Artikel

Adab di Majelis Ilmu: Menegur Demi Keberkahan Belajar

Majelis ilmu adalah taman surga, namun seringkali ternodai oleh perilaku yang kurang pantas. Memahami pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu bukan tentang menghakimi, melainkan menjaga keberkahan dan kemurnian proses belajar kita bersama. Ini adalah sebuah upaya kolektif untuk memastikan bahwa setiap detik yang kita habiskan dalam menuntut ilmu bernilai ibadah dan mendatangkan rahmat, bukan sebaliknya.

Mengapa Sakralitas Halaqah Ilmu Begitu Berharga?

Setiap kali kita melangkahkan kaki menuju sebuah halaqah atau majelis ilmu, kita sedang memasuki sebuah arena mulia. Ini bukan sekadar pertemuan biasa; ini adalah forum di mana Allah SWT menjanjikan ketenangan, meliputkan rahmat, dan membanggakan para pesertanya di hadapan para malaikat. Keagungan inilah yang harus kita jaga bersama. Atmosfer ruhani yang terbangun di dalamnya adalah aset tak ternilai yang memudahkan ilmu meresap ke dalam kalbu.

Allah SWT sendiri mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, menandakan betapa istimewanya aktivitas belajar dalam pandangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa status mulia yang melekat pada penuntut ilmu menuntut tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk menjaga marwah dan kesucian majelis dari segala polusi adab yang dapat merusak keberkahannya.

Mengenali “Polusi Adab” yang Merusak Keberkahan

Imam Al-Husain bin Al-Mansur dalam kitabnya, *Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn*, merinci beberapa perilaku yang dapat mengotori kemurnian sebuah majelis. Ini bukan sekadar daftar larangan, melainkan cermin untuk kita semua berefleksi:

  • Sikap Arogan dan Keras Kepala: Berdebat hingga melampaui batas, menolak kebenaran yang telah tampak jelas, atau meninggikan suara tanpa faedah adalah tanda kesombongan yang membakar hangus keberkahan ilmu.
  • Minimnya Rasa Hormat: Merendahkan orang lain, baik yang hadir maupun tidak, atau merasa lebih tinggi dari sesama penuntut ilmu adalah penyakit hati yang berbahaya.
  • Kehilangan Fokus: Tertidur, asyik berbicara dengan teman, tertawa berlebihan, atau bahkan mengolok-olok orang lain menunjukkan betapa rendahnya penghargaan kita terhadap ilmu yang sedang disampaikan.
  • Perilaku yang Mengganggu: Apapun tindakan yang dapat memecah konsentrasi dan merusak adab umum dalam sebuah halaqah, semua itu berpotensi menjadi penghalang turunnya rahmat Allah.

Perilaku-perilaku ini, sekecil apapun kelihatannya, adalah distorsi yang mengganggu transmisi ilmu dari hati seorang guru ke hati para muridnya.

Seni Menegur: Pentingnya Menegur Pelanggaran Adab di Majelis Ilmu Secara Bijak

Ketika kita melihat pelanggaran ini, diam bukanlah pilihan yang bijak. Namun, menegur secara gegabah juga bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Di sinilah letak seni dan hikmah. Menegur harus didasari oleh cinta dan keinginan untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan. Prinsip utamanya adalah, “teguran tidak boleh menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar daripada kebaikan yang ingin dicapai.”

Kaidah dakwah yang diajarkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Fir’aun adalah panduan terbaik bagi kita:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.S. Taha: 44).

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan untuk berkata lembut, apalagi kepada saudara sesama penuntut ilmu? Kelembutan, pilihan kata yang tepat, dan waktu yang pas adalah kunci agar nasihat diterima dengan baik.

Peran Penting “Naqib”: Sang Penjaga Ritme Halaqah

Untuk menjaga keefektifan proses ini, kitab tersebut menyarankan adanya seorang *naqib*—seorang asisten atau koordinator yang cerdas, bijak, dan berpengalaman. Tugasnya bukanlah menjadi polisi moral, melainkan fasilitator yang menjaga ritme majelis. Dialah yang dengan lembut membangunkan yang tertidur, memberi isyarat kepada yang mulai berbicara, atau mengatur tempat duduk agar semua merasa nyaman dan dihormati. Kehadiran seorang *naqib* menunjukkan betapa terstrukturnya Islam dalam mengatur hal-hal detail demi sebuah tujuan besar: menjaga keberkahan ilmu.

Sebuah Refleksi: Pentingnya Menegur Pelanggaran Adab di Majelis Ilmu Dimulai dari Diri

Sebelum kita berpikir untuk menegur orang lain, mari arahkan cermin itu ke diri kita sendiri. Apakah kita sudah menjadi teladan dalam beradab? Apakah fokus kita 100% pada ilmu saat guru berbicara? Pemahaman mendalam tentang pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu harus dimulai dari kesadaran untuk tidak menjadi pelaku pelanggaran itu sendiri. Ketika setiap individu sadar akan tanggung jawabnya, atmosfer majelis akan terjaga secara alami.

Kesimpulan: Kembalikan Sakralitas Majelis Demi Ilmu yang Berkah

Menjaga adab di majelis ilmu adalah tanggung jawab kita bersama. Ini adalah cerminan dari seberapa besar kita menghargai ilmu itu sendiri. Memahami pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu adalah langkah awal untuk mengembalikan marwah dan sakralitas halaqah kita. Mari kita ciptakan sebuah ekosistem belajar yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menenangkan jiwa, melapangkan hati, dan yang terpenting, diridhai oleh Allah SWT.

Karena ilmu yang berkah bukanlah yang sekadar dihafal, melainkan yang mampu mengubah adab dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi Anda yang merindukan lingkungan belajar Al-Qur’an yang kondusif, di mana adab dan ilmu berjalan beriringan, kami mengundang Anda untuk merasakan pengalaman transformatif di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Mari bersama-sama menghidupkan kembali spirit para penuntut ilmu sejati.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11
  • Al-Qur’an, Surah Taha: 44
  • Al-Yamanī, Al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr Billāh al-Qāsim ibn Muḥammad. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

Adab Majelis Ilmu Penuh Manfaat

Setiap pertemuan untuk kebaikan adalah kesempatan istimewa untuk meraih rahmat. Namun, agar benih-benih ilmu yang ditabur dapat tumbuh subur, memahami cara menjaga adab majelis ilmu agar berbuah manfaat menjadi kunci utamanya. Tanpa adab, sebuah oase spiritual bisa seketika berubah menjadi medan perdebatan yang kering dan melelahkan, menjauhkan kita dari tujuan sejatinya: mencari kebenaran dan mensucikan hati.

Majelis ilmu bukanlah arena untuk unjuk kebolehan, bukan pula panggung untuk memenangkan argumen. Ia adalah taman tempat jiwa-jiwa yang haus akan petunjuk berkumpul, berharap setetes embun hikmah dari Allah turun membasahi kalbu. Namun, betapa sering kita saksikan taman ini dirusak oleh suara-suara yang meninggi, perbincangan yang melompat-lompat tanpa arah, dan ego yang lebih mendominasi daripada keinginan untuk tunduk pada kebenaran.

Mengapa Menjaga Adab Majelis Ilmu Agar Berbuah Manfaat Sangat Penting?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu merenungkan kembali hakikat dari sebuah majelis ilmu. Tujuannya bukan sekadar transfer informasi, melainkan transformasi diri. Kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim memberikan panduan berharga bahwa esensi dari sebuah pertemuan ilmiah adalah untuk menampakkan kebenaran (izhārul haq), menjernihkan hati (shafā’ul qulūb), dan meraih faedah (thalabul fāidah). Ketika tujuan luhur ini tergeser, maka hilanglah keberkahannya.

Cermin Niat yang Lurus

Adab yang kita tampilkan dalam sebuah forum adalah cerminan langsung dari niat yang tersembunyi di dalam hati. Ketika kita bersungguh-sungguh menjaga lisan dari perdebatan kusir, menahan diri dari memotong pembicaraan, dan fokus pada satu masalah hingga tuntas, itu pertanda bahwa niat kita lurus. Niat kita dalam menjaga adab majelis ilmu agar berbuah manfaat haruslah murni karena Allah, bukan untuk mencari pengakuan atau menjatuhkan orang lain.

Menjaga Hati dari Penyakit

Suasana majelis yang penuh persaingan (munāfasah) dan kebencian (syahnā’) adalah lahan subur bagi tumbuhnya penyakit hati. Ia melahirkan permusuhan dan dendam yang membekas lama setelah majelis usai. Padahal, seharusnya kita keluar dari majelis dengan hati yang lebih lapang, jiwa yang lebih tenang, dan ikatan persaudaraan yang semakin kuat. Inilah mengapa para ulama terdahulu sangat menekankan pentingnya adab, karena ia adalah benteng yang melindungi hati dari bisikan setan pemecah belah.

Langkah Praktis Menjaga Adab Majelis Ilmu Agar Berbuah Manfaat

Belajar dari petuah para bijak bestari, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita terapkan untuk menciptakan atmosfer majelis yang kondusif, penuh berkah, dan produktif.

Menjauhi Kegaduhan dan Perkataan Sia-sia (Laghw)

Langkah pertama adalah menjaga majelis dari al-laghat, yaitu kegaduhan, suara yang meninggi, dan perbincangan yang tidak relevan. Ketika diskusi mulai memanas dan suara saling bersahutan, keberkahan ilmu akan sirna. Allah SWT mengingatkan kita untuk merendahkan suara sebagai bagian dari adab yang mulia.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Artinya: “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).

Ayat ini, meski dalam konteks umum, memberikan pelajaran mendalam tentang keutamaan sikap tenang dan suara yang lembut, yang sudah semestinya menjadi hiasan utama dalam sebuah majelis ilmu.

Meneladani Imam asy-Syafi’i: Fokus dan Lembut

Sebuah teladan agung datang dari Imam asy-Syafi’i, rahimahullah. Dikisahkan oleh Ar-Rabi’, jika ada seseorang yang berdiskusi dengan beliau lalu melompat ke topik lain, sang Imam akan berkata dengan sangat lembut, “Mari kita selesaikan dulu masalah yang ini, baru setelah itu kita beralih ke topik yang Anda inginkan.”

Sikap ini mengajarkan kita dua hal fundamental. Pertama, pentingnya fokus untuk menuntaskan satu pembahasan hingga jelas. Kedua, seni menolak dengan cara yang santun (talaththuf) agar tidak menyakiti perasaan saudara kita. Beliau memadamkan potensi perdebatan yang meluas sebelum apinya membesar dan membakar hati.

Mengingat Kembali Tujuan Utama: Mencari Al-Haq

Puncak dari segala adab adalah senantiasa mengingat bahwa tujuan kita berkumpul adalah untuk menegakkan kebenaran (liyuhiqqal haq) dan membatalkan kebatilan (wa yubthilal bāthil), bukan sebaliknya. Ketika kebenaran telah tampak, hindarilah perdebatan (mirā’) yang hanya akan mengeraskan hati. Allah SWT berfirman:

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

Artinya: “Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Q.S. Al-Anfal: 8).

Ayat ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita. Keinginan untuk membatalkan kebenaran yang sudah jelas atau justru membela kebatilan adalah sifat para pendosa. Maka, marilah kita berlindung dari sifat tercela tersebut dengan melapangkan dada untuk menerima kebenaran dari manapun ia datang.

Saudaraku yang dirahmati Allah, mari kita niatkan setiap kali melangkahkan kaki ke sebuah majelis ilmu sebagai upaya untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada-Nya. Semoga setiap ikhtiar kita dalam menjaga adab majelis ilmu agar berbuah manfaat dicatat sebagai amal salih yang memberatkan timbangan kebaikan di akhirat kelak. Jadikanlah setiap pertemuan kita sebagai sebab turunnya rahmat, bukan sebab datangnya laknat.

Jika Anda merindukan sebuah lingkungan belajar Al-Qur’an yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga penanaman adab dan akhlak mulia, kami mengundang Anda untuk mengenal lebih dekat program kami. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berupaya menciptakan atmosfer belajar yang menenangkan hati dan mencerahkan jiwa, tempat adab dan ilmu berjalan beriringan.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an al-Karim (Q.S. Luqman: 19, Q.S. Al-Anfal: 8).
  • Al-Yamanī, al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Melahirkan Anak Abadi Bernama Karya Tulis

Setiap dari kita merindukan jejak yang tak lekang oleh waktu, sebuah warisan yang terus mengalirkan kebaikan bahkan setelah raga kita tiada. Sebagian orang melihatnya pada keturunan, namun ada sebuah ‘anak abadi’ lain yang bisa kita lahirkan: karya tulis. Jauh di lubuk hati, kita memahami bahwa keutamaan menulis karya ilmiah dalam Islam bukan sekadar tentang merangkai kata, melainkan tentang mengukir amal jariyah yang abadi.

Para ulama terdahulu telah memberikan teladan agung. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga tekun menulis, mengompilasi, dan menyusun kitab. Bagi mereka, aktivitas ini adalah puncak dari perjalanan ilmu—sebuah proses yang menuntut kesempurnaan adab sekaligus kematangan kompetensi. Menulis memaksa kita untuk menyelami lautan ilmu, menelusuri detail-detailnya, serta melakukan riset dan telaah berulang kali hingga menemukan mutiara hikmah yang paling jernih.

Mengapa Menulis Adalah Warisan Terbaik?

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi pernah melukiskan dengan indah manfaat dari kegiatan menulis. Beliau menyebut bahwa menulis mampu “menguatkan hafalan, menyucikan hati, menajamkan karakter, dan memperindah gaya bahasa.” Lebih dari itu, ia mendatangkan sebutan yang baik di dunia, pahala yang melimpah di akhirat, dan mengabadikan nama seseorang hingga akhir zaman. Benarlah sebuah syair kuno mengatakan:

يَمُوتُ قَوْمٌ فَيَحْيَى العِلْمُ ذِكْرَهُمُ … وَالجَهْلُ يُلْحِقُ أَمْوَاتاً بِأَمْوَاتِ

“Suatu kaum bisa saja mati, namun ilmu menghidupkan kembali ingatan tentang mereka… Sementara kebodohan hanya akan menyusulkan orang-orang mati kepada kematian (yang sesungguhnya).”

Aktivitas menulis adalah proses menanam benih kebaikan yang buahnya akan terus dipetik lintas generasi. Ia adalah wujud nyata dari sabda Rasulullah ﷺ tentang amal yang tak terputus:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (H.R. Muslim)

Karya tulis yang bermanfaat adalah manifestasi sempurna dari “ilmu yang bermanfaat” tersebut. Setiap kali seseorang membacanya, mengambil hikmah darinya, dan mengamalkannya, maka pahalanya akan terus mengalir kepada sang penulis, sekalipun ia telah lama berkalang tanah.

Adab dan Fondasi Keutamaan Menulis Karya Ilmiah dalam Islam

Menapaki jalan ini bukanlah perkara mudah. Ia menuntut adab yang luhur dan niat yang tulus. Keutamaan menulis karya ilmiah dalam Islam hanya dapat diraih ketika ia berdiri di atas fondasi yang kokoh, bukan ambisi pribadi atau persaingan sesaat.

Niat Murni untuk Manfaat Umat

Prioritas utama seorang penulis muslim adalah memilih topik yang paling besar manfaatnya dan paling dibutuhkan oleh umat. Ini adalah tentang melayani, bukan menonjolkan diri. Alangkah baiknya jika kita berfokus pada bidang yang belum banyak diulas atau memberikan sudut pandang baru yang lebih mencerahkan, tanpa harus terjebak dalam pengulangan yang tidak menambah nilai.

Goresan pena kita haruslah jernih, dengan bahasa yang mudah dipahami, menghindari uraian bertele-tele yang membosankan sekaligus ringkasan yang terlalu padat hingga mengaburkan makna. Setiap tulisan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.

Proses yang Teruji: Dari Riset Hingga Revisi

Sebuah karya yang matang tidak lahir dalam semalam. Ia adalah buah dari ketekunan dalam meneliti, membaca, menggali, dan menelaah berulang kali. Sebelum sebuah karya dilepas ke publik, ia harus melalui proses penyempurnaan (tahdzib), ditinjau kembali, dan disusun dengan rapi. Inilah cerminan dari kesungguhan dan tanggung jawab seorang penulis di hadapan Allah dan para pembacanya.

Menjawab Keraguan: Saat Karya Baru Dipertanyakan

Tak jarang, mereka yang mencoba berkarya di zaman ini justru mendapat kritik atau dipandang sebelah mata, seolah-olah semua kebaikan telah ditulis oleh generasi terdahulu. Fenomena ini sering kali lahir dari rasa persaingan yang tidak sehat di antara sesama pegiat ilmu. Namun, seorang penyair bijak pernah berkata:

إِنَّ ذَاكَ القَدِيمَ كَانَ جَدِيداً … وَسَيَبْقَى هَذَا الجَدِيدُ قَدِيماً

“Sesungguhnya yang lama itu dahulu pernah menjadi baru… Dan yang baru ini kelak akan menjadi lama.”

Setiap zaman memiliki tantangan dan kebutuhan yang baru. Maka, melahirkan karya-karya baru yang relevan adalah sebuah keniscayaan. Selama niat kita lurus dan kompetensi kita memadai, jangan biarkan keraguan memadamkan semangat untuk berkontribusi. Allah SWT sendiri bersumpah demi pena, meninggikan derajat alat tulis dan apa yang dituliskan melaluinya.

نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ

“Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Q.S. Al-Qalam: 1)

Sebuah Peringatan: Batasan Bagi yang Belum Mumpuni

Di sisi lain, kritik menjadi absah dan perlu disampaikan kepada mereka yang menulis tanpa bekal ilmu yang cukup. Menulis tanpa kompetensi bukan hanya menyia-nyiakan waktu, tetapi juga berpotensi menyesatkan pembaca dan menyebarkan kebodohan. Ini adalah pengingat lembut bagi kita semua: jalan menuju karya adalah melalui penguasaan. Urutannya jelas, yakni belajar terlebih dahulu, menguasai dengan mendalam, barulah kemudian menuangkannya dalam bentuk karya tulis. Inilah bentuk pertanggungjawaban kita. Mengapa? Karena besarnya keutamaan menulis karya ilmiah dalam Islam berbanding lurus dengan besarnya tanggung jawab yang menyertainya.

Pada akhirnya, melahirkan sebuah karya tulis yang bermanfaat adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi. Ia adalah upaya kita untuk memastikan bahwa setelah nama kita dilupakan, ide dan ilmu yang kita bagikan tetap hidup, mencerahkan, dan menginspirasi banyak orang. Mari kita mulai perjalanan ini dengan langkah pertama yang paling fundamental: memperdalam ilmu dan mendekatkan diri pada sumbernya, Al-Qur’an.

Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi pribadi yang tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga mampu mewariskannya sebagai ‘anak abadi’ yang pahalanya terus mengalir hingga hari akhir. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami percaya bahwa perjalanan agung ini dimulai dengan memantapkan hubungan kita dengan Kalamullah, fondasi dari segala ilmu.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Qalam: 1
  • Shahih Muslim, Hadits No. 1631

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Jangan Biarkan Harimu Sama

Pernahkah kita berhenti sejenak di penghujung hari dan merenung, adakah yang berbeda antara hari ini dan kemarin? Jika jawaban yang kita temukan adalah kesamaan, sebuah stagnasi tanpa pertumbuhan, maka ada sebuah pengingat lembut namun tajam dari para salafus shalih: “Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia merugi.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah, melainkan denyut nadi kehidupan seorang mukmin yang memahami bahwa setiap detik umurnya adalah anugerah tak ternilai. Prinsip inilah ruh dari upaya menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu.

Kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn menggarisbawahi sebuah keharusan, yakni senantiasa bersemangat untuk terus bertambah dalam kebaikan melalui kesungguhan, ketekunan, dan disiplin dalam ibadah serta wirid-wirid harian. Sisa umur seorang mukmin terlampau berharga untuk dihabiskan pada hal yang sia-sia.

Mengapa Menjaga Semangat Menambah Ilmu dan Amal Tanpa Menyia-nyiakan Waktu Begitu Penting?

Waktu adalah modal paling fundamental yang Allah anugerahkan. Ia tidak bisa diputar ulang, dibeli, atau ditangguhkan. Ketika ia berlalu, ia hilang selamanya. Kesadaran inilah yang membuat para ulama terdahulu begitu disiplin dalam memanfaatkannya. Nilai seorang mukmin tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari dalamnya makna dan keberkahan dalam setiap detiknya. Inilah esensi dari menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu.

Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam firman-Nya, menunjukkan betapa krusialnya ia bagi nasib manusia.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3).

Ayat ini menegaskan bahwa kerugian adalah kepastian bagi siapa saja yang membiarkan waktunya berlalu tanpa diisi dengan empat pilar keselamatan: iman, amal saleh, dakwah kepada kebenaran, dan kesabaran. Setiap hari yang sama dengan hari kemarin adalah satu langkah lebih dekat menuju kerugian tersebut.

Ilmu: Oase Ketenangan Saat Gundah, Puncak Kenikmatan Kala Lapang

Bagi sebagian orang, belajar adalah beban. Namun bagi para pencari kebenaran, ilmu adalah segalanya. Ia adalah sahabat di kala sepi dan pelipur di kala lara. Pergeseran paradigma inilah yang perlu kita tanamkan dalam diri. Imam al-Muzani, murid terdekat Imam asy-Syafi’i, pernah mengisahkan sebuah dialog yang luar biasa.

Aku mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Sebagian ulama salaf pernah ditanya, ‘Sejauh mana kesibukanmu dengan ilmu?’ Beliau menjawab: ‘Ilmu adalah pelipur laraku ketika aku dirundung duka, dan puncak kelezatanku ketika aku dalam keadaan lapang’.”

Bayangkan sebuah aktivitas yang menjadi solusi saat kita resah, sekaligus menjadi sumber kebahagiaan tertinggi saat kita gembira. Itulah ilmu di mata para ulama. Ia bukan sekadar kumpulan teori, melainkan teman perjalanan yang menenangkan jiwa dan mencerahkan akal. Ketika kita berhasil memandang ilmu seperti ini, maka tidak akan ada lagi rasa malas atau terpaksa dalam mempelajarinya.

Api Cemburu Terhadap Waktu Belajar

Kecintaan pada ilmu ini bahkan melahirkan sebuah “kecemburuan” yang positif. Imam asy-Syafi’i melantunkan syair indah yang menggambarkan betapa ia lebih menjaga waktunya untuk belajar daripada hal lainnya:

وَمَا أَنَا بِالْغَيْرَانِ مِنْ دُونِ أَهْلِهِ … إِذَا أَنَا لَمْ أُضْحِ غَيُورًا عَلَى عِلْمِي
طَبِيبُ فُؤَادِي مُذْ ثَلَاثِينَ حِجَّةً … وَصَيْقَلُ ذِهْنِي وَالْمُفَرِّجُ عَنْ هَمِّي

Artinya: “Aku bukanlah orang yang pencemburu terhadap keluarganya… jika aku tidak menjadi seorang yang pencemburu terhadap ilmuku. (Ilmu) adalah dokter bagi hatiku selama tiga puluh tahun, pengasah bagi akalku, dan penghilang bagi kesusahanku.”

Syair ini adalah manifestasi dari sebuah prioritas. Bagi beliau, kehilangan kesempatan untuk belajar lebih menyakitkan daripada hal-hal duniawi lainnya. Ilmu telah menjadi penyembuh hati, pemoles pikiran, dan pelenyap kegelisahan. Bagaimana mungkin kita tidak “cemburu” pada sesuatu yang memberikan semua itu?

Langkah Awal: Memulai Kebiasaan Menjaga Semangat Menambah Ilmu dan Amal Tanpa Menyia-nyiakan Waktu

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, namun bukan berarti mustahil. Ia dimulai dari kesadaran dan langkah-langkah kecil yang konsisten. Para ulama tidak menyia-nyiakan waktu mereka kecuali untuk kebutuhan darurat seperti makan, minum, tidur, istirahat sejenak untuk menghilangkan penat, atau menunaikan hak keluarga dan mencari nafkah.

1. Audit Waktu Harian Kita

Langkah pertama adalah kejujuran. Coba kita petakan, ke mana saja 24 jam kita berlalu setiap hari? Berapa jam yang habis untuk media sosial, hiburan yang tak bermanfaat, atau sekadar melamun? Dengan mengetahui “kebocoran” waktu, kita bisa mulai menambalnya dengan aktivitas yang lebih bernilai, seperti membaca Al-Qur’an, muthala’ah kitab, atau berdiskusi ilmu.

2. Tetapkan “Aurad” Ilmu dan Amal

Sebagaimana kita memiliki wirid zikir, tetapkan pula “wirid ilmu” harian. Misalnya, berkomitmen membaca Al-Qur’an satu juz, menghafal lima ayat baru, membaca buku sepuluh halaman, atau mendengarkan satu kajian singkat setiap hari. Sekecil apapun, jika dilakukan secara konsisten, ia akan membangun gunung kebaikan. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “…Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’…” (Q.S. Az-Zumar: 9).

Ayat ini memotivasi kita untuk terus berada di barisan orang-orang yang berilmu, karena kedudukan mereka jelas berbeda di sisi Allah.

3. Ubah Tujuan Istirahat

Istirahat bukanlah tujuan, melainkan sarana. Tidur kita, makan kita, dan waktu bersantai kita niatkan sebagai cara untuk mengumpulkan kembali energi agar bisa lebih kuat dan fokus dalam beribadah dan menuntut ilmu. Dengan niat yang benar, bahkan istirahat pun bisa bernilai pahala.

Pada akhirnya, menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu bukanlah tentang menjadi robot tanpa istirahat, melainkan tentang menjadi hamba yang sadar akan nilai setiap hembusan napas. Ini adalah perjalanan untuk menjadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin, agar kelak saat kita kembali kepada-Nya, kita kembali sebagai jiwa yang tumbuh, bukan jiwa yang merugi.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menjadi pribadi yang senantiasa bertumbuh dalam ilmu dan amal, menjadikan setiap detik sisa umur kita sebagai investasi terbaik untuk akhirat. Aamiin.

Mari bersama-sama merawat gairah ini dalam sebuah lingkungan yang mendukung, di mana setiap individu didorong untuk bertumbuh dan memaksimalkan potensi diri dalam mendekat kepada Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah sumber segala ilmu dan ketenangan jiwa.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-‘Asr: 1-3.
  • Al-Qur’an, Surah Az-Zumar: 9.
  • Al-Yamani, Al-Husain bin Al-Mansur Billah. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Masukkan di AIOSEO: FAQ_SCHEMA (JSON-LD):

“`json
{
“@context”: “https://schema.org”,
“@type”: “FAQPage”
}
“`

Jebakan Ujub dan Mahkota Akhlak Mulia

Ada sebuah paradoks agung dalam perjalanan menuntut ilmu dan berdakwah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula potensi jebakan keangkuhan yang mengintainya. Ia laksana mendaki puncak gunung; pemandangannya semakin indah, namun udaranya semakin tipis dan risiko untuk tergelincir semakin fatal. Perjalanan spiritual ini, yaitu ikhtiar menjaga hati dari ujub dan meraih akhlak mulia, bukanlah sekadar pelengkap, melainkan inti dari keselamatan iman itu sendiri.

Kisah-kisah para salafus shalih menjadi cermin abadi yang merefleksikan betapa seriusnya mereka memandang penyakit hati ini. Mereka tidak khawatir akan kurangnya ilmu, tetapi mereka sangat cemas akan ilmu yang tidak memberkahi, ilmu yang justru menjadi bahan bakar kesombongan.

Cermin Nasihat Umar: Peringatan Keras dari Amirul Mukminin

Sebuah riwayat berharga dari al-Imam Ahmad menyajikan dialog mendalam antara al-Harits bin Mu’awiyah dengan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika al-Harits bertanya perihal menyampaikan kisah-kisah (dakwah), Umar memberikan sebuah nasihat yang menembus ribuan zaman:

“Aku khawatir atas dirimu, jika engkau menyampaikan kisah, lalu dirimu merasa tinggi (di hadapan mereka). Kemudian engkau bercerita lagi, dan dirimu merasa semakin tinggi. Hingga terbayang dalam benakmu bahwa kedudukanmu di atas mereka laksana bintang Tsaurayya (Pleiades). Maka pada Hari Kiamat, Allah akan merendahkanmu di bawah telapak kaki mereka, setimpal dengan perasaan tinggimu itu.”

Nasihat ini bukanlah sekadar larangan, melainkan sebuah analisis psikologis yang sangat tajam. Umar tidak meragukan kemampuan al-Harits, namun ia mengkhawatirkan dampak subtil dari ketenaran dan pengakuan. Kata “terbayang dalam benakmu” menunjukkan betapa ujub adalah penyakit imajiner. Ia tumbuh dari persepsi diri yang keliru, yang dipupuk oleh pujian manusia dan tepuk tangan audiens. Semakin sering kita merasa ‘di atas’, semakin dalam kita menggali lubang kehinaan kita di hadapan Allah.

Inti Peringatan: Menjaga Hati dari Ujub dan Meraih Akhlak Mulia

Peringatan Umar ini menjadi kompas bagi setiap insan yang berinteraksi dengan ilmu, baik sebagai penuntut, pengajar, maupun pendakwah. Jebakan ‘bintang Tsaurayya’ adalah ilusi yang sangat memabukkan. Ia membuat kita lupa bahwa ilmu adalah amanah, bukan properti pribadi. Ia membuat kita lupa bahwa hidayah datang dari Allah, bukan dari kefasihan lidah kita. Di sinilah letak urgensi dari upaya berkelanjutan untuk menjaga hati dari ujub dan meraih akhlak mulia sebagai benteng pertahanan utama.

Fondasi Utama: Menjaga Hati dari Ujub dan Meraih Akhlak Mulia

Kitab “Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn” kemudian memaparkan serangkaian akhlak terpuji sebagai penawar dari racun kesombongan. Ini bukanlah sekadar daftar, melainkan sebuah ekosistem batin yang saling menguatkan. Ketika satu akhlak tumbuh subur, ia akan menyirami benih akhlak lainnya.

Pondasi Spiritual: Taubat, Ikhlas, dan Yaqin

Perjalanan ini dimulai dari titik nol: taubat yang terus-menerus (dawamut taubah). Kesadaran bahwa kita adalah hamba yang penuh salah dan dosa akan memadamkan api keangkuhan. Taubat yang tulus akan melahirkan keikhlasan, yaitu memurnikan segala niat hanya untuk Allah. Dari keikhlasan, tumbuhlah keyakinan (yaqin) yang kokoh, di mana hati tidak lagi bergantung pada validasi manusia, melainkan hanya bersandar pada penilaian Allah semata.

Karakter Tangguh: Buah dari Sabar, Ridha, dan Zuhud

Selanjutnya, kita diajak untuk membangun ketangguhan karakter melalui sabar, ridha, qana’ah (merasa cukup), dan zuhud. Sabar menahan diri dari keinginan untuk dipuji. Ridha menerima segala takdir-Nya, baik berupa pujian maupun celaan. Qana’ah membebaskan kita dari perbudakan duniawi, sementara zuhud membuat hati kita tidak terikat pada gemerlap panggung dan pengakuan. Sifat-sifat ini adalah perisai yang melindungi hati dari godaan popularitas.

Mahkota Interaksi: Indahnya Akhlak dalam Hubungan Sesama

Akhlak mulia tidak hanya berdimensi vertikal kepada Allah, tetapi juga horizontal kepada sesama makhluk. Sifat seperti berbaik sangka (husnuzhan), lapang dada (tajawuz), berakhlak baik (husnul khuluq), kasih sayang kepada makhluk (syafaqah), serta rasa malu (haya’) kepada Allah dan manusia adalah manifestasi dari hati yang sehat. Orang yang sibuk memperbaiki dirinya tidak akan punya waktu untuk merasa lebih baik dari orang lain. Ia justru akan melihat kebaikan pada orang lain dan merasa kerdil di hadapan keagungan Allah.

Mahabbatullah: Puncak dari Segala Akhlak Mulia

Di antara semua akhlak mulia yang disebutkan, ada satu yang menjadi muara sekaligus sumbernya: kecintaan kepada Allah (mahabbatullah). Inilah ruh dari segala kebaikan. Cinta kepada Allah adalah energi yang mendorong kita untuk ikhlas, sabar, bersyukur, dan rendah hati. Seseorang yang hatinya dipenuhi cinta kepada Allah, mustahil akan menyediakan ruang untuk ‘bintang Tsaurayya’ dalam benaknya.

Cinta ini bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan menuntut pembuktian nyata. Al-Qur’an memberikan formulanya dengan sangat jelas, yaitu dengan mengikuti jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali ‘Imran: 31).

Mengikuti Rasulullah berarti meneladani kerendahan hatinya, kelembutan tutur katanya, dan kesempurnaan akhlaknya. Beliau adalah pribadi yang paling berilmu, namun juga yang paling tawadhu’. Inilah bukti bahwa ilmu sejati selalu berbanding lurus dengan akhlak mulia.

Pada akhirnya, perjalanan menjaga hati dari ujub dan meraih akhlak mulia adalah jihad terbesar yang kita hadapi setiap hari. Ia adalah proses penyucian tanpa henti, sebuah usaha untuk memastikan bahwa ilmu yang kita miliki menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju keridhaan-Nya, bukan menjadi bahan bakar yang membakar diri kita sendiri dalam api kesombongan. Semoga Allah senantiasa melindungi hati kita dari segala penyakitnya.

Bagi Anda yang ingin mendalami Al-Qur’an dalam sebuah lingkungan yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak Qur’ani, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Mari kita berjuang bersama meniti jalan ilmu yang diberkahi.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran: 31.
  • Riwayat dari al-Harits bin Mu’awiyah mengenai nasihat Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinukil dalam kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn karya al-Husayn ibn al-Mansur.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Adab Guru Sebelum Mengajar Al-Qur’an

Seringkali kita menganggap bahwa persiapan mengajar hanyalah sebatas penguasaan materi dan metodologi. Namun, para ulama salaf mengajarkan sebuah dimensi yang jauh lebih dalam, sebuah persiapan ruhani yang menjadi kunci keberkahan ilmu. Inilah esensi dari adab pengajar sebelum memulai majelis ilmu, sebuah fondasi yang mengubah proses transfer pengetahuan menjadi sebuah ibadah yang agung dan berdampak.

Memuliakan Ilmu Melalui Penampilan Lahiriah

Sebelum lisan mulai berbagi hikmah, penampilan fisik seorang pengajar menjadi cerminan pertama dari penghormatannya terhadap ilmu. Kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim menggarisbawahi bahwa seorang alim hendaknya bersuci dari hadas, membersihkan diri, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang pantas di zamannya. Tujuannya bukanlah untuk berbangga diri, melainkan sebagai manifestasi pengagungan terhadap ilmu dan syariat Allah.

Imam Malik rahimahullah memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Ketika hendak mengajar hadits, beliau akan mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian baru, dan duduk dengan penuh wibawa. Beliau bahkan membakar kayu gaharu (oud) hingga majelisnya selesai, seraya berkata, “Aku suka mengagungkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ini mengajarkan kita bahwa kesungguhan lahiriah adalah gerbang menuju kekhusyukan batiniah.

Sikap ini menepis anggapan keliru bahwa kesalehan identik dengan penampilan yang lusuh. Sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah syair:

وَبَهَاءُ ثَوْبِكَ لَا يَضُرُّكَ بَعْدَ أَنْ … تَخْشَى الْإِلَهَ وَتَتَّقِي مَا يَحْرُمُ
“Dan keindahan pakaianmu tidak akan membahayakanmu, selama engkau takut kepada Allah dan menjauhi apa yang diharamkan.”

Pakaian yang indah dan bersih, saat diniatkan untuk memuliakan ilmu, justru menjadi bagian dari adab yang mendatangkan keberkahan, bukan kesombongan.

Mengetuk Pintu Langit: Kunci Adab Pengajar Sebelum Memulai Majelis Ilmu

Persiapan yang paling fundamental terjadi di dalam hati. Sebelum melangkah ke majelis, seorang guru dianjurkan untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat, khususnya shalat Istikharah. Mengapa Istikharah? Karena setiap kata yang akan terucap, setiap ilmu yang akan tersampaikan, sepenuhnya berada dalam genggaman dan pengetahuan Allah. Dengan Istikharah, kita menyerahkan kendali, memohon petunjuk, dan meminta agar Allah memilihkan yang terbaik bagi lisan kita, bagi pendengar kita, dan bagi keberkahan majelis itu sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pentingnya Istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ…

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk melakukan suatu urusan, maka rukuklah (shalat) dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa…” (H.R. Bukhari).

Ini adalah bentuk kepasrahan total, mengakui bahwa kita tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, sementara Allah Maha Mengetahui segalanya. Shalat ini menjadi perisai spiritual, memastikan bahwa majelis yang akan kita pimpin senantiasa berada dalam bimbingan dan ridha-Nya.

Meluruskan Niat: Bahan Bakar Utama dalam Majelis Ilmu

Setelah persiapan fisik dan spiritual, langkah krusial berikutnya adalah memeriksa dan meluruskan niat. Apa tujuan kita membuka majelis ini? Para ulama mengingatkan agar kita meniatkan beberapa hal mulia, di antaranya: menyebarkan ilmu, menyampaikan hukum-hukum Allah, menambah khazanah ilmu, menunjukkan kebenaran, serta berkumpul untuk berdzikir kepada Allah. Niat yang lurus inilah yang akan menjadi bahan bakar yang tak pernah padam. Tanpa niat yang tulus, ilmu yang disampaikan bisa menjadi hampa dan tak berbekas.

Sikap ini selaras dengan firman Allah yang menggambarkan kaum beriman yang senantiasa beramal saleh namun tetap diliputi rasa khawatir:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Q.S. Al-Mu’minun: 60).

Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Mereka mengerjakan berbagai amal kebaikan, namun mereka khawatir amalan tersebut tidak diterima.” Rasa khawatir inilah yang menjaga keikhlasan. Inilah puncak dari adab pengajar sebelum memulai majelis ilmu, yaitu ketika semua persiapan lahir dan batin dilebur dalam satu niat suci: mencari ridha Allah semata.

Pada akhirnya, memahami dan mempraktikkan adab pengajar sebelum memulai majelis ilmu akan mengubah cara kita memandang aktivitas belajar-mengajar. Ia bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah proses sakral untuk menyucikan diri, memuliakan wahyu, dan meraih keberkahan dari Sang Pemilik Ilmu. Semoga kita semua dimampukan untuk menghidupkan adab-adab mulia ini dalam setiap langkah kita menuntut dan menyebarkan ilmu.

Mari bersama-sama menapaki jalan ilmu yang penuh berkah, di mana adab menjadi pemandu dan Al-Qur’an menjadi cahaya. Temukan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan spiritual dan intelektual Anda bersama kami.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Mu’minun: 60
  • Hadits Riwayat Bukhari, No. 1162
  • Al-Husain bin al-Mansur Billah, Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta