oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya semua.”
Hadirin yang dimuliakan Allah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat iman dan kesempatan menghirup aroma surga di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, manusia yang dadanya menjadi bejana suci turunnya wahyu ilahi.
Ramadhan: Bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an)
Mengapa tadarus di bulan Ramadhan terasa begitu istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya? Jawabannya karena Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua sejoli yang tidak terpisahkan. Allah memilih bulan ini sebagai waktu turunnya mukjizat terbesar sepanjang masa.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Jika di bulan biasa satu huruf yang kita baca dibalas dengan 10 kebaikan, maka di bulan Ramadhan, setiap amalan fardhu dilipatgandakan hingga 70 kali lipat, dan amalan sunnah (seperti membaca Al-Qur’an) pahalanya setara dengan amalan fardhu di bulan lain. Ini adalah masa “obral” pahala besar-besaran dari Allah.
Manfaat Tadarus bagi Jiwa dan Kehidupan
Membaca Al-Qur’an atau tadarus bukan sekadar mengejar target khatam, melainkan proses “charging” iman. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan, Al-Qur’an hadir sebagai Asy-Syifa (obat penawar) bagi hati yang gundah.
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Bapak dan Ibu, bayangkan saat kita sendirian di alam kubur yang gelap, atau saat kita gemetar di Padang Mahsyar, Al-Qur’an yang kita baca dengan saksama di dunia inilah yang akan datang membela kita, memberikan cahaya, dan memohonkan ampunan kepada Allah.
Kisah Malaikat Jibril dan Rasulullah
Ketahuilah, bahwa tadarus berjamaah adalah tradisi langsung dari Rasulullah. Setiap malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril ‘Alaihissalam turun untuk menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang mereka lakukan? Mereka saling menyimak bacaan Al-Qur’an (Mudarasah).
Dikisahkan para ulama salaf, seperti Imam Syafi’i, ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau meninggalkan aktivitas mengajar hadis dan fokus sepenuhnya pada Al-Qur’an. Beliau bahkan dikabarkan mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama satu bulan Ramadhan. Ini membuktikan bahwa prioritas utama seorang mukmin di bulan ini adalah mempererat interaksi dengan kalamullah.
Penutup dan Doa
Marilah kita manfaatkan sisa hari di bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Jangan biarkan Al-Qur’an hanya menjadi pajangan berdebu di lemari. Bacalah, meski terbata-bata, karena Allah menghargai setiap usaha kita.
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِينا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا.
“Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al-Qur’an. Jadikanlah ia bagi kami sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang kami lupa darinya dan ajarkanlah kami apa yang tidak kami ketahui darinya.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga kita termasuk golongan Ahlul Qur’an yang dicintai Allah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya semua.”
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang masih memberikan kita kesempatan menghirup udara Ramadhan yang penuh berkah. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, teladan abadi yang menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya iman.
Pentingnya Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Tarawih
Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah, ketika matahari terbenam di ufuk barat dan adzan maghrib berkumandang, suasana batin kita seketika berubah. Namun, puncak dari keindahan malam Ramadhan bukan hanya terletak pada manisnya hidangan buka puasa, melainkan pada sholat Tarawih yang kita tegakkan dengan penuh harap. Sholat Tarawih adalah “hadiah” khusus yang Allah berikan hanya di bulan suci ini.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai ciri hamba-hamba-Nya yang mendapatkan kemuliaan:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam mereka untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan sujud dan berdiri (sholat).” (QS. Al-Furqan: 64)
Jaminan Ampunan Dosa melalui Qiyamu Ramadhan
Mengapa kita harus bersemangat melakukan Tarawih meski raga terasa lelah setelah seharian berpuasa? Jawabannya ada pada janji Rasulullah yang sangat luar biasa. Tidak ada investasi yang lebih menguntungkan daripada bersimpuh di hadapan Allah saat orang lain mungkin sedang terlelap atau sekadar bersantai.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang melakukan sholat malam di bulan Ramadhan (Tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, Bapak dan Ibu sekalian, dosa-dosa masa lalu yang menghitamkan hati bisa luntur seketika hanya dengan konsistensi kita dalam sholat Tarawih. Inilah momen pembersihan besar-besaran yang Allah sediakan bagi setiap hamba-Nya yang rindu akan ampunan.
Keutamaan Sholat Witir sebagai Penutup yang Sempurna
Jangan lupakan sholat Witir. Rasulullah sangat menekankan sholat ini sebagai penutup ibadah malam kita. Sholat Witir bukan sekadar jumlah rakaat yang ganjil, melainkan bukti kecintaan kita kepada Allah yang Maha Esa dan menyukai hal-hal yang ganjil.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, Tarawih dan Witir mengajarkan kita tentang istiqomah. Setelah lelah bekerja dan menahan lapar, kita tetap memilih sujud. Ini melatih otot spiritual kita agar tetap tegak meskipun beban hidup terasa berat.
Kisah Inspiratif: Keteguhan Para Sahabat dalam Qiyamul Lail
Dikisahkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat kaum muslimin sholat Tarawih berpencar-pencar di masjid Nabawi. Ada yang sholat sendirian, ada yang berkelompok kecil. Beliau kemudian berinisiatif menyatukan mereka di bawah kepemimpinan satu imam, yakni Ubay bin Ka’ab.
Umar bin Khattab berkata, “Nikmatul bid’ah hadzihi” (sebaik-baiknya jalan baru adalah ini). Semangat persatuan dalam Tarawih inilah yang membuat umat Islam semakin solid. Para sahabat dahulu tidak pernah menganggap Tarawih sebagai beban, melainkan kebutuhan ruhani. Bahkan, saking cintanya mereka pada sholat malam, kaki mereka terkadang bengkak, namun hati mereka tetap bersinar karena kedekatan dengan Sang Khalik.
Kesimpulan dan Penutup
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan Ramadhan tahun ini berbeda. Jangan biarkan satu malam pun terlewat tanpa sholat Tarawih dan Witir. Anggaplah ini adalah Ramadhan terakhir kita, sehingga setiap rakaat yang kita kerjakan terasa begitu berharga dan menyentuh jiwa.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَصِيَامَنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Wahai Tuhan kami, terimalah sholat kami, qiyamul lail kami, dan puasa kami, wahai Dzat yang Maha Penyayang.”
Mohon maaf atas segala kekhilafan kata. Semoga Allah memberkahi langkah kita menuju ridha-Nya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْبَرِيَّاتِ
“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, sebaik-baik mahluk.”
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan kita kekuatan untuk menapakkan kaki di bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengajarkan kita bahwa mesin penggerak utama setiap amal adalah sebuah niat yang murni.
Ramadhan: Maraton Spiritual yang Butuh Keikhlasan
Hadirin yang dicintai Allah, menjalankan puasa selama satu atau dua hari mungkin terasa mudah karena semangat awal yang membara. Namun, menjaga kualitas yang sama hingga hari ke-30 adalah sebuah tantangan besar. Di sinilah peran ikhlas menjadi sangat krusial. Ikhlas bukan sekadar kata, melainkan bahan bakar agar kita tidak “mogok” di tengah jalan.
Rasulullah SAW memberikan fondasi yang sangat kuat mengenai pentingnya niat dan keikhlasan dalam berpuasa:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisaban (mengharap pahala/ikhlas), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Perhatikan kata Ihtisaban. Para ulama menjelaskan bahwa ini bermakna kita melakukan puasa semata-mata karena Allah, bukan karena sungkan dengan tetangga, bukan karena ingin dipuji sebagai orang saleh, dan bukan pula karena ikut-ikutan tren media sosial.
Mengapa Niat Sering Goyang di Tengah Jalan?
Hadirin rahimakumullah, musuh terbesar dari keikhlasan adalah riya (ingin dilihat orang) dan sum’ah (ingin didengar orang). Di zaman digital ini, godaan untuk memamerkan ibadah sangatlah besar. Berfoto saat lemas berpuasa agar dikasihani, atau memposting menu buka puasa yang mewah, bisa saja menggeser niat kita dari mencari ridha Allah menjadi mencari “like” dari manusia.
Padahal Allah SWT telah berfirman dengan tegas mengenai syarat diterimanya ibadah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Kisah Inspiratif: Rahasia Ikhlas yang Tak Terdeteksi
Ada sebuah kisah indah tentang seorang ulama salaf yang berpuasa sunnah selama dua puluh tahun tanpa ada seorang pun yang tahu, termasuk istrinya sendiri. Setiap pagi ia pergi bekerja dengan membawa bekal makanan dari rumah. Di tengah jalan, ia menyedekahkan bekal tersebut kepada fakir miskin.
Keluarganya mengira ia makan di tempat kerja, dan orang di tempat kerja mengira ia makan di rumah. Ia menjaga niatnya begitu rapat sehingga hanya Allah yang menjadi saksi. Inilah level ikhlas tertinggi—saat pujian manusia menjadi tidak berharga dibandingkan dengan pandangan Allah.
Tips Menjaga Keikhlasan Selama 30 Hari
Bagaimana agar niat kita tidak luntur hingga Idul Fitri tiba? Berikut beberapa langkah praktisnya:
- Perbarui Niat Setiap Malam: Jangan jadikan niat hanya rutinitas lisan saat sahur, tapi hadirkan dalam hati bahwa “Esok aku berlapar-lapar hanya untuk-Mu, ya Allah.”
- Sembunyikan Beberapa Amal: Pastikan ada ibadah yang hanya Allah dan Anda yang tahu, misalnya sedekah rahasia atau doa di tengah malam.
- Jangan Terpengaruh Pujian atau Celaan: Ingatlah bahwa manusia tidak punya kunci surga; hanya Allah yang punya.
Kesimpulan
Menjaga keikhlasan selama 30 hari memang berat, namun itulah letak seninya. Puasa yang ikhlas akan melahirkan ketenangan jiwa, sedangkan puasa yang penuh riya hanya akan membuahkan rasa lelah. Mari kita luruskan kembali kiblat hati kita agar setiap detik haus dan lapar kita dikonversi menjadi ampunan dan kasih sayang-Nya.
اللَّهُمَّ نَقِّ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ
“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari riya, amal kami dari nifak, dan lisan kami dari kebohongan.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah menjaga niat kita agar tetap istiqomah hingga akhir Ramadhan nanti. Mohon maaf atas segala salah kata.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى مَلَاذًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan taqwa sebagai tempat berlindung bagi orang-orang beriman. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Hadirin yang dirahmati Allah, mari kita panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mewajibkan kita berpuasa demi meningkatkan derajat kemanusiaan kita. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, manusia paling bertaqwa yang menjadi teladan bagi kita semua.
Memahami “Finish Line” Ramadhan: La’allakum Tattaqun
Hadirin yang berbahagia, setiap kompetisi memiliki garis finis, dan setiap perjalanan memiliki tujuan. Lantas, ke mana arah perjalanan lapar dan dahaga kita selama sebulan penuh ini? Allah SWT telah merumuskan Key Performance Indicator (KPI) atau indikator keberhasilan puasa kita di akhir ayat 183 surat Al-Baqarah:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“…agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Taqwa bukanlah sekadar gelar atau identitas, melainkan sebuah transformasi batin. Kata taqwa berasal dari waqa yang berarti melindungi atau membentengi diri. Maka, orang yang bertaqwa adalah mereka yang membangun benteng dalam dirinya agar tidak terjerumus dalam murka Allah SWT.
Taqwa Adalah Kehati-hatian dalam Melangkah
Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang taqwa dalam interaksi sehari-hari. Beliau bersabda dalam sebuah hadis sahih:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (sebagai penghapusnya), serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Puasa mendidik kita untuk merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah). Saat kita berada sendirian di kamar yang sejuk dengan minuman segar di depan mata, kita tidak menyentuhnya bukan karena ada orang lain, tapi karena kita tahu Allah melihat. Inilah inti dari taqwa: kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap helaan napas kita.
Kisah Inspiratif: Sayyidina Umar dan Hutan Berduri
Suatu ketika, Sayyidina Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang hakikat taqwa. Ubay balik bertanya, “Pernahkah engkau berjalan di jalan yang penuh dengan duri?”
Umar menjawab, “Ya, pernah.”
Ubay bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan?”
Umar menjawab, “Aku menyingsingkan pakaianku dan berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terkena duri tersebut.”
Ubay bin Ka’ab kemudian berkata, “Itulah taqwa.”
Kisah ini mengajarkan kita bahwa dunia ini ibarat ladang penuh duri (kemaksiatan, ghibah, harta haram). Puasa adalah latihan selama 30 hari untuk “menyingsingkan baju” nafsu kita dan melatih kehati-hatian agar kita selamat sampai di hadapan Allah kelak.
Ciri Alumni Ramadhan yang Bertaqwa
Hadirin sekalian, bagaimana kita tahu puasa kita sukses mencapai taqwa? Setidaknya ada tiga perubahan nyata:
- Meningkatnya Integritas: Tetap jujur meskipun tidak ada yang mengawasi.
- Kepekaan Sosial: Merasakan lapar membuat kita lebih mudah berbagi dengan yang kekurangan.
- Pengendalian Emosi: Mampu menahan diri dari marah dan dendam karena sadar sedang menjaga nilai puasa.
Kesimpulan
Ramadhan adalah sebuah workshop spiritual. Jangan sampai kita keluar dari bulan ini tanpa membawa sertifikat taqwa. Taqwa adalah modal terbaik untuk menjalani 11 bulan berikutnya. Marilah kita berdoa agar Allah tidak menjadikan puasa kita hanya sekadar rutinitas tanpa makna.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwa kami dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.”
Demikian ceramah yang dapat saya sampaikan. Benarnya datang dari Allah, salahnya dari kelemahan saya pribadi. Mohon maaf lahir dan batin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي كَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفًا رَحِيمًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan keberkahan dalam makan sahur. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad yang sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman, serta kepada keluarga dan para sahabatnya sekalian.”
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali mereguk manisnya ibadah di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang setiap detiknya adalah teladan, termasuk dalam urusan makan sahur yang seringkali kita anggap remeh.
Sahur: Bukan Sekadar Pengganjal Perut
Hadirin yang dimuliakan Allah, banyak di antara kita yang merasa berat untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Terkadang, kita memilih untuk tidur terus dan melewatkan sahur karena merasa masih kenyang atau malas. Padahal, secara spiritualitas dan kesehatan, sahur adalah rahasia kekuatan seorang mukmin dalam menjalankan puasa.
Rasulullah SAW memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai hal ini melalui sebuah hadis sahih:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata “Berkah” dalam hadis ini bermakna Ziyadatul Khair atau bertambahnya kebaikan. Berkah sahur mencakup kekuatan fisik untuk beribadah di siang hari, pahala karena mengikuti sunnah, hingga kesempatan untuk beristighfar di waktu yang paling mustajab.
Keutamaan Langit: Shalawat Malaikat di Waktu Sahur
Tahukah Anda bahwa saat kita sedang menyuap nasi di waktu sahur, penduduk langit sedang mendoakan kita? Ini adalah keutamaan luar biasa yang jarang disadari. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)
Bayangkan, sementara dunia sedang terlelap, Allah SWT memberikan rahmat-Nya dan malaikat memohonkan ampunan bagi mereka yang bangun untuk sahur. Inilah mengapa sahur menjadi pembeda utama antara puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Kisah Inspiratif: Sahur yang Bersahaja namun Bermakna
Dikisahkan dalam riwayat, Rasulullah SAW pernah mengajak sahabatnya untuk makan sahur dengan menyebutnya sebagai “makanan penuh berkah”. Beliau tidak menuntut hidangan yang mewah. Bahkan, beliau bersabda bahwa sahur itu bisa tercapai meski hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa nilai sahur bukan pada kuantitas makanannya, melainkan pada ketaatan kita bangun di waktu sahur. Waktu sahur adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia (waktu sepertiga malam), di mana doa-doa dikabulkan dan dosa-dosa diampuni. Para sahabat Nabi memanfaatkan waktu sahur bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk memperlama bacaan Al-Qur’an dan shalat malam.
Panduan Adab Sahur Sesuai Sunnah
Agar sahur kita mendapatkan skor “pahala” yang maksimal, perhatikan adab-adab berikut:
- Mengakhirkan Sahur: Sunnahnya adalah makan sahur mendekati waktu fajar (Imsak), bukan di tengah malam.
- Makan Secukupnya: Jangan berlebihan agar tidak mengantuk saat shalat Shubuh dan beraktivitas.
- Berniat Ibadah: Niatkan sahur untuk memberi kekuatan fisik dalam beribadah kepada Allah.
- Banyak Beristighfar: Allah memuji orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur (Al-Mustaghfirina bil ashar).
Allah SWT berfirman mengenai hamba-hamba-Nya yang bertaubat:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Kesimpulan
Makan sahur adalah paket lengkap antara nutrisi fisik dan nutrisi ruhani. Jangan biarkan rasa kantuk mengalahkan kesempatan Anda untuk mendapatkan shalawat malaikat dan keberkahan dari Allah. Meskipun hanya dengan sebutir kurma dan segelas air, bangunlah dan raihlah berkah di dalamnya.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَسُحُورِهِ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan dan tolonglah kami dalam menjalankan puasa, shalat malam, dan makan sahurnya.”
Semoga ceramah singkat ini bermanfaat dan memotivasi kita untuk lebih menghidupkan waktu sahur. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk ini. Tidaklah kita mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Puji syukur kita haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan kita kekuatan untuk menahan lapar dan dahaga. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengajarkan kita bahwa setiap ibadah memiliki seni dan keindahan dalam tata caranya, termasuk saat kita mengakhiri puasa.
Berbuka Puasa: Saat yang Dinanti dan Penuh Berkah
Hadirin yang dirahmati Allah, momen berbuka puasa seringkali menjadi saat yang paling emosional bagi seorang mukmin. Namun, jangan sampai rasa lapar membuat kita lupa akan adab dan sunnah. Berbuka puasa bukan sekadar ajang “balas dendam” kuliner, melainkan bagian integral dari ibadah itu sendiri.
Salah satu sunnah utama adalah menyegerakan berbuka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari & Muslim)
Menyegerakan berbuka berarti segera membatalkan puasa begitu azan Maghrib berkumandang, tanpa menunda-nunda. Ini adalah bentuk ketaatan kita kepada batasan yang telah Allah tetapkan.
Urutan Berbuka Sesuai Panduan Nabi
Agar puasa kita bernilai sempurna secara SEO spiritual, kita perlu mengikuti algoritma atau tata cara yang diajarkan Nabi SAW:
- Membaca Basmalah: Memulai segala kebaikan dengan nama Allah.
- Mengkonsumsi Kurma atau Air Putih: Disunnahkan berbuka dengan rutab (kurma basah), jika tidak ada maka tamr (kurma kering), dan jika tidak ada barulah air putih.
- Membaca Doa Berbuka yang Sahih: Setelah dahaga terobati, ucapkanlah doa syukur.
Berikut adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW setelah membatalkan puasa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)
Kisah Inspiratif: Kesederhanaan Berbuka Para Sahabat
Dalam sirah diceritakan betapa sederhananya berbuka puasa para sahabat Nabi. Mereka tidak menyibukkan diri dengan puluhan jenis hidangan. Fokus mereka adalah keberkahan waktu mustajab doa. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa doa orang yang berbuka puasa tidak akan tertolak.
Diriwayatkan bahwa para sahabat justru memperbanyak istighfar sesaat sebelum berbuka, menyadari bahwa mungkin ada kekurangan dalam puasa mereka hari itu. Mereka makan secukupnya agar tetap ringan saat melaksanakan shalat Maghrib dan tarawih. Ini sangat kontras dengan budaya kita saat ini yang seringkali berlebihan hingga membuat malas beribadah malam.
Menjaga Larangan Saat Berbuka
Salah satu hal yang sering merusak keberkahan berbuka adalah sikap israf atau berlebih-lebihan. Allah SWT berfirman:
وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Makan berlebihan saat berbuka hanya akan membuat perut sesak dan hati menjadi keras. Padahal, inti dari puasa adalah merasakan keprihatinan kaum fakir miskin dan mendidik nafsu, bukan memindahkannya ke waktu malam.
Kesimpulan
Berbuka puasa adalah ibadah. Mari kita hidupkan kembali sunnah-sunnah kecil yang membawa berkah besar ini: menyegerakan berbuka, mengawali dengan kurma, membaca doa yang sahih, dan tidak berlebihan. Dengan mengikuti adab ini, insya Allah kesegaran yang kita rasakan bukan hanya di tenggorokan, melainkan sampai ke dalam jiwa.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah, berkahilah kami atas rezeki yang Engkau berikan dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian ini. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100