Dalam setiap langkah yang kita pijak di jalan pencarian ilmu, terlebih lagi dalam samudera hikmah Al-Quran, ada satu permata yang harus senantiasa kita genggam erat: keikhlasan. Ia adalah kompas penunjuk arah yang hakiki, yang menjaga hati dari godaan fatamorgana dunia, serta memastikan bahwa setiap tetes ilmu yang kita serap dan sampaikan benar-benar bermuara pada ridha Ilahi. Tanpa keikhlasan, ibadah yang begitu mulia ini bisa saja berubah menjadi sekadar aktivitas yang hampa nilai di mata-Nya.
Kisah-kisah para ulama salaf, para penghafal Al-Quran terdahulu, selalu menempatkan niat sebagai pilar utama. Mereka memahami betul bahwa secanggih apapun metode belajar, sefasih apapun lisan dalam mengajar, jika tidak dilandasi niat yang tulus untuk mendekat kepada Allah semata, maka keberkahan akan terasa jauh. Inilah inti dari pembahasan kita: Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran, sebuah prinsip yang harus tertanam kuat dalam sanubari setiap penuntut dan pengajar.
Hakikat Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu
Keikhlasan bukanlah sekadar mengucapkan kalimat “lillahi ta’ala” di awal niat, melainkan sebuah kerja hati yang konsisten dan berkelanjutan. Ia berarti membersihkan niat dari segala bentuk tendensi duniawi, seperti keinginan akan harta, kedudukan, popularitas, pujian dari sesama, atau bahkan sekadar pengakuan atas keunggulan diri. Seorang penuntut ilmu, khususnya ilmu agama dan Al-Quran, diwajibkan untuk senantiasa menyucikan hati agar tujuan utamanya adalah semata-mata mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Manakala hati telah tercampur dengan tujuan-tujuan duniawi, sekecil apapun itu, maka ilmu yang diperoleh atau diajarkan akan kehilangan esensinya. Ia mungkin masih tampak sebagai ilmu, namun cahayanya akan redup, keberkahannya akan sirna, dan dampaknya pun tak akan abadi. Inilah mengapa para ulama terdahulu begitu menekankan pentingnya menjaga niat, bahkan dalam perkara-perkara kecil seperti menerima hadiah dari murid. Sebuah hadiah, jika diterima karena motivasi agar murid terus belajar atau memberikan pelayanan yang lebih baik, padahal hadiah itu tidak akan diberikan seandainya tidak ada proses pengajaran, maka ini pun termasuk dalam lingkup yang perlu diwaspadai.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
Barang siapa menghendaki pahala di akhirat, akan Kami tambahkan pahala itu baginya; dan barang siapa menghendaki pahala dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari padanya (pahala dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat. (Q.S. Asy-Syura: 20)
Ayat ini dengan tegas membedakan antara mereka yang berorientasi akhirat dan mereka yang berorientasi dunia. Ilmu adalah bekal akhirat, dan jika kita mencari ilmu dengan niat akhirat, maka Allah akan melimpahkan keberkahan yang berlipat. Namun, jika niatnya hanya untuk dunia, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia, tanpa sedikit pun bagian di akhirat kelak. Inilah betapa krusialnya Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran.
Menghindari Jerat Dunia dalam Pengajaran Al-Quran
Pengajaran Al-Quran adalah amanah yang agung. Ia bukan profesi semata, melainkan ibadah yang membutuhkan kesucian niat. Seorang pengajar Al-Quran, atau seorang muqri’, harus sangat berhati-hati agar pengajarannya tidak ternoda oleh ambisi duniawi. Ini termasuk menghindari harapan akan imbalan materi, pujian, atau bahkan sekadar pelayanan dari muridnya. Meskipun terlihat sepele, godaan untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas mulia ini bisa datang dalam berbagai bentuk, bahkan yang paling halus sekalipun.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras terkait hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَن تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.
Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada Hari Kiamat. (H.R. Abu Dawud)
Hadits ini adalah pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Mencium bau surga saja tidak akan bisa, apalagi memasukinya. Sebuah kerugian yang amat besar jika ilmu yang seharusnya menjadi jembatan menuju surga, justru menjadi penghalang karena niat yang melenceng. Oleh karena itu, kita harus senantiasa introspeksi diri dan memperbarui niat kita dalam setiap sesi belajar dan mengajar Al-Quran.
Konsekuensi Niat yang Melenceng
Selain ancaman tidak dapat mencium bau surga, niat yang salah dalam menuntut ilmu juga memiliki konsekuensi lain yang tak kalah mengerikan. Ilmu yang seharusnya menjadi penerang dan penenang hati, justru bisa menjadi bumerang. Dari Anas, Hudzaifah, dan Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يُكَاثِرَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
Barangsiapa mencari ilmu untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. (H.R. Tirmidzi)
Peringatan ini menunjukkan bahwa ilmu yang dicari untuk tujuan-tujuan tercela—seperti berdebat untuk menunjukkan keunggulan, bersaing dengan ulama lain, atau mencari popularitas—tidak akan membawa kebaikan sama sekali. Bahkan, ia akan menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam api neraka. Ini adalah risiko yang sangat besar yang harus kita hindari, dan ini semakin menegaskan kembali Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran.
Allah juga berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami seegerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. Al-Isra: 18)
Ayat ini menjadi penguat bahwa pilihan antara dunia dan akhirat adalah fundamental. Bagi mereka yang memilih dunia, mungkin mereka akan mendapatkan sebagian dari apa yang mereka inginkan, namun di akhirat, yang menanti adalah kehinaan dan siksa yang pedih. Oleh karena itu, niat yang bersih dan lurus adalah harga mati dalam setiap amal ibadah, termasuk dalam menuntut dan mengajar ilmu Al-Quran.
Membangun Niat Murni: Sebuah Renungan
Membangun dan menjaga keikhlasan adalah perjalanan seumur hidup. Ia membutuhkan mujahadah (perjuangan keras) dan kesadaran diri yang tinggi. Kita perlu terus-menerus merenungi kembali mengapa kita belajar, mengapa kita mengajar. Apakah semata-mata karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Apakah karena keinginan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan umat? Apakah karena kerinduan akan syurga dan takut akan neraka? Atau ada campuran niat lain yang mungkin menyelinap tanpa disadari?
Untuk memastikan Pentingnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar Al-Quran selalu menjadi pegangan kita, beberapa hal bisa kita lakukan:
- Introspeksi Rutin: Setiap memulai sesi belajar atau mengajar, luangkan waktu sejenak untuk menata niat. Tanya pada diri sendiri, “Untuk siapa aku melakukan ini?”
- Memperbanyak Doa: Memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan keikhlasan dan dijauhkan dari riya’ dan sum’ah.
- Mengingat Kematian dan Akhirat: Kesadaran akan fana’nya dunia dan kekalnya akhirat akan membantu meluruskan kembali orientasi hati.
- Menjauhkan Diri dari Pujian Berlebihan: Berusaha untuk tidak terlalu terpaku pada sanjungan manusia, dan mengembalikan semua pujian kepada Allah.
Mari kita jadikan setiap tarikan napas dalam menuntut ilmu dan setiap kata yang terucap saat mengajar Al-Quran sebagai manifestasi dari keikhlasan yang tulus. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk hanya beribadah kepada-Nya semata, dan menganugerahkan keberkahan dalam setiap ilmu yang kita pelajari dan sampaikan.
Bagi Anda yang merindukan bimbingan dan lingkungan yang kondusif untuk menanamkan nilai-nilai keikhlasan dalam proses menghafal dan memahami Al-Quran, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membimbing setiap santri agar tidak hanya hafal Al-Quran, tetapi juga menghayati dan mengamalkan dengan niat yang murni.
Daftar Referensi
- Q.S. Asy-Syura: 20
- Q.S. Al-Isra: 18
- H.R. Abu Dawud No. 3664 (Kitab Ilmu, Bab Mempelajari Ilmu Bukan untuk Wajah Allah)
- H.R. Tirmidzi No. 2654 (Kitab Ilmu, Bab Apa yang Disebutkan tentang Mencari Ilmu untuk Dunia)
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

