Dalam perjalanan spiritual mengarungi samudra ilmu, khususnya ilmu Al-Qur’an yang mulia, kita seringkali terfokus pada hasil akhir berupa hafalan atau pemahaman mendalam. Namun, esensi yang tak kalah krusial, bahkan menjadi fondasi utama, adalah bagaimana hati kita membersamai setiap langkah. Inilah yang kita kenal sebagai `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran`.
Ikhlas bukan sekadar kata, melainkan sebuah orientasi jiwa yang sepenuhnya tertuju kepada Allah Swt. Ilmu, utamanya ilmu syar’i, adalah anugerah ilahi yang menuntut kemurnian niat. Ia bukan alat untuk meraih popularitas, jabatan, kekayaan, apalagi sekadar pujian dari sesama makhluk. Sesuai tuntunan yang telah diwariskan para ulama salaf, setiap langkah yang kita ambil dalam mengajar maupun belajar ilmu, seyogianya terbebaskan dari motif-motif duniawi.
Hindari Jerat Duniawi dalam Menggapai Ilmu
Kerap kali, godaan dunia begitu kuat menggoyahkan benteng keikhlasan. Mengajar Al-Qur’an atau mempelajari sunnah Rasulullah ﷺ bukan untuk menjadi sosok yang disegani, memiliki banyak pengikut, atau mendapatkan keuntungan materi. Bahkan, sekadar mengharapkan hadiah yang sejatinya tak akan ada jika bukan karena proses pengajaran, itu pun perlu dihindari. Allah Swt. telah mengingatkan kita akan perbedaan tujuan hidup yang fana dengan yang abadi:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا * وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُورًا
Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah sana dengan sungguh-sungguh, sedang dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.
Q.S. Al-Isra: 18-19 secara gamblang membedakan antara mereka yang hanya mengincar dunia dan mereka yang berorientasi akhirat. Ilmu adalah jalan menuju Allah, bukan jalan pintas menuju kemewahan atau popularitas fana. Rasulullah ﷺ pun menegaskan ancaman bagi mereka yang menyalahgunakan ilmu untuk tujuan duniawi:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya untuk mencari wajah Allah Azza wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan tujuan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.
Ini adalah peringatan serius bagi kita semua, baik sebagai pembelajar maupun pengajar Al-Qur’an. Keberkahan ilmu hanya akan bersemi ketika hati bersih dari pamrih dunia.
Memupuk Keikhlasan Sejati bagi Pengajar Al-Quran
Seorang pengajar Al-Qur’an memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kemurnian niatnya. Hindarilah keinginan untuk memperbanyak murid demi gengsi atau merasa tidak senang jika murid-muridnya menimba ilmu dari guru lain. Fenomena seperti ini, yang disinyalir oleh para ulama sebagai indikasi niat yang keliru, menunjukkan bahwa tujuan pengajaran bukan lagi semata-mata mengharapkan ridha Allah. Apabila seseorang benar-benar ikhlas karena Allah, ia justru akan gembira melihat muridnya semakin bertambah ilmu, dari mana pun ia belajar.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengungkapkan sebuah kerinduan mulia, “Aku berharap seluruh manusia mempelajari ilmu ini – maksudnya ilmunya dan kitab-kitabnya – dan tidak ada satu huruf pun yang dinisbatkan kepadaku.” Ini adalah puncak keikhlasan, sebuah teladan agung tentang bagaimana `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` seharusnya terwujud. Kita hendaknya meneladani para ulama salaf yang hanya mengharap wajah Allah dalam setiap dedikasi mereka.
Adab dan Akhlak Mulia Seorang Pendidik Ilmu Syar’i
Selain keikhlasan, adab dan akhlak karimah adalah cerminan sejati dari nilai-nilai keislaman. Seorang pengajar Al-Qur’an seyogianya menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia yang diajarkan syariat. Ini meliputi kezuhudan terhadap dunia, tidak terlalu peduli dengan hiruk-pikuk materi, kemurahan hati, akhlak yang baik, wajah yang berseri tanpa berlebihan, kesabaran, serta menjauhi hal-hal yang merendahkan martabat.
Memelihara wara’ (kehati-hatian), khusyuk, ketenangan, kewibawaan, kerendahan hati, serta menghindari banyak tertawa dan bercanda berlebihan adalah bagian integral dari adab seorang guru. Tak lupa, menjaga kebersihan diri seperti memotong kumis, memotong kuku, menyisir jenggot, menghilangkan bau badan, dan mengenakan pakaian yang pantas, merupakan bagian dari kesempurnaan seorang Muslim yang juga patut menjadi teladan. Terutama, jauhilah dengki, riya’, ujub (bangga diri), dan meremehkan orang lain, meskipun level keilmuannya berada di bawah kita. Senantiasa berzikir, berdoa, dan muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah, baik terang-terangan maupun tersembunyi, adalah kunci menjaga hati dan spiritualitas.
Pentingnya `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` juga mencakup perlakuan baik terhadap para penuntut ilmu. Seorang guru yang berakhlak mulia akan memancarkan aura positif yang bukan hanya membuat ilmu mudah diserap, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada kebaikan dan sunnah Nabi. Perlakuan yang santun, sabar, dan penuh kasih sayang akan menjadi pupuk yang menyuburkan jiwa para pelajar Al-Qur’an.
Akhirnya, memahami dan mengamalkan `Adab dan Keikhlasan dalam Mengajar dan Menuntut Ilmu Al-Quran` adalah fondasi utama untuk meraih keberkahan. Ketika niat kita murni karena Allah, dan akhlak kita meneladani Rasulullah ﷺ, maka setiap huruf yang diajarkan dan setiap ayat yang dihafal akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kita menuju kebahagiaan abadi. Mari terus perbaiki niat dan sempurnakan adab kita agar ilmu yang kita dapatkan benar-benar menjadi hujjah bagi kita, bukan justru sebaliknya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Q.S. Al-Isra: 18-19
- H.R. Abu Daud No. 3664 (Kitab Ilmu)
