Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu sejuk dengan rida Allah. Pernah tidak, saat jempol kita asyik scrolling media sosial, tiba-tiba berhenti di postingan teman yang baru beli mobil baru atau liburan ke luar negeri? Lalu, tanpa sadar ada gemuruh panas di dalam dada. Ada bisikan kecil yang jahat, “Kenapa harus dia sih? Padahal dia biasa saja, kok rezekinya lancar sekali?”
Pasti rasanya tidak nyaman ya. Dada terasa sesak, mood yang tadinya bagus tiba-tiba hancur. Wajar kok, kita ini manusia yang punya nafsu. Sangat manusiawi jika kita ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Tapi hati-hati, Sahabat. Jika perasaan “tidak terima” itu dibiarkan, ia akan berubah menjadi monster bernama Hasad.
Hasad itu bukan sekadar ingin punya. Hasad itu levelnya lebih mengerikan: Kita sakit hati melihat dia bahagia, dan diam-diam berharap nikmat itu dicabut dari hidupnya. Ngeri, kan?
Api yang Melahap Jerih Payah Kita
Mari kita bayangkan sebuah perumpamaan. Sahabat sudah lelah mengumpulkan kayu bakar selama bertahun-tahun. Kayu bakar itu adalah shalat, puasa, dan sedekah yang kita kumpulkan dengan susah payah. Lalu, hanya karena satu percikan api kecil dari korek api, tumpukan kayu setinggi gunung itu habis menjadi abu dalam sekejap.
Nah, itulah Hasad. Intinya begini, rasa dengki itu memakan habis pahala amal kita tanpa sisa. Kita yang capek beribadah, tapi karena hati kita busuk melihat kesuksesan orang lain, kita menjadi orang yang bangkrut di akhirat. “Rugi bandar” kalau kata anak muda sekarang.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat visual dan menohok:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
Menyiksa Diri Sendiri Tanpa Henti
Sahabat, orang yang hasad itu sebenarnya adalah orang yang paling menderita di dunia. Kenapa? Karena dia memusuhi ketetapan Allah. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan pencapaian orang lain. Dadanya sempit.
- Tetangga beli kulkas, dia yang kedinginan.
- Teman naik pangkat, dia yang meriang.
Hidupnya habis hanya untuk membanding-bandingkan. Padahal, rezeki setiap orang itu sudah ada takarannya masing-masing. Iri kepada jatah orang lain sama saja kita sedang protes kepada Allah, “Ya Allah, Engkau salah kasih rezeki, harusnya itu buat aku!” Na’udzubillah. Ini adalah bentuk kesombongan terselubung.
Rumput Tetangga Hijau, Syukuri Rumput Sendiri
Lantas, bagaimana cara memadamkan api dengki ini sebelum ia membakar habis hati kita? Solusinya ada di dalam Al-Qur’an.
Allah meminta kita untuk berhenti melirik “piring” orang lain. Jangan iri dengan apa yang Allah lebihkan kepada sebagian orang. Fokuslah pada piring kita sendiri. Di piring kita pun banyak nikmat yang kalau dihitung, kalkulator mana pun akan jebol.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Tips “Aneh” Tapi Ampuh: Doakan Dia!
Ini mungkin terdengar berat dan melawan ego. Tapi cobalah. Saat rasa iri itu muncul, lawan dengan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut. “Ya Allah, berkahilah mobil barunya, semoga membawanya pada ketaatan.”
Awalnya lisan mungkin terasa kaku. Hati mungkin menolak. Tapi percayalah, doa baik itu akan kembali kepada kita, dan perlahan hati yang panas akan menjadi dingin dan lapang. Malaikat pun akan mengaminkan doa kita dengan berkata, “Aamiin, dan bagimu juga semisal itu.”
Mari kita bersihkan hati. Buang sampah dengki itu jauh-jauh. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengintip kebahagiaan orang lain.
Tenang saja. Rezeki tidak akan tertukar. Apa yang menjadi milikmu, akan sampai kepadamu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100

