Majelis ilmu adalah taman surga, namun seringkali ternodai oleh perilaku yang kurang pantas. Memahami pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu bukan tentang menghakimi, melainkan menjaga keberkahan dan kemurnian proses belajar kita bersama. Ini adalah sebuah upaya kolektif untuk memastikan bahwa setiap detik yang kita habiskan dalam menuntut ilmu bernilai ibadah dan mendatangkan rahmat, bukan sebaliknya.

Mengapa Sakralitas Halaqah Ilmu Begitu Berharga?

Setiap kali kita melangkahkan kaki menuju sebuah halaqah atau majelis ilmu, kita sedang memasuki sebuah arena mulia. Ini bukan sekadar pertemuan biasa; ini adalah forum di mana Allah SWT menjanjikan ketenangan, meliputkan rahmat, dan membanggakan para pesertanya di hadapan para malaikat. Keagungan inilah yang harus kita jaga bersama. Atmosfer ruhani yang terbangun di dalamnya adalah aset tak ternilai yang memudahkan ilmu meresap ke dalam kalbu.

Allah SWT sendiri mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, menandakan betapa istimewanya aktivitas belajar dalam pandangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa status mulia yang melekat pada penuntut ilmu menuntut tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk menjaga marwah dan kesucian majelis dari segala polusi adab yang dapat merusak keberkahannya.

Mengenali “Polusi Adab” yang Merusak Keberkahan

Imam Al-Husain bin Al-Mansur dalam kitabnya, *Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn*, merinci beberapa perilaku yang dapat mengotori kemurnian sebuah majelis. Ini bukan sekadar daftar larangan, melainkan cermin untuk kita semua berefleksi:

  • Sikap Arogan dan Keras Kepala: Berdebat hingga melampaui batas, menolak kebenaran yang telah tampak jelas, atau meninggikan suara tanpa faedah adalah tanda kesombongan yang membakar hangus keberkahan ilmu.
  • Minimnya Rasa Hormat: Merendahkan orang lain, baik yang hadir maupun tidak, atau merasa lebih tinggi dari sesama penuntut ilmu adalah penyakit hati yang berbahaya.
  • Kehilangan Fokus: Tertidur, asyik berbicara dengan teman, tertawa berlebihan, atau bahkan mengolok-olok orang lain menunjukkan betapa rendahnya penghargaan kita terhadap ilmu yang sedang disampaikan.
  • Perilaku yang Mengganggu: Apapun tindakan yang dapat memecah konsentrasi dan merusak adab umum dalam sebuah halaqah, semua itu berpotensi menjadi penghalang turunnya rahmat Allah.

Perilaku-perilaku ini, sekecil apapun kelihatannya, adalah distorsi yang mengganggu transmisi ilmu dari hati seorang guru ke hati para muridnya.

Seni Menegur: Pentingnya Menegur Pelanggaran Adab di Majelis Ilmu Secara Bijak

Ketika kita melihat pelanggaran ini, diam bukanlah pilihan yang bijak. Namun, menegur secara gegabah juga bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Di sinilah letak seni dan hikmah. Menegur harus didasari oleh cinta dan keinginan untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan. Prinsip utamanya adalah, “teguran tidak boleh menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar daripada kebaikan yang ingin dicapai.”

Kaidah dakwah yang diajarkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Fir’aun adalah panduan terbaik bagi kita:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.S. Taha: 44).

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan untuk berkata lembut, apalagi kepada saudara sesama penuntut ilmu? Kelembutan, pilihan kata yang tepat, dan waktu yang pas adalah kunci agar nasihat diterima dengan baik.

Peran Penting “Naqib”: Sang Penjaga Ritme Halaqah

Untuk menjaga keefektifan proses ini, kitab tersebut menyarankan adanya seorang *naqib*—seorang asisten atau koordinator yang cerdas, bijak, dan berpengalaman. Tugasnya bukanlah menjadi polisi moral, melainkan fasilitator yang menjaga ritme majelis. Dialah yang dengan lembut membangunkan yang tertidur, memberi isyarat kepada yang mulai berbicara, atau mengatur tempat duduk agar semua merasa nyaman dan dihormati. Kehadiran seorang *naqib* menunjukkan betapa terstrukturnya Islam dalam mengatur hal-hal detail demi sebuah tujuan besar: menjaga keberkahan ilmu.

Sebuah Refleksi: Pentingnya Menegur Pelanggaran Adab di Majelis Ilmu Dimulai dari Diri

Sebelum kita berpikir untuk menegur orang lain, mari arahkan cermin itu ke diri kita sendiri. Apakah kita sudah menjadi teladan dalam beradab? Apakah fokus kita 100% pada ilmu saat guru berbicara? Pemahaman mendalam tentang pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu harus dimulai dari kesadaran untuk tidak menjadi pelaku pelanggaran itu sendiri. Ketika setiap individu sadar akan tanggung jawabnya, atmosfer majelis akan terjaga secara alami.

Kesimpulan: Kembalikan Sakralitas Majelis Demi Ilmu yang Berkah

Menjaga adab di majelis ilmu adalah tanggung jawab kita bersama. Ini adalah cerminan dari seberapa besar kita menghargai ilmu itu sendiri. Memahami pentingnya menegur pelanggaran adab di majelis ilmu adalah langkah awal untuk mengembalikan marwah dan sakralitas halaqah kita. Mari kita ciptakan sebuah ekosistem belajar yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menenangkan jiwa, melapangkan hati, dan yang terpenting, diridhai oleh Allah SWT.

Karena ilmu yang berkah bukanlah yang sekadar dihafal, melainkan yang mampu mengubah adab dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi Anda yang merindukan lingkungan belajar Al-Qur’an yang kondusif, di mana adab dan ilmu berjalan beriringan, kami mengundang Anda untuk merasakan pengalaman transformatif di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Mari bersama-sama menghidupkan kembali spirit para penuntut ilmu sejati.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11
  • Al-Qur’an, Surah Taha: 44
  • Al-Yamanī, Al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr Billāh al-Qāsim ibn Muḥammad. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri