Sebuah untaian hikmah pernah terucap dari lisan seorang ulama salaf, Maimun bin Mihran, yang getarannya terasa relevan hingga kini. Beliau berkata, “Kalau seandainya para ahli Al-Qur’an (ahlul qur’an) itu baik, niscaya baik pula seluruh manusia.” Pernyataan ini bukan sekadar pujian, melainkan sebuah penegasan tentang tanggung jawab besar yang terpikul di pundak siapa saja yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur’an. Mereka adalah mercusuar, teladan, dan barometer kebaikan umat. Namun, pernahkah kita merenung lebih dalam? Interaksi dengan Al-Qur’an bukanlah pengalaman yang seragam. Ada hati yang luluh, ada pula jiwa yang justru semakin menjauh. Sebuah hadits nabawi menyingkap tabir ini, menguraikan tentang potret tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman sebagai cermin bagi kita semua.

Cermin Diri: Mengapa Ahlul Qur’an Menjadi Tolok Ukur?

Pernyataan Maimun bin Mihran sejatinya mengajak kita untuk memahami betapa sentralnya peran para penjaga wahyu. Ahlul Qur’an, baik para penghafal, pengkaji, maupun pengamalnya, adalah representasi hidup dari ajaran kitab suci. Masyarakat melihat Al-Qur’an melalui akhlak mereka. Jika tutur kata mereka lembut, sikap mereka adil, dan amanah mereka terjaga, maka citra Al-Qur’an pun akan terangkat mulia di mata manusia.

Sebaliknya, jika mereka yang sehari-hari akrab dengan Al-Qur’an justru menampilkan perilaku yang bertentangan dengan nilainya—kasar dalam ucapan, culas dalam muamalah, atau gila akan dunia—maka fitnah terbesar sedang menimpa agama ini. Mereka menjadi penghalang antara manusia dengan cahaya Al-Qur’an. Inilah mengapa kesalehan mereka menjadi prasyarat bagi kesalehan masyarakat luas. Tanggung jawab ini menuntut kita untuk senantiasa memeriksa niat dan motivasi terdalam saat berinteraksi dengan Kalamullah.

Mengenal Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an di Akhir Zaman

Rasulullah ﷺ, dengan pandangan nubuwahnya yang menembus zaman, telah memberikan peringatan berharga. Dalam sebuah riwayat yang sampai kepada kita melalui Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda tentang generasi yang akan datang, di antaranya adalah mereka yang membaca Al-Qur’an.

…ثُمَّ يَكُونُ خَلْفٌ يَقْرَؤونَ الْقُرْآنَ لا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ، وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثَلاثَةٌ: مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ وَفَاجِرٌ

“…kemudian akan ada generasi yang membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Dan Al-Qur’an itu dibaca oleh tiga golongan: seorang mukmin, seorang munafik, dan seorang fajir (pendosa).”

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai tiga golongan ini, dijelaskan bahwa: si munafik mengingkarinya, si fajir menjadikannya alat untuk mencari keuntungan dunia, dan si mukmin mengimaninya. Hadits ini sejatinya memberi kita sebuah peta untuk memahami lanskap spiritual interaksi manusia dengan wahyu, menggambarkan potret tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman dengan sangat jelas.

1. Golongan Pertama: Al-Mu’min (Orang Beriman)

Inilah golongan yang paling mulia. Bagi seorang mukmin, Al-Qur’an adalah surat cinta dari Sang Pencipta. Setiap huruf yang ia baca adalah dialog suci yang menenangkan jiwa dan mencerahkan akal. Bacaannya bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan proses penyerapan cahaya ilahi ke dalam sanubari. Ia mengimaninya (`mu’minun bih`), meyakini setiap janji dan ancaman di dalamnya, serta berusaha sekuat tenaga untuk menyelaraskan hidupnya dengan petunjuk-Nya. Al-Qur’an menjadi sumber kekuatan saat lemah, penunjuk jalan saat tersesat, dan penghibur lara saat dirundung duka. Inilah tujuan tertinggi dari interaksi kita dengan Al-Qur’an.

2. Golongan Kedua: Al-Munafiq (Orang Munafik)

Golongan ini adalah yang paling berbahaya. Secara lahiriah, mereka mungkin tampak paling fasih lidahnya, paling merdu suaranya, bahkan mungkin paling banyak hafalannya. Namun, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa bacaan mereka “tidak melampaui tenggorokan”. Artinya, ayat-ayat itu hanya berhenti di lisan, tidak pernah meresap ke dalam hati untuk menjadi keyakinan. Mereka membacanya, tetapi hati mereka mengingkarinya (`kafirun bih`). Al-Qur’an bagi mereka hanyalah topeng untuk menutupi kekufuran, sebuah alat untuk mengelabui manusia dan meraih simpati. Mereka adalah musuh dalam selimut yang merusak citra Islam dari dalam.

3. Golongan Ketiga: Al-Fajir (Pendosa yang Mencari Dunia)

Golongan ketiga adalah Al-Fajir, yaitu pendosa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai komoditas. Ia “menjadikannya alat untuk mencari makan/dunia” (`yata’akkalu bih`). Niatnya membaca, menghafal, atau mengajarkan Al-Qur’an bukan karena Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan duniawi: popularitas, jabatan, pujian, atau materi. Kalamullah yang seharusnya menjadi pembersih jiwa, di tangannya justru menjadi alat untuk memuaskan nafsu duniawinya. Ia mungkin tidak mengingkari Al-Qur’an seperti si munafik, tetapi ia telah merendahkan kemuliaan wahyu dengan menukarnya dengan harga yang sangat murah.

Refleksi Mendalam tentang Tiga Golongan Pembaca Al-Qur’an di Akhir Zaman

Klasifikasi ini bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah cermin tajam yang memaksa kita untuk memeriksa relung hati terdalam. Saat kita membuka mushaf, niat apa yang terbesit di hati? Saat kita melantunkan ayat-ayat-Nya, untuk siapa lantunan itu kita persembahkan? Saat kita menghafal, tujuan apa yang ingin kita capai? Memahami esensi dari tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman ini bukanlah untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap niat dan tujuan kita sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengisyaratkan adanya tingkatan manusia dalam menerima kitab-Nya. Dia berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (Q.S. Fatir: 32)

Para fajir dan munafik termasuk dalam golongan yang menzalimi diri sendiri. Sementara seorang mukmin, dengan segala usahanya, berada di antara level pertengahan (muqtashid) dan yang berlomba-lomba dalam kebaikan (saabiqun bil khairaat). Perjalanan kita bersama Al-Qur’an adalah perjuangan untuk terus naik kelas, dari sekadar membaca menjadi meyakini, lalu mengamalkan dengan penuh keikhlasan.

Menuju Derajat Mukmin Sejati Bersama Al-Qur’an

Pada akhirnya, hadits tentang tiga golongan pembaca Al-Qur’an di akhir zaman adalah sebuah kompas penunjuk arah. Ia memanggil kita untuk tidak pernah puas dengan interaksi yang dangkal. Tujuan kita bukan hanya lancar membaca atau banyak menghafal, melainkan menjadi seorang mukmin sejati yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam setiap langkah kehidupannya. Karena hanya dengan cara itulah, kita dapat mewujudkan hikmah dari ucapan Maimun bin Mihran: kesalehan kita sebagai ahlul Qur’an menjadi gerbang bagi kesalehan seluruh umat manusia.

Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita, membersihkan niat kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang beriman sejati kepada Al-Qur’an. Aamiin.

Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, tidak hanya pada level hafalan namun juga pemaknaan dan pengamalan, kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu selebar-lebarnya. Mari bersama-sama menapaki jalan untuk menjadi Ahlul Qur’an yang sejati, yang kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta.

Daftar Referensi

  • Imam al-Ajurri, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dār Ibn al-Jawzī.
  • Q.S. Fatir: 32.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri