Ada sebuah keagungan yang hening saat seseorang memilih mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Duduk di sebuah majelis, melantunkan ayat demi ayat, dan menuntun lisan demi lisan untuk fasih mengucap firman-Nya adalah sebuah kehormatan. Namun, di balik kehormatan itu tersembunyi sebuah tanggung jawab yang jauh lebih dalam: menjadi cerminan hidup dari apa yang diajarkan. Kemuliaan seorang pengajar Al-Qur’an tidak diukur dari banyaknya murid atau kekuatan hafalannya semata, melainkan dari kilau akhlak yang memancar dari dalam dirinya. Inilah esensi dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri, sebuah mahkota tak terlihat yang sesungguhnya.

Fondasi Utama: Tawadhu’ Sebagai Cermin Keikhlasan

Imam al-Ajurri dalam kitabnya, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an, menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental: kerendahan hati (tawadhu’). Beliau menasihatkan agar seorang pengajar Al-Qur’an hendaknya “bertawadhu’ dalam dirinya jika ia duduk di majelisnya, dan tidak merasa besar diri.” Nasihat ini bukanlah sekadar etika kesopanan, melainkan inti dari keikhlasan. Ketika kita mengajar karena Allah, maka tidak ada ruang bagi kesombongan. Ilmu yang kita miliki adalah titipan, bukan properti pribadi yang pantas dibanggakan.

Tawadhu’ inilah yang menjadi bahan bakar untuk meraih predikat terbaik sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Hadits ini seringkali kita pahami sebatas anjuran belajar dan mengajar. Padahal, ia mengandung makna yang lebih subtil. Proses “mengajarkan” yang dimaksud bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan transfer nilai dan adab. Bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan keagungan Al-Qur’an jika diri kita sendiri terbelenggu oleh rasa angkuh? Tawadhu’ adalah pintu gerbang yang memungkinkan cahaya Al-Qur’an mengalir dari hati kita ke hati para santri.

Manifestasi Akhlak Mulia Pengajar Al-Qur’an saat Berinteraksi dengan Santri

Lalu, bagaimana wujud nyata dari kerendahan hati tersebut? Ia termanifestasi dalam setiap interaksi, dari tatapan mata hingga pilihan kata. Inilah beberapa pilar dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri yang perlu kita tumbuhkan.

1. Menyambut dengan Wajah Berseri dan Hati Terbuka

Imam al-Ajurri menyebutkan, “…dan menyambut orang yang diajarkannya Al-Qur’an dengan sambutan yang indah.” Sambutan yang indah (iqbalan jamilan) bukan sekadar senyuman basa-basi. Ia adalah pancaran ketulusan yang membuat santri merasa diterima, dihargai, dan aman. Bayangkan seorang santri datang dengan rasa gugup, takut salah, dan khawatir dengan hafalannya. Wajah guru yang berseri dan sambutan hangat bisa menjadi penawar bagi segala kegelisahannya. Inilah langkah pertama untuk membangun jembatan hati sebelum membangun jembatan ilmu.

2. Merendahkan Diri, Bukan Merendahkan Ilmu

Tawadhu’ bukan berarti kita harus terlihat tidak berilmu. Tawadhu’ adalah sikap hati yang membuat kita mudah dijangkau. Ia berarti duduk setara dengan santri, mendengarkan keluh kesah mereka dengan saksama, dan tidak pernah membuat mereka merasa kecil atau bodoh karena kesalahan dalam belajar. Pengajar yang tawadhu’ akan berkata, “Mari kita belajar bersama,” bukan, “Dengarkan saya, saya yang lebih tahu.” Sikap ini menumbuhkan rasa hormat yang tulus, bukan rasa takut yang dipaksakan.

3. Sabar dalam Mendidik, Ikhlas dalam Meluruskan

Setiap santri memiliki kecepatan belajar yang unik. Ada yang cepat menangkap, ada pula yang butuh pengulangan berkali-kali. Di sinilah kesabaran menjadi ujian keikhlasan. Meluruskan bacaan yang salah dengan nada yang lembut, mengulang materi tanpa menunjukkan kebosanan, dan memberikan motivasi saat santri merasa putus asa adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri. Tujuannya bukan sekadar agar santri hafal, tetapi agar ia cinta pada proses menghafal.

Dalil Sebagai Kompas Batin

Sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang ini bukanlah sekadar teori pedagogi modern, melainkan perintah langsung dari Allah kepada Rasul-Nya, yang merupakan guru terbaik sepanjang masa. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)

Ayat ini adalah kompas bagi setiap pengajar. Jika Rasulullah ﷺ yang maksum saja diperintahkan untuk bersikap lemah lembut, apalagi kita? Sikap keras dan kasar hanya akan membuat santri menjauh, bukan hanya dari diri kita, tetapi bisa jadi dari Al-Qur’an itu sendiri. Na’udzubillah.

Transformasi: Dari Mengajar Menjadi Mendidik

Pada akhirnya, memahami dan menerapkan akhlak mulia pengajar Al-Qur’an saat berinteraksi dengan santri akan mengubah peran kita dari seorang pengajar (mu’allim) menjadi seorang pendidik (murabbi). Seorang pengajar mungkin berhasil membuat santri hafal 30 juz, tetapi seorang pendidik berhasil menanamkan cinta dan karakter Al-Qur’an ke dalam jiwa santrinya.

Hafalan bisa pudar seiring waktu, tetapi karakter Qur’ani yang terbentuk dari interaksi penuh kelembutan, tawadhu’, dan keikhlasan akan abadi. Inilah warisan sejati yang bisa kita berikan. Karena tujuan tertinggi dari pendidikan Al-Qur’an bukanlah melahirkan para penghafal, melainkan melahirkan generasi yang berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an. Dan itu semua dimulai dari mahkota tak terlihat yang kita kenakan di dalam majelis ilmu: akhlak yang mulia.

Jika kita merindukan lingkungan belajar yang tidak hanya fokus pada ketepatan hafalan, tetapi juga keindahan adab dan pembentukan karakter Qur’ani, maka inilah saatnya kita memulai dari diri sendiri. Mari kita berjuang menjadi guru yang dirindukan, yang kehadirannya menenangkan, dan yang nasihatnya menembus kalbu.

Qur’an Learning Center Yogyakarta berkomitmen untuk menciptakan ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang berlandaskan pada prinsip-prinsip ini. Kami percaya bahwa proses menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan spiritual yang harus diiringi dengan pembinaan akhlak yang luhur.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran: 159
  • Hadits Riwayat Bukhari
  • Al-Ajurri, Mukhtashar Akhlaq Hamalat al-Qur’an

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri