Ketika Kata Melimpah, Namun Amal Terbenam

Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah derasnya arus informasi, lalu merasakan sebuah kekosongan? Jutaan kata beterbaran setiap detik, ribuan nasihat diucapkan, namun mengapa terasa semakin sedikit jejak amal yang nyata? Seolah-olah, lisan kita begitu fasih merangkai kata, namun langkah kaki ini terasa berat untuk membuktikannya. Fenomena ini, saudaraku, bukanlah hal baru. Ia adalah gema dari sebuah peringatan agung yang telah disampaikan belasan abad silam.

Seorang sahabat mulia, Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, pernah melukiskan potret zaman akhir dengan begitu presisi. Beliau mengingatkan kita tentang sebuah masa di mana nilai-nilai mulai terbalik, di mana yang hakiki mulai tersisih. Ini bukan sekadar ramalan, melainkan sebuah cermin untuk kita berkaca, agar kita waspada terhadap tanda-tanda yang mungkin sudah ada di sekeliling kita, bahkan di dalam diri kita.

Ancaman “Al-Mutsannah”: Bacaan yang Melalaikan

Di antara berbagai tanda yang beliau sebutkan, ada satu yang secara khusus menyoroti hubungan kita dengan sumber ilmu dan petunjuk. Beliau memperingatkan tentang tersebarnya “Al-Mutsannah”, sebuah istilah yang mungkin asing di telinga, namun realitasnya begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Mari kita resapi untaian hikmahnya secara utuh.

Diriwayatkan dari Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, beliau berkata: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika perkataan dibentangkan (diperbanyak) dan perbuatan disimpan (disembunyikan). Di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika orang-orang jahat diangkat dan orang-orang baik direndahkan. Dan di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika ‘Al-Mutsannah’ dibacakan di hadapan khalayak ramai tanpa ada yang mengingkarinya.”

Ketika ditanya apa itu “Al-Mutsannah”, beliau menjawab dengan sebuah definisi yang menusuk kalbu: “Apa pun yang ditulis dari selain Kitab Allah (Al-Qur’an).”

Renungkanlah sejenak. Berapa banyak “Al-Mutsannah” yang kita konsumsi setiap hari? Berapa banyak buku, artikel, kutipan motivasi, atau bahkan tontonan yang kita jadikan rujukan utama, sementara Al-Qur’an hanya tersimpan rapi di rak? Inilah inti dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an. Ketika kita lebih akrab dengan tulisan-tulisan manusia—sekalipun tampak baik—namun asing dengan firman Pencipta manusia, kita sedang berjalan di atas jalur yang dikhawatirkan oleh para sahabat Nabi.

Penyaring di Tengah Banjir Informasi

Tentu ini bukan berarti kita dilarang membaca buku lain. Ketika ditanya tentang hadits Rasulullah ﷺ, Abdullah ibn ‘Amr memberikan kunci penting: ambillah ilmu dari orang yang terpercaya agamanya. Artinya, Al-Qur’an adalah standar utamanya, dan hadits shahih adalah penjelasnya. Adapun ilmu-ilmu lain, ia harus disaring, ditimbang, dan tidak boleh menggantikan posisi sentral Al-Qur’an di dalam hati dan pikiran kita.

Tantangan zaman ini adalah Al-Mutsannah hadir dalam bentuk yang sangat memikat. Ia bisa berupa ideologi, filsafat hidup, atau tren pemikiran yang dibungkus dengan bahasa indah, namun perlahan menggeser kemurnian petunjuk ilahi. Jika kita tidak waspada, kita akan terbuai dan lupa di mana seharusnya sauh kehidupan kita ditambatkan.

Obat Penawar: Kembali kepada Al-Qur’an

Setelah menguraikan penyakitnya, Abdullah ibn ‘Amr tidak membiarkan kita dalam kebingungan. Beliau langsung memberikan resep dan obat penawarnya. Sebuah solusi yang tak lekang oleh waktu, sebuah panggilan untuk kembali ke pangkal jalan.

مَا أَخَذْتُمُوهُ عَمَّنْ تَأْمَنُونَهُ عَلَى نَفْسِهِ وَدِينِهِ فَاعْقِلُوهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ فَتَعَلَّمُوهُ وَعَلِّمُوهُ أَبْنَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ عَنْهُ تُسْأَلُونَ، وَبِهِ تُجْزَوْنَ، وَكَفَى بِهِ وَاعِظًا لِمَنْ كَانَ يَعْقِلُ

“Apa yang kalian ambil dari orang yang kalian percayai diri dan agamanya, maka pahamilah ia. Dan wajib atas kalian berpegang pada Al-Qur’an, maka pelajarilah ia dan ajarkanlah kepada anak-anak kalian. Sungguh, kalian akan ditanya tentangnya dan akan diberi balasan karenanya. Dan cukuplah Al-Qur’an sebagai penasihat bagi orang yang mau berpikir.” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Lihatlah betapa indahnya nasihat ini. Jalan keluarnya begitu jelas: kembali kepada Al-Qur’an. Bukan sekadar membacanya, tetapi “pelajarilah ia” dan “ajarkanlah kepada anak-anak kalian”. Ada sebuah amanah besar di sini, sebuah tanggung jawab yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Mengabaikan amanah ini adalah inti dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an. Kita tidak hanya merugi di dunia karena kehilangan petunjuk, tetapi juga akan ditanya di akhirat. Mengapa Kitab yang mulia itu kita biarkan berdebu, sementara kita sibuk dengan “Al-Mutsannah” yang fana?

Saudaraku, mari jadikan nasihat ini sebagai titik tolak untuk muhasabah. Sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Qur’an? Sudahkah ia menjadi penasihat utama kita dalam setiap liku kehidupan? Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Peluklah ia kembali, pelajarilah ayat-ayatnya, dan ajarkan cahayanya kepada generasi penerus kita. Karena cukuplah Al-Qur’an sebagai penasihat, penawar, dan cahaya bagi siapa pun yang merindukan jalan pulang kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara untuk terhindar dari bahaya meninggalkan Al-Qur’an yang telah diwanti-wanti sejak dahulu.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. Tahqiq: Marwan Al-Athiyah, dkk. Dar Ibn Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,