Setiap lembar Al-Qur’an yang kita baca adalah untaian cahaya yang menerangi relung jiwa. Setiap ayat yang kita lantunkan adalah bisikan Ilahi yang menenangkan hati yang gundah. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam tentang apa yang seharusnya kita lakukan sesaat setelah menutup mushaf? Ke mana arah hati dan tangan kita tertuju setelah merasakan manisnya berinteraksi dengan Kalamullah? Momen inilah yang menjadi penentu nilai kemuliaan interaksi kita. Inilah saat krusial untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Sebuah fragmen berharga dari perjalanan para salaf memberikan kita cermin yang begitu jernih. Kisah ini dituturkan oleh Imam Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Beliau berkisah tentang perjalanannya bersama sahabat Nabi yang mulia, ‘Imran bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhu.
Diriwayatkan dari Al-Hasan, beliau berkata, “Aku dan ‘Imran bin Al-Husain melewati seorang lelaki yang sedang membaca Surah Yusuf. Maka ‘Imran pun berhenti untuk mendengarkan bacaannya. Tatkala lelaki itu selesai (membaca), ia lalu meminta-minta (kepada orang). Maka ‘Imran mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) seraya berkata: ‘Mari kita pergi. Sungguh, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa membaca Al-Qur’an, maka hendaklah ia meminta kepada Allah dengannya. Karena sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu mereka meminta-minta kepada manusia dengannya.’”
Perhatikanlah bagaimana reaksi ‘Imran bin Al-Husain. Beliau tidak marah atau menegur secara langsung, namun hatinya bergetar hingga mengucapkan kalimat istirja’, sebuah kalimat yang biasa diucapkan saat tertimpa musibah. Mengapa? Karena menyaksikan Al-Qur’an yang agung dijadikan alat untuk meminta belas kasihan manusia adalah sebuah musibah. Sebuah kemerosotan nilai yang menyedihkan.
Sabda Rasulullah ﷺ: Sebuah Peringatan Keras
Hadits yang disampaikan oleh ‘Imran bin Al-Husain tersebut merupakan pedoman fundamental bagi setiap pembaca Al-Qur’an. Mari kita bedah pesan luhur di dalamnya.
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَلْيَسْأَلْ اللهَ عز وجل بِهِ، فَإِنَّه سَيَأْتِي قَوْمٌ يَقْرَؤونَ الْقُرْآنَ، يَسْأَلُونَ النَّاسَ بِهِ
Sabda Nabi ﷺ, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, maka hendaklah ia meminta kepada Allah dengannya,” adalah sebuah perintah yang sarat makna. Setelah kita meluangkan waktu untuk berdialog dengan Allah melalui firman-Nya, saat itulah momen paling mustajab untuk menengadahkan tangan. Saat itu, hati kita sedang lembut, jiwa kita sedang terhubung, dan rahmat Allah sedang tercurah. Maka, gunakanlah kemuliaan amal tersebut sebagai perantara (wasilah) untuk memohon segala hajat kita, baik duniawi maupun ukhrawi, hanya kepada-Nya.
Praktik Menjadikan Al-Qur’an sebagai Wasilah Meminta kepada Allah
Lalu, bagaimana cara kita menerapkan prinsip agung ini? Caranya adalah dengan menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai pembuka pintu doa. Setelah selesai membaca beberapa ayat atau halaman, berhentilah sejenak. Angkat tangan kita dan panjatkan doa dengan penuh kerendahan hati. Mohonlah ampunan, petunjuk, rezeki, dan segala kebaikan dengan bertawasul pada amal shalih (membaca Al-Qur’an) yang baru saja kita kerjakan. Inilah esensi sejati dari menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah.
Di sisi lain, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang “suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu mereka meminta-minta kepada manusia dengannya.” Ini adalah sebuah nubuat yang sayangnya kita saksikan realitasnya. Betapa banyak orang yang menggunakan keindahan bacaan Al-Qur’an bukan untuk mendekat pada Sang Khaliq, melainkan untuk menarik simpati dan materi dari makhluk. Mereka menukar kemuliaan Kalamullah dengan recehan dunia yang fana.
Mengapa Meminta kepada Manusia Merendahkan Al-Qur’an?
Tindakan meminta-minta kepada manusia dengan perantara Al-Qur’an sejatinya mencederai kemuliaan Al-Qur’an itu sendiri. Pertama, ia mereduksi nilai ibadah menjadi sebatas pertunjukan. Bacaan yang seharusnya menjadi zikir dan tadabbur berubah menjadi komoditas. Kedua, ia menunjukkan tipisnya iman dan tawakal kepada Allah. Seolah-olah setelah berkomunikasi dengan Sang Maha Kaya, kita justru lebih percaya pada pemberian makhluk-Nya yang fakir.
Padahal, Allah sendiri telah memerintahkan kita untuk meminta langsung kepada-Nya. Dialah satu-satunya sumber pertolongan dan pemenuh segala kebutuhan. Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'” (Q.S. Ghafir: 60).
Ayat ini adalah jaminan. Pintu langit selalu terbuka bagi hamba yang berdoa. Maka, alangkah ruginya jika kita menutup pintu langit yang luas dan justru mengetuk pintu-pintu manusia yang terbatas.
Menjaga Izzah dan Kemuliaan Pembaca Al-Qur’an
Imam Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri memberikan komentar yang mendalam terkait hadits ini. Beliau berkata, “Pada hadits ini terdapat pelajaran yang cukup bagi orang yang mau merenunginya, lalu ia bertakwa kepada Allah, mengagungkan Al-Qur’an, menjaganya, dan menukar sesuatu yang fana dengan sesuatu yang kekal.”
Pesan ini mengajak kita untuk menjaga izzah (kehormatan) sebagai seorang pembaca Al-Qur’an. Kemuliaan kita tidak terletak pada pujian atau pemberian manusia, tetapi pada kedekatan kita dengan Allah. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, kita sejatinya sedang menegaskan kemandirian spiritual kita. Kita menyatakan bahwa satu-satunya sandaran kita adalah Allah, Sang Pemilik segala perbendaharaan langit dan bumi.
Mari kita luruskan kembali niat kita setiap kali membuka mushaf. Niatkanlah ia sebagai ibadah murni, sebagai sarana untuk memahami petunjuk-Nya, dan sebagai momentum emas untuk berdoa kepada-Nya. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan di lisan, tetapi juga kekuatan yang mengangkat derajat dan menjaga kehormatan kita di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Inilah jalan untuk meraih kemuliaan hakiki, menukar dunia yang sementara dengan akhirat yang abadi.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mengagungkan Al-Qur’an dengan cara yang benar, serta menjadikan kita hamba-hamba yang hanya meminta dan berharap kepada-Nya. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah meminta kepada Allah, kita tidak akan pernah kecewa.
Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an lebih dari sekadar membacanya, namun juga menghafalkannya dengan metode yang efektif dan dibimbing secara personal, program kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Kami percaya, setiap individu memiliki potensi untuk dekat dengan Al-Qur’an, dan kami hadir untuk memfasilitasinya.
Daftar Referensi
- Imam Al-Ajurri. Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dār Ibn al-Jawzī.
- Q.S. Ghafir: 60.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


