Setiap interaksi kita dengan Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan menata hati. Terlebih lagi bagi seorang pengajar, yang diamanahi tugas mulia untuk menanamkan Kalamullah di sanubari insan lain. Proses ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah warisan adab dan ketulusan. Di sinilah letak ujian sesungguhnya: mampukah kita berlaku adil saat di hadapan kita duduk murid dari berbagai latar belakang? Memahami dan mengamalkan adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status menjadi cermin paling jujur yang memantulkan niat di dalam dada.

Nasihat Emas Imam Al-Ajurri: Keadilan di Majelis Qur’an

Hati seorang pendidik Al-Qur’an adalah taman yang harus senantiasa disirami dengan keikhlasan. Imam Al-Ajurri, dalam kitabnya yang berharga, Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an, memberikan sebuah nasihat yang menusuk kalbu. Beliau mengingatkan kita tentang sebuah prinsip fundamental yang seringkali terabaikan.

وَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ يُلَقِّنُهُ مَا يَصْلُحُ لِمِثْلِهِ؛ … فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُوفِّيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَيَعْتَقِدَ الإِنْصَافَ إِنْ كَانَ يُرِيدُ اللهَ عز وجل بِتَلْقِينِهِ الْقُرْآنَ

“Dan seyogianya bagi seorang guru Al-Qur’an untuk menggunakan pendekatan yang sesuai bagi setiap orang yang diajarnya… maka sepatutnya ia menunaikan hak setiap pemilik hak, dan meyakini prinsip keadilan jika ia benar-benar mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla dalam pengajaran Al-Qur’an yang dilakukannya.”

ثُمَّ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَحْذَرَ عَلَى نَفْسِهِ التَّوَاضُعَ لِلْغَنِيِّ، وَالتَّكبُّرَ عَلَى الْفَقِيرِ، بَلْ يَكُونُ مُتَوَاضِعًا لِلْفَقِيرِ، مُقَرِّبًا لِمَجْلِسِهِ، مُتَعَطِّفًا عَلَيْهِ، يَتَحَبَّبُ إِلَى الله عز وجل بِذَلِكَ

“Kemudian, hendaknya ia waspada terhadap dirinya dari sikap merendah (berlebihan) kepada orang kaya dan sombong terhadap orang miskin. Sebaliknya, hendaklah ia bersikap tawadhu kepada orang miskin, mendekatkan mereka di majelisnya, berbelas kasih padanya, dan mencari cinta Allah ‘Azza wa Jalla melalui perbuatan itu.”

Pesan ini menggarisbawahi dua pilar utama. Pertama, kemampuan teknis untuk menyesuaikan metode pengajaran bagi si tua dan si muda. Kedua, yang lebih krusial, adalah kematangan spiritual untuk berlaku adil tanpa memandang status sosial. Keadilan (al-inshaf) inilah yang menjadi muara dari segala niat yang lurus karena Allah.

Refleksi Mendalam: Menjaga Adab Guru Al-Qur’an terhadap Murid Berbeda Status

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Mengapa Imam Al-Ajurri secara spesifik memperingatkan tentang sikap terhadap si kaya dan si miskin? Karena di sanalah letak ujian paling halus bagi keikhlasan. Hati manusia cenderung mencari pengakuan, mengharapkan imbalan, atau sekadar ingin terhubung dengan mereka yang memiliki pengaruh.

Godaan Hati: Kilau Duniawi vs. Cahaya Ilahi

Tanpa kita sadari, perhatian kita bisa lebih tercurah kepada murid yang kaya atau berpengaruh. Senyum kita mungkin lebih lebar, waktu kita lebih longgar, dan kesabaran kita lebih membentang untuknya. Sebaliknya, terhadap murid yang miskin, yang datang dengan pakaian sederhana dan tanpa “potensi duniawi”, bisa jadi kita bersikap biasa saja, atau bahkan—semoga Allah melindungi kita—merasa terbebani.

Inilah penyakit hati yang diperingatkan oleh Imam Al-Ajurri. Sikap membedakan ini secara tidak langsung menodai niat kita. Seolah-olah, kita mengajar Al-Qur’an bukan lagi murni untuk Allah, melainkan untuk mengharapkan sesuatu dari makhluk. Padahal, kemuliaan seorang pengajar Al-Qur’an tidak diukur dari siapa muridnya, melainkan dari ketulusannya dalam menyampaikan Kalam Rabb-nya.

Pelajaran Abadi dari Surah ‘Abasa

Al-Qur’an sendiri telah mengabadikan sebuah pelajaran agung tentang adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status. Kisah ini dialami langsung oleh manusia termulia, Rasulullah ﷺ, sebagai teguran cinta dari Allah.

Ketika beliau sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy, datanglah seorang sahabat buta yang mulia, Abdullah bin Ummi Maktum, yang rindu akan petunjuk. Rasulullah ﷺ sedikit berpaling darinya, berharap para pembesar itu mendapat hidayah. Maka, turunlah teguran lembut dari Allah:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (١) أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (٢) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (٤)

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad), barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?” (Q.S. ‘Abasa: 1-4).

Pelajaran ini sangat jelas: nilai seseorang di sisi Allah bukanlah pada status sosialnya, melainkan pada ketulusan hatinya dalam mencari kebenaran. Jiwa yang haus akan petunjuk, meskipun ia miskin dan tak dipandang, jauh lebih berharga di hadapan Allah daripada para pembesar yang hatinya tertutup.

Langkah Praktis Meneladani Sikap Ideal

Setelah memahami fondasi teorinya, bagaimana kita bisa mengaplikasikan prinsip agung ini dalam majelis Al-Qur’an kita? Menjaga adab guru Al-Qur’an terhadap murid berbeda status memerlukan latihan dan kesadaran terus-menerus.

Muliakan yang Lemah, Dekatkan yang Miskin

Praktikkan nasihat Imam Al-Ajurri secara literal. Dekatkan posisi duduk murid yang miskin. Berikan ia senyuman termanis kita. Tanyakan kabarnya dengan tulus. Tunjukkan bahwa kehadirannya sangat berarti. Perlakuan istimewa ini, yang kita berikan karena Allah, akan menjadi jalan untuk meraih cinta-Nya. Sikap ini sekaligus menjaga marwah (kehormatan) mereka sebagai sesama muslim.

Jaga Kewibawaan, Luruskan Niat

Terhadap murid yang kaya, tetaplah bersikap hormat dan profesional, namun jangan sampai merendahkan diri. Ingatlah bahwa kemuliaan kita datang dari Al-Qur’an yang kita emban, bukan dari kedekatan dengan orang berada. Jaga batas agar interaksi tidak bergeser dari hubungan guru-murid yang mulia menjadi hubungan yang bersifat transaksional.

Pada akhirnya, semua kembali pada niat. Sebelum memulai setiap sesi mengajar, mari kita perbarui komitmen di dalam hati. Kita mengajar bukan untuk fulan atau fulan, bukan untuk amplop atau pujian, tetapi semata-mata untuk menunaikan amanah dan mencari wajah Allah. Allah-lah yang akan menilai setiap ketulusan kita, bahkan yang tersembunyi di sudut hati terdalam sekalipun.

Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang hamba yang dicintai Allah?

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang berkecukupan (hatinya), dan yang tidak menonjolkan diri.” (H.R. Muslim).

Hadits ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan kekayaan hati, bukan pada popularitas atau status duniawi. Inilah profil hamba yang seharusnya kita teladani dan kita hargai, baik dalam diri kita maupun pada murid-murid kita.

Dengan menempatkan keadilan dan ketawadhuan sebagai mahkota dalam mengajar, kita tidak hanya mentransfer hafalan ayat, tetapi juga menanamkan karakter Qur’ani. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi para pengajar Al-Qur’an yang adil, tulus, dan diridhai-Nya.

Jika Anda merindukan sebuah lingkungan belajar Al-Qur’an yang tidak hanya fokus pada teknik, tetapi juga pada pembinaan adab dan karakter, kami dengan tulus mengundang Anda untuk bergabung bersama kami. Di sini, kita akan belajar bersama untuk memuliakan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah ‘Abasa: 1-4.
  • Al-Ajurri, Muhammad ibn al-Husayn. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibn al-Jawzi.
  • Hadits Riwayat Muslim.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri