Di setiap persimpangan jalan kehidupan, di tikungan-tikungan takdir yang seringkali sunyi, ada suara-suara yang tak henti memanggil. Suara yang terdengar merdu, menjanjikan kenikmatan sesaat, namun sejatinya menggiring kita menjauh dari tujuan. Inilah realitas perjalanan kita, sebuah jalan lurus (ash-shirath) yang di tepiannya selalu siaga para penggoda. Namun, Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah membiarkan kita sendirian. Dia telah menurunkan sebuah pegangan, sebuah tambang penyelamat yang tak akan pernah putus: Kitab-Nya yang mulia.
Jalan yang Tak Pernah Sepi dari Seruan Setan
Bayangkan kita sedang meniti sebuah jembatan panjang di atas jurang yang dalam. Jembatan itu adalah usia kita, dan tujuan di seberang sana adalah keridhaan-Nya. Di sepanjang penitian itu, dari kanan dan kiri, muncul bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk menoleh, untuk berhenti sejenak, atau bahkan untuk melompat ke arah fatamorgana yang tampak indah di bawah sana. Godaan itu begitu nyata, begitu personal, seolah tahu persis apa kelemahan kita.
Kondisi ini telah digambarkan dengan begitu indah oleh seorang sahabat mulia yang paling memahami Al-Qur’an setelah Rasulullah ﷺ, yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau memberikan sebuah wasiat abadi yang terukir dalam kitab Fadha’il al-Qur’an karya Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam:
“Sesungguhnya jalan ini (ash-shirath) senantiasa didatangi, ia didatangi oleh para setan yang berseru, ‘Kemarilah wahai hamba Allah!’ dengan tujuan untuk memalingkan (manusia) dari jalan Allah. Maka, wajib atas kalian berpegang pada Kitabullah (Al-Qur’an), karena sesungguhnya ia adalah tali Allah (hablullah).” (Atsar riwayat Abdullah bin Mas’ud dalam Fadha’il al-Qur’an)
Pesan ini menembus zaman, menyentuh hati kita hari ini. Seruan “Halumma ya ‘abdallah! (Kemarilah wahai hamba Allah!)” dari para setan itu kini menjelma dalam berbagai bentuk: kemalasan beribadah, candu pada media sosial yang melalaikan, hingga bisikan untuk berbuat maksiat di kala sepi. Tujuannya hanya satu: agar kita berbelok dari jalan Allah.
Makna Mendalam Al-Qur’an sebagai Tali Allah
Lalu, apa solusi yang ditawarkan oleh Ibn Mas’ud? Sebuah jawaban yang tegas dan tak ada duanya: “fa’alaikum bikitabillah” (maka wajib atas kalian berpegang pada Kitabullah). Beliau kemudian menyematkan sebuah metafora yang luar biasa kuat: “fa innahu hablullah” (karena ia adalah tali Allah).
Mengapa tali? Karena tali adalah alat penyelamat. Ia adalah penghubung antara orang yang berada dalam bahaya dengan sumber keselamatan. Ketika kita berada di dasar jurang keputusasaan atau hampir tenggelam dalam lautan kemaksiatan, Al-Qur’an sebagai tali Allah adalah satu-satunya jalur evakuasi yang dijulurkan langsung dari langit. Menggenggamnya berarti kita terhubung dengan kekuatan, petunjuk, dan rahmat Allah.
Imam Abu ‘Ubaid yang meriwayatkan atsar ini pun memberi penjelasan, bahwa yang dimaksud Ibn Mas’ud dengan “tali Allah” adalah firman Allah Ta’ala sendiri:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (Q.S. Ali ‘Imran: 103)
Bagaimana Cara Kita Berpegang?
Berpegang pada tali Allah bukanlah sekadar pengakuan lisan. Ia adalah sebuah kerja hati, lisan, dan perbuatan yang menyatu. Bagaimana caranya?
Dengan Membacanya (Tilawah): Menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid harian yang tak pernah kita tinggalkan. Setiap huruf yang kita baca adalah cara kita mengencangkan genggaman pada tali itu.
Dengan Memahaminya (Tadabbur): Berusaha merenungi setiap ayatnya, mencari petunjuk di dalamnya, dan membiarkan cahayanya menerangi kegelapan hati kita.
Dengan Menghafalkannya (Tahfizh): Mematrikan firman-Nya di dalam dada, sehingga ia menjadi kompas internal yang senantiasa menuntun langkah dan meluruskan niat.
Dengan Mengamalkannya (‘Amal): Menjadikan halal dan haramnya sebagai standar hidup. Menjadikan akhlaknya sebagai cerminan kepribadian kita.
Ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai tali Allah dalam arti yang sesungguhnya, maka setiap godaan setan akan terasa hambar. Setiap kali bisikan itu datang, hati kita yang telah terikat pada Al-Qur’an akan segera menyadari bahwa itu adalah seruan palsu yang menjauhkan kita dari Sumber Kebahagiaan Sejati.
Maka, mari kita periksa kembali genggaman kita. Sudahkah ia erat? Atau mungkin mulai mengendur karena debu-debu dunia? Jalan di hadapan kita masih panjang, dan para penggoda tak akan pernah lelah. Satu-satunya jaminan keselamatan adalah dengan terus menguatkan ikatan kita pada Kitabullah, karena ia adalah tali yang ujungnya ada di tangan kita dan ujung lainnya berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah jalan kemenangan, jalan bagi mereka yang ingin selamat sampai ke tujuan.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran: 103.
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Fadha’il al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita merasa butuh sebuah pegangan? Di tengah riuh rendahnya kehidupan, seringkali jiwa merindukan satu kalimat singkat yang mampu menjadi kompas, sebuah wejangan padat yang sarat akan makna. Keinginan inilah yang membawa seorang lelaki menemui salah satu sahabat terbaik Rasulullah, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, untuk meminta “kalimat-kalimat yang جامع (merangkum) lagi نافع (bermanfaat)”. Jawaban beliau, terabadikan dalam kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid, menjadi warisan tak ternilai bagi kita semua. Mari kita selami bersama mutiara hikmah dari salah satu **nasihat Ibnu Mas’ud tentang Al-Qur’an** dan kehidupan.
Kisah ini bermula dari sebuah permintaan yang tulus, sebuah dahaga akan ilmu yang bisa menuntun. Lelaki itu tidak meminta harta atau jabatan, ia hanya meminta beberapa kalimat yang bisa menjadi bekal perjalanannya.
“Ajarkan aku beberapa kalimat yang ringkas, namun sarat manfaat.”
Maka, Ibnu Mas’ud pun membentangkan empat pilar fundamental yang menopang bangunan kehidupan seorang mukmin. Empat wasiat yang jika kita genggam erat, insyaAllah akan membawa kita pada keselamatan dunia dan akhirat.
“Tentu. Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berjalanlah engkau bersama Al-Qur’an ke mana pun ia pergi. Siapa pun yang datang kepadamu membawa kebenaran, baik ia kecil atau dewasa, sekalipun ia orang yang jauh dan engkau benci, maka terimalah darinya. Dan siapa pun yang datang kepadamu membawa kebohongan, sekalipun ia orang yang engkau cintai dan dekat denganmu, maka tolaklah ia.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
1. Pilar Tauhid: Akar yang Menghunjam ke Bumi
Wasiat pertama dan utama adalah tauhid. “Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya.” Ini adalah fondasi dari segala amal. Tanpa tauhid yang lurus, seluruh bangunan amal akan rapuh dan mudah runtuh. Ibnu Mas’ud mengingatkan kita bahwa titik berangkat perjalanan spiritual kita haruslah memurnikan hubungan kita hanya kepada Allah. Sebelum berbicara tentang akhlak, muamalah, bahkan Al-Qur’an itu sendiri, pastikan sauh kapal kita tertancap kuat pada samudra tauhid.
2. Pilar Al-Qur’an: Kompas yang Menunjuk Arah
Inilah jantung dari wejangan beliau, sebuah kalimat puitis yang menyentuh: “Berjalanlah engkau bersama Al-Qur’an ke mana pun ia pergi.” Kalimat ini jauh lebih dalam dari sekadar ‘baca’ atau ‘hafal’. Ini adalah ajakan untuk ‘menyatu’ dengan Al-Qur’an. Menjadikannya hakim dalam setiap perselisihan, petunjuk dalam setiap persimpangan, dan penenang dalam setiap kegelisahan. Ke mana pun Al-Qur’an mengarahkan kita—pada yang halal, haram, yang diperintahkan, yang dilarang—ke sanalah kita melangkah tanpa ragu. **Nasihat Ibnu Mas’ud tentang Al-Qur’an** ini adalah esensi dari menjadi seorang Ahlul Qur’an; hidupnya, matinya, dan seluruh gerak-geriknya selaras dengan irama wahyu.
3. Pilar Objektivitas: Menerima Kebenaran Tanpa Pandang Bulu
Wasiat ketiga mengajarkan kita tentang kerendahan hati dan integritas intelektual. “Terimalah kebenaran dari siapa pun ia datang.” Betapa sering ego kita menghalangi kita dari hikmah hanya karena pembawanya adalah orang yang tidak kita sukai, lebih muda, atau berbeda status sosial. Ibnu Mas’ud menampar ego kita dengan lembut, mengingatkan bahwa kebenaran adalah mutiara yang harus kita pungut di mana pun kita menemukannya. Kebenaran itu agung karena sumbernya dari Al-Haqq, Allah, bukan karena siapa yang menyampaikannya.
4. Pilar Prinsip: Menolak Kebatilan Tanpa Kompromi
Sebagai pelengkap pilar ketiga, wasiat terakhir adalah tentang ketegasan. “Tolaklah kebohongan (kebatilan) dari siapa pun ia datang.” Jika menerima kebenaran dari musuh adalah ujian kerendahan hati, maka menolak kebatilan dari orang terkasih adalah ujian kekuatan prinsip. Cinta, kedekatan, dan hubungan baik tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk berkompromi dengan kebohongan. Ini adalah pelajaran berharga tentang loyalitas tertinggi kita yang seharusnya hanya kepada Allah dan kebenaran-Nya. Ini adalah esensi dari *al-wala’ wal bara’* dalam skala personal.
Kesimpulan: Peta Jalan Menuju Hidup Bermakna
Empat kalimat singkat dari Ibnu Mas’ud ini bukanlah sekadar kata-kata, melainkan sebuah kurikulum kehidupan. Ia dimulai dengan meluruskan hubungan vertikal kita kepada Allah (Tauhid), dilanjutkan dengan memegang erat panduan-Nya (Al-Qur’an), dan diwujudkan dalam interaksi horizontal dengan sesama melalui dua sikap mulia: terbuka pada kebenaran dan tegas pada kebatilan. Sungguh, **nasihat Ibnu Mas’ud tentang Al-Qur’an** dan kehidupan ini adalah bekal yang lebih dari cukup. Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk tidak hanya memahaminya, tetapi juga menghidupinya dalam setiap tarikan napas.
Mari kita mulai perjalanan ‘berjalan bersama Al-Qur’an’ ini dengan kesungguhan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan kita.
Daftar Referensi
Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Setiap hari, tanpa kita sadari, kita mengisi sebuah bejana yang paling berharga di dalam diri kita: hati. Ia kita isi dengan riuh rendahnya berita, hiruk pikuk media sosial, kekhawatiran akan masa depan, dan kenangan masa lalu. Perlahan namun pasti, bejana itu terisi penuh. Namun pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, sudahkah isinya adalah sesuatu yang memuliakan dan menenangkan pemiliknya?
Sebuah riwayat menyentuh dari seorang sahabat mulia, Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan kita cermin yang luar biasa untuk melihat kembali isi bejana hati kita. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah pelajaran abadi tentang prioritas tertinggi seorang mukmin.
Kisah Lembaran Berharga dan Sebuah Baskom Air
Alkisah, dua orang tabi’in yang mulia, Alqamah dan Al-Aswad, menemukan sebuah shahifah atau lembaran tulisan. Menurut mereka, isinya adalah hadits yang sangat bagus dan menakjubkan. Dengan semangat membara, keduanya bergegas menuju kediaman guru mereka, Abdullah ibn Mas’ud, untuk menunjukkan temuan berharga itu.
Setibanya di sana, tepat setelah matahari tergelincir, mereka ragu untuk meminta izin masuk. Keduanya khawatir sang guru sedang beristirahat siang. Namun, Ibn Mas’ud yang menyadari kehadiran mereka justru mempersilakan masuk dan berkata lembut, “Aku tidak suka kalian menyangka aku sedang tidur. Sesungguhnya, waktu ini (bagi kami) nilainya setara dengan shalat malam.”
Setelah di dalam, dengan penuh antusias mereka menyodorkan lembaran itu. Namun, reaksi Ibn Mas’ud sungguh di luar dugaan. Beliau tidak membacanya. Sebaliknya, beliau meminta seorang pelayan untuk membawakan baskom berisi air.
Di hadapan kedua muridnya yang tertegun, dengan tangannya sendiri, Abdullah ibn Mas’ud mulai membasuh dan melunturkan setiap aksara dari lembaran berharga itu.
“Hati Ini Bejana, Sibukkan dengan Al-Qur’an”
Sambil menggerus tinta itu dengan air, lisan Ibn Mas’ud justru melantunkan firman Allah yang paling indah, seolah memberi jawaban atas tindakannya.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik…” (Q.S. Yusuf: 3)
Alqamah dan Al-Aswad masih mencoba meyakinkan, “Lihatlah dulu isinya, sungguh di dalamnya ada hadits yang menakjubkan.” Namun, Ibn Mas’ud terus melanjutkan perbuatannya seraya memberikan sebuah wasiat agung yang menembus zaman, sebuah kaidah emas dalam membersihkan hati.
“Sesungguhnya hati-hati ini adalah bejana, maka sibukkanlah ia dengan Al-Qur’an, dan jangan menyibukkannya dengan selainnya.” (Riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Cermin Bagi Hati di Era Digital
Mengapa Ibn Mas’ud melakukan itu? Penjelas dari riwayat ini, Abu ‘Ubaid, menyebutkan bahwa lembaran itu berasal dari Ahli Kitab. Tindakan Ibn Mas’ud bukanlah penolakan terhadap ilmu, melainkan sebuah pelajaran tentang kemurnian sumber. Beliau mengajarkan bahwa bejana hati seorang muslim harus diisi dengan sumber yang paling murni, paling agung, dan paling utama: Kalamullah.
Kisah ini adalah tamparan lembut bagi kita di era digital. “Lembaran” yang kita temukan setiap hari tidak terhitung jumlahnya. Layar gawai kita adalah portal menuju jutaan kisah, berita, dan hiburan. Jika kita tidak selektif, bejana hati kita akan terisi oleh serpihan informasi yang belum tentu benar, kisah yang melalaikan, dan kebisingan yang mengeruhkan jiwa. Maka, mari kita **sibukkan hati dengan Al-Qur’an** sebagai filter utama.
Mengapa Mesti Al-Qur’an?
Hati ibarat gelas. Jika sudah terisi penuh oleh air keruh, bagaimana mungkin kita bisa mengisinya dengan air jernih? Kita harus menumpahkan yang keruh terlebih dahulu. Al-Qur’an adalah air jernih itu. Ia adalah cahaya yang menyingkap kegelapan, petunjuk yang meluruskan kebengkokan, dan penenang yang membasuh segala kegelisahan.
Abdullah ibn Mas’ud paham betul bahwa Al-Qur’an sudah lebih dari cukup. Di dalamnya ada “kisah terbaik” (ahsan al-qasas) yang melampaui segala kisah. Di dalamnya ada solusi untuk setiap masalah. Keputusan untuk **sibukkan hati dengan Al-Qur’an** adalah keputusan untuk mengisi bejana kita dengan sumber kebaikan yang tidak akan pernah kering.
Jadikan Hati Kita Bejana Terbaik
Mari kita sejenak merenung. Jika hati kita adalah bejana, apa yang paling mendominasi isinya saat ini? Apakah lantunan ayat suci ataukah musik yang melalaikan? Apakah tadabbur firman-Nya ataukah perdebatan tak berujung di media sosial? Wasiat Ibn Mas’ud mengajak kita untuk melakukan detoksifikasi spiritual.
Memilih untuk **sibukkan hati dengan Al-Qur’an** adalah investasi terbaik untuk dunia dan akhirat kita. Karena dari bejana yang jernih, hanya akan terpancar kejernihan. Dari hati yang dipenuhi cahaya Al-Qur’an, hanya akan terlahir lisan yang bijak, tindakan yang terarah, dan jiwa yang tenang. Perjalanan ini tentu memerlukan bimbingan, komitmen, dan lingkungan yang mendukung agar bejana hati senantiasa terawat dan terisi dengan sebaik-baik isian.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, Surah Yusuf: 3.
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Fadha’il al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita dipanggil oleh sosok yang teramat kita cintai? Seketika, seluruh indra kita terpusat padanya, telinga menajam, dan hati bergetar menanti pesan yang akan terucap. Begitulah wasiat agung dari seorang sahabat mulia tentang bagaimana seharusnya kita merespons panggilan terindah di alam semesta, yaitu seruan ya ayyuhalladzina amanu di dalam Al-Qur’an.
Ini bukan sekadar panggilan, melainkan sebuah undangan mesra dari Sang Pencipta kepada hamba-hamba yang dipercayai-Nya. Sebuah nasihat abadi datang dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, seorang ‘alim dari kalangan sahabat, yang memberikan kita kunci untuk membuka gerbang samudra hikmah Al-Qur’an. Wasiat ini terekam indah dalam kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubayd.
Seorang lelaki datang kepada Abdullah bin Mas’ud dan berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka, beliau pun menasihatinya dengan sebuah kalimat yang menggetarkan jiwa:
“Jika engkau mendengar Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu’ (Wahai orang-orang yang beriman), maka pasanglah pendengaranmu baik-baik; karena sesungguhnya itu adalah suatu kebaikan yang diperintahkan atau suatu keburukan yang dilarang.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadha’il al-Qur’an)
Panggilan Kehormatan, Bukan Sekadar Seruan
Wasiat Abdullah bin Mas’ud ini mengajarkan kita sebuah adab yang luar biasa. Kalimat “فَارْعِهَا سَمْعَكَ” (fār’ihā sam’ak) bukan sekadar berarti “dengarkan”, tetapi lebih dalam dari itu: berikan seluruh perhatianmu, fokuskan hatimu, kosongkan pikiranmu dari hal lain. Mengapa? Karena yang memanggil adalah Raja diraja, Allah ‘Azza wa Jalla. Dan yang dipanggil adalah kita, orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya.
Panggilan ini adalah sebuah lencana kehormatan. Allah tidak menyeru seluruh manusia, tetapi secara spesifik memilih hamba-Nya yang beriman. Seolah-olah Allah berbisik, “Wahai engkau yang percaya pada-Ku, yang menjadikan-Ku sebagai Tuhanmu, sini, mendekatlah. Ada pesan penting khusus untukmu.” Betapa meruginya kita jika panggilan semesra ini hanya berlalu di telinga tanpa menyentuh relung jiwa.
Dua Muara Pesan: Perintah dan Larangan
Abdullah bin Mas’ud kemudian menyederhanakan semua kemungkinan pesan di balik panggilan itu menjadi dua muara utama: kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang. Tidak ada kemungkinan ketiga. Setiap seruan ya ayyuhalladzina amanu adalah titik awal dari sebuah panduan hidup yang konkret.
Kebaikan yang Diperintahkan: Setelah panggilan cinta itu, bisa jadi Allah memerintahkan kita untuk berpuasa (Al-Baqarah: 183), berlaku adil (An-Nisa: 135), bersabar (Ali ‘Imran: 200), atau bertakwa (Al-Maidah: 2). Semua ini adalah anak tangga menuju kemuliaan kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.
Keburukan yang Dilarang: Di sisi lain, panggilan itu bisa menjadi peringatan lembut agar kita menjauhi jurang kebinasaan. Seperti larangan memakan riba (Al-Baqarah: 278), larangan saling mengolok-olok (Al-Hujurat: 11), atau larangan mengikuti langkah-langkah setan (Al-Baqarah: 208).
Keduanya, perintah dan larangan, adalah manifestasi dari kasih sayang Allah yang tak terbatas. Dia menunjukkan jalan kebaikan agar kita selamat, dan Dia memasang rambu-rambu larangan agar kita tidak celaka. Inilah inti dari setiap pesan yang diawali dengan panggilan iman.
Bagaimana Seharusnya Kita Merespons?
Maka, pertanyaan reflektif bagi kita adalah: sudahkah kita memasang pendengaran kita saat panggilan itu tiba? Atau, jangan-jangan ayat-ayat itu hanya kita baca dengan lisan, tanpa pernah benar-benar kita “dengar” dengan hati?
Mari kita latih kepekaan batin kita. Setiap kali kita membaca atau mendengar ayat yang dimulai dengan seruan ya ayyuhalladzina amanu, berhentilah sejenak. Anggaplah Allah sedang berbicara langsung kepada kita, saat ini juga. Tanyakan pada diri sendiri: “Pesan apa yang Rabb-ku sampaikan untukku hari ini? Kebaikan apa yang harus segera aku amalkan? Keburukan apa yang harus segera aku tinggalkan?”
Dengan adab inilah, Al-Qur’an akan benar-benar hidup dalam diri kita. Ia tidak lagi menjadi sekadar bacaan, melainkan menjadi dialog interaktif antara seorang hamba yang rindu dengan Rabb-nya yang Maha Pengasih. Inilah kunci untuk merasakan manisnya iman melalui kalam-Nya yang mulia.
Daftar Referensi
Atsar Abdullah bin Mas’ud, diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam dalam Fadha’il al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah derasnya arus informasi, lalu merasakan sebuah kekosongan? Jutaan kata beterbaran setiap detik, ribuan nasihat diucapkan, namun mengapa terasa semakin sedikit jejak amal yang nyata? Seolah-olah, lisan kita begitu fasih merangkai kata, namun langkah kaki ini terasa berat untuk membuktikannya. Fenomena ini, saudaraku, bukanlah hal baru. Ia adalah gema dari sebuah peringatan agung yang telah disampaikan belasan abad silam.
Seorang sahabat mulia, Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, pernah melukiskan potret zaman akhir dengan begitu presisi. Beliau mengingatkan kita tentang sebuah masa di mana nilai-nilai mulai terbalik, di mana yang hakiki mulai tersisih. Ini bukan sekadar ramalan, melainkan sebuah cermin untuk kita berkaca, agar kita waspada terhadap tanda-tanda yang mungkin sudah ada di sekeliling kita, bahkan di dalam diri kita.
Ancaman “Al-Mutsannah”: Bacaan yang Melalaikan
Di antara berbagai tanda yang beliau sebutkan, ada satu yang secara khusus menyoroti hubungan kita dengan sumber ilmu dan petunjuk. Beliau memperingatkan tentang tersebarnya “Al-Mutsannah”, sebuah istilah yang mungkin asing di telinga, namun realitasnya begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Mari kita resapi untaian hikmahnya secara utuh.
Diriwayatkan dari Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, beliau berkata: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika perkataan dibentangkan (diperbanyak) dan perbuatan disimpan (disembunyikan). Di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika orang-orang jahat diangkat dan orang-orang baik direndahkan. Dan di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika ‘Al-Mutsannah’ dibacakan di hadapan khalayak ramai tanpa ada yang mengingkarinya.”
Ketika ditanya apa itu “Al-Mutsannah”, beliau menjawab dengan sebuah definisi yang menusuk kalbu: “Apa pun yang ditulis dari selain Kitab Allah (Al-Qur’an).”
Renungkanlah sejenak. Berapa banyak “Al-Mutsannah” yang kita konsumsi setiap hari? Berapa banyak buku, artikel, kutipan motivasi, atau bahkan tontonan yang kita jadikan rujukan utama, sementara Al-Qur’an hanya tersimpan rapi di rak? Inilah inti dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an. Ketika kita lebih akrab dengan tulisan-tulisan manusia—sekalipun tampak baik—namun asing dengan firman Pencipta manusia, kita sedang berjalan di atas jalur yang dikhawatirkan oleh para sahabat Nabi.
Penyaring di Tengah Banjir Informasi
Tentu ini bukan berarti kita dilarang membaca buku lain. Ketika ditanya tentang hadits Rasulullah ﷺ, Abdullah ibn ‘Amr memberikan kunci penting: ambillah ilmu dari orang yang terpercaya agamanya. Artinya, Al-Qur’an adalah standar utamanya, dan hadits shahih adalah penjelasnya. Adapun ilmu-ilmu lain, ia harus disaring, ditimbang, dan tidak boleh menggantikan posisi sentral Al-Qur’an di dalam hati dan pikiran kita.
Tantangan zaman ini adalah Al-Mutsannah hadir dalam bentuk yang sangat memikat. Ia bisa berupa ideologi, filsafat hidup, atau tren pemikiran yang dibungkus dengan bahasa indah, namun perlahan menggeser kemurnian petunjuk ilahi. Jika kita tidak waspada, kita akan terbuai dan lupa di mana seharusnya sauh kehidupan kita ditambatkan.
Obat Penawar: Kembali kepada Al-Qur’an
Setelah menguraikan penyakitnya, Abdullah ibn ‘Amr tidak membiarkan kita dalam kebingungan. Beliau langsung memberikan resep dan obat penawarnya. Sebuah solusi yang tak lekang oleh waktu, sebuah panggilan untuk kembali ke pangkal jalan.
“Apa yang kalian ambil dari orang yang kalian percayai diri dan agamanya, maka pahamilah ia. Dan wajib atas kalian berpegang pada Al-Qur’an, maka pelajarilah ia dan ajarkanlah kepada anak-anak kalian. Sungguh, kalian akan ditanya tentangnya dan akan diberi balasan karenanya. Dan cukuplah Al-Qur’an sebagai penasihat bagi orang yang mau berpikir.” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Lihatlah betapa indahnya nasihat ini. Jalan keluarnya begitu jelas: kembali kepada Al-Qur’an. Bukan sekadar membacanya, tetapi “pelajarilah ia” dan “ajarkanlah kepada anak-anak kalian”. Ada sebuah amanah besar di sini, sebuah tanggung jawab yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mengabaikan amanah ini adalah inti dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an. Kita tidak hanya merugi di dunia karena kehilangan petunjuk, tetapi juga akan ditanya di akhirat. Mengapa Kitab yang mulia itu kita biarkan berdebu, sementara kita sibuk dengan “Al-Mutsannah” yang fana?
Saudaraku, mari jadikan nasihat ini sebagai titik tolak untuk muhasabah. Sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah ia menjadi penasihat utama kita dalam setiap liku kehidupan? Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Peluklah ia kembali, pelajarilah ayat-ayatnya, dan ajarkan cahayanya kepada generasi penerus kita. Karena cukuplah Al-Qur’an sebagai penasihat, penawar, dan cahaya bagi siapa pun yang merindukan jalan pulang kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara untuk terhindar dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an yang telah diwanti-wanti sejak dahulu.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. Tahqiq: Marwan Al-Athiyah, dkk. Dar Ibn Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita merasa terombang-ambing di tengah derasnya arus kehidupan? Saat pilihan terasa begitu banyak namun membingungkan, saat jalan tampak bercabang tanpa petunjuk yang meyakinkan. Di tengah kegelisahan semacam itu, jiwa kita merindukan sebuah kompas, sebuah suluh yang cahayanya tak pernah padam. Sebuah wasiat agung dari sahabat mulia, Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, menjawab kerinduan itu dengan satu kalimat penuh makna: jadikan Al-Qur’an pemandu hidup kita.
Kisah ini bermula dari sebuah perjalanan. Seorang lelaki dari Kufah datang menemui Abu Darda’ dengan membawa amanah salam dan sebuah permintaan wasiat dari saudara-saudaranya di kampung halaman. Jawaban Abu Darda’ bukanlah untaian kata yang panjang, melainkan sebuah metafora yang menggetarkan jiwa, sebuah nasihat yang terpatri abadi dalam kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam.
“Sampaikan salamku kepada mereka, dan perintahkanlah mereka agar menyerahkan ‘tali kekang’ mereka kepada Al-Qur’an. Sungguh, Al-Qur’an akan membawa mereka kepada tujuan (yang lurus) dan kemudahan, serta akan menjauhkan mereka dari penyimpangan dan kesedihan.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Makna ‘Serahkan Tali Kekang’ pada Al-Qur’an
Kalimat “fal yu’thul Qur’aana bi khazaaimihim” (hendaklah mereka memberikan tali kekang mereka kepada Al-Qur’an) adalah inti dari pesan ini. ‘Khizaim’ adalah tali yang dipasang di hidung unta untuk mengendalikannya. Ini adalah kiasan yang luar biasa dalam. Abu Darda’ tidak sekadar meminta kita untuk membaca atau menghafal Al-Qur’an, tetapi untuk menyerahkan sepenuhnya kendali hidup kita kepadanya.
Bayangkan kita adalah seekor unta di tengah padang pasir yang luas, dan Al-Qur’an adalah sang penunjuk jalan yang memegang tali kekangnya. Kemana pun Al-Qur’an mengarahkan, ke sanalah kita melangkah. Apa yang Al-Qur’an perintahkan, kita laksanakan tanpa ragu. Apa yang ia larang, kita tinggalkan tanpa tapi. Inilah makna hakiki dari ketundukan, sebuah kepasrahan total yang lahir dari keyakinan bahwa sang pemandu—Al-Qur’an—hanya akan membawa kita ke mata air keselamatan. Ini adalah esensi dari upaya untuk jadikan Al-Qur’an pemandu hidup yang sesungguhnya.
Dua Buah Manis dari Kepasrahan
Wasiat agung ini tidak berhenti pada perintah, tapi juga menyajikan dua janji indah bagi siapa saja yang mengamalkannya. Dua buah manis yang akan dipetik oleh jiwa-jiwa yang rela menyerahkan kendalinya pada Kalamullah.
1. Dibimbing Menuju Tujuan dan Kemudahan
Janji pertama adalah Al-Qur’an akan “yahmiluhum ‘alal qashdi was suhuulah”, membawanya pada tujuan yang lurus (Al-Qashd) dan kemudahan (As-Suhuulah). Hidup yang dikendalikan oleh Al-Qur’an adalah hidup yang memiliki tujuan jelas: ridha Allah. Setiap langkah menjadi terarah, setiap keputusan menjadi mantap. Al-Qur’an menyederhanakan kerumitan dunia, memberikan prioritas yang benar, dan melapangkan jalan yang terasa sempit. Ia memberi kita ketenangan bahwa kita sedang berada di jalur yang benar, sebuah perjalanan yang penuh kemudahan dari-Nya.
2. Dijauhkan dari Penyimpangan dan Kesedihan
Janji kedua adalah Al-Qur’an akan “yujannibuhumul jawra wal huzuunah”, menjauhkannya dari penyimpangan (Al-Jaur) dan kesedihan (Al-Huzuunah). Al-Jaur adalah segala bentuk kezaliman, ketidakadilan, dan penyelewengan dari jalan yang lurus. Dengan berpegang pada Al-Qur’an, kita terlindungi dari bisikan yang menyesatkan. Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah perisai dari Al-Huzuunah, yakni duka dan kesedihan yang mendalam. Ia adalah pelipur lara, penawar bagi hati yang gundah, dan sumber ketegaran saat ujian menerpa. Bukankah ini yang paling kita dambakan? Sebuah hidup yang lurus dan jiwa yang jauh dari lara.
Maka, mari kita kembali bertanya pada diri kita. Sudahkah kita benar-benar menyerahkan tali kekang hidup ini pada Al-Qur’an? Atau kita masih sering menariknya ke arah yang berlawanan dengan petunjuk-Nya? Wasiat Abu Darda’ ini adalah cermin bagi kita semua. Sebuah pengingat lembut bahwa sumber kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan sejati telah ada di genggaman kita. Mari kita putuskan hari ini untuk benar-benar jadikan Al-Qur’an pemandu hidup, bukan sekadar pajangan atau bacaan sesaat, agar kita meraih kemudahan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta