Pernahkah kita berhenti sejenak di penghujung hari dan merenung, adakah yang berbeda antara hari ini dan kemarin? Jika jawaban yang kita temukan adalah kesamaan, sebuah stagnasi tanpa pertumbuhan, maka ada sebuah pengingat lembut namun tajam dari para salafus shalih: “Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia merugi.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah, melainkan denyut nadi kehidupan seorang mukmin yang memahami bahwa setiap detik umurnya adalah anugerah tak ternilai. Prinsip inilah ruh dari upaya menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu.

Kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn menggarisbawahi sebuah keharusan, yakni senantiasa bersemangat untuk terus bertambah dalam kebaikan melalui kesungguhan, ketekunan, dan disiplin dalam ibadah serta wirid-wirid harian. Sisa umur seorang mukmin terlampau berharga untuk dihabiskan pada hal yang sia-sia.

Mengapa Menjaga Semangat Menambah Ilmu dan Amal Tanpa Menyia-nyiakan Waktu Begitu Penting?

Waktu adalah modal paling fundamental yang Allah anugerahkan. Ia tidak bisa diputar ulang, dibeli, atau ditangguhkan. Ketika ia berlalu, ia hilang selamanya. Kesadaran inilah yang membuat para ulama terdahulu begitu disiplin dalam memanfaatkannya. Nilai seorang mukmin tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari dalamnya makna dan keberkahan dalam setiap detiknya. Inilah esensi dari menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu.

Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam firman-Nya, menunjukkan betapa krusialnya ia bagi nasib manusia.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Q.S. Al-‘Asr: 1-3).

Ayat ini menegaskan bahwa kerugian adalah kepastian bagi siapa saja yang membiarkan waktunya berlalu tanpa diisi dengan empat pilar keselamatan: iman, amal saleh, dakwah kepada kebenaran, dan kesabaran. Setiap hari yang sama dengan hari kemarin adalah satu langkah lebih dekat menuju kerugian tersebut.

Ilmu: Oase Ketenangan Saat Gundah, Puncak Kenikmatan Kala Lapang

Bagi sebagian orang, belajar adalah beban. Namun bagi para pencari kebenaran, ilmu adalah segalanya. Ia adalah sahabat di kala sepi dan pelipur di kala lara. Pergeseran paradigma inilah yang perlu kita tanamkan dalam diri. Imam al-Muzani, murid terdekat Imam asy-Syafi’i, pernah mengisahkan sebuah dialog yang luar biasa.

Aku mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Sebagian ulama salaf pernah ditanya, ‘Sejauh mana kesibukanmu dengan ilmu?’ Beliau menjawab: ‘Ilmu adalah pelipur laraku ketika aku dirundung duka, dan puncak kelezatanku ketika aku dalam keadaan lapang’.”

Bayangkan sebuah aktivitas yang menjadi solusi saat kita resah, sekaligus menjadi sumber kebahagiaan tertinggi saat kita gembira. Itulah ilmu di mata para ulama. Ia bukan sekadar kumpulan teori, melainkan teman perjalanan yang menenangkan jiwa dan mencerahkan akal. Ketika kita berhasil memandang ilmu seperti ini, maka tidak akan ada lagi rasa malas atau terpaksa dalam mempelajarinya.

Api Cemburu Terhadap Waktu Belajar

Kecintaan pada ilmu ini bahkan melahirkan sebuah “kecemburuan” yang positif. Imam asy-Syafi’i melantunkan syair indah yang menggambarkan betapa ia lebih menjaga waktunya untuk belajar daripada hal lainnya:

وَمَا أَنَا بِالْغَيْرَانِ مِنْ دُونِ أَهْلِهِ … إِذَا أَنَا لَمْ أُضْحِ غَيُورًا عَلَى عِلْمِي
طَبِيبُ فُؤَادِي مُذْ ثَلَاثِينَ حِجَّةً … وَصَيْقَلُ ذِهْنِي وَالْمُفَرِّجُ عَنْ هَمِّي

Artinya: “Aku bukanlah orang yang pencemburu terhadap keluarganya… jika aku tidak menjadi seorang yang pencemburu terhadap ilmuku. (Ilmu) adalah dokter bagi hatiku selama tiga puluh tahun, pengasah bagi akalku, dan penghilang bagi kesusahanku.”

Syair ini adalah manifestasi dari sebuah prioritas. Bagi beliau, kehilangan kesempatan untuk belajar lebih menyakitkan daripada hal-hal duniawi lainnya. Ilmu telah menjadi penyembuh hati, pemoles pikiran, dan pelenyap kegelisahan. Bagaimana mungkin kita tidak “cemburu” pada sesuatu yang memberikan semua itu?

Langkah Awal: Memulai Kebiasaan Menjaga Semangat Menambah Ilmu dan Amal Tanpa Menyia-nyiakan Waktu

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, namun bukan berarti mustahil. Ia dimulai dari kesadaran dan langkah-langkah kecil yang konsisten. Para ulama tidak menyia-nyiakan waktu mereka kecuali untuk kebutuhan darurat seperti makan, minum, tidur, istirahat sejenak untuk menghilangkan penat, atau menunaikan hak keluarga dan mencari nafkah.

1. Audit Waktu Harian Kita

Langkah pertama adalah kejujuran. Coba kita petakan, ke mana saja 24 jam kita berlalu setiap hari? Berapa jam yang habis untuk media sosial, hiburan yang tak bermanfaat, atau sekadar melamun? Dengan mengetahui “kebocoran” waktu, kita bisa mulai menambalnya dengan aktivitas yang lebih bernilai, seperti membaca Al-Qur’an, muthala’ah kitab, atau berdiskusi ilmu.

2. Tetapkan “Aurad” Ilmu dan Amal

Sebagaimana kita memiliki wirid zikir, tetapkan pula “wirid ilmu” harian. Misalnya, berkomitmen membaca Al-Qur’an satu juz, menghafal lima ayat baru, membaca buku sepuluh halaman, atau mendengarkan satu kajian singkat setiap hari. Sekecil apapun, jika dilakukan secara konsisten, ia akan membangun gunung kebaikan. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “…Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’…” (Q.S. Az-Zumar: 9).

Ayat ini memotivasi kita untuk terus berada di barisan orang-orang yang berilmu, karena kedudukan mereka jelas berbeda di sisi Allah.

3. Ubah Tujuan Istirahat

Istirahat bukanlah tujuan, melainkan sarana. Tidur kita, makan kita, dan waktu bersantai kita niatkan sebagai cara untuk mengumpulkan kembali energi agar bisa lebih kuat dan fokus dalam beribadah dan menuntut ilmu. Dengan niat yang benar, bahkan istirahat pun bisa bernilai pahala.

Pada akhirnya, menjaga semangat menambah ilmu dan amal tanpa menyia-nyiakan waktu bukanlah tentang menjadi robot tanpa istirahat, melainkan tentang menjadi hamba yang sadar akan nilai setiap hembusan napas. Ini adalah perjalanan untuk menjadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin, agar kelak saat kita kembali kepada-Nya, kita kembali sebagai jiwa yang tumbuh, bukan jiwa yang merugi.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menjadi pribadi yang senantiasa bertumbuh dalam ilmu dan amal, menjadikan setiap detik sisa umur kita sebagai investasi terbaik untuk akhirat. Aamiin.

Mari bersama-sama merawat gairah ini dalam sebuah lingkungan yang mendukung, di mana setiap individu didorong untuk bertumbuh dan memaksimalkan potensi diri dalam mendekat kepada Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah sumber segala ilmu dan ketenangan jiwa.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-‘Asr: 1-3.
  • Al-Qur’an, Surah Az-Zumar: 9.
  • Al-Yamani, Al-Husain bin Al-Mansur Billah. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Masukkan di AIOSEO: FAQ_SCHEMA (JSON-LD):

“`json
{
“@context”: “https://schema.org”,
“@type”: “FAQPage”
}
“`

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri