Sahabat Qur’an yang semoga hatinya selalu disatukan dalam ukhuwah. Pernah tidak, kita sedang duduk tenang, lalu tiba-tiba datang seseorang membisikkan sesuatu: “Eh, kamu tahu nggak? Si Fulan kemarin ngomongin kejelekan kamu lho di sana. Katanya kamu itu…”

Duh, rasanya pasti seperti disiram air panas. Telinga berdengung, dada bergemuruh, dan detik itu juga pandangan kita kepada si Fulan langsung berubah menjadi benci. Padahal, semenit yang lalu kita masih bersahabat baik dengannya. Wajar kok kalau emosi kita terpancing. Kita manusia yang punya harga diri. Namun, hati-hati Sahabat, jangan buru-buru menelan informasi itu. Bisa jadi, kita sedang disuguhi racun manis bernama Namimah.

Namimah, atau yang sering kita sebut adu domba, bukan sekadar gosip. Ia adalah level kejahatan lisan yang lebih “canggih” dan mematikan. Tujuannya satu: merusak hubungan yang harmonis agar menjadi hancur berantakan.

Kurir Kebencian yang Tak Terlihat

Intinya begini, pelaku Namimah itu ibarat “kurir” yang salah alamat. Dia rajin memindahkan omongan dari satu pihak ke pihak lain, tapi bumbunya ditambah-tambah agar terjadi permusuhan. Bayangkan sebuah hutan yang kering kerontang. Pelaku namimah adalah orang yang dengan sengaja melempar puntung rokok yang masih menyala ke tengah hutan itu.

Kecil apinya.
Tapi dampaknya?
Satu hutan bisa hangus terbakar.

Begitu juga persaudaraan. Suami istri bisa bercerai, kakak adik bisa saling diam bertahun-tahun, bahkan dua kelompok masyarakat bisa saling bertikai hanya karena satu kalimat hasutan yang tidak difilter. Ini mengerikan. Makanya, Rasulullah SAW memberikan ancaman yang sangat keras bagi si “pengadu domba” ini.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan Jadi “Tong Sampah” Informasi

Lantas, bagaimana kalau kita yang didatangi oleh si pengadu domba ini? Apa yang harus kita lakukan?

Sahabat, jangan jadikan telinga kita seperti tong sampah yang mau menampung kotoran apa saja. Jika ada orang datang membawa keburukan orang lain kepada kita, sadarilah satu hal: “Orang yang membawa omongan orang lain kepadamu, kelak dia juga akan membawa omonganmu kepada orang lain.” Dia bukan teman setia, dia adalah perusak.

Jangan ucapkan terima kasih padanya. Justru kita harus waspada. Sikap kita yang langsung percaya dan ikut marah adalah “bahan bakar” yang dia cari. Kalau kita ikut marah, dia menang. Syaitan tepuk tangan.

Tabayyun: Saring Sebelum “Searing” (Membakar)

Di era digital seperti sekarang, namimah itu wujudnya bisa berupa screenshot chat yang dipotong, atau forward pesan yang tidak jelas sumbernya. Solusi dari langit sangat jelas: Cek dan Ricek, atau dalam bahasa Al-Qur’an disebut Tabayyun.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi “Hakim” yang bijak, bukan sumbu pendek yang mudah meledak. Ketika datang berita miring, tahan dulu jempolnya, dinginkan dulu kepalanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ bِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Jadilah Perekat, Bukan Gunting

Sahabat Qur’an, hidup ini sudah cukup rumit dengan berbagai masalah. Jangan kita tambah beban hidup ini dengan memutus tali silaturahim. Jadilah seperti lem yang merekatkan yang retak, bukan seperti gunting yang memisahkan yang menyatu.

Jika mendengar berita buruk tentang saudara kita, datangi dia baik-baik. Bicara empat mata. Lihat sorot matanya. Biasanya, kebenaran itu akan terlihat jelas saat kita berdialog dengan hati yang bersih, bukan dengan emosi yang disulut orang lain.

Mari kita jaga lisan dan telinga kita. Kita ingin masuk surga bersama-sama, kan? Maka, jangan biarkan adu domba membuat kita kehilangan teman duduk di surga nanti.

Yuk, lebih bijak lagi menyaring berita mulai hari ini.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:

Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.

Website: [https://executivetahfizh.com](https://executivetahfizh.com)

WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,