Setiap interaksi kita dengan Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan menata hati. Terlebih lagi bagi seorang pengajar, yang diamanahi tugas mulia untuk menanamkan Kalamullah di sanubari insan lain. Proses ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah warisan adab dan ketulusan. Di sinilah letak ujian sesungguhnya: mampukah kita berlaku adil saat di hadapan kita duduk murid dari berbagai latar belakang? Memahami dan mengamalkan adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status menjadi cermin paling jujur yang memantulkan niat di dalam dada.
Nasihat Emas Imam Al-Ajurri: Keadilan di Majelis Qur’an
Hati seorang pendidik Al-Qur’an adalah taman yang harus senantiasa disirami dengan keikhlasan. Imam Al-Ajurri, dalam kitabnya yang berharga, Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an, memberikan sebuah nasihat yang menusuk kalbu. Beliau mengingatkan kita tentang sebuah prinsip fundamental yang seringkali terabaikan.
“Dan seyogianya bagi seorang guru Al-Qur’an untuk menggunakan pendekatan yang sesuai bagi setiap orang yang diajarnya… maka sepatutnya ia menunaikan hak setiap pemilik hak, dan meyakini prinsip keadilan jika ia benar-benar mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla dalam pengajaran Al-Qur’an yang dilakukannya.”
“Kemudian, hendaknya ia waspada terhadap dirinya dari sikap merendah (berlebihan) kepada orang kaya dan sombong terhadap orang miskin. Sebaliknya, hendaklah ia bersikap tawadhu kepada orang miskin, mendekatkan mereka di majelisnya, berbelas kasih padanya, dan mencari cinta Allah ‘Azza wa Jalla melalui perbuatan itu.”
Pesan ini menggarisbawahi dua pilar utama. Pertama, kemampuan teknis untuk menyesuaikan metode pengajaran bagi si tua dan si muda. Kedua, yang lebih krusial, adalah kematangan spiritual untuk berlaku adil tanpa memandang status sosial. Keadilan (al-inshaf) inilah yang menjadi muara dari segala niat yang lurus karena Allah.
Refleksi Mendalam: Menjaga Adab Guru Al-Qur’an terhadap Murid Berbeda Status
Mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Mengapa Imam Al-Ajurri secara spesifik memperingatkan tentang sikap terhadap si kaya dan si miskin? Karena di sanalah letak ujian paling halus bagi keikhlasan. Hati manusia cenderung mencari pengakuan, mengharapkan imbalan, atau sekadar ingin terhubung dengan mereka yang memiliki pengaruh.
Godaan Hati: Kilau Duniawi vs. Cahaya Ilahi
Tanpa kita sadari, perhatian kita bisa lebih tercurah kepada murid yang kaya atau berpengaruh. Senyum kita mungkin lebih lebar, waktu kita lebih longgar, dan kesabaran kita lebih membentang untuknya. Sebaliknya, terhadap murid yang miskin, yang datang dengan pakaian sederhana dan tanpa “potensi duniawi”, bisa jadi kita bersikap biasa saja, atau bahkan—semoga Allah melindungi kita—merasa terbebani.
Inilah penyakit hati yang diperingatkan oleh Imam Al-Ajurri. Sikap membedakan ini secara tidak langsung menodai niat kita. Seolah-olah, kita mengajar Al-Qur’an bukan lagi murni untuk Allah, melainkan untuk mengharapkan sesuatu dari makhluk. Padahal, kemuliaan seorang pengajar Al-Qur’an tidak diukur dari siapa muridnya, melainkan dari ketulusannya dalam menyampaikan Kalam Rabb-nya.
Pelajaran Abadi dari Surah ‘Abasa
Al-Qur’an sendiri telah mengabadikan sebuah pelajaran agung tentang adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status. Kisah ini dialami langsung oleh manusia termulia, Rasulullah ﷺ, sebagai teguran cinta dari Allah.
Ketika beliau sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy, datanglah seorang sahabat buta yang mulia, Abdullah bin Ummi Maktum, yang rindu akan petunjuk. Rasulullah ﷺ sedikit berpaling darinya, berharap para pembesar itu mendapat hidayah. Maka, turunlah teguran lembut dari Allah:
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad), barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?” (Q.S. ‘Abasa: 1-4).
Pelajaran ini sangat jelas: nilai seseorang di sisi Allah bukanlah pada status sosialnya, melainkan pada ketulusan hatinya dalam mencari kebenaran. Jiwa yang haus akan petunjuk, meskipun ia miskin dan tak dipandang, jauh lebih berharga di hadapan Allah daripada para pembesar yang hatinya tertutup.
Langkah Praktis Meneladani Sikap Ideal
Setelah memahami fondasi teorinya, bagaimana kita bisa mengaplikasikan prinsip agung ini dalam majelis Al-Qur’an kita? Menjaga adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status memerlukan latihan dan kesadaran terus-menerus.
Muliakan yang Lemah, Dekatkan yang Miskin
Praktikkan nasihat Imam Al-Ajurri secara literal. Dekatkan posisi duduk murid yang miskin. Berikan ia senyuman termanis kita. Tanyakan kabarnya dengan tulus. Tunjukkan bahwa kehadirannya sangat berarti. Perlakuan istimewa ini, yang kita berikan karena Allah, akan menjadi jalan untuk meraih cinta-Nya. Sikap ini sekaligus menjaga marwah (kehormatan) mereka sebagai sesama muslim.
Jaga Kewibawaan, Luruskan Niat
Terhadap murid yang kaya, tetaplah bersikap hormat dan profesional, namun jangan sampai merendahkan diri. Ingatlah bahwa kemuliaan kita datang dari Al-Qur’an yang kita emban, bukan dari kedekatan dengan orang berada. Jaga batas agar interaksi tidak bergeser dari hubungan guru-murid yang mulia menjadi hubungan yang bersifat transaksional.
Pada akhirnya, semua kembali pada niat. Sebelum memulai setiap sesi mengajar, mari kita perbarui komitmen di dalam hati. Kita mengajar bukan untuk fulan atau fulan, bukan untuk amplop atau pujian, tetapi semata-mata untuk menunaikan amanah dan mencari wajah Allah. Allah-lah yang akan menilai setiap ketulusan kita, bahkan yang tersembunyi di sudut hati terdalam sekalipun.
Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang hamba yang dicintai Allah?
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang berkecukupan (hatinya), dan yang tidak menonjolkan diri.” (H.R. Muslim).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan kekayaan hati, bukan pada popularitas atau status duniawi. Inilah profil hamba yang seharusnya kita teladani dan kita hargai, baik dalam diri kita maupun pada murid-murid kita.
Dengan menempatkan keadilan dan ketawadhuan sebagai mahkota dalam mengajar, kita tidak hanya mentransfer hafalan ayat, tetapi juga menanamkan karakter Qur’ani. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi para pengajar Al-Qur’an yang adil, tulus, dan diridhai-Nya.
Jika Anda merindukan sebuah lingkungan belajar Al-Qur’an yang tidak hanya fokus pada teknik, tetapi juga pada pembinaan adab dan karakter, kami dengan tulus mengundang Anda untuk bergabung bersama kami. Di sini, kita akan belajar bersama untuk memuliakan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surah ‘Abasa: 1-4.
Al-Ajurri, Muhammad ibn al-Husayn. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibn al-Jawzi.
Hadits Riwayat Muslim.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Ada sebuah keagungan yang hening saat seseorang memilih mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Duduk di sebuah majelis, melantunkan ayat demi ayat, dan menuntun lisan demi lisan untuk fasih mengucap firman-Nya adalah sebuah kehormatan. Namun, di balik kehormatan itu tersembunyi sebuah tanggung jawab yang jauh lebih dalam: menjadi cerminan hidup dari apa yang diajarkan. Kemuliaan seorang pengajar Al-Qur’an tidak diukur dari banyaknya murid atau kekuatan hafalannya semata, melainkan dari kilau akhlak yang memancar dari dalam dirinya. Inilah esensi dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri, sebuah mahkota tak terlihat yang sesungguhnya.
Fondasi Utama: Tawadhu’ Sebagai Cermin Keikhlasan
Imam al-Ajurri dalam kitabnya, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an, menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental: kerendahan hati (tawadhu’). Beliau menasihatkan agar seorang pengajar Al-Qur’an hendaknya “bertawadhu’ dalam dirinya jika ia duduk di majelisnya, dan tidak merasa besar diri.” Nasihat ini bukanlah sekadar etika kesopanan, melainkan inti dari keikhlasan. Ketika kita mengajar karena Allah, maka tidak ada ruang bagi kesombongan. Ilmu yang kita miliki adalah titipan, bukan properti pribadi yang pantas dibanggakan.
Tawadhu’ inilah yang menjadi bahan bakar untuk meraih predikat terbaik sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)
Hadits ini seringkali kita pahami sebatas anjuran belajar dan mengajar. Padahal, ia mengandung makna yang lebih subtil. Proses “mengajarkan” yang dimaksud bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan transfer nilai dan adab. Bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan keagungan Al-Qur’an jika diri kita sendiri terbelenggu oleh rasa angkuh? Tawadhu’ adalah pintu gerbang yang memungkinkan cahaya Al-Qur’an mengalir dari hati kita ke hati para santri.
Manifestasi Akhlak Mulia Pengajar Al-Qur’an saat Berinteraksi dengan Santri
Lalu, bagaimana wujud nyata dari kerendahan hati tersebut? Ia termanifestasi dalam setiap interaksi, dari tatapan mata hingga pilihan kata. Inilah beberapa pilar dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri yang perlu kita tumbuhkan.
1. Menyambut dengan Wajah Berseri dan Hati Terbuka
Imam al-Ajurri menyebutkan, “…dan menyambut orang yang diajarkannya Al-Qur’an dengan sambutan yang indah.” Sambutan yang indah (iqbalan jamilan) bukan sekadar senyuman basa-basi. Ia adalah pancaran ketulusan yang membuat santri merasa diterima, dihargai, dan aman. Bayangkan seorang santri datang dengan rasa gugup, takut salah, dan khawatir dengan hafalannya. Wajah guru yang berseri dan sambutan hangat bisa menjadi penawar bagi segala kegelisahannya. Inilah langkah pertama untuk membangun jembatan hati sebelum membangun jembatan ilmu.
2. Merendahkan Diri, Bukan Merendahkan Ilmu
Tawadhu’ bukan berarti kita harus terlihat tidak berilmu. Tawadhu’ adalah sikap hati yang membuat kita mudah dijangkau. Ia berarti duduk setara dengan santri, mendengarkan keluh kesah mereka dengan saksama, dan tidak pernah membuat mereka merasa kecil atau bodoh karena kesalahan dalam belajar. Pengajar yang tawadhu’ akan berkata, “Mari kita belajar bersama,” bukan, “Dengarkan saya, saya yang lebih tahu.” Sikap ini menumbuhkan rasa hormat yang tulus, bukan rasa takut yang dipaksakan.
3. Sabar dalam Mendidik, Ikhlas dalam Meluruskan
Setiap santri memiliki kecepatan belajar yang unik. Ada yang cepat menangkap, ada pula yang butuh pengulangan berkali-kali. Di sinilah kesabaran menjadi ujian keikhlasan. Meluruskan bacaan yang salah dengan nada yang lembut, mengulang materi tanpa menunjukkan kebosanan, dan memberikan motivasi saat santri merasa putus asa adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri. Tujuannya bukan sekadar agar santri hafal, tetapi agar ia cinta pada proses menghafal.
Dalil Sebagai Kompas Batin
Sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang ini bukanlah sekadar teori pedagogi modern, melainkan perintah langsung dari Allah kepada Rasul-Nya, yang merupakan guru terbaik sepanjang masa. Allah berfirman:
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini adalah kompas bagi setiap pengajar. Jika Rasulullah ﷺ yang maksum saja diperintahkan untuk bersikap lemah lembut, apalagi kita? Sikap keras dan kasar hanya akan membuat santri menjauh, bukan hanya dari diri kita, tetapi bisa jadi dari Al-Qur’an itu sendiri. Na’udzubillah.
Transformasi: Dari Mengajar Menjadi Mendidik
Pada akhirnya, memahami dan menerapkan akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri akan mengubah peran kita dari seorang pengajar (mu’allim) menjadi seorang pendidik (murabbi). Seorang pengajar mungkin berhasil membuat santri hafal 30 juz, tetapi seorang pendidik berhasil menanamkan cinta dan karakter Al-Qur’an ke dalam jiwa santrinya.
Hafalan bisa pudar seiring waktu, tetapi karakter Qur’ani yang terbentuk dari interaksi penuh kelembutan, tawadhu’, dan keikhlasan akan abadi. Inilah warisan sejati yang bisa kita berikan. Karena tujuan tertinggi dari pendidikan Al-Qur’an bukanlah melahirkan para penghafal, melainkan melahirkan generasi yang berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an. Dan itu semua dimulai dari mahkota tak terlihat yang kita kenakan di dalam majelis ilmu: akhlak yang mulia.
Jika kita merindukan lingkungan belajar yang tidak hanya fokus pada ketepatan hafalan, tetapi juga keindahan adab dan pembentukan karakter Qur’ani, maka inilah saatnya kita memulai dari diri sendiri. Mari kita berjuang menjadi guru yang dirindukan, yang kehadirannya menenangkan, dan yang nasihatnya menembus kalbu.
Qur’an Learning Center Yogyakarta berkomitmen untuk menciptakan ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang berlandaskan pada prinsip-prinsip ini. Kami percaya bahwa proses menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan spiritual yang harus diiringi dengan pembinaan akhlak yang luhur.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran: 159
Hadits Riwayat Bukhari
Al-Ajurri, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Setiap lembar Al-Qur’an yang kita baca adalah untaian cahaya yang menerangi relung jiwa. Setiap ayat yang kita lantunkan adalah bisikan Ilahi yang menenangkan hati yang gundah. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam tentang apa yang seharusnya kita lakukan sesaat setelah menutup mushaf? Ke mana arah hati dan tangan kita tertuju setelah merasakan manisnya berinteraksi dengan Kalamullah? Momen inilah yang menjadi penentu nilai kemuliaan interaksi kita. Inilah saat krusial untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Sebuah fragmen berharga dari perjalanan para salaf memberikan kita cermin yang begitu jernih. Kisah ini dituturkan oleh Imam Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Beliau berkisah tentang perjalanannya bersama sahabat Nabi yang mulia, ‘Imran bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhu.
Diriwayatkan dari Al-Hasan, beliau berkata, “Aku dan ‘Imran bin Al-Husain melewati seorang lelaki yang sedang membaca Surah Yusuf. Maka ‘Imran pun berhenti untuk mendengarkan bacaannya. Tatkala lelaki itu selesai (membaca), ia lalu meminta-minta (kepada orang). Maka ‘Imran mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) seraya berkata: ‘Mari kita pergi. Sungguh, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa membaca Al-Qur’an, maka hendaklah ia meminta kepada Allah dengannya. Karena sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu mereka meminta-minta kepada manusia dengannya.’”
Perhatikanlah bagaimana reaksi ‘Imran bin Al-Husain. Beliau tidak marah atau menegur secara langsung, namun hatinya bergetar hingga mengucapkan kalimat istirja’, sebuah kalimat yang biasa diucapkan saat tertimpa musibah. Mengapa? Karena menyaksikan Al-Qur’an yang agung dijadikan alat untuk meminta belas kasihan manusia adalah sebuah musibah. Sebuah kemerosotan nilai yang menyedihkan.
Sabda Rasulullah ﷺ: Sebuah Peringatan Keras
Hadits yang disampaikan oleh ‘Imran bin Al-Husain tersebut merupakan pedoman fundamental bagi setiap pembaca Al-Qur’an. Mari kita bedah pesan luhur di dalamnya.
Sabda Nabi ﷺ, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, maka hendaklah ia meminta kepada Allah dengannya,” adalah sebuah perintah yang sarat makna. Setelah kita meluangkan waktu untuk berdialog dengan Allah melalui firman-Nya, saat itulah momen paling mustajab untuk menengadahkan tangan. Saat itu, hati kita sedang lembut, jiwa kita sedang terhubung, dan rahmat Allah sedang tercurah. Maka, gunakanlah kemuliaan amal tersebut sebagai perantara (wasilah) untuk memohon segala hajat kita, baik duniawi maupun ukhrawi, hanya kepada-Nya.
Praktik Menjadikan Al-Qur’an sebagai Wasilah Meminta kepada Allah
Lalu, bagaimana cara kita menerapkan prinsip agung ini? Caranya adalah dengan menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai pembuka pintu doa. Setelah selesai membaca beberapa ayat atau halaman, berhentilah sejenak. Angkat tangan kita dan panjatkan doa dengan penuh kerendahan hati. Mohonlah ampunan, petunjuk, rezeki, dan segala kebaikan dengan bertawasul pada amal shalih (membaca Al-Qur’an) yang baru saja kita kerjakan. Inilah esensi sejati dari menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah.
Di sisi lain, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang “suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu mereka meminta-minta kepada manusia dengannya.” Ini adalah sebuah nubuat yang sayangnya kita saksikan realitasnya. Betapa banyak orang yang menggunakan keindahan bacaan Al-Qur’an bukan untuk mendekat pada Sang Khaliq, melainkan untuk menarik simpati dan materi dari makhluk. Mereka menukar kemuliaan Kalamullah dengan recehan dunia yang fana.
Mengapa Meminta kepada Manusia Merendahkan Al-Qur’an?
Tindakan meminta-minta kepada manusia dengan perantara Al-Qur’an sejatinya mencederai kemuliaan Al-Qur’an itu sendiri. Pertama, ia mereduksi nilai ibadah menjadi sebatas pertunjukan. Bacaan yang seharusnya menjadi zikir dan tadabbur berubah menjadi komoditas. Kedua, ia menunjukkan tipisnya iman dan tawakal kepada Allah. Seolah-olah setelah berkomunikasi dengan Sang Maha Kaya, kita justru lebih percaya pada pemberian makhluk-Nya yang fakir.
Padahal, Allah sendiri telah memerintahkan kita untuk meminta langsung kepada-Nya. Dialah satu-satunya sumber pertolongan dan pemenuh segala kebutuhan. Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'” (Q.S. Ghafir: 60).
Ayat ini adalah jaminan. Pintu langit selalu terbuka bagi hamba yang berdoa. Maka, alangkah ruginya jika kita menutup pintu langit yang luas dan justru mengetuk pintu-pintu manusia yang terbatas.
Menjaga Izzah dan Kemuliaan Pembaca Al-Qur’an
Imam Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri memberikan komentar yang mendalam terkait hadits ini. Beliau berkata, “Pada hadits ini terdapat pelajaran yang cukup bagi orang yang mau merenunginya, lalu ia bertakwa kepada Allah, mengagungkan Al-Qur’an, menjaganya, dan menukar sesuatu yang fana dengan sesuatu yang kekal.”
Pesan ini mengajak kita untuk menjaga izzah (kehormatan) sebagai seorang pembaca Al-Qur’an. Kemuliaan kita tidak terletak pada pujian atau pemberian manusia, tetapi pada kedekatan kita dengan Allah. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, kita sejatinya sedang menegaskan kemandirian spiritual kita. Kita menyatakan bahwa satu-satunya sandaran kita adalah Allah, Sang Pemilik segala perbendaharaan langit dan bumi.
Mari kita luruskan kembali niat kita setiap kali membuka mushaf. Niatkanlah ia sebagai ibadah murni, sebagai sarana untuk memahami petunjuk-Nya, dan sebagai momentum emas untuk berdoa kepada-Nya. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan di lisan, tetapi juga kekuatan yang mengangkat derajat dan menjaga kehormatan kita di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Inilah jalan untuk meraih kemuliaan hakiki, menukar dunia yang sementara dengan akhirat yang abadi.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mengagungkan Al-Qur’an dengan cara yang benar, serta menjadikan kita hamba-hamba yang hanya meminta dan berharap kepada-Nya. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, kita tidak akan pernah kecewa.
Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an lebih dari sekadar membacanya, namun juga menghafalkannya dengan metode yang efektif dan dibimbing secara personal, program kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Kami percaya, setiap individu memiliki potensi untuk dekat dengan Al-Qur’an, dan kami hadir untuk memfasilitasinya.
Daftar Referensi
Imam Al-Ajurri. Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dār Ibn al-Jawzī.
Q.S. Ghafir: 60.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Sebuah untaian hikmah pernah terucap dari lisan seorang ulama salaf, Maimun bin Mihran, yang getarannya terasa relevan hingga kini. Beliau berkata, “Kalau seandainya para ahli Al-Qur’an (ahlul qur’an) itu baik, niscaya baik pula seluruh manusia.” Pernyataan ini bukan sekadar pujian, melainkan sebuah penegasan tentang tanggung jawab besar yang terpikul di pundak siapa saja yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur’an. Mereka adalah mercusuar, teladan, dan barometer kebaikan umat. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam? Interaksi dengan Al-Qur’an bukanlah pengalaman yang seragam. Ada hati yang luluh, ada pula jiwa yang justru semakin menjauh. Sebuah hadits nabawi menyingkap tabir ini, menguraikan tentang potret tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman sebagai cermin bagi kita semua.
Cermin Diri: Mengapa Ahlul Qur’an Menjadi Tolok Ukur?
Pernyataan Maimun bin Mihran sejatinya mengajak kita untuk memahami betapa sentralnya peran para penjaga wahyu. Ahlul Qur’an, baik para penghafal, pengkaji, maupun pengamalnya, adalah representasi hidup dari ajaran kitab suci. Masyarakat melihat Al-Qur’an melalui akhlak mereka. Jika tutur kata mereka lembut, sikap mereka adil, dan amanah mereka terjaga, maka citra Al-Qur’an pun akan terangkat mulia di mata manusia.
Sebaliknya, jika mereka yang sehari-hari akrab dengan Al-Qur’an justru menampilkan perilaku yang bertentangan dengan nilainya—kasar dalam ucapan, culas dalam muamalah, atau gila akan dunia—maka fitnah terbesar sedang menimpa agama ini. Mereka menjadi penghalang antara manusia dengan cahaya Al-Qur’an. Inilah mengapa kesalehan mereka menjadi prasyarat bagi kesalehan masyarakat luas. Tanggung jawab ini menuntut kita untuk senantiasa memeriksa niat dan motivasi terdalam saat berinteraksi dengan Kalamullah.
Mengenal Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an di Akhir Zaman
Rasulullah ﷺ, dengan pandangan nubuwahnya yang menembus zaman, telah memberikan peringatan berharga. Dalam sebuah riwayat yang sampai kepada kita melalui Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda tentang generasi yang akan datang, di antaranya adalah mereka yang membaca Al-Qur’an.
“…kemudian akan ada generasi yang membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Dan Al-Qur’an itu dibaca oleh tiga golongan: seorang mukmin, seorang munafik, dan seorang fajir (pendosa).”
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai tiga golongan ini, dijelaskan bahwa: si munafik mengingkarinya, si fajir menjadikannya alat untuk mencari keuntungan dunia, dan si mukmin mengimaninya. Hadits ini sejatinya memberi kita sebuah peta untuk memahami lanskap spiritual interaksi manusia dengan wahyu, menggambarkan potret tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman dengan sangat jelas.
1. Golongan Pertama: Al-Mu’min (Orang Beriman)
Inilah golongan yang paling mulia. Bagi seorang mukmin, Al-Qur’an adalah surat cinta dari Sang Pencipta. Setiap huruf yang ia baca adalah dialog suci yang menenangkan jiwa dan mencerahkan akal. Bacaannya bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan proses penyerapan cahaya ilahi ke dalam sanubari. Ia mengimaninya (`mu’minun bih`), meyakini setiap janji dan ancaman di dalamnya, serta berusaha sekuat tenaga untuk menyelaraskan hidupnya dengan petunjuk-Nya. Al-Qur’an menjadi sumber kekuatan saat lemah, penunjuk jalan saat tersesat, dan penghibur lara saat dirundung duka. Inilah tujuan tertinggi dari interaksi kita dengan Al-Qur’an.
2. Golongan Kedua: Al-Munafiq (Orang Munafik)
Golongan ini adalah yang paling berbahaya. Secara lahiriah, mereka mungkin tampak paling fasih lidahnya, paling merdu suaranya, bahkan mungkin paling banyak hafalannya. Namun, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa bacaan mereka “tidak melampaui tenggorokan”. Artinya, ayat-ayat itu hanya berhenti di lisan, tidak pernah meresap ke dalam hati untuk menjadi keyakinan. Mereka membacanya, tetapi hati mereka mengingkarinya (`kafirun bih`). Al-Qur’an bagi mereka hanyalah topeng untuk menutupi kekufuran, sebuah alat untuk mengelabui manusia dan meraih simpati. Mereka adalah musuh dalam selimut yang merusak citra Islam dari dalam.
3. Golongan Ketiga: Al-Fajir (Pendosa yang Mencari Dunia)
Golongan ketiga adalah Al-Fajir, yaitu pendosa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai komoditas. Ia “menjadikannya alat untuk mencari makan/dunia” (`yata’akkalu bih`). Niatnya membaca, menghafal, atau mengajarkan Al-Qur’an bukan karena Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan duniawi: popularitas, jabatan, pujian, atau materi. Kalamullah yang seharusnya menjadi pembersih jiwa, di tangannya justru menjadi alat untuk memuaskan nafsu duniawinya. Ia mungkin tidak mengingkari Al-Qur’an seperti si munafik, tetapi ia telah merendahkan kemuliaan wahyu dengan menukarnya dengan harga yang sangat murah.
Refleksi Mendalam tentang Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an di Akhir Zaman
Klasifikasi ini bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah cermin tajam yang memaksa kita untuk memeriksa relung hati terdalam. Saat kita membuka mushaf, niat apa yang terbesit di hati? Saat kita melantunkan ayat-ayat-Nya, untuk siapa lantunan itu kita persembahkan? Saat kita menghafal, tujuan apa yang ingin kita capai? Memahami esensi dari tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman ini bukanlah untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap niat dan tujuan kita sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengisyaratkan adanya tingkatan manusia dalam menerima kitab-Nya. Dia berfirman:
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (Q.S. Fatir: 32)
Para fajir dan munafik termasuk dalam golongan yang menzalimi diri sendiri. Sementara seorang mukmin, dengan segala usahanya, berada di antara level pertengahan (muqtashid) dan yang berlomba-lomba dalam kebaikan (saabiqun bil khairaat). Perjalanan kita bersama Al-Qur’an adalah perjuangan untuk terus naik kelas, dari sekadar membaca menjadi meyakini, lalu mengamalkan dengan penuh keikhlasan.
Menuju Derajat Mukmin Sejati Bersama Al-Qur’an
Pada akhirnya, hadits tentang tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman adalah sebuah kompas penunjuk arah. Ia memanggil kita untuk tidak pernah puas dengan interaksi yang dangkal. Tujuan kita bukan hanya lancar membaca atau banyak menghafal, melainkan menjadi seorang mukmin sejati yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam setiap langkah kehidupannya. Karena hanya dengan cara itulah, kita dapat mewujudkan hikmah dari ucapan Maimun bin Mihran: kesalehan kita sebagai ahlul Qur’an menjadi gerbang bagi kesalehan seluruh umat manusia.
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita, membersihkan niat kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang beriman sejati kepada Al-Qur’an. Aamiin.
Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, tidak hanya pada level hafalan namun juga pemaknaan dan pengamalan, kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu selebar-lebarnya. Mari bersama-sama menapaki jalan untuk menjadi Ahlul Qur’an yang sejati, yang kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta.
Daftar Referensi
Imam al-Ajurri, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dār Ibn al-Jawzī.
Q.S. Fatir: 32.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Setiap lembar mushaf yang kita hafal sejatinya bukan sekadar barisan kata yang tersimpan dalam memori, melainkan untaian cahaya yang semestinya membentuk ulang jiwa dan pandangan hidup. Interaksi mendalam dengan Al-Qur’an membawa sebuah konsekuensi mulia: tanggung jawab menjadi cerminan dari nilai-nilai luhurnya. Inilah fondasi esensial dalam upaya menjaga kemuliaan penghafal Al-Qur’an di era modern, sebuah amanah yang melampaui sekadar kelancaran setoran hafalan.
Seorang ulama salaf yang hatinya dilunakkan oleh Al-Qur’an, Fudhail bin ‘Iyadh, pernah melukiskan sebuah standar agung bagi para penghafal Kitabullah. Beliau berkata, “Hamilul Qur’an (pembawa Al-Qur’an) adalah pembawa panji Islam.” Ini adalah sebuah pernyataan yang sarat makna. Panji tidak pernah ditancapkan di tempat yang hina, ia selalu berkibar di tempat tertinggi sebagai simbol kehormatan, kekuatan, dan identitas.
Maka, seorang penghafal Al-Qur’an adalah representasi berjalan dari ajaran Islam itu sendiri. Perilakunya menjadi tafsir, ucapannya menjadi syiar, dan diamnya menjadi muruah. Fudhail bin ‘Iyadh melanjutkan nasihatnya yang begitu menusuk kalbu:
“Tidak selayaknya ia (penghafal Al-Qur’an) berkata sia-sia bersama orang yang berkata sia-sia, tidak lalai bersama orang yang lalai, dan tidak bermain-main bersama orang yang bermain-main.”
Pesan ini menggarisbawahi betapa pentingnya menjaga kualitas diri. Majelis kita, obrolan kita, hingga cara kita memanfaatkan waktu luang adalah cerminan dari ayat-ayat yang bersemayam di dalam dada. Bagaimana mungkin lisan yang terbiasa melantunkan firman Allah yang suci, turut serta dalam perbincangan yang hampa dan tak bermanfaat?
Rasulullah SAW sendiri telah mengangkat derajat para ahlul Qur’an dengan sabdanya:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)
Status “sebaik-baik manusia” ini bukanlah lencana pasif, melainkan sebuah amanah aktif untuk menyelaraskan akhlak dengan kemuliaan wahyu yang dihafal.
Fondasi Kokoh: Menjaga Kemuliaan Penghafal Al-Qur’an di Era Modern
Nasihat Fudhail bin ‘Iyadh memberikan dua pilar utama sebagai panduan praktis dalam memanifestasikan kemuliaan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya relevan dahulu, dan semakin krusial hari ini.
Menjadi Sumber Kebaikan, Bukan Peminta-minta
Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan sebuah prinsip kemandirian dan kehormatan yang luar biasa:
“Seyogianya bagi penghafal Al-Qur’an untuk tidak memiliki hajat (kebutuhan) kepada seorang pun dari makhluk, dari khalifah hingga yang di bawahnya. Dan seyogianya, kebutuhan para makhluk justru ada padanya.”
Ini adalah seruan untuk membangun kemuliaan diri (iffah) dengan tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan manusia. Seorang ahlul Qur’an dididik oleh firman-firman Allah untuk memiliki mentalitas pemberi, penebar manfaat, dan sumber solusi. Ilmunya menjadi penerang bagi yang kebingungan, nasihatnya menentramkan jiwa yang gelisah, dan kehadirannya membawa keberkahan. Ketika seorang penghafal Al-Qur’an menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta—baik secara materi maupun pengakuan—maka Allah akan mengangkat derajatnya. Inilah prinsip dasar dalam menjaga kemuliaan penghafal Al-Qur’an di era modern.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Diamalkan
Seringkali kita terjebak pada euforia kuantitas hafalan dan keindahan lantunan semata. Fudhail bin ‘Iyadh mengingatkan kita pada tujuan hakiki diturunkannya Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun manusia justru menjadikan bacaannya sebagai amalan (semata).”
Maksud beliau adalah, tujuan puncaknya adalah mempraktikkan isinya: menghalalkan apa yang dihalalkan, mengharamkan apa yang diharamkan, dan berhenti pada ayat-ayat-Nya yang mutasyabih. Hafalan adalah pintu gerbang, sementara taman pengamalannya terbentang luas di sepanjang sisa hidup kita. Allah SWT menegaskan fungsi utama kitab-Nya:
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2)
Kata kunci “petunjuk” (huda) menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kompas hidup, bukan sekadar pajangan atau bahan perlombaan.
Sebuah Teguran Keras: Jangan Jual Kemuliaanmu dengan Harga Murah
Kisah yang dinukil dari Hudzaifah al-Mar’asyi kepada Yusuf bin Asbath adalah tamparan keras yang menyadarkan kita akan bahaya merendahkan kemuliaan Al-Qur’an demi keuntungan duniawi yang sepele. Diceritakan bahwa Yusuf bin Asbath, seorang yang dikenal (sebagai ahlul Qur’an/ahli ibadah), menawar harga susu dari seperenam menjadi seperdelapan. Hudzaifah menulis surat kepadanya:
“Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau menjual agamamu dengan dua butir (uang receh)… Singkapkan dari kepalamu penutup orang-orang yang lalai, dan bangkitlah dari tidur kematian. Ketahuilah, barang siapa membaca Al-Qur’an kemudian lebih mementingkan dunia, aku khawatir ia termasuk orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah.”
Pesan ini begitu dalam. Persoalannya bukan pada tawar-menawar yang mubah, tetapi pada hilangnya muruah dan wibawa seorang yang dikenal membawa Al-Qur’an di dadanya demi selisih harga yang sangat sedikit. Ia seolah menukar kemuliaan agamanya dengan nilai yang tak seberapa. Inilah tantangan terbesar dalam menjaga kemuliaan penghafal Al-Qur’an di era modern: saat dunia menawarkan gemerlapnya, mampukah kita tetap teguh memegang prinsip kemuliaan dari Allah?
Pada akhirnya, menjaga kemuliaan penghafal Al-Qur’an di era modern adalah sebuah perjalanan internal yang berkelanjutan. Ia adalah tentang menyelaraskan hafalan di memori dengan getaran takwa di hati, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Semoga Allah mampukan kita untuk menjadi pembawa panji Islam yang sejati, yang tidak hanya menghafal ayat-ayat-Nya, tetapi juga menghidupinya hingga akhir hayat.
Jika jiwa kita terpanggil untuk menapaki jalan mulia ini, menimba ilmu di lingkungan yang mendukung pertumbuhan hafalan sekaligus pemahaman, maka inilah saatnya untuk mengambil langkah. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang mendalam dan transformatif.
Daftar Referensi
Al-Ajurri, Abu Bakar Muhammad bin al-Husain. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Diterbitkan oleh Dar Ibnul Jauzi.
Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah: 2.
Hadis Riwayat Bukhari, Shahih al-Bukhari.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Interaksi dengan Al-Qur’an sejatinya adalah sebuah proses transformasi. Ia bukan sekadar aktivitas menghafal teks, melainkan sebuah perjalanan untuk menyerap ruh, adab, dan cahaya Kalamullah ke dalam jiwa. Inilah esensi yang coba digarisbawahi oleh para ulama, sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad bin Al-Husain dalam kitab Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an.
“Seluruh riwayat ini menunjukkan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa para Ahlul Qur’an (keluarga Al-Qur’an) sudah semestinya memiliki akhlak yang berbeda (mubayinah) dengan akhlak orang lain yang tidak memiliki ilmu seperti mereka. Apabila kesulitan (asy-syada’id) menimpa, mereka berlindung kepada Allah Yang Maha Mulia, dan tidak berlindung kepada makhluk…”
Pernyataan ini bukan tentang kesombongan, melainkan tentang sebuah standar. Sebuah keniscayaan bahwa cahaya ilmu yang kita timba dari Al-Qur’an harus termanifestasi menjadi karakter yang berbeda, lebih mulia, dan lebih tangguh. Inilah esensi dari proses meneladani akhlak ahlul qur’an saat ditimpa kesulitan; sebuah pembeda yang paling kentara antara mereka yang sekadar tahu dengan mereka yang benar-benar meresapi.
Mengapa Akhlak Ahlul Qur’an Harus Berbeda?
Kata kunci yang digunakan Imam Al-Ajurri adalah mubayinah, yang berarti kontras, terpisah, atau sangat berbeda. Perbedaan ini bukanlah pada penampilan fisik atau status sosial, melainkan pada respons jiwa ketika dihadapkan pada realitas kehidupan. Terutama, ketika badai kesulitan menerpa.
Orang kebanyakan, ketika ditimpa musibah, mungkin akan berkeluh kesah, menyalahkan keadaan, atau panik mencari pertolongan dari sesama makhluk. Hati mereka langsung tertuju pada siapa yang bisa menolong, koneksi mana yang bisa dihubungi, atau kekuatan materi apa yang bisa diandalkan. Ini adalah respons yang sangat manusiawi.
Namun, bagi Ahlul Qur’an, kompas hatinya telah terkalibrasi secara berbeda. Hati mereka telah terlatih untuk menjadikan Allah sebagai muara pertama dan utama. Seperti yang ditegaskan, “wa kaanallahu ‘azza wa jalla asbaqa ilaa qulubihim” (dan Allah ‘Azza wa Jalla lebih dahulu sampai ke hati mereka). Sebelum lisan mengeluh, sebelum pikiran mencari solusi duniawi, hati mereka telah lebih dulu berbisik, “Ya Allah…”. Inilah perbedaan kelas yang sesungguhnya.
Langkah Praktis Meneladani Akhlak Ahlul Qur’an saat Ditimpa Kesulitan
Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bisa menapaki jalan yang sama? Bagaimana cara kita membangun fondasi karakter agar serupa dengan mereka? Proses meneladani akhlak ahlul qur’an saat ditimpa kesulitan adalah sebuah perjalanan yang memerlukan kesadaran dan latihan terus-menerus.
1. Menjadikan Allah Sandaran Pertama dan Utama
Ini adalah latihan hati yang paling fundamental. Saat berita buruk datang, saat bisnis goyah, saat kesehatan menurun, kemana hati kita pertama kali berlari? Apakah langsung mengambil ponsel untuk curhat kepada teman, atau segera mengambil air wudhu untuk bersujud kepada-Nya? Ahlul Qur’an tidak menafikan pentingnya ikhtiar dan pertolongan manusia, namun mereka menempatkan Allah di urutan pertama yang absolut. Mereka paham betul firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 153).
2. Beradab dengan Adab Al-Qur’an dan Sunnah
Ahlul Qur’an adalah cerminan berjalan dari Al-Qur’an itu sendiri. Akhlak mereka adalah tafsir hidup dari ayat-ayat yang mereka hafal dan pelajari. Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab dengan singkat namun padat:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (H.R. Muslim).
Ini berarti, dalam kesulitan mereka menunjukkan kesabaran seperti Nabi Ayyub, dalam kesendirian mereka menunjukkan keteguhan seperti Nabi Yusuf, dan dalam kemenangan mereka menunjukkan kerendahan hati seperti Nabi Muhammad saat Fathu Makkah. Al-Qur’an dan Sunnah bukan lagi sekadar teks, melainkan telah menjadi sistem operasi yang menggerakkan seluruh tindakan dan respons mereka.
3. Menjadi Teladan yang Menginspirasi
Imam Al-Ajurri menyebut mereka sebagai “a’lamun yuqtada bi fi’alihim” (panji-panji yang perbuatannya dijadikan teladan). Ketenangan mereka di tengah badai, senyum mereka di tengah kepahitan, dan optimisme mereka di tengah ketidakpastian, menjadi dakwah tanpa kata yang paling mengena. Orang akan melihat dan bertanya, “Mengapa ia bisa begitu tegar?” Jawabannya ada pada Al-Qur’an yang bersemayam di dadanya. Sikap inilah yang membuktikan bahwa mereka adalah golongan pilihan, “khassatullah wa ahluhu” (orang-orang khusus dan keluarga Allah).
Golongan Allah yang Selalu Beruntung
Pada akhirnya, perjalanan meneladani akhlak ahlul qur’an saat ditimpa kesulitan adalah tentang memilih untuk menjadi bagian dari hizbullah (golongan Allah). Sebuah pilihan sadar untuk hidup dengan standar yang lebih tinggi, bukan untuk dipuji manusia, tetapi karena itulah konsekuensi logis dari membawa Kalam-Nya di dalam diri.
Allah menutup pembahasan ini dengan sebuah penegasan yang indah dalam firman-Nya:
“…Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Mujadalah: 22).
Keberuntungan sejati bukanlah terbebas dari kesulitan, tetapi memiliki hati yang tetap terhubung dengan Allah di setiap episode kehidupan. Semoga kita dimampukan untuk tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi Ahlul Qur’an yang akhlaknya menjadi penyejuk dan teladan bagi semesta.
Mari kita mulai perjalanan mulia ini bersama, membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap langkah di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sini, kita tidak hanya belajar menghafal, tetapi juga belajar menghidupkan Al-Qur’an dalam diri.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah: 153
Al-Qur’an, Surah Al-Mujadalah: 22
Hadits Riwayat Muslim No. 746
Al-Ajurri, Muhammad bin Al-Husain. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibnul Jauzi.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta