detik itu juga pandangan kita kepada si Fulan langsung berubah menjadi benci. Padahal, semenit yang lalu kita masih bersahabat baik dengannya. Wajar kok kalau emosi kita terpancing. Kita manusia yang punya harga diri. Namun, hati-hati Sahabat, jangan buru-buru menelan informasi itu. Bisa jadi, kita sedang disuguhi racun manis bernama Namimah.
Namimah, atau yang sering kita sebut adu domba, bukan sekadar gosip. Ia adalah level kejahatan lisan yang lebih “canggih” dan mematikan. Tujuannya satu: merusak hubungan yang harmonis agar menjadi hancur berantakan.
Kurir Kebencian yang Tak Terlihat
Intinya begini, pelaku Namimah itu ibarat “kurir” yang salah alamat. Dia rajin memindahkan omongan dari satu pihak ke pihak lain, tapi bumbunya ditambah-tambah agar terjadi permusuhan. Bayangkan sebuah hutan yang kering kerontang. Pelaku namimah adalah orang yang dengan sengaja melempar puntung rokok yang masih menyala ke tengah hutan itu.
Kecil apinya.
Tapi dampaknya?
Satu hutan bisa hangus terbakar.
Begitu juga persaudaraan. Suami istri bisa bercerai, kakak adik bisa saling diam bertahun-tahun, bahkan dua kelompok masyarakat bisa saling bertikai hanya karena satu kalimat hasutan yang tidak difilter. Ini mengerikan. Makanya, Rasulullah SAW memberikan ancaman yang sangat keras bagi si “pengadu domba” ini.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan Jadi “Tong Sampah” Informasi
Lantas, bagaimana kalau kita yang didatangi oleh si pengadu domba ini? Apa yang harus kita lakukan?
Sahabat, jangan jadikan telinga kita seperti tong sampah yang mau menampung kotoran apa saja. Jika ada orang datang membawa keburukan orang lain kepada kita, sadarilah satu hal: “Orang yang membawa omongan orang lain kepadamu, kelak dia juga akan membawa omonganmu kepada orang lain.” Dia bukan teman setia, dia adalah perusak.
Jangan ucapkan terima kasih padanya. Justru kita harus waspada. Sikap kita yang langsung percaya dan ikut marah adalah “bahan bakar” yang dia cari. Kalau kita ikut marah, dia menang. Syaitan tepuk tangan.
Tabayyun: Saring Sebelum “Searing” (Membakar)
Di era digital seperti sekarang, namimah itu wujudnya bisa berupa screenshot chat yang dipotong, atau forward pesan yang tidak jelas sumbernya. Solusi dari langit sangat jelas: Cek dan Ricek, atau dalam bahasa Al-Qur’an disebut Tabayyun.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi “Hakim” yang bijak, bukan sumbu pendek yang mudah meledak. Ketika datang berita miring, tahan dulu jempolnya, dinginkan dulu kepalanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ bِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Jadilah Perekat, Bukan Gunting
Sahabat Qur’an, hidup ini sudah cukup rumit dengan berbagai masalah. Jangan kita tambah beban hidup ini dengan memutus tali silaturahim. Jadilah seperti lem yang merekatkan yang retak, bukan seperti gunting yang memisahkan yang menyatu.
Jika mendengar berita buruk tentang saudara kita, datangi dia baik-baik. Bicara empat mata. Lihat sorot matanya. Biasanya, kebenaran itu akan terlihat jelas saat kita berdialog dengan hati yang bersih, bukan dengan emosi yang disulut orang lain.
Mari kita jaga lisan dan telinga kita. Kita ingin masuk surga bersama-sama, kan? Maka, jangan biarkan adu domba membuat kita kehilangan teman duduk di surga nanti.
Yuk, lebih bijak lagi menyaring berita mulai hari ini.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: [https://executivetahfizh.com](https://executivetahfizh.com)
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 6, 2026 | Artikel
Sahabat Qur’an yang semoga lisannya selalu basah dengan zikir. Pernah tidak, kita sedang duduk santai menikmati kopi atau teh hangat bersama teman-teman, lalu tiba-tiba obrolan mengalir ke arah yang “seru”? Biasanya dimulai dengan kalimat sakti: “Eh, tahu nggak si Fulan itu ternyata…”
Jujur saja, rasanya pasti asyik ya. Ada sensasi “puas” saat kita menjadi orang yang paling tahu rahasia orang lain. Obrolan jadi makin hangat, tawa makin lepas, dan waktu terasa cepat berlalu. Wajar kok kalau kita merasa tergoda. Lidah ini memang tidak bertulang, dan syaitan paling pintar menghias dosa ini seolah-olah adalah bentuk “kepedulian” atau sekadar “analisa sosial”.
Tapi tunggu dulu, Sahabat. Di balik keasyikan sesaat itu, ada bau busuk yang menyengat yang mungkin hidung kita belum bisa menciumnya. Itu adalah bau bangkai saudara kita sendiri.
Kebenaran yang Melukai
Banyak dari kita yang membela diri, “Lho, aku kan bicara fakta! Memang dia begitu kok orangnya.”
Nah, justru di situlah letak jebakannya. Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti bahwa Ghibah itu adalah membicarakan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka jika didengar. Para sahabat bertanya, “Bagaimana jika itu benar?” Nabi menjawab, “Jika benar, itulah ghibah. Jika salah, itu fitnah.”
Intinya begini, Ghibah itu bukan soal benar atau salah, tapi soal etika menjaga kehormatan. Bayangkan aib teman kita itu seperti luka koreng di tubuhnya. Apakah pantas kita membuka perban luka itu di depan umum dan menertawakannya? Tentu tidak. Itu menyakitkan.
Menu Makan Siang: Daging Mentah Saudara Sendiri
Sahabat Qur’an, Al-Qur’an menggunakan perumpamaan yang sangat ekstrem dan menjijikkan untuk pelaku ghibah. Bukan dipukul, bukan didenda, tapi disuruh memakan daging manusia yang sudah mati.
Coba bayangkan. Ada mayat terbujur kaku di depan kita. Baunya menyengat, dikerumuni lalat, kulitnya mulai membiru. Lalu kita disuruh mengiris dagingnya dan mengunyahnya. Mual? Pasti. Muntah? Tentu saja.
Tapi itulah hakikat spiritual dari setiap kalimat ghibah yang keluar dari mulut kita. Setiap kali kita berkata, “Dia itu pelit,” “Dia itu cari muka,” sejatinya kita sedang mengunyah kehormatan mereka dengan lahap.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Transfer Pahala Gratisan
Selain menjijikkan, ghibah adalah “transaksi ekonomi” yang paling merugikan di akhirat. Saat kita membicarakan keburukan orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan transfer pahala besar-besaran ke rekening amal orang tersebut.
Kita yang capek shalat tahajud. Kita yang lelah berpuasa. Kita yang berat mengeluarkan sedekah.
Tapi pahalanya? Habis ditransfer ke orang yang kita gunjing.
Kalau pahala kita sudah habis, maka dosa-dosa orang itu yang akan ditransfer ke punggung kita. Na’udzubillah. Mau sampai kapan kita menjadi orang yang bangkrut di hari perhitungan nanti?
Mari Pasang “Filter” di Mulut
Lalu, bagaimana caranya berhenti? Memang susah, karena lidah ini sering terpeleset. Tapi kita bisa mulai dengan langkah sederhana.
Setiap kali ada teman yang mulai memancing obrolan tentang aib orang, cobalah untuk tidak menyahut. Atau lebih berani lagi, alihkan topik. “Eh, daripada bahas dia, mending bahas rencana makan-makan kita yuk.”
Berlatihlah untuk Husnuzhan (berprasangka baik). Kalau melihat orang berbuat salah, katakan dalam hati, “Mungkin dia sedang khilaf, atau mungkin dia punya alasan yang aku tidak tahu.” Tutup aib orang lain, maka Allah akan menutup aib kita di dunia dan akhirat.
Sahabat, lisan ini kecil bentuknya, tapi besar dampaknya. Ia bisa mengantar ke surga, atau menyeret ke neraka. Mari kita gunakan untuk memuji Allah, bukan mencaci hamba-Nya.
Yuk, kita puasa bicara aib orang mulai hari ini.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 6, 2026 | Artikel
Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu sejuk dengan rida Allah. Pernah tidak, saat jempol kita asyik scrolling media sosial, tiba-tiba berhenti di postingan teman yang baru beli mobil baru atau liburan ke luar negeri? Lalu, tanpa sadar ada gemuruh panas di dalam dada. Ada bisikan kecil yang jahat, “Kenapa harus dia sih? Padahal dia biasa saja, kok rezekinya lancar sekali?”
Pasti rasanya tidak nyaman ya. Dada terasa sesak, mood yang tadinya bagus tiba-tiba hancur. Wajar kok, kita ini manusia yang punya nafsu. Sangat manusiawi jika kita ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Tapi hati-hati, Sahabat. Jika perasaan “tidak terima” itu dibiarkan, ia akan berubah menjadi monster bernama Hasad.
Hasad itu bukan sekadar ingin punya. Hasad itu levelnya lebih mengerikan: Kita sakit hati melihat dia bahagia, dan diam-diam berharap nikmat itu dicabut dari hidupnya. Ngeri, kan?
Api yang Melahap Jerih Payah Kita
Mari kita bayangkan sebuah perumpamaan. Sahabat sudah lelah mengumpulkan kayu bakar selama bertahun-tahun. Kayu bakar itu adalah shalat, puasa, dan sedekah yang kita kumpulkan dengan susah payah. Lalu, hanya karena satu percikan api kecil dari korek api, tumpukan kayu setinggi gunung itu habis menjadi abu dalam sekejap.
Nah, itulah Hasad. Intinya begini, rasa dengki itu memakan habis pahala amal kita tanpa sisa. Kita yang capek beribadah, tapi karena hati kita busuk melihat kesuksesan orang lain, kita menjadi orang yang bangkrut di akhirat. “Rugi bandar” kalau kata anak muda sekarang.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat visual dan menohok:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
Menyiksa Diri Sendiri Tanpa Henti
Sahabat, orang yang hasad itu sebenarnya adalah orang yang paling menderita di dunia. Kenapa? Karena dia memusuhi ketetapan Allah. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan pencapaian orang lain. Dadanya sempit.
- Tetangga beli kulkas, dia yang kedinginan.
- Teman naik pangkat, dia yang meriang.
Hidupnya habis hanya untuk membanding-bandingkan. Padahal, rezeki setiap orang itu sudah ada takarannya masing-masing. Iri kepada jatah orang lain sama saja kita sedang protes kepada Allah, “Ya Allah, Engkau salah kasih rezeki, harusnya itu buat aku!” Na’udzubillah. Ini adalah bentuk kesombongan terselubung.
Rumput Tetangga Hijau, Syukuri Rumput Sendiri
Lantas, bagaimana cara memadamkan api dengki ini sebelum ia membakar habis hati kita? Solusinya ada di dalam Al-Qur’an.
Allah meminta kita untuk berhenti melirik “piring” orang lain. Jangan iri dengan apa yang Allah lebihkan kepada sebagian orang. Fokuslah pada piring kita sendiri. Di piring kita pun banyak nikmat yang kalau dihitung, kalkulator mana pun akan jebol.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Tips “Aneh” Tapi Ampuh: Doakan Dia!
Ini mungkin terdengar berat dan melawan ego. Tapi cobalah. Saat rasa iri itu muncul, lawan dengan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut. “Ya Allah, berkahilah mobil barunya, semoga membawanya pada ketaatan.”
Awalnya lisan mungkin terasa kaku. Hati mungkin menolak. Tapi percayalah, doa baik itu akan kembali kepada kita, dan perlahan hati yang panas akan menjadi dingin dan lapang. Malaikat pun akan mengaminkan doa kita dengan berkata, “Aamiin, dan bagimu juga semisal itu.”
Mari kita bersihkan hati. Buang sampah dengki itu jauh-jauh. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengintip kebahagiaan orang lain.
Tenang saja. Rezeki tidak akan tertukar. Apa yang menjadi milikmu, akan sampai kepadamu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100