Kisah hidup seorang Muslim tak pernah lepas dari Al-Quran. Ia adalah kalam ilahi, petunjuk agung, dan sumber segala kebaikan. Namun, pernahkah kita merenung, sudahkah interaksi kita dengan Al-Quran terbingkai dalam bingkai keikhlasan yang hakiki? Seringkali, godaan duniawi menyelinap tanpa disadari, menggeser niat murni kita dari mencari ridha Allah semata.
Sesungguhnya, interaksi dengan Al-Quran bukanlah sekadar rutinitas membaca, menghafal, atau bahkan mengkaji. Ia adalah sebuah perjalanan spiritual yang menuntut kehadiran hati dan kemurnian niat. Para ulama salaf telah mengajarkan kita bahwa setiap langkah kita bersama Al-Quran seharusnya tidak dimaksudkan untuk meraih tujuan-tujuan duniawi. Ia adalah jembatan menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas atau pujian manusia.
Mengukuhkan Keutamaan Membaca Al-Quran
Marilah kita telaah lebih dalam tentang posisi mulia Al-Quran dan para pembacanya. Dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله تعالى
“Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak membaca Kitabullah (Al-Quran).” (HR. Muslim)
Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa keutamaan seorang pembaca Al-Quran begitu tinggi, bahkan ia layak menjadi pemimpin shalat. Ini bukan hanya tentang kefasihan, melainkan juga tentang pemahaman dan penghayatan akan setiap ayat yang dilantunkan. Semakin mendalam seseorang berinteraksi dengan firman Allah, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi-Nya dan di tengah masyarakat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengisahkan bahwa para qari (pembaca Al-Quran) adalah sahabat dekat dan penasihat Umar bin Khattab, baik yang tua maupun yang muda. Ini adalah bukti nyata betapa kaum Muslimin masa itu sangat menghargai dan mengutamakan mereka yang bergelut dengan Al-Quran.
Lebih jauh, para ulama, termasuk yang diyakini keabsahannya, bersepakat bahwa membaca Al-Quran adalah amalan yang lebih utama dibandingkan tasbih, tahlil, atau zikir lainnya. Ini menunjukkan betapa besar nilai pahala dan keberkahan yang terkandung dalam setiap huruf Al-Quran yang kita baca. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memberikan prioritas utama pada interaksi kita dengan kalamullah ini. Pahami betul bahwa Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan adalah kunci untuk membuka pintu keberkahan dalam hidup kita.
Menghormati Ahli Quran: Jalan Menuju Takwa
Kita sering mendengar firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 32,
ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
Ayat ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengagungkan syiar-syiar Allah, dan para ahli Quran adalah bagian dari syiar yang harus dihormati. Allah juga berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 30, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” Menghormati ahli Quran adalah salah satu bentuk mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang tua muslim, penghafal Al-Quran yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhinya, serta penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud, hadits hasan). Ini adalah panduan jelas bagi kita untuk menempatkan ahli Quran pada posisi yang terhormat, selama mereka menjaga adab dan tidak berlebihan dalam pemahaman atau pengamalan Al-Quran.
Bahkan, dalam situasi genting seperti perang Uhud, Nabi ﷺ memberikan penghormatan tertinggi kepada para syuhada yang paling banyak menghafal Al-Quran dengan mendahulukan mereka dalam liang lahat. Ini adalah isyarat betapa agungnya kedudukan para penghafal Al-Quran di mata Rasulullah ﷺ dan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, jauhkanlah diri dari menyakiti atau merendahkan mereka yang berinteraksi dengan kalamullah. Mengusik seorang ahli Quran sama dengan mengusik wali Allah, dan Allah telah menyatakan perang terhadap mereka yang menyakiti wali-Nya.
Membangun Keikhlasan dalam Setiap Interaksi dengan Al-Quran
Ini adalah inti dari ajaran yang ingin kita dalami bersama: bagaimana kita membangun Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal ibadah, termasuk membaca dan mengajarkan Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan dan perintah agama adalah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, memurnikan agama hanya untuk-Nya. Hadits masyhur dari Rasulullah ﷺ juga menguatkan hal ini, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah fondasi agung dalam Islam; niat adalah penentu kualitas dan penerimaan amal.
Seorang ulama besar, Abul Qasim Al-Qusyairi rahimahullah, menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan tujuan dalam ketaatan hanya untuk Allah, yakni menghendaki dengan ketaatan itu kedekatan kepada Allah semata, bukan untuk hal lain seperti pamer di hadapan makhluk, mencari pujian atau sanjungan dari manusia, atau makna-makna duniawi lainnya. Ikhlas adalah membersihkan setiap tindakan dari pengamatan makhluk.
Kita patut merenungkan tiga tanda ikhlas menurut Dzun Nun Al-Mishri: (1) sama saja pujian atau celaan dari orang umum, (2) melupakan perbuatan baik yang telah dilakukan, dan (3) mengharapkan pahala amal hanya di akhirat. Fudhail bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya. Sungguh, Keutamaan dan Adab Berinteraksi dengan Al-Quran Penuh Keikhlasan menuntut kita untuk senantiasa menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakan semata-mata demi keridhaan Ilahi.
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berinteraksi dengan Al-Quran, tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas, dengan niat yang murni dan adab yang luhur. Mari kita jadikan Al-Quran sebagai cahaya penuntun hidup, yang setiap interaksi dengannya mengantarkan kita pada kedekatan hakiki dengan Sang Pencipta. Jika Anda ingin memperdalam interaksi dengan Al-Quran, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rumah bagi perjalanan spiritual Anda.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Hajj: 32
- Q.S. Al-Hajj: 30
- Q.S. Al-Bayyinah: 5
- H.R. Muslim (dari Ibnu Mas’ud)
- H.R. Bukhari (dari Ibnu Abbas dan Jami’ bin Abdillah)
- H.R. Abu Daud (dari Abu Musa Al-Asy’ari dan Aisyah)
- H.R. Bukhari dan Muslim (dari Umar bin Khattab)
- Kitab Riyadhus Shalihin (Imam An-Nawawi) – sebagai sumber rujukan utama dari topik yang diberikan.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

