Sahabat Qur’an yang semoga lisannya selalu basah dengan zikir. Pernah tidak, kita sedang duduk santai menikmati kopi atau teh hangat bersama teman-teman, lalu tiba-tiba obrolan mengalir ke arah yang “seru”? Biasanya dimulai dengan kalimat sakti: “Eh, tahu nggak si Fulan itu ternyata…”
Jujur saja, rasanya pasti asyik ya. Ada sensasi “puas” saat kita menjadi orang yang paling tahu rahasia orang lain. Obrolan jadi makin hangat, tawa makin lepas, dan waktu terasa cepat berlalu. Wajar kok kalau kita merasa tergoda. Lidah ini memang tidak bertulang, dan syaitan paling pintar menghias dosa ini seolah-olah adalah bentuk “kepedulian” atau sekadar “analisa sosial”.
Tapi tunggu dulu, Sahabat. Di balik keasyikan sesaat itu, ada bau busuk yang menyengat yang mungkin hidung kita belum bisa menciumnya. Itu adalah bau bangkai saudara kita sendiri.
Kebenaran yang Melukai
Banyak dari kita yang membela diri, “Lho, aku kan bicara fakta! Memang dia begitu kok orangnya.”
Nah, justru di situlah letak jebakannya. Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti bahwa Ghibah itu adalah membicarakan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka jika didengar. Para sahabat bertanya, “Bagaimana jika itu benar?” Nabi menjawab, “Jika benar, itulah ghibah. Jika salah, itu fitnah.”
Intinya begini, Ghibah itu bukan soal benar atau salah, tapi soal etika menjaga kehormatan. Bayangkan aib teman kita itu seperti luka koreng di tubuhnya. Apakah pantas kita membuka perban luka itu di depan umum dan menertawakannya? Tentu tidak. Itu menyakitkan.
Menu Makan Siang: Daging Mentah Saudara Sendiri
Sahabat Qur’an, Al-Qur’an menggunakan perumpamaan yang sangat ekstrem dan menjijikkan untuk pelaku ghibah. Bukan dipukul, bukan didenda, tapi disuruh memakan daging manusia yang sudah mati.
Coba bayangkan. Ada mayat terbujur kaku di depan kita. Baunya menyengat, dikerumuni lalat, kulitnya mulai membiru. Lalu kita disuruh mengiris dagingnya dan mengunyahnya. Mual? Pasti. Muntah? Tentu saja.
Tapi itulah hakikat spiritual dari setiap kalimat ghibah yang keluar dari mulut kita. Setiap kali kita berkata, “Dia itu pelit,” “Dia itu cari muka,” sejatinya kita sedang mengunyah kehormatan mereka dengan lahap.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Transfer Pahala Gratisan
Selain menjijikkan, ghibah adalah “transaksi ekonomi” yang paling merugikan di akhirat. Saat kita membicarakan keburukan orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan transfer pahala besar-besaran ke rekening amal orang tersebut.
Kita yang capek shalat tahajud. Kita yang lelah berpuasa. Kita yang berat mengeluarkan sedekah.
Tapi pahalanya? Habis ditransfer ke orang yang kita gunjing.
Kalau pahala kita sudah habis, maka dosa-dosa orang itu yang akan ditransfer ke punggung kita. Na’udzubillah. Mau sampai kapan kita menjadi orang yang bangkrut di hari perhitungan nanti?
Mari Pasang “Filter” di Mulut
Lalu, bagaimana caranya berhenti? Memang susah, karena lidah ini sering terpeleset. Tapi kita bisa mulai dengan langkah sederhana.
Setiap kali ada teman yang mulai memancing obrolan tentang aib orang, cobalah untuk tidak menyahut. Atau lebih berani lagi, alihkan topik. “Eh, daripada bahas dia, mending bahas rencana makan-makan kita yuk.”
Berlatihlah untuk Husnuzhan (berprasangka baik). Kalau melihat orang berbuat salah, katakan dalam hati, “Mungkin dia sedang khilaf, atau mungkin dia punya alasan yang aku tidak tahu.” Tutup aib orang lain, maka Allah akan menutup aib kita di dunia dan akhirat.
Sahabat, lisan ini kecil bentuknya, tapi besar dampaknya. Ia bisa mengantar ke surga, atau menyeret ke neraka. Mari kita gunakan untuk memuji Allah, bukan mencaci hamba-Nya.
Yuk, kita puasa bicara aib orang mulai hari ini.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100

