Dalam bentangan kehidupan yang sarat tuntunan Ilahi, terdapat sebuah dimensi agung yang sering kali luput dari perhatian, yakni perihal adab dan penghormatan terhadap para pengemban kalamullah. Kita sering mendengar tentang pentingnya membaca dan menghafal Al-Qur’an, namun jarang membahas secara mendalam tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Kitab Suci ini. Sesungguhnya, memahami Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka adalah kunci menuju keberkahan hidup dan keluhuran akhlak.

Al-Qur’an bukanlah sekadar deretan ayat, melainkan cahaya yang menerangi kegelapan, petunjuk bagi yang tersesat, dan obat bagi hati yang gundah. Maka, siapa pun yang memilih untuk menghafal, mengamalkan, dan menyebarkan ajarannya, ia tengah membawa obor suci di tengah umat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memandang mereka dengan pandangan takzim, memuliakan kedudukan mereka, dan menjauhi segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti hati atau kehormatan mereka.

Mengapa Kita Wajib Menghormati Ahli Al-Quran?

Penghormatan terhadap ahli Al-Quran bukanlah sekadar adab sosial, melainkan bagian integral dari pengagungan syiar-syiar Allah SWT. Al-Qur’an adalah kalamullah, maka memuliakan pembawa dan pengamalnya berarti memuliakan firman-Nya itu sendiri. Ini adalah cerminan dari ketakwaan yang mendalam di dalam hati.

Pengagungan Syiar dan Hurumat Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Terjemah: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32)

Ayat ini menegaskan bahwa mengagungkan syiar-syiar Allah adalah indikator ketakwaan hati. Ahli Al-Quran, dengan segala perjuangan mereka dalam menghafal dan mengamalkan, adalah bagian dari syiar Allah yang hidup. Memuliakan mereka adalah bentuk pengagungan terhadap apa yang Allah cintai. Kita juga diingatkan bahwa mengagungkan segala yang Allah muliakan adalah kebaikan bagi kita di sisi-Nya.

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Kehormatan

Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna dalam menghargai manusia sesuai kedudukannya. Beliau tidak hanya menghormati para sesepuh, tetapi juga secara khusus memberikan perhatian istimewa kepada para penghafal Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang tua Muslim, pemikul Al-Qur’an yang tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak pula mengabaikannya (jaafi), serta memuliakan penguasa yang adil.” (H.R. Abu Dawud)

Hadits ini secara eksplisit menyebutkan pemikul Al-Qur’an sebagai salah satu dari tiga golongan yang wajib dimuliakan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka berakar pada perintah langsung dari Rasulullah ﷺ.

Bahkan, dalam situasi yang sangat krusial sekalipun, seperti pemakaman syuhada Uhud, Nabi ﷺ mengedepankan para penghafal Al-Qur’an. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengumpulkan dua orang dari korban Uhud, lalu bertanya, “Siapa di antara keduanya yang lebih banyak mengambil (menghafal) Al-Qur’an?” Jika ditunjuk salah satunya, beliau mendahulukannya di liang lahat. Ini adalah isyarat betapa tinggi kedudukan ahli Al-Qur’an di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ancaman Serius Bagi Pelaku Kezaliman: Bahaya Menyakiti Penghafal Al-Quran

Sebagaimana ada keutamaan besar dalam menghormati, terdapat pula konsekuensi yang sangat berat bagi siapa saja yang berani menyakiti atau merendahkan ahli Al-Quran. Ancaman ini bukan sekadar teguran, melainkan peringatan keras dari Sang Pencipta.

Peringatan Keras dari Allah SWT

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Terjemah: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 58)

Ayat ini secara umum memperingatkan tentang bahaya menyakiti mukminin. Namun, peringatan ini menjadi lebih tajam ketika menyangkut para wali Allah, termasuk di dalamnya para ahli ilmu dan penghafal Al-Qur’an. Sebuah Hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka sungguh Aku menyatakan perang terhadapnya.” (H.R. Bukhari)

Betapa dahsyatnya ancaman ini! Membayangkan Allah menyatakan perang terhadap seseorang sudah cukup membuat kita merinding. Ini adalah peringatan paling keras tentang Bahaya Menyakiti Penghafal Al-Quran, sebab mereka adalah orang-orang yang dekat dengan firman-Nya, dan oleh karenanya, berpotensi besar termasuk dalam golongan wali-Nya.

Posisi Ulama sebagai Wali Allah

Para Imam besar seperti Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i rahimahumallah menegaskan bahwa jika para ulama bukan wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali. Pernyataan ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ahli ilmu, yang di dalamnya termasuk para penghafal Al-Qur’an. Mereka adalah pewaris para nabi, pembawa cahaya risalah, dan penjaga kalamullah.

Imam Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ibnu Asakir rahimahullah dengan tegas menyatakan, “Ketahuilah, wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kamu kepada keridaan-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berada dalam naungan-Nya dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (maka jangan digunjing), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap tabir (aib) orang-orang yang menggunjing mereka sudah diketahui umum.” Ini adalah pengingat penting bagi kita semua untuk menjaga lisan dan hati terhadap para pengemban Al-Qur’an dan ilmu syar’i.

Membangun Lingkungan Penuh Penghargaan

Dengan memahami Keutamaan Menghormati Ahli Al-Quran dan Ancaman Menyakiti Mereka, kita diundang untuk secara aktif membangun lingkungan yang penuh penghargaan terhadap mereka. Ini bukan hanya kewajiban, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberkahan hidup kita dan generasi mendatang. Marilah kita biasakan diri untuk:

  • Mencari ilmu dari mereka dengan rendah hati.
  • Berbicara dengan mereka dengan santun.
  • Membantu mereka dalam perjuangan dakwah dan pengajaran Al-Qur’an.
  • Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah terhadap mereka.
  • Mendoakan mereka agar senantiasa istiqamah dalam mengemban amanah.

Memuliakan ahli Al-Quran adalah jalan untuk memuliakan Al-Qur’an itu sendiri. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur ini, sehingga kita senantiasa meraih ridha-Nya dan merasakan indahnya hidup di bawah naungan kalam-Nya.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Hajj: 32
  • H.R. Abu Dawud, dari Abu Musa Al-Asy’ari.
  • H.R. Bukhari, dari Jabir bin Abdullah.
  • H.R. Bukhari, dari Abu Hurairah (Hadits Qudsi).
  • Q.S. Al-Ahzab: 58
  • Pernyataan Imam Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i sebagaimana dinukil oleh Ibnu Asakir.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,