oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 15, 2025 | Artikel
Dalam perjalanan spiritual mengarungi samudra ilmu, khususnya ilmu Al-Qur’an yang mulia, kita seringkali terfokus pada hasil akhir berupa hafalan atau pemahaman mendalam. Namun, esensi yang tak kalah krusial, bahkan menjadi fondasi utama, adalah bagaimana hati kita membersamai setiap langkah. Inilah yang kita kenal sebagai `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran`.
Ikhlas bukan sekadar kata, melainkan sebuah orientasi jiwa yang sepenuhnya tertuju kepada Allah Swt. Ilmu, utamanya ilmu syar’i, adalah anugerah ilahi yang menuntut kemurnian niat. Ia bukan alat untuk meraih popularitas, jabatan, kekayaan, apalagi sekadar pujian dari sesama makhluk. Sesuai tuntunan yang telah diwariskan para ulama salaf, setiap langkah yang kita ambil dalam mengajar maupun belajar ilmu, seyogianya terbebaskan dari motif-motif duniawi.
Hindari Jerat Duniawi dalam Menggapai Ilmu
Kerap kali, godaan dunia begitu kuat menggoyahkan benteng keikhlasan. Mengajar Al-Qur’an atau mempelajari sunnah Rasulullah ﷺ bukan untuk menjadi sosok yang disegani, memiliki banyak pengikut, atau mendapatkan keuntungan materi. Bahkan, sekadar mengharapkan hadiah yang sejatinya tak akan ada jika bukan karena proses pengajaran, itu pun perlu dihindari. Allah Swt. telah mengingatkan kita akan perbedaan tujuan hidup yang fana dengan yang abadi:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا * وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُورًا
Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah sana dengan sungguh-sungguh, sedang dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.
Q.S. Al-Isra: 18-19 secara gamblang membedakan antara mereka yang hanya mengincar dunia dan mereka yang berorientasi akhirat. Ilmu adalah jalan menuju Allah, bukan jalan pintas menuju kemewahan atau popularitas fana. Rasulullah ﷺ pun menegaskan ancaman bagi mereka yang menyalahgunakan ilmu untuk tujuan duniawi:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya untuk mencari wajah Allah Azza wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan tujuan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.
Ini adalah peringatan serius bagi kita semua, baik sebagai pembelajar maupun pengajar Al-Qur’an. Keberkahan ilmu hanya akan bersemi ketika hati bersih dari pamrih dunia.
Memupuk Keikhlasan Sejati bagi Pengajar Al-Quran
Seorang pengajar Al-Qur’an memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kemurnian niatnya. Hindarilah keinginan untuk memperbanyak murid demi gengsi atau merasa tidak senang jika murid-muridnya menimba ilmu dari guru lain. Fenomena seperti ini, yang disinyalir oleh para ulama sebagai indikasi niat yang keliru, menunjukkan bahwa tujuan pengajaran bukan lagi semata-mata mengharapkan ridha Allah. Apabila seseorang benar-benar ikhlas karena Allah, ia justru akan gembira melihat muridnya semakin bertambah ilmu, dari mana pun ia belajar.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengungkapkan sebuah kerinduan mulia, “Aku berharap seluruh manusia mempelajari ilmu ini – maksudnya ilmunya dan kitab-kitabnya – dan tidak ada satu huruf pun yang dinisbatkan kepadaku.” Ini adalah puncak keikhlasan, sebuah teladan agung tentang bagaimana `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` seharusnya terwujud. Kita hendaknya meneladani para ulama salaf yang hanya mengharap wajah Allah dalam setiap dedikasi mereka.
Adab dan Akhlak Mulia Seorang Pendidik Ilmu Syar’i
Selain keikhlasan, adab dan akhlak karimah adalah cerminan sejati dari nilai-nilai keislaman. Seorang pengajar Al-Qur’an seyogianya menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia yang diajarkan syariat. Ini meliputi kezuhudan terhadap dunia, tidak terlalu peduli dengan hiruk-pikuk materi, kemurahan hati, akhlak yang baik, wajah yang berseri tanpa berlebihan, kesabaran, serta menjauhi hal-hal yang merendahkan martabat.
Memelihara wara’ (kehati-hatian), khusyuk, ketenangan, kewibawaan, kerendahan hati, serta menghindari banyak tertawa dan bercanda berlebihan adalah bagian integral dari adab seorang guru. Tak lupa, menjaga kebersihan diri seperti memotong kumis, memotong kuku, menyisir jenggot, menghilangkan bau badan, dan mengenakan pakaian yang pantas, merupakan bagian dari kesempurnaan seorang Muslim yang juga patut menjadi teladan. Terutama, jauhilah dengki, riya’, ujub (bangga diri), dan meremehkan orang lain, meskipun level keilmuannya berada di bawah kita. Senantiasa berzikir, berdoa, dan muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah, baik terang-terangan maupun tersembunyi, adalah kunci menjaga hati dan spiritualitas.
Pentingnya `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` juga mencakup perlakuan baik terhadap para penuntut ilmu. Seorang guru yang berakhlak mulia akan memancarkan aura positif yang bukan hanya membuat ilmu mudah diserap, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada kebaikan dan sunnah Nabi. Perlakuan yang santun, sabar, dan penuh kasih sayang akan menjadi pupuk yang menyuburkan jiwa para pelajar Al-Qur’an.
Akhirnya, memahami dan mengamalkan `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` adalah fondasi utama untuk meraih keberkahan. Ketika niat kita murni karena Allah, dan akhlak kita meneladani Rasulullah ﷺ, maka setiap huruf yang diajarkan dan setiap ayat yang dihafal akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kita menuju kebahagiaan abadi. Mari terus perbaiki niat dan sempurnakan adab kita agar ilmu yang kita dapatkan benar-benar menjadi hujjah bagi kita, bukan justru sebaliknya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Isra: 18-19
- H.R. Abu Daud No. 3664 (Kitab Ilmu)
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 15, 2025 | Artikel
Dalam setiap langkah yang kita pijak di jalan pencarian ilmu, terlebih lagi dalam samudera hikmah Al-Quran, ada satu permata yang harus senantiasa kita genggam erat: keikhlasan. Ia adalah kompas penunjuk arah yang hakiki, yang menjaga hati dari godaan fatamorgana dunia, serta memastikan bahwa setiap tetes ilmu yang kita serap dan sampaikan benar-benar bermuara pada ridha Ilahi. Tanpa keikhlasan, ibadah yang begitu mulia ini bisa saja berubah menjadi sekadar aktivitas yang hampa nilai di mata-Nya.
Kisah-kisah para ulama salaf, para penghafal Al-Quran terdahulu, selalu menempatkan niat sebagai pilar utama. Mereka memahami betul bahwa secanggih apapun metode belajar, sefasih apapun lisan dalam mengajar, jika tidak dilandasi niat yang tulus untuk mendekat kepada Allah semata, maka keberkahan akan terasa jauh. Inilah inti dari pembahasan kita: Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran, sebuah prinsip yang harus tertanam kuat dalam sanubari setiap penuntut dan pengajar.
Hakikat Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu
Keikhlasan bukanlah sekadar mengucapkan kalimat “lillahi ta’ala” di awal niat, melainkan sebuah kerja hati yang konsisten dan berkelanjutan. Ia berarti membersihkan niat dari segala bentuk tendensi duniawi, seperti keinginan akan harta, kedudukan, popularitas, pujian dari sesama, atau bahkan sekadar pengakuan atas keunggulan diri. Seorang penuntut ilmu, khususnya ilmu agama dan Al-Quran, diwajibkan untuk senantiasa menyucikan hati agar tujuan utamanya adalah semata-mata mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Manakala hati telah tercampur dengan tujuan-tujuan duniawi, sekecil apapun itu, maka ilmu yang diperoleh atau diajarkan akan kehilangan esensinya. Ia mungkin masih tampak sebagai ilmu, namun cahayanya akan redup, keberkahannya akan sirna, dan dampaknya pun tak akan abadi. Inilah mengapa para ulama terdahulu begitu menekankan pentingnya menjaga niat, bahkan dalam perkara-perkara kecil seperti menerima hadiah dari murid. Sebuah hadiah, jika diterima karena motivasi agar murid terus belajar atau memberikan pelayanan yang lebih baik, padahal hadiah itu tidak akan diberikan seandainya tidak ada proses pengajaran, maka ini pun termasuk dalam lingkup yang perlu diwaspadai.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
Barang siapa menghendaki pahala di akhirat, akan Kami tambahkan pahala itu baginya; dan barang siapa menghendaki pahala dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari padanya (pahala dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat. (Q.S. Asy-Syura: 20)
Ayat ini dengan tegas membedakan antara mereka yang berorientasi akhirat dan mereka yang berorientasi dunia. Ilmu adalah bekal akhirat, dan jika kita mencari ilmu dengan niat akhirat, maka Allah akan melimpahkan keberkahan yang berlipat. Namun, jika niatnya hanya untuk dunia, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia, tanpa sedikit pun bagian di akhirat kelak. Inilah betapa krusialnya Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran.
Menghindari Jerat Dunia dalam Pengajaran Al-Quran
Pengajaran Al-Quran adalah amanah yang agung. Ia bukan profesi semata, melainkan ibadah yang membutuhkan kesucian niat. Seorang pengajar Al-Quran, atau seorang muqri’, harus sangat berhati-hati agar pengajarannya tidak ternoda oleh ambisi duniawi. Ini termasuk menghindari harapan akan imbalan materi, pujian, atau bahkan sekadar pelayanan dari muridnya. Meskipun terlihat sepele, godaan untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas mulia ini bisa datang dalam berbagai bentuk, bahkan yang paling halus sekalipun.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras terkait hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَن تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.
Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada Hari Kiamat. (H.R. Abu Dawud)
Hadits ini adalah pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Mencium bau surga saja tidak akan bisa, apalagi memasukinya. Sebuah kerugian yang amat besar jika ilmu yang seharusnya menjadi jembatan menuju surga, justru menjadi penghalang karena niat yang melenceng. Oleh karena itu, kita harus senantiasa introspeksi diri dan memperbarui niat kita dalam setiap sesi belajar dan mengajar Al-Quran.
Konsekuensi Niat yang Melenceng
Selain ancaman tidak dapat mencium bau surga, niat yang salah dalam menuntut ilmu juga memiliki konsekuensi lain yang tak kalah mengerikan. Ilmu yang seharusnya menjadi penerang dan penenang hati, justru bisa menjadi bumerang. Dari Anas, Hudzaifah, dan Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يُكَاثِرَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
Barangsiapa mencari ilmu untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. (H.R. Tirmidzi)
Peringatan ini menunjukkan bahwa ilmu yang dicari untuk tujuan-tujuan tercela—seperti berdebat untuk menunjukkan keunggulan, bersaing dengan ulama lain, atau mencari popularitas—tidak akan membawa kebaikan sama sekali. Bahkan, ia akan menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam api neraka. Ini adalah risiko yang sangat besar yang harus kita hindari, dan ini semakin menegaskan kembali Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran.
Allah juga berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami seegerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. Al-Isra: 18)
Ayat ini menjadi penguat bahwa pilihan antara dunia dan akhirat adalah fundamental. Bagi mereka yang memilih dunia, mungkin mereka akan mendapatkan sebagian dari apa yang mereka inginkan, namun di akhirat, yang menanti adalah kehinaan dan siksa yang pedih. Oleh karena itu, niat yang bersih dan lurus adalah harga mati dalam setiap amal ibadah, termasuk dalam menuntut dan mengajar ilmu Al-Quran.
Membangun Niat Murni: Sebuah Renungan
Membangun dan menjaga keikhlasan adalah perjalanan seumur hidup. Ia membutuhkan mujahadah (perjuangan keras) dan kesadaran diri yang tinggi. Kita perlu terus-menerus merenungi kembali mengapa kita belajar, mengapa kita mengajar. Apakah semata-mata karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Apakah karena keinginan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan umat? Apakah karena kerinduan akan syurga dan takut akan neraka? Atau ada campuran niat lain yang mungkin menyelinap tanpa disadari?
Untuk memastikan Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran selalu menjadi pegangan kita, beberapa hal bisa kita lakukan:
- Introspeksi Rutin: Setiap memulai sesi belajar atau mengajar, luangkan waktu sejenak untuk menata niat. Tanya pada diri sendiri, “Untuk siapa aku melakukan ini?”
- Memperbanyak Doa: Memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan keikhlasan dan dijauhkan dari riya’ dan sum’ah.
- Mengingat Kematian dan Akhirat: Kesadaran akan fana’nya dunia dan kekalnya akhirat akan membantu meluruskan kembali orientasi hati.
- Menjauhkan Diri dari Pujian Berlebihan: Berusaha untuk tidak terlalu terpaku pada sanjungan manusia, dan mengembalikan semua pujian kepada Allah.
Mari kita jadikan setiap tarikan napas dalam menuntut ilmu dan setiap kata yang terucap saat mengajar Al-Quran sebagai manifestasi dari keikhlasan yang tulus. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk hanya beribadah kepada-Nya semata, dan menganugerahkan keberkahan dalam setiap ilmu yang kita pelajari dan sampaikan.
Bagi Anda yang merindukan bimbingan dan lingkungan yang kondusif untuk menanamkan nilai-nilai keikhlasan dalam proses menghafal dan memahami Al-Quran, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membimbing setiap santri agar tidak hanya hafal Al-Quran, tetapi juga menghayati dan mengamalkan dengan niat yang murni.
Daftar Referensi
- Q.S. Asy-Syura: 20
- Q.S. Al-Isra: 18
- H.R. Abu Dawud No. 3664 (Kitab Ilmu, Bab Mempelajari Ilmu Bukan untuk Wajah Allah)
- H.R. Tirmidzi No. 2654 (Kitab Ilmu, Bab Apa yang Disebutkan tentang Mencari Ilmu untuk Dunia)
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 15, 2025 | Artikel
Kisah hidup seorang Muslim tak pernah lepas dari Al-Quran. Ia adalah kalam ilahi, petunjuk agung, dan sumber segala kebaikan. Namun, pernahkah kita merenung, sudahkah interaksi kita dengan Al-Quran terbingkai dalam bingkai keikhlasan yang hakiki? Seringkali, godaan duniawi menyelinap tanpa disadari, menggeser niat murni kita dari mencari ridha Allah semata.
Sesungguhnya, interaksi dengan Al-Quran bukanlah sekadar rutinitas membaca, menghafal, atau bahkan mengkaji. Ia adalah sebuah perjalanan spiritual yang menuntut kehadiran hati dan kemurnian niat. Para ulama salaf telah mengajarkan kita bahwa setiap langkah kita bersama Al-Quran seharusnya tidak dimaksudkan untuk meraih tujuan-tujuan duniawi. Ia adalah jembatan menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas atau pujian manusia.
Mengukuhkan Keutamaan Membaca Al-Quran
Marilah kita telaah lebih dalam tentang posisi mulia Al-Quran dan para pembacanya. Dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله تعالى
“Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak membaca Kitabullah (Al-Quran).” (HR. Muslim)
Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa keutamaan seorang pembaca Al-Quran begitu tinggi, bahkan ia layak menjadi pemimpin shalat. Ini bukan hanya tentang kefasihan, melainkan juga tentang pemahaman dan penghayatan akan setiap ayat yang dilantunkan. Semakin mendalam seseorang berinteraksi dengan firman Allah, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi-Nya dan di tengah masyarakat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengisahkan bahwa para qari (pembaca Al-Quran) adalah sahabat dekat dan penasihat Umar bin Khattab, baik yang tua maupun yang muda. Ini adalah bukti nyata betapa kaum Muslimin masa itu sangat menghargai dan mengutamakan mereka yang bergelut dengan Al-Quran.
Lebih jauh, para ulama, termasuk yang diyakini keabsahannya, bersepakat bahwa membaca Al-Quran adalah amalan yang lebih utama dibandingkan tasbih, tahlil, atau zikir lainnya. Ini menunjukkan betapa besar nilai pahala dan keberkahan yang terkandung dalam setiap huruf Al-Quran yang kita baca. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memberikan prioritas utama pada interaksi kita dengan kalamullah ini. Pahami betul bahwa Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan adalah kunci untuk membuka pintu keberkahan dalam hidup kita.
Menghormati Ahli Quran: Jalan Menuju Takwa
Kita sering mendengar firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 32,
ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
Ayat ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengagungkan syiar-syiar Allah, dan para ahli Quran adalah bagian dari syiar yang harus dihormati. Allah juga berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 30, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” Menghormati ahli Quran adalah salah satu bentuk mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang tua muslim, penghafal Al-Quran yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhinya, serta penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud, hadits hasan). Ini adalah panduan jelas bagi kita untuk menempatkan ahli Quran pada posisi yang terhormat, selama mereka menjaga adab dan tidak berlebihan dalam pemahaman atau pengamalan Al-Quran.
Bahkan, dalam situasi genting seperti perang Uhud, Nabi ﷺ memberikan penghormatan tertinggi kepada para syuhada yang paling banyak menghafal Al-Quran dengan mendahulukan mereka dalam liang lahat. Ini adalah isyarat betapa agungnya kedudukan para penghafal Al-Quran di mata Rasulullah ﷺ dan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, jauhkanlah diri dari menyakiti atau merendahkan mereka yang berinteraksi dengan kalamullah. Mengusik seorang ahli Quran sama dengan mengusik wali Allah, dan Allah telah menyatakan perang terhadap mereka yang menyakiti wali-Nya.
Membangun Keikhlasan dalam Setiap Interaksi dengan Al-Quran
Ini adalah inti dari ajaran yang ingin kita dalami bersama: bagaimana kita membangun Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal ibadah, termasuk membaca dan mengajarkan Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan dan perintah agama adalah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, memurnikan agama hanya untuk-Nya. Hadits masyhur dari Rasulullah ﷺ juga menguatkan hal ini, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah fondasi agung dalam Islam; niat adalah penentu kualitas dan penerimaan amal.
Seorang ulama besar, Abul Qasim Al-Qusyairi rahimahullah, menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan tujuan dalam ketaatan hanya untuk Allah, yakni menghendaki dengan ketaatan itu kedekatan kepada Allah semata, bukan untuk hal lain seperti pamer di hadapan makhluk, mencari pujian atau sanjungan dari manusia, atau makna-makna duniawi lainnya. Ikhlas adalah membersihkan setiap tindakan dari pengamatan makhluk.
Kita patut merenungkan tiga tanda ikhlas menurut Dzun Nun Al-Mishri: (1) sama saja pujian atau celaan dari orang umum, (2) melupakan perbuatan baik yang telah dilakukan, dan (3) mengharapkan pahala amal hanya di akhirat. Fudhail bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya. Sungguh, Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan menuntut kita untuk senantiasa menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakan semata-mata demi keridhaan Ilahi.
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berinteraksi dengan Al-Quran, tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas, dengan niat yang murni dan adab yang luhur. Mari kita jadikan Al-Quran sebagai cahaya penuntun hidup, yang setiap interaksi dengannya mengantarkan kita pada kedekatan hakiki dengan Sang Pencipta. Jika Anda ingin memperdalam interaksi dengan Al-Quran, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rumah bagi perjalanan spiritual Anda.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Hajj: 32
- Q.S. Al-Hajj: 30
- Q.S. Al-Bayyinah: 5
- H.R. Muslim (dari Ibnu Mas’ud)
- H.R. Bukhari (dari Ibnu Abbas dan Jami’ bin Abdillah)
- H.R. Abu Daud (dari Abu Musa Al-Asy’ari dan Aisyah)
- H.R. Bukhari dan Muslim (dari Umar bin Khattab)
- Kitab Riyadhus Shalihin (Imam An-Nawawi) – sebagai sumber rujukan utama dari topik yang diberikan.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 15, 2025 | Artikel
Dalam riuhnya kehidupan yang seringkali menyesatkan, setiap jiwa merindukan kedamaian dan petunjuk. Sumber hakiki dari segala bimbingan itu tiada lain adalah Al-Quran, kalamullah yang mulia. Lebih dari sekadar bacaan, Al-Quran adalah mercusuar yang menerangi jalan, penawar bagi hati yang gundah, dan kunci pembuka gerbang kebaikan. Memahami secara mendalam Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya akan membawa kita pada sebuah perjalanan spiritual yang penuh berkah dan makna.
Mari kita selami keagungan ini, meresapi setiap janji dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Sungguh, tak ada investasi yang lebih berharga daripada waktu yang kita curahkan untuk Al-Quran, baik dalam bentuk tilawah, tadabbur, maupun pengamalan dalam setiap aspek kehidupan.
Mengapa Al-Quran Begitu Istimewa? Landasan Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya
Al-Quran bukanlah kitab biasa. Ia adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, membawa petunjuk yang sempurna bagi umat manusia hingga akhir zaman. Allah SWT sendiri telah menjanjikan balasan yang tiada tara bagi mereka yang berinteraksi dengan kitab-Nya. Janji ini menjadi landasan utama bagi kita untuk senantiasa mencari Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya.
Allah azza wa jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ (٣٠) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (Q.S. Fatir: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa interaksi dengan Al-Quran adalah investasi spiritual yang paling menguntungkan, sebuah “perdagangan” yang dijamin tidak akan pernah merugi di hadapan Allah. Bukan hanya itu, Rasulullah ﷺ juga secara eksplisit menyatakan keutamaan orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran. Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)
Hadits ini menempatkan para pembelajar dan pengajar Al-Quran pada posisi terbaik di antara umat. Ini adalah panggilan mulia untuk setiap Muslim agar tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga agen penyebar kebaikan Al-Quran. Bahkan, bagi mereka yang belum mahir dan merasakan kesulitan dalam membaca Al-Quran, tetap ada pahala berlipat ganda, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ, “Orang yang membaca Al-Quran dengan mahir akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Subhanallah, betapa luasnya rahmat Allah SWT!
Keberkahan dalam Setiap Huruf dan Langkah: Memahami Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya
Mengapa kita harus bersungguh-sungguh dalam memahami Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya? Karena ganjaran yang Allah sediakan begitu agung, menyentuh setiap aspek kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang indah tentang orang mukmin yang berinteraksi dengan Al-Quran. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة لا ريح لها وطعمها طيب حلو ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر
Artinya: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Quran adalah seperti buah utrujah; baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti buah kurma; tidak ada baunya tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran adalah seperti buah raihanah; baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti buah hanzhalah; tidak ada baunya dan rasanya pahit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Perumpamaan ini menunjukkan kualitas diri yang terpancar dari interaksi kita dengan Al-Quran. Hati yang terisi dengan Al-Quran akan memancarkan keharuman akhlak dan manisnya iman. Al-Quran juga menjadi penyebab diangkatnya derajat seseorang di mata Allah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab ini (Al-Quran) dan merendahkan beberapa kaum yang lain dengannya.” (H.R. Muslim). Ini adalah janji yang mengharukan, bahwa Al-Quran dapat menjadi tangga menuju kemuliaan atau sebaliknya, tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Di hari Kiamat kelak, Al-Quran akan datang sebagai penolong. Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (H.R. Muslim). Sebuah penolong yang amat kita butuhkan di hari perhitungan, di mana tak ada pertolongan kecuali dari-Nya.
Hati yang Makmur, Rumah yang Bercahaya
Bagaimana Al-Quran bisa mengubah hati dan rumah kita? Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikit pun Al-Quran dalam rongga dadanya, ia seperti rumah yang roboh.” (H.R. Tirmidzi). Rumah yang roboh adalah gambaran kehampaan dan kerusakan. Begitu pula hati yang tak disentuh Al-Quran, ia akan kering, kosong, dan mudah digoyahkan oleh fitnah dunia. Sebaliknya, hati yang diisi dengan Al-Quran akan menjadi makmur, penuh cahaya petunjuk, dan ketenangan.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga menyampaikan sabda Nabi ﷺ, “Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hati yang menghafal Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, siapa saja yang masuk ke dalamnya, maka ia akan aman. Dan barang siapa yang mencintai Al-Quran, maka hendaknya ia bergembira.” (H.R. Darimi). Al-Quran adalah jamuan istimewa dari Allah, tempat kita menemukan keamanan dan kebahagiaan sejati. Ini adalah panggilan untuk setiap kita agar tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga menghafal dan mencintai Al-Quran.
Derajat Tertinggi Bagi Para Ahli Al-Quran
Puncak dari Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya adalah tingkatan kemuliaan yang akan diraih di sisi Allah SWT. Bagi para penghafal dan pengamal Al-Quran, ada kabar gembira yang menyejukkan jiwa. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Dikatakan kepada pembaca (penghafal) Al-Quran: ‘Bacalah dan naiklah (ke surga), bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya dengan tartil di dunia, karena kedudukanmu berada pada akhir ayat yang kamu baca’.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i). Bayangkan, setiap ayat yang kita hafalkan akan menjadi tangga bagi kita menuju tingkatan surga yang lebih tinggi!
Tak hanya untuk diri sendiri, keberkahan Al-Quran juga melimpah kepada orang tua. Dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya, niscaya Allah akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya kelak pada hari Kiamat, yang sinarnya lebih indah dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Maka bagaimana pendapatmu dengan orang yang mengamalkannya itu sendiri?” (H.R. Abu Dawud). Ini adalah dorongan yang luar biasa bagi kita untuk bersungguh-sungguh, agar orang tua kita pun turut berbahagia dan dimuliakan di hari Kiamat.
Di dunia ini pun, para ahli Al-Quran mendapatkan kemuliaan. Dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Quran-nya.” (H.R. Muslim). Ini menunjukkan bahwa pemahaman dan kemahiran dalam Al-Quran adalah ukuran kepemimpinan, bahkan dalam urusan salat yang merupakan tiang agama. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga menceritakan bahwa para qari (pembaca/penghafal Al-Quran), baik yang tua maupun muda, adalah teman duduk dan penasihat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ini mengisyaratkan tingginya kedudukan ilmu Al-Quran dan para ahlinya di mata para pemimpin.
Al-Quran: Lebih Utama dari Segala Dzikir
Para ulama telah sepakat bahwa membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan dzikir-dzikir lain seperti tasbih, tahlil, atau istighfar secara umum, meskipun semua dzikir itu baik. Ini didasarkan pada banyak dalil, salah satunya hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah SWT berfirman, “Barangsiapa disibukkan oleh Al-Quran dan dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalamullah atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” (H.R. Tirmidzi). Ini menggarisbawahi keunggulan kalamullah yang tak tertandingi.
Memilih untuk mendalami dan membersamai Al-Quran adalah pilihan yang bijak, sebagaimana jawaban Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya antara berperang (ghazw) atau membaca Al-Quran, ia menjawab membaca Al-Quran, seraya mengutip sabda Nabi ﷺ, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” Ini menunjukkan prioritas yang diberikan kepada Al-Quran dalam membentuk individu dan masyarakat yang berkualitas.
Saudaraku seiman, mari kita jadikan Al-Quran bukan sekadar pajangan, tetapi nafas dalam setiap langkah kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk memahami dan mengamalkan Keutamaan Membaca Al-Quran dan Pengamalnya, sehingga kita termasuk golongan yang dirahmati dan dimuliakan oleh-Nya.
Jika Anda merasakan panggilan hati untuk mendalami dan menghafal Al-Quran dengan metode yang efektif dan teruji, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap membimbing Anda. Bersama para pengajar yang berdedikasi, mari wujudkan mimpi mulia menjadi pribadi yang dekat dengan kalamullah.
Daftar Referensi
- Al-Quran, Surah Fatir ayat 30.
- Hadits Riwayat Bukhari, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.
- Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Muslim, dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
- Hadits Riwayat Tirmidzi, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Tirmidzi, dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Tirmidzi, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
- Hadits Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Abu Dawud, dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Darimi, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
- Hadits Riwayat Muslim, dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu.
- Riwayat dari Sufyan Ats-Tsauri.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 15, 2025 | Artikel
Dalam bentangan kehidupan yang sarat tuntunan Ilahi, terdapat sebuah dimensi agung yang sering kali luput dari perhatian, yakni perihal adab dan penghormatan terhadap para pengemban kalamullah. Kita sering mendengar tentang pentingnya membaca dan menghafal Al-Qur’an, namun jarang membahas secara mendalam tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Kitab Suci ini. Sesungguhnya, memahami Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka adalah kunci menuju keberkahan hidup dan keluhuran akhlak.
Al-Qur’an bukanlah sekadar deretan ayat, melainkan cahaya yang menerangi kegelapan, petunjuk bagi yang tersesat, dan obat bagi hati yang gundah. Maka, siapa pun yang memilih untuk menghafal, mengamalkan, dan menyebarkan ajarannya, ia tengah membawa obor suci di tengah umat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memandang mereka dengan pandangan takzim, memuliakan kedudukan mereka, dan menjauhi segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti hati atau kehormatan mereka.
Mengapa Kita Wajib Menghormati Ahli Al-Quran?
Penghormatan terhadap ahli Al-Quran bukanlah sekadar adab sosial, melainkan bagian integral dari pengagungan syiar-syiar Allah SWT. Al-Qur’an adalah kalamullah, maka memuliakan pembawa dan pengamalnya berarti memuliakan firman-Nya itu sendiri. Ini adalah cerminan dari ketakwaan yang mendalam di dalam hati.
Pengagungan Syiar dan Hurumat Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Terjemah: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa mengagungkan syiar-syiar Allah adalah indikator ketakwaan hati. Ahli Al-Quran, dengan segala perjuangan mereka dalam menghafal dan mengamalkan, adalah bagian dari syiar Allah yang hidup. Memuliakan mereka adalah bentuk pengagungan terhadap apa yang Allah cintai. Kita juga diingatkan bahwa mengagungkan segala yang Allah muliakan adalah kebaikan bagi kita di sisi-Nya.
Teladan Rasulullah ﷺ dalam Kehormatan
Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna dalam menghargai manusia sesuai kedudukannya. Beliau tidak hanya menghormati para sesepuh, tetapi juga secara khusus memberikan perhatian istimewa kepada para penghafal Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang tua Muslim, pemikul Al-Qur’an yang tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak pula mengabaikannya (jaafi), serta memuliakan penguasa yang adil.” (H.R. Abu Dawud)
Hadits ini secara eksplisit menyebutkan pemikul Al-Qur’an sebagai salah satu dari tiga golongan yang wajib dimuliakan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka berakar pada perintah langsung dari Rasulullah ﷺ.
Bahkan, dalam situasi yang sangat krusial sekalipun, seperti pemakaman syuhada Uhud, Nabi ﷺ mengedepankan para penghafal Al-Qur’an. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengumpulkan dua orang dari korban Uhud, lalu bertanya, “Siapa di antara keduanya yang lebih banyak mengambil (menghafal) Al-Qur’an?” Jika ditunjuk salah satunya, beliau mendahulukannya di liang lahat. Ini adalah isyarat betapa tinggi kedudukan ahli Al-Qur’an di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Ancaman Serius Bagi Pelaku Kezaliman: Bahaya Menyakiti Penghafal Al-Quran
Sebagaimana ada keutamaan besar dalam menghormati, terdapat pula konsekuensi yang sangat berat bagi siapa saja yang berani menyakiti atau merendahkan ahli Al-Quran. Ancaman ini bukan sekadar teguran, melainkan peringatan keras dari Sang Pencipta.
Peringatan Keras dari Allah SWT
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
Terjemah: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 58)
Ayat ini secara umum memperingatkan tentang bahaya menyakiti mukminin. Namun, peringatan ini menjadi lebih tajam ketika menyangkut para wali Allah, termasuk di dalamnya para ahli ilmu dan penghafal Al-Qur’an. Sebuah Hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka sungguh Aku menyatakan perang terhadapnya.” (H.R. Bukhari)
Betapa dahsyatnya ancaman ini! Membayangkan Allah menyatakan perang terhadap seseorang sudah cukup membuat kita merinding. Ini adalah peringatan paling keras tentang Bahaya Menyakiti Penghafal Al-Quran, sebab mereka adalah orang-orang yang dekat dengan firman-Nya, dan oleh karenanya, berpotensi besar termasuk dalam golongan wali-Nya.
Posisi Ulama sebagai Wali Allah
Para Imam besar seperti Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i rahimahumallah menegaskan bahwa jika para ulama bukan wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali. Pernyataan ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ahli ilmu, yang di dalamnya termasuk para penghafal Al-Qur’an. Mereka adalah pewaris para nabi, pembawa cahaya risalah, dan penjaga kalamullah.
Imam Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ibnu Asakir rahimahullah dengan tegas menyatakan, “Ketahuilah, wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kamu kepada keridaan-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berada dalam naungan-Nya dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (maka jangan digunjing), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap tabir (aib) orang-orang yang menggunjing mereka sudah diketahui umum.” Ini adalah pengingat penting bagi kita semua untuk menjaga lisan dan hati terhadap para pengemban Al-Qur’an dan ilmu syar’i.
Membangun Lingkungan Penuh Penghargaan
Dengan memahami Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka, kita diundang untuk secara aktif membangun lingkungan yang penuh penghargaan terhadap mereka. Ini bukan hanya kewajiban, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberkahan hidup kita dan generasi mendatang. Marilah kita biasakan diri untuk:
- Mencari ilmu dari mereka dengan rendah hati.
- Berbicara dengan mereka dengan santun.
- Membantu mereka dalam perjuangan dakwah dan pengajaran Al-Qur’an.
- Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah terhadap mereka.
- Mendoakan mereka agar senantiasa istiqamah dalam mengemban amanah.
Memuliakan ahli Al-Quran adalah jalan untuk memuliakan Al-Qur’an itu sendiri. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur ini, sehingga kita senantiasa meraih ridha-Nya dan merasakan indahnya hidup di bawah naungan kalam-Nya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Hajj: 32
- H.R. Abu Dawud, dari Abu Musa Al-Asy’ari.
- H.R. Bukhari, dari Jabir bin Abdullah.
- H.R. Bukhari, dari Abu Hurairah (Hadits Qudsi).
- Q.S. Al-Ahzab: 58
- Pernyataan Imam Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i sebagaimana dinukil oleh Ibnu Asakir.