Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu terjaga dari tipu daya dunia. Pernah tidak, setelah kita melakukan amal saleh yang berat—misalnya bangun shalat Tahajud di malam yang dingin, atau khatam Al-Qur’an dalam waktu singkat—tiba-tiba muncul rasa “gatal” di lidah?

Rasanya ingin sekali bercerita kepada teman kantor, “Duh, ngantuk banget nih, semalam cuma tidur dua jam gara-gara keasyikan dzikir.” Atau mungkin jari kita gatal ingin membuat status di media sosial, “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga amanah juz 30 hari ini.”

Sepintas terdengar seperti syiar atau motivasi, ya? Tapi hati-hati, Sahabat. Jika di sudut hati yang paling dalam ada niat “supaya orang tahu kalau aku ini saleh” atau “supaya orang dengar hebatnya ibadahku”, maka kita sedang terjangkit virus halus bernama Sum’ah.

Beda Riya dan Sum’ah: Si Kembar Perusak Amal

Kalau Riya itu pamer dengan cara memperlihatkan (ingin dilihat), maka Sum’ah berasal dari kata sami’a yang artinya mendengar. Jadi, Sum’ah adalah beramal dengan tujuan agar dibicarakan, didengar, dan diviralkan oleh orang lain.

Intinya begini, ibarat kita sedang menyalakan kembang api di siang bolong. Kita ingin suara ledakannya menggelegar didengar semua orang agar mereka menoleh kagum pada kita. Padahal, apa yang kita dapat? Hanya asap yang hilang tertiup angin dan sampah kertas yang berserakan. Capeknya dapat, tapi nilainya di mata Allah kosong melompong.

Rasanya lelah ya, hidup kalau tujuannya hanya untuk mengejar tepuk tangan manusia? Kita jadi budak pencitraan. Kalau dipuji kita semangat ibadah, kalau tidak ada yang tahu, kita malas-malasan. Hati jadi tidak tenang, selalu gelisah menunggu komentar orang.

Popularitas yang Menghinakan

Sahabat Qur’an, Allah itu Maha Mengetahui isi hati. Kita mungkin bisa menipu manusia dengan kata-kata manis yang terdengar tawadhu, tapi kita tidak bisa menipu Allah. Ancaman bagi pelaku Sum’ah itu sangat menakutkan, karena justru Allah akan membongkar aib niat busuknya di hadapan seluruh makhluk nanti.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya (supaya orang tahu), maka Allah akan memperdengarkan aibnya (di akhirat). Dan barangsiapa yang memamerkan amalannya, maka Allah akan memamerkan keburukan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan malunya. Di dunia kita ingin dikenal sebagai ahli ibadah, tapi di akhirat diumumkan sebagai “Penipu yang haus pujian”. Na’udzubillah.

Kembali ke “Mode Hening” (Silent Mode)

Lalu, bagaimana cara kita selamat dari jebakan ingin terkenal ini?

Jawabannya adalah fokus pada esensi, bukan sensasi.

Sahabat, ibadah itu adalah hubungan privasi kita dengan Allah. Seperti hubungan suami istri yang harmonis, kemesraan itu tidak perlu diumbar ke publik setiap saat. Cukup kita dan Allah yang tahu rasanya nikmat bermunajat.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menutup rapat pintu syirik kecil ini dengan memurnikan tujuan akhir kita. Bahwa pertemuan dengan Allah adalah segala-galanya, dan itu hanya bisa diraih dengan amal yang bersih dari “penyekutuan” (termasuk menyekutukan Allah dengan pujian netizen).

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Tips Praktis: Latih “Tahan Jempol, Tahan Lidah”

Mari kita buat tantangan untuk diri sendiri. Mulai hari ini, cobalah untuk memiliki “Amalan Rahasia”. Punya jadwal sedekah subuh? Jangan cerita ke siapa pun, bahkan pasangan (jika uang pribadi). Punya hafalan Qur’an baru? Jangan buru-buru update status. Biarkan itu menjadi tabungan misterius yang nanti kita buka kejutannya di surga.

Memang berat menahan keinginan untuk cerita. Tapi percayalah, kebahagiaan saat ibadah kita hanya diketahui oleh Allah itu jauh lebih manis dan menenteramkan daripada ribuan “Like” yang semu.

Jadilah seperti akar pohon. Ia bekerja dalam diam, menembus tanah yang gelap, tidak terlihat, tidak dipuji, tapi dialah yang membuat pohon kehidupan kita berdiri kokoh dan berbuah lebat.

Tak perlu terkenal di bumi, asalkan terkenal di langit.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:

Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.

Website: website resmi Executive Tahfizh

WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,