Pernahkah kita dipanggil oleh sosok yang teramat kita cintai? Seketika, seluruh indra kita terpusat padanya, telinga menajam, dan hati bergetar menanti pesan yang akan terucap. Begitulah wasiat agung dari seorang sahabat mulia tentang bagaimana seharusnya kita merespons panggilan terindah di alam semesta, yaitu seruan ya ayyuhalladzina amanu di dalam Al-Qur’an.

Ini bukan sekadar panggilan, melainkan sebuah undangan mesra dari Sang Pencipta kepada hamba-hamba yang dipercayai-Nya. Sebuah nasihat abadi datang dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, seorang ‘alim dari kalangan sahabat, yang memberikan kita kunci untuk membuka gerbang samudra hikmah Al-Qur’an. Wasiat ini terekam indah dalam kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubayd.

Seorang lelaki datang kepada Abdullah bin Mas’ud dan berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka, beliau pun menasihatinya dengan sebuah kalimat yang menggetarkan jiwa:

إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ تبارك وتعالى يَقُولُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا﴾ فَارْعِهَا سَمْعَكَ؛ فَإِنَّهُ خَيْرٌ يُؤْمَرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يُنْهَى عَنْهُ

“Jika engkau mendengar Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu’ (Wahai orang-orang yang beriman), maka pasanglah pendengaranmu baik-baik; karena sesungguhnya itu adalah suatu kebaikan yang diperintahkan atau suatu keburukan yang dilarang.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadha’il al-Qur’an)

Panggilan Kehormatan, Bukan Sekadar Seruan

Wasiat Abdullah bin Mas’ud ini mengajarkan kita sebuah adab yang luar biasa. Kalimat “فَارْعِهَا سَمْعَكَ” (fār’ihā sam’ak) bukan sekadar berarti “dengarkan”, tetapi lebih dalam dari itu: berikan seluruh perhatianmu, fokuskan hatimu, kosongkan pikiranmu dari hal lain. Mengapa? Karena yang memanggil adalah Raja diraja, Allah ‘Azza wa Jalla. Dan yang dipanggil adalah kita, orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya.

Panggilan ini adalah sebuah lencana kehormatan. Allah tidak menyeru seluruh manusia, tetapi secara spesifik memilih hamba-Nya yang beriman. Seolah-olah Allah berbisik, “Wahai engkau yang percaya pada-Ku, yang menjadikan-Ku sebagai Tuhanmu, sini, mendekatlah. Ada pesan penting khusus untukmu.” Betapa meruginya kita jika panggilan semesra ini hanya berlalu di telinga tanpa menyentuh relung jiwa.

Dua Muara Pesan: Perintah dan Larangan

Abdullah bin Mas’ud kemudian menyederhanakan semua kemungkinan pesan di balik panggilan itu menjadi dua muara utama: kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang. Tidak ada kemungkinan ketiga. Setiap seruan ya ayyuhalladzina amanu adalah titik awal dari sebuah panduan hidup yang konkret.

  • Kebaikan yang Diperintahkan: Setelah panggilan cinta itu, bisa jadi Allah memerintahkan kita untuk berpuasa (Al-Baqarah: 183), berlaku adil (An-Nisa: 135), bersabar (Ali ‘Imran: 200), atau bertakwa (Al-Maidah: 2). Semua ini adalah anak tangga menuju kemuliaan kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.
  • Keburukan yang Dilarang: Di sisi lain, panggilan itu bisa menjadi peringatan lembut agar kita menjauhi jurang kebinasaan. Seperti larangan memakan riba (Al-Baqarah: 278), larangan saling mengolok-olok (Al-Hujurat: 11), atau larangan mengikuti langkah-langkah setan (Al-Baqarah: 208).

Keduanya, perintah dan larangan, adalah manifestasi dari kasih sayang Allah yang tak terbatas. Dia menunjukkan jalan kebaikan agar kita selamat, dan Dia memasang rambu-rambu larangan agar kita tidak celaka. Inilah inti dari setiap pesan yang diawali dengan panggilan iman.

Bagaimana Seharusnya Kita Merespons?

Maka, pertanyaan reflektif bagi kita adalah: sudahkah kita memasang pendengaran kita saat panggilan itu tiba? Atau, jangan-jangan ayat-ayat itu hanya kita baca dengan lisan, tanpa pernah benar-benar kita “dengar” dengan hati?

Mari kita latih kepekaan batin kita. Setiap kali kita membaca atau mendengar ayat yang dimulai dengan seruan ya ayyuhalladzina amanu, berhentilah sejenak. Anggaplah Allah sedang berbicara langsung kepada kita, saat ini juga. Tanyakan pada diri sendiri: “Pesan apa yang Rabb-ku sampaikan untukku hari ini? Kebaikan apa yang harus segera aku amalkan? Keburukan apa yang harus segera aku tinggalkan?”

Dengan adab inilah, Al-Qur’an akan benar-benar hidup dalam diri kita. Ia tidak lagi menjadi sekadar bacaan, melainkan menjadi dialog interaktif antara seorang hamba yang rindu dengan Rabb-nya yang Maha Pengasih. Inilah kunci untuk merasakan manisnya iman melalui kalam-Nya yang mulia.

Daftar Referensi

  • Atsar Abdullah bin Mas’ud, diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam dalam Fadha’il al-Qur’an.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,