Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,

Sudahkah Kita Menjadi Pribadi Qurani 7 Indikator Ulama

Lebaran Berlalu, Tapi Apakah Kita Berubah?

Setelah satu bulan penuh bersama Al-Quran, shalat tarawih, dan berbagai amal shalih, pertanyaan yang sesungguhnya bukan “sudah khatam berapa kali?” melainkan “apakah kita sudah berbeda?” Perubahan itulah tanda sejati hasil Ramadan.

Para ulama klasik dan kontemporer sama-sama menekankan bahwa tujuan utama berinteraksi dengan Al-Quran bukan sekadar mengejar pahala bacaan—melainkan transformasi kepribadian. Al-Quran disebut sebagai Huda (petunjuk), Syifa (penyembuh), Rahmat (kasih sayang), dan Furqan (pembeda). Semua gelar ini menunjukkan fungsi aktif yang seharusnya tercermin dalam kehidupan nyata pembacanya.

Lalu bagaimana mengukurnya? Para ulama memberikan beberapa indikator yang bisa kita jadikan cermin:

  1. Lisannya Terjaga
    Orang yang berinteraksi serius dengan Al-Quran akan merasakan perubahan dalam cara berbicara. Ghibah, bohong, dan kata-kata kasar terasa semakin berat untuk diucapkan karena hati yang berisi Al-Quran secara alamiah menolak kemaksiatan lisan.
  2. Mudah Bersyukur dalam Kondisi Apapun
    Al-Quran berulang kali menyebut kenikmatan Allah dan mengajak manusia bersyukur. Orang yang membaca dan merenungkan ayat-ayat ini akan mengembangkan refleks syukur yang semakin kuat.
  3. Sabar yang Tidak Pasif
    Bukan sabar yang menyerah, melainkan sabar yang strategis—terus berikhtiar sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
  4. Kepedulian Sosial Meningkat
    Hampir sepertiga Al-Quran berbicara tentang hak-hak sesama manusia. Pribadi Qurani tidak bisa cuek terhadap penderitaan orang lain karena pesan-pesan itu telah meresap ke dalam nuraninya.
  5. Konsisten Ibadah di Luar Sorotan
    Shalat tepat waktu meski tidak ada yang melihat, atau tilawah di malam hari meski tidak ada yang memuji. Keikhlasan ini adalah buah dari penghayatan ayat-ayat tentang muraqabah (merasa selalu diawasi Allah).
  6. Tawadhu yang Tulus
    Semakin seseorang memahami kebesaran Allah melalui Al-Quran, semakin ia menyadari betapa kecilnya dirinya. Kesombongan menjadi sesuatu yang absurd bagi pribadi Qurani.
  7. Al-Quran Menjadi Referensi Pengambilan Keputusan
    Ketika dihadapkan pada pilihan sulit, refleks pertamanya adalah “apa yang Al-Quran katakan tentang ini?”—bukan sekadar apa yang menguntungkan atau apa yang sedang populer.

Untuk membangun semua indikator ini secara sistematis, khususnya melalui jalur hafalan yang memperdalam hubungan dengan Al-Quran, program di Executive Tahfizh dirancang untuk mengantarkan peserta menjadi pribadi Qurani yang sesungguhnya, bukan hanya penghafal huruf.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا “Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang diabaikan.”(QS. Al-Furqan: 30)

Ayat ini adalah pengaduan Rasulullah ﷺ kepada Allah tentang umatnya yang meninggalkan Al-Quran. Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “mahjura” mencakup berbagai bentuk: tidak dibaca, tidak direnungkan, tidak diamalkan, dan tidak dijadikan pedoman hukum. Menjadi pribadi Qurani berarti keluar dari semua kategori pengabaian itu, selangkah demi selangkah, dengan ikhlas dan sabar.

Referensi

Al-Qaradhawi, Yusuf.Al-Quran wa As-Sunnah: Marji’iyyah Al-Muslimin. Kairo: Dar As-Syuruq, 2002.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar.Tafsir Al-Quran Al-Adzim. Tahqiq oleh Sami bin Muhammad Salamah. Juz 6. Riyadh: Dar Thaibah, 1999.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Hukum Sahur Kesiangan dan Kewajiban Tetap Berpuasa

Menaklukkan Pagi Tanpa Energi Sahur

Pernahkah kita terbangun saat matahari sudah mulai mengintip di ufuk timur, sementara kerongkongan masih kering dan perut terasa kosong karena melewatkan santap sahur? Detik itu, muncul pergolakan batin yang luar biasa hebat. Ada bisikan yang mengatakan bahwa hari ini akan menjadi beban berat, namun ada suara iman yang memanggil untuk tetap tegak berdiri.

Kita harus menyadari bahwa kekuatan puasa bukan terletak pada porsi makanan yang kita santap di waktu fajar, melainkan pada besarnya tekad dan niat yang tertanam di dalam relung jiwa terdalam. Melewatkan sahur karena kesiangan bukanlah akhir dari segalanya, apalagi menjadi alasan untuk menyerah kalah dan membatalkan puasa secara sengaja.

Saat kita memutuskan untuk tetap berpuasa meskipun tanpa bekal nutrisi sahur, kita sebenarnya sedang melatih otot-otot mental kita untuk melampaui keterbatasan fisik. Di sinilah esensi dari sebuah perjuangan ruhani yang sesungguhnya, di mana spiritualitas mengambil alih kendali saat fisik merasa lemah.

Memahami Kedudukan Sahur dan Niat

Mari kita luruskan pemahaman yang sering keliru di tengah masyarakat. Sahur adalah kesunahan yang penuh berkah, namun ia bukanlah syarat sahnya puasa. Artinya, jika kita sudah berniat di malam hari atau sebelum waktu subuh tiba, maka puasa kita tetap dianggap sah dan wajib untuk disempurnakan hingga waktu berbuka tiba.

Kekuatan niat adalah kunci utama. Tanpa niat yang tuntas, amalan kita seolah kehilangan ruhnya. Oleh karena itu, membiasakan diri berniat di awal malam adalah langkah preventif yang cerdas agar saat kita tidak sengaja bangun kesiangan, status puasa kita sudah aman secara syariat.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya (tidak sah).”(HR. An-Nasa’i)

Meneladani Salafus Shalih

Kita bisa mengambil ibrah dari kisah para sahabat Nabi yang hidup dalam keterbatasan luar biasa. Adakalanya mereka tidak menemukan apa pun untuk dimakan baik saat sahur maupun berbuka, namun semangat mereka untuk menegakkan syiar Islam tidak pernah luntur. Kekuatan mereka bersumber dari kedekatan dengan Allah dan keyakinan bahwa setiap rasa lapar akan dikonversi menjadi pahala berlipat ganda.

Para ulama salaf terdahulu sangat menjaga kualitas puasanya. Mereka memahami bahwa puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Jika kita tetap berpuasa dalam kondisi tanpa sahur tanpa mengeluh, kita sedang membuktikan integritas iman dan cinta kepada Allah yang melebihi rasa nyaman kita sendiri.

Program Executive Tahfizh selalu mengajarkan bahwa disiplin dalam menjaga interaksi dengan Al-Qur’an juga membutuhkan ketangguhan mental yang sama; tetap melangkah meski tantangan menghadang di depan mata.

Langkah Praktis Saat Kesiangan

Jika besok atau kapan pun kita terbangun terlambat, lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Jangan Panik
    Segera berwudhu dan tunaikan salat subuh. Jangan berpikir untuk makan atau minum.
  2. Kuatkan Tekad
    Luruskan kembali niat untuk menuntaskan puasa hingga maghrib. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.
  3. Alihkan Fokus
    Jangan biarkan pikiran negatif menguasai. Sibukkan diri dengan aktivitas produktif seperti tadarus Al-Qur’an. Ketika jiwa kenyang dengan kalam Ilahi, rasa lapar fisik akan terasa lebih ringan.
  4. Jadikan Pengingat
    Jadikan setiap rasa perih di lambung sebagai pengingat akan nikmat-Nya yang selama ini sering kita abaikan.

Ingatlah bahwa kesuksesan besar hanya diberikan kepada mereka yang mampu bertahan di saat orang lain menyerah. Puasa tanpa sahur adalah ladang latihan untuk menguji kesabaran. Teruslah bergerak maju dan biarkan cahaya iman menuntun kita melewati hari dengan penuh kemenangan.

Kesimpulan

Semoga Allah menguatkan raga kita saat berpuasa, menerima niat tulus kita, dan menjadikan setiap rasa lapar sebagai penghapus dosa-dosa masa lalu kita. Amin.


Referensi

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Rahasia Menjemput Keberkahan Malam Lailatul Qadar

Menembus Langit di Malam Seribu Bulan

Bayangkan sebuah malam di mana setiap embusan napas kita dihitung sebagai zikir yang berbobot puluhan tahun. Bayangkan ketika setiap tetes air mata penyesalan yang jatuh ke sajadah memiliki nilai yang jauh lebih berharga daripada seluruh emas di dunia. Inilah realitas yang kita hadapi saat memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Kita tidak sedang sekadar menunggu waktu berlalu, melainkan kita sedang berada di garis start sebuah perlombaan kosmik untuk meraih rida-Nya yang abadi. Keheningan malam bukan lagi sunyi yang kosong, melainkan frekuensi yang menghubungkan ruh kita langsung dengan Arasy-Nya.

Kita sering kali terjebak dalam rutinitas yang melelahkan sehingga melupakan bahwa ada satu jendela waktu di mana takdir bisa berubah. Lailatul Qadar bukanlah mitos, ia adalah janji nyata yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Saat kita mengangkat tangan di tengah malam, kita sebenarnya sedang mengetuk pintu langit yang sedang terbuka lebar. Di sinilah letak momentum untuk mendesain ulang masa depan kita melalui doa-doa yang tulus dan kesungguhan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Mengapa kita sering merasa tertinggal? Karena kita belum sepenuhnya menyadari bahwa energi yang kita keluarkan untuk beribadah di malam ini akan memberikan dampak jangka panjang bagi ketenangan jiwa kita. Memuliakan Al-Qur’an dengan cara membacanya, merenunginya, dan menghafalnya adalah jalan pintas menuju kemuliaan tersebut. Program Executive Tahfizh hadir untuk membantu kita semua agar interaksi dengan Kitabullah tidak hanya terjadi saat Ramadan, tetapi menjadi gaya hidup yang elegan dan berkelas.

Kekuatan fokus sangat menentukan kualitas ibadah kita. Jangan biarkan layar ponsel mencuri perhatian kita saat para malaikat sedang turun ke bumi untuk mencatat doa-doa hamba yang terjaga. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan mempererat ikat pinggangnya di sepuluh hari terakhir, sebuah simbolisasi dari peningkatan intensitas dan keseriusan yang luar biasa. Kita harus meniru determinasi ini untuk mendapatkan hasil yang luar biasa pula.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Kisah inspiratif datang dari Al-Imam Syafi’i yang membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk menulis ilmu, sepertiga untuk salat, dan sepertiga untuk istirahat. Namun, saat memasuki bulan Ramadan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti betapa kecintaan terhadap Al-Qur’an mampu melampaui batas kemampuan manusia biasa. Kita diajak untuk menembus batas kenyamanan kita sendiri demi mendapatkan keridaan Sang Khalik.

Langkah nyata yang bisa kita ambil adalah dengan memulai itikaf, meski dalam durasi yang singkat namun berkualitas. Bersihkan hati dari dendam, maafkan semua orang yang pernah menyakiti kita, dan masuklah ke dalam hadirat Allah dengan hati yang bersih (qolbun salim). Saat hati sudah jernih, maka cahaya Lailatul Qadar akan lebih mudah meresap ke dalam sanubari kita, mengubah karakter kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bijaksana.

Banyak ulama terdahulu yang mempersiapkan diri menghadapi malam ini sejak bulan Rajab. Mereka memahami bahwa kemenangan membutuhkan persiapan. Jika kita menginginkan perubahan besar dalam hidup, maka malam-malam terakhir ini adalah kesempatannya. Jangan biarkan diri kita terlelap dalam tidur yang melalaikan, sementara rahmat Allah sedang tumpah ruah menanti untuk diambil oleh mereka yang terjaga.

Mari kita perbanyak membaca doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah RA, yakni memohon ampunan. Mengapa ampunan? Karena dengan ampunan, semua penghalang antara kita dan keberkahan akan runtuh. Ketika penghalang itu hilang, maka rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan akan mengalir secara otomatis ke dalam kehidupan kita tanpa hambatan yang berarti.

Ingatlah bahwa setiap detik di malam Lailatul Qadar adalah investasi abadi. Kita tidak sedang membuang waktu, kita sedang membangun istana di surga. Kita sedang memastikan bahwa nama kita disebut-sebut oleh para penduduk langit dengan penuh kekaguman. Teruslah berjuang, teruslah mengetuk, karena sesungguhnya Allah sangat dekat dan Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Semoga Allah mengizinkan kita meraih kemuliaan Lailatul Qadar, mengampuni segala khilaf, dan menjadikan kita pribadi yang istikamah bersama Al-Qur’an selamanya. Amin.

Referensi:
An-Nawawi, Abu Zakaria. Al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalami Sayyid al-Abrar. Beirut: Dar al-Minhaj, 2005.
Kitab ini merangkum zikir dan doa-doa pilihan, termasuk amalan utama saat mencari Lailatul Qadar.

Al-Qurthubi, Syamsuddin. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Juz 20. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyah, 1964.
Referensi klasik untuk memahami tafsir mendalam tentang surat Al-Qadr dan fenomena turunnya malaikat.\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Kapan Lailatul Qadar Turun dan Malam Ganjil yang Paling Kuat

Misteri Waktu yang Sengaja Disembunyikan Allah

Ada sebuah kebijaksanaan ilahi yang sangat dalam di balik kerahasiaan waktu Lailatul Qadar. Bayangkan jika Allah mengumumkan: “Lailatul Qadar tahun ini jatuh pada malam ke-27.” Apa yang akan terjadi? Jutaan orang akan hanya bersungguh-sungguh di satu malam itu saja, lalu mengabaikan malam-malam lainnya. Tapi dengan menyembunyikan tanggal pastinya, Allah memaksa setiap Muslim untuk menjadi serius, konsisten, dan bersungguh-sungguh selama sepuluh malam penuh. Inilah strategi tarbiyah ilahi yang paling cerdas.

Para ulama telah mendiskusikan masalah waktu Lailatul Qadar selama berabad-abad, dan perdebatan ini sendiri merupakan bukti betapa seriusnya umat Islam dalam menyikapi malam tersebut. Setidaknya ada empat puluh pendapat berbeda yang tercatat dalam literatur fikih Islam tentang kapan tepatnya Lailatul Qadar jatuh. Namun dari sekian banyak pendapat, beberapa posisi mendominasi berdasarkan kekuatan dalil yang mendukungnya.

Pendapat pertama dan paling kuat secara dalil adalah bahwa Lailatul Qadar berada di antara sepuluh malam terakhir Ramadan, tanpa kepastian malam yang spesifik. Ini adalah pendapat yang disepakati oleh mayoritas ulama, termasuk Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Al-Nawawi. Dalilnya sangat eksplisit dari hadis mutawatir yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bukan hanya bersabda tentang ini sekali—beliau mengulanginya berkali-kali dalam berbagai kesempatan, menunjukkan betapa pentingnya pesan ini.

Pendapat kedua mempersempit pencarian ke malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir—yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Pendapat ini didukung oleh banyak hadis sahih lainnya dan merupakan posisi yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyyah. Dengan hanya lima malam sebagai fokus utama, persiapan ibadah bisa lebih terstruktur tanpa meninggalkan malam-malam genap sepenuhnya.

Pendapat ketiga—yang mungkin paling populer di kalangan awam—adalah bahwa Lailatul Qadar paling sering jatuh pada malam ke-27. Pendapat ini didukung oleh riwayat dari sahabat Ubay bin Ka’ab RA, yang bersumpah bahwa ia meyakini malam ke-27 adalah Lailatul Qadar berdasarkan tanda-tanda yang pernah ia saksikan. Beberapa ulama juga memberikan argumen matematis yang menarik: kata “hiya” (dia) dalam Surat Al-Qadr adalah kata yang ke-27 dalam surat tersebut, dan surat itu sendiri terdiri dari 30 kata. Meski argumen ini tidak bisa dijadikan dalil mandiri, ia menambah keunikan diskusi ini.

Namun ada dimensi lain yang sering luput dari diskusi: apakah Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah dari tahun ke tahun? Imam Syafi’i berpendapat bahwa ya, waktunya bisa bergeser setiap tahun. Pendapat ini sangat logis jika kita mempertimbangkan hikmah di balik kerahasiaannya—jika setiap tahun selalu jatuh di malam yang sama, orang-orang akan segera mengetahuinya dan kembali lalai di malam-malam lainnya. Dengan waktunya yang bisa bervariasi, setiap Muslim dipaksa untuk senantiasa waspada dan beribadah di seluruh rentang sepuluh malam terakhir.

Bagaimana para sahabat nabi menyikapi ketidakpastian ini? Mereka tidak menjadikannya sumber kegelisahan atau perdebatan yang memecah belah. Sebaliknya, mereka menjadikannya motivasi untuk beribadah lebih keras di setiap malam. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW biasa “mengencangkan ikat pinggang” (bersungguh-sungguh) dan “menghidupkan malamnya” serta “membangunkan keluarganya” di sepuluh malam terakhir. Kata “malamnya”—bukan “malam ke-27-nya”—menunjukkan bahwa Rasulullah memperlakukan setiap malam dalam periode ini dengan tingkat keseriusan yang sama.

Untuk membantu keluarga Muslim mempersiapkan generasi yang menghargai momen-momen agung seperti Lailatul Qadar, pendidikan Al-Qur’an yang terstruktur menjadi sangat penting. Anak yang sejak kecil telah menghafal dan memahami Al-Qur’an akan memiliki koneksi yang jauh lebih dalam dengan malam saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Temukan program terbaik untuk buah hati Anda di Executive Tahfizh, di mana Al-Qur’an menjadi fondasi utama pembentukan karakter dan kecerdasan.

Ada juga perbedaan pandangan menarik tentang apakah Lailatul Qadar masih terus ada setiap tahun hingga hari kiamat, atau apakah ia hanya berlangsung di zaman Nabi SAW. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terus ada setiap tahun hingga akhir zaman—ini adalah posisi yang lebih kuat secara dalil dan lebih memberi harapan kepada umat Islam. Hanya beberapa ulama minoritas yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar bersifat historis, dan pendapat ini lemah dari sisi argumentasinya.

Implikasi praktis dari diskusi ini sangat jelas: jangan pernah memasang “target” hanya pada satu malam. Buatlah rencana ibadah yang mencakup seluruh sepuluh malam terakhir, dengan intensitas yang meningkat seiring mendekati akhir Ramadan. Strategi yang bijak adalah mengalokasikan waktu dan energi terbaik untuk malam-malam ganjil, sambil tetap menjaga kualitas ibadah di malam-malam genap. Jangan biarkan malam genap berlalu tanpa makna hanya karena Anda mengira Lailatul Qadar tidak mungkin jatuh padanya.

Malam ke-27 secara statistik mendapat perhatian paling besar dari mayoritas ulama. Selain riwayat dari Ubay bin Ka’ab RA, ada beberapa hadis yang menguatkan posisi ini meski tidak sampai pada level kepastian mutlak. Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang malam mana yang paling kuat untuk Lailatul Qadar, menjawab dengan ringkas: “Malam ke-27.” Namun beliau segera menambahkan bahwa ini tidak mengurangi pentingnya beribadah di malam-malam lainnya.

Ada sebuah kisah indah yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Ketika seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas RA tentang mengapa ia yakin Lailatul Qadar adalah malam ke-27, Ibnu Abbas memberikan beberapa alasan yang menggabungkan analisis tekstual Al-Qur’an dengan observasi langsung dari para sahabat. Umar RA yang mendengar penjelasan tersebut hanya tersenyum dan berkata: “Yang penting kamu tidak lalai beribadah di malam manapun.” Respons Umar RA ini adalah pelajaran pemimpin sejati—fokus pada substansi, bukan pada perdebatan detail yang bisa mengganggu tujuan utama.

Bagi umat Islam di era modern, ada tantangan tambahan yang tidak dihadapi oleh generasi sebelumnya: perbedaan hari menurut kalender qamariyah antara berbagai negara. Di beberapa negara, 1 Ramadan jatuh pada hari yang berbeda karena perbedaan dalam sistem penetapan awal bulan. Ini berarti “malam ke-27” di satu negara mungkin berbeda dengan “malam ke-27” di negara lain. Solusi terbaik—sekali lagi—adalah memaksimalkan seluruh sepuluh malam terakhir tanpa bergantung pada kepastian tanggal yang tidak mungkin dicapai secara universal.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari, dari Aisyah RA)

Hadis ini adalah kompas terbaik yang kita miliki. Kata “taharraw” dalam bahasa Arab mengandung makna pencarian yang aktif, penuh perhatian, dan tidak setengah-setengah. Ini bukan sekadar menunggu—ini adalah perburuan spiritual yang membutuhkan persiapan, strategi, dan eksekusi yang sungguh-sungguh. Dan hadiahnya—ampunan dosa, penetapan takdir terbaik, dan kedamaian jiwa—lebih dari sepadan dengan segala upaya yang kita curahkan.

Sebagai penutup diskusi tentang waktu Lailatul Qadar, mari kita ambil sikap yang paling bijak: yakini bahwa ia ada, yakini bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir, prioritaskan malam-malam ganjil terutama malam ke-27, namun jangan abaikan malam-malam lainnya. Dengan sikap ini, kita tidak hanya akan mendapat Lailatul Qadar—kita akan mendapat sepuluh malam Lailatul Qadar sekaligus.

Penutup

Kerahasiaan waktu Lailatul Qadar adalah hikmah agar kita konsisten beribadah. Jangan terpaku satu malam—maksimalkan semuanya. Info program tahfizh unggulan: +6281224003100. Semoga Allah memberikan yang terbaik.

Referensi

Al-Qurtubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Di-tahqiq oleh Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfisy. Jilid 20. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.

Tafsir ensiklopedis ini memuat pembahasan tuntas tentang berbagai pendapat ulama mengenai waktu Lailatul Qadar, disertai analisis dalil yang sangat mendalam dan terstruktur.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Strategi Khatam Al-Quran dalam 15 Hari Terakhir Ramadan

Masih Juz 10 Padahal Ramadan Sudah Setengah Jalan?

Jangan panik. Banyak orang mengalami hal yang sama — semangat membara di awal Ramadan, lalu tiba-tiba target khatam terasa mustahil. Tapi kabar baiknya: 15 hari terakhir Ramadan adalah jendela emas yang belum tertutup.

Kunci utamanya bukan kecepatan membaca, melainkan konsistensi berbasis jadwal yang realistis. Program seperti Executive Tahfizh telah membuktikan bahwa metode terjadwal mampu mengubah orang yang “tidak punya waktu” menjadi penghafal dan pengkhatam Quran sejati.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Secara matematis, 30 juz dibagi 15 hari berarti 2 juz per hari. Ini setara dengan sekitar 20 halaman. Jika dibagi dalam 5 waktu salat, cukup 4 halaman setiap selesai salat. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Lathâif Al-Ma’ârif menyebutkan bahwa ulama salaf memperbanyak tilawah di bulan Ramadan melebihi amalan lainnya karena kemuliaan waktu ini.

Penutup

Mulai hari ini, tetapkan niat dan target harian. Semoga Allah mudahkan setiap huruf yang kita baca dan jadikan kita ahli Al-Quran. Aamiin.

Referensi

Ibnu Rajab Al-Hanbali. Lathâif Al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim Al-‘Âm min Al-Wazâif. Ditahqiq oleh Yâsîn Muhammad As-Sawwâs. Damaskus: Dâr Ibnu Katsîr, 1999.

Kitab ini membahas amal-amal utama pada setiap musim ibadah termasuk Ramadan, relevan sebagai dalil memperbanyak tilawah di bulan suci.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta