Mari kita rasakan kembali getaran lembut di dada saat melantunkan ayat-ayat suci. Interaksi kita dengan Al-Quran seharusnya tidak berhenti ketika gema takbir berkumandang. Justru di bulan Syawal inilah, cinta kita kepada Kalamullah diuji keasliannya. Membaca Al-Quran adalah sebuah dialog intim antara seorang hamba dengan Penciptanya. Ketika kita menjauh dari mushaf, sesungguhnya kita sedang menjauh dari sumber ketenangan hidup kita sendiri.
Bayangkan jika setiap hari hati kita disirami oleh cahaya petunjuk yang langsung turun dari langit. Kegelisahan akan sirna, kebingungan akan terganti dengan kejernihan berpikir. Al-Quran bukanlah sekadar bacaan masa lampau, melainkan panduan hidup (manual book) yang sangat relevan dengan setiap detik tarikan napas kita hari ini. Menjaga rutinitas tilawah berarti kita sedang memastikan asupan gizi spiritual bagi ruh kita agar tidak kelaparan.
Kunci keberhasilan menjaga tilawah adalah dengan mengintegrasikannya ke dalam gaya hidup. Kita membutuhkan metode dan lingkungan pembiasaan yang tertata dengan baik. Bersama sistem yang diaplikasikan di Executive Tahfizh, proses membaca dan menghafal Al-Quran menjadi aktivitas yang sangat dinikmati, bukan sebuah beban yang memberatkan jadwal harian kita.
Teladan Generasi Qurani
Kisah Utsman bin Affan yang sangat mencintai tilawah hingga beliau syahid dalam keadaan memeluk mushaf adalah puncak dari kecintaan sejati. Beliau menjadikan Al-Quran sebagai sahabat paling akrab dalam setiap kondisi. Hati yang telah diwarnai oleh Al-Quran akan memancarkan kebijaksanaan dan kelembutan. Kita bisa memulai langkah meniru beliau dengan bertekad untuk tidak tidur sebelum menyelesaikan target bacaan harian kita.
Konsistensi dalam membaca Al-Quran akan membongkar blokade mental dan membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak pernah kita duga.
Ketika kita memuliakan Al-Quran, maka Allah akan memuliakan kehidupan kita. Waktu yang kita dedikasikan untuk tilawah tidak akan pernah sia-sia, ia justru akan memberikan keberkahan pada sisa waktu kita yang lain.
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (QS. Al-Baqarah: 121)
Membangun Kebiasaan Emas
Mulailah dengan menyisihkan waktu khusus, bukan sekadar memberikan waktu sisa. Jadikan tilawah sebagai prioritas utama di pagi hari sebelum aktivitas lain menggerogoti fokus kita. Rasakan perubahan frekuensi pikiran kita setelah mengawali hari dengan lantunan ayat suci. Bersihkan hati dari niat yang bercabang, pusatkan perhatian murni hanya untuk mencari keridaan-Nya. Dengan komitmen yang membaja, tilawah kita di bulan Syawal akan menjadi pondasi kuat untuk sebelas bulan ke depan.
Penutup
Al-Quran adalah cahaya yang tak pernah redup. Ya Rabb, jadikanlah Al-Quran sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penghilang kesedihan kami.
Daftar Pustaka:
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Quran. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2003.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Benarkah Ada Tanda Alam yang Menyertai Lailatul Qadar?
Di setiap Ramadan, media sosial sering kali dibanjiri foto “matahari terbit yang aneh” yang diklaim sebagai tanda Lailatul Qadar. Ada yang membagikan foto bulan bercahaya dengan komentar meyakinkan, ada pula yang menyebarkan cerita tentang angin sejuk luar biasa yang dirasakan. Mana yang benar? Mana yang hanya mitos? Dan yang lebih penting—apakah tanda alam ini satu-satunya cara mengetahui bahwa kita telah bertemu Lailatul Qadar?
Sebelum membahas tanda-tandanya, kita perlu membangun fondasi pemahaman yang benar. Tanda-tanda Lailatul Qadar yang sahih bukan untuk dijadikan syarat ibadah. Artinya, kita tidak boleh berpikir, “Kalau tidak merasakan tanda-tandanya, berarti tidak perlu beribadah ekstra.” Justru sebaliknya: tanda-tanda ini adalah konfirmasi retrospektif—sesuatu yang bisa diamati setelah malam berlalu untuk mensyukuri bahwa kita telah melewati malam agung tersebut. Ibadah harus tetap maksimal di setiap malam ganjil sepuluh hari terakhir, terlepas dari ada atau tidaknya tanda yang bisa dirasakan.
4 Tanda Alam Berdasarkan Hadis Sahih
Dengan dasar pemikiran tersebut, mari kita telusuri tanda-tanda Lailatul Qadar yang benar-benar bersumber dari hadis sahih:
Matahari Terbit Tanpa Sinar Menyilaukan Tanda pertama dan paling terkenal adalah kondisi matahari yang terbit keesokan harinya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa matahari di pagi hari setelah Lailatul Qadar akan terbit dengan cahaya yang putih, tidak memancarkan sinar yang menyilaukan mata. Para ulama menjelaskan fenomena ini terjadi karena sayap para malaikat yang berjumlah sangat banyak sedang naik kembali ke langit di saat fajar, sehingga secara tidak langsung “meredam” intensitas sinar matahari. Ini adalah mukjizat tahunan yang Allah izinkan terjadi.
Suasana Malam yang Tenang (Thuma’ninah) Dalam berbagai riwayat, para sahabat menggambarkan bahwa malam Lailatul Qadar terasa berbeda. Ada ketenangan yang tidak biasa, angin tidak berhembus kencang, tidak ada suara petir atau hujan lebat. Suhu udara terasa moderat, tidak ekstrem panas maupun dingin. Hal ini sejalan dengan Surat Al-Qadr yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah “salam” (kedamaian) hingga terbitnya fajar. Seluruh alam seolah “diam” menghormati turunnya keberkahan langit.
Cahaya Bulan Berbentuk Separuh Bejana Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah RA, disebutkan bahwa pada malam Lailatul Qadar bulan tampak seperti “setengah bejana”—bulat separuh dengan pancaran cahaya yang lembut dan menenangkan. Namun, penting dicatat bahwa tanda ini terkait dengan kalender qamariyah dan posisi bulan pada malam tertentu, sehingga para ulama tidak menjadikannya sebagai patokan utama.
Langit Bersih dan Cerah Malam Lailatul Qadar digambarkan memiliki langit yang jernih, cerah, dan seolah-olah langit dan bumi menjadi lebih “dekat”. Ada laporan dari sahabat yang bisa melihat bintang dengan sangat jelas. Ini bisa jadi korelasi meteorologis dengan malam agung tersebut, Wallahu a’lam.
Tanda Spiritual: Pengalaman Batin yang Lebih Utama
Di luar tanda-tanda fisik tersebut, ada kategori tanda yang jauh lebih penting: tanda spiritual.
Banyak ulama salafus saleh melaporkan pengalaman mereka saat “mendapatkan” Lailatul Qadar bukan melalui penglihatan fisik, melainkan melalui perubahan kualitas ibadah. Hati yang biasanya sulit khusyuk, tiba-tiba terasa sangat dekat dengan Allah. Doa mengalir deras diiringi air mata, dan bacaan Al-Qur’an terasa seperti setiap ayatnya berbicara langsung kepada jiwa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa orang-orang yang hatinya bersih (ashhab al-qulub al-hayah) terkadang dapat merasakan kehadiran malaikat pada Lailatul Qadar melalui kepekaan batin yang diasah lewat ibadah konsisten. Program pendidikan yang membantu mengembangkan kepekaan spiritual ini—seperti yang ditawarkan oleh Executive Tahfizh—adalah investasi jangka panjang yang dampaknya melampaui dunia ini.
Kombinasi antara tanda objektif (alam) dan subjektif (spiritual) inilah yang membuat pencarian Lailatul Qadar menjadi perjalanan personal yang mendalam bagi setiap Muslim.
Waspada Mitos dan Hoaks
Penting juga untuk meluruskan mitos seputar tanda Lailatul Qadar yang tersebar di masyarakat agar ibadah kita tidak dibangun di atas fondasi yang goyah:
Mitos Pohon Bersujud: Tidak ada hadis sahih yang menyatakan pohon-pohon bersujud di malam tersebut. Ini adalah riwayat yang sangat lemah atau palsu.
Mitos Air Laut Menjadi Manis: Tidak ada bukti bahwa air laut atau sungai berubah rasa menjadi “asin” atau “manis” secara berbeda.
Mimpi Sebagai Kepastian: Mimpi tentang Lailatul Qadar bukan dalil valid untuk memastikan tanggalnya, karena mimpi terlalu mudah dipengaruhi oleh sugesti.
Tanda Terbesar: Perubahan Pasca-Ramadan
Ulama besar Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha’if al-Ma’arif menulis dengan indah bahwa tanda terbesar seseorang mendapatkan Lailatul Qadar bukanlah apa yang ia rasakan di malam itu, melainkan perubahan yang terlihat dalam kehidupannya setelah Ramadan.
Apakah ia semakin rajin shalat? Apakah hubungannya dengan Al-Qur’an semakin intim? Apakah akhlaknya semakin mulia? Inilah tanda yang paling valid, karena menunjukkan keberkahan malam itu benar-benar mengubah arah hidup seseorang.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berpesan: “Jika kamu menghabiskan waktu memandangi matahari pagi untuk mencari tanda, sementara malam sebelumnya kamu habiskan untuk tidur—maka kamu telah kehilangan Lailatul Qadar itu sendiri.”
“Pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan, seperti bejana (bulatan yang tenang), hingga ia naik tinggi.”(HR. Muslim, dari Ubay bin Ka’ab RA)
Hadis di atas adalah dalil terkuat tentang tanda Lailatul Qadar yang bersifat objektif. Namun, tanda ini berfungsi sebagai konfirmasi bagi yang sudah beribadah, bukan penentu kapan harus mulai beribadah.
Penutup
Pada akhirnya, tanda-tanda Lailatul Qadar yang paling autentik adalah yang dirasakan di dalam dada sendiri. Ketika kita berdiri dalam shalat malam dengan hati yang benar-benar hadir, itulah tanda bahwa kita telah menyentuh tepi dari malam yang paling mulia.
Kenali tanda Lailatul Qadar yang sahih dan jangan terkecoh mitos. Beribadah sungguh-sungguh adalah kunci utamanya. Semoga Allah pertemukan kita semua dengan kemuliaan Lailatul Qadar.
Referensi:
Ibnu Rajab al-Hanbali. Latha’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Wazha’if. Di-tahqiq oleh Yasin Muhammad al-Sawwas. Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1999.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Malam Seribu Bulan yang Tersembunyi: Menggapai Keberkahan Lailatul Qadar
Jika ada satu malam dalam hidup yang mampu mengubah nasib seseorang secara spiritual, itulah Lailatul Qadar. Sebuah malam agung yang nilai keutamaannya lebih baik dari 83 tahun ibadah. Namun, di malam manakah tepatnya anugerah ini diturunkan? Jawabannya tidak sesederhana sekadar menunjuk satu tanggal di kalender.
Lailatul Qadar bukan sekadar fenomena alam, melainkan momen eskalasi spiritual yang luar biasa. Bayangkan sebuah malam di mana setiap tasbih, sujud, dan doa yang dipanjatkan dikalikan nilainya hingga melampaui ibadah selama 1.000 bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan). Ini adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk mengejar ketertinggalan amal di tengah padatnya kesibukan duniawi.
Kapan Tepatnya Lailatul Qadar Terjadi?
Mayoritas ulama berbeda pendapat tentang kepastian jatuhnya malam Lailatul Qadar. Tanggal pastinya memang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar hamba-Nya terus berikhtiar dan tidak meremehkan malam-malam lainnya. Meski demikian, Rasulullah SAW memberikan petunjuk spesifik melalui sabdanya:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Berdasarkan tinjauan para ulama, ada beberapa skenario waktu yang menjadi fokus utama:
Malam Ganjil: Pencarian difokuskan pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Malam ke-27: Banyak ulama, termasuk Ibnu Abbas RA, memiliki kecenderungan pandangan yang kuat bahwa malam ke-27 adalah puncak kemungkinan terkuat.
Strategi Terbaik Menjemput Lailatul Qadar Executive Tahfizh senantiasa mengajarkan bahwa cara terbaik, paling aman, dan penuh berkah adalah dengan menghidupkan seluruh malam ganjil di 10 hari terakhir, bukan sekadar bertaruh pada satu malam saja. Menunggu hanya di satu malam tertentu sangat berisiko, sementara konsistensi beribadah di setiap malam ganjil memastikan momen mulia tersebut tidak akan terlewatkan.
Tanda-Tanda Alamiah dan Spiritual
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar diberikan agar umat Islam merasa tenang, yakin, dan bersyukur setelah melaluinya. Berikut adalah ciri-ciri yang sering dirasakan:
Suasana yang Tenang dan Syahdu Malam tersebut terasa sangat damai. Udaranya tidak memancarkan panas yang menyengat, namun juga tidak membawa hawa dingin yang menggigil.
Matahari Esok Pagi yang Teduh Keesokan harinya, matahari terbit dengan cahaya putih yang lembut dan tidak menyilaukan. Fenomena redup ini digambarkan ibarat bejana yang tenang, yang terjadi karena padatnya rombongan malaikat yang naik ke langit sehingga menutupi pancaran sinar matahari.
Ketenangan Batin yang Mendalam Di luar tanda-tanda alam, seorang hamba yang bersungguh-sungguh biasanya akan merasakan kelezatan dan kekhusyukan ibadah yang jauh berbeda dibandingkan malam-malam biasanya.
Maksimalkan 10 Malam Terakhir
Jangan menghabiskan waktu berharga hanya dengan menebak-nebak kapan malam itu tiba. Lakukan persiapan yang matang layaknya menyambut tamu agung:
I’tikaf dan Qiyamul Lail Perbanyak salat sunnah di sepertiga malam dan tingkatkan kuantitas serta kualitas tilawah Al-Qur’an.
Memanjatkan Doa Khusus Bacalah doa yang secara khusus diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah RA: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pemaafan, maka ampunilah aku).
Sedekah Rutin: Jaga konsistensi bersedekah di setiap malam ganjil, meskipun dalam jumlah yang kecil.
Penutup: Mulailah Perjalanan Al-Qur’an
Keberkahan Lailatul Qadar sangat erat dan tidak bisa dipisahkan dari Al-Qur’an, karena pada malam itulah pedoman hidup manusia pertama kali diturunkan ke bumi. Jangan biarkan bulan suci ini berlalu tanpa adanya peningkatan kualitas interaksi dengan kitab suci. Jangan pula menunda ibadah demi menunggu kepastian malam. Mari hidupkan setiap malam ganjil dengan semangat spiritual yang tinggi.
Referensi
Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Juz 4. Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1379 H.
Syarah hadits paling otoritatif yang membahas secara mendalam dalil-dalil tentang waktu dan tanda-tanda Lailatul Qadar.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Lupa Hafalan Bukan Aib, Tapi Sinyal yang Harus Ditanggapi
Seorang penghafal Al-Qur’an yang telah menyelesaikan 10 juz tiba-tiba tidak bisa melanjutkan bacaan di tengah shalat. Rasa malu menyeruak, lalu muncul pertanyaan menyiksa di dalam hatinya: “Apakah hafalan saya selama ini sia-sia?”
Jawabannya: Tidak — tapi ada bagian yang perlu segera diperbaiki dalam sistem muraja’ah-nya.
Mengapa Kita Bisa Lupa?
Lupa dalam menghafal adalah fenomena biologis yang sangat normal. Otak manusia bekerja berdasarkan prinsip use it or lose it — memori atau hafalan yang tidak diulang secara berkala akan melemah dan terhapus dari ingatan jangka panjang.
Para ulama hafizh terdahulu sangat memahami hal ini, sehingga mereka membangun sistem muraja’ah yang ketat dan terstruktur. Imam Al-Bukhari, misalnya, dikenal mengulang hafalan hadisnya hingga ratusan kali sampai setiap kata terpatri kuat dalam ingatannya.
Dalam ilmu neurosains modern, teknik pengulangan ini dikenal sebagai Spaced Repetition (pengulangan berjarak), yaitu pengulangan dengan jeda waktu yang semakin melebar seiring dengan semakin kuatnya sebuah hafalan.
Berikut adalah prinsip penerapannya:
Fase Awal: Ulangi hafalan baru setiap hari selama sepekan pertama.
Fase Menengah: Lakukan pengulangan setiap tiga hari di pekan berikutnya.
Fase Penjagaan: Ulangi sepekan sekali untuk mengunci hafalan secara permanen dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Kualitas Muraja’ah dan Tantangan Era Digital
Selain frekuensi, kualitas pengulangan juga sangat menentukan. Muraja’ah yang dilakukan dengan penuh konsentrasi dan tartil jauh lebih efektif dibandingkan membaca cepat tanpa penghayatan.
Faktor lain yang sering kali mempercepat hilangnya hafalan adalah multitasking. Otak yang terlalu banyak menerima distraksi informasi dari media sosial dan hiburan akan kesulitan mempertahankan hafalan Al-Qur’an. Oleh karena itu, melakukan detoksifikasi digital secara berkala bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan bagi seorang penghafal yang serius.
Peringatan Sekaligus Motivasi dari Rasulullah ﷺ
Menjaga hafalan adalah sebuah kewajiban aktif, bukan sesuatu yang bisa dibiarkan dan diharapkan bertahan dengan sendirinya. Hal ini sejalan dengan pesan langsung dari Baginda Nabi Muhammad ﷺ:
“Jagalah Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”(HR. Bukhari no. 5033)
Semakin sering Anda membuka dan mengulang Al-Qur’an, semakin kuat ikatan antara Anda dan kalam Allah yang mulia tersebut.
Bangun Sistem Muraja’ah Anda Sekarang
Jangan biarkan hafalan Anda pudar begitu saja. Untuk mendapatkan bimbingan muraja’ah yang sistematis, bergabunglah bersama Executive Tahfizh. Kami menyediakan jadwal muraja’ah terprogram dengan pengawasan dan pendampingan langsung dari para hafizh berpengalaman.
Referensi:
Yahya bin Syaraf Al-Nawawi. Al-Tibyan fi Adabi Hamalat Al-Quran. Beirut: Dar Al-Minhaj, 2004.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Adakah di antara kita yang saat ini merasa urusan rezekinya terasa sempit, atau urusan kehidupannya dipenuhi jalan buntu? Terkadang, solusi dari kebuntuan hidup kita tidak terletak pada seberapa keras kita memeras keringat, melainkan pada seberapa lapang hati kita menyambung tali persaudaraan. Bulan Syawal hadir dengan membawa energi penyembuhan sosial yang luar biasa. Inilah momen paling tepat untuk meruntuhkan tembok-tembok keangkuhan yang memisahkan kita dari saudara dan kerabat.
Silaturahmi bukanlah sekadar basa-basi seremonial. Ia adalah sebuah pergerakan spiritual yang menghubungkan kembali energi cinta kasih antar sesama manusia. Ketika kita melangkah mengunjungi kerabat dengan wajah berseri, kita sesungguhnya sedang membuka pintu-pintu rahmat langit. Senyum tulus dan jabat tangan yang hangat memiliki kekuatan tak kasat mata untuk melunturkan dendam dan menarik vibrasi positif keberlimpahan ke dalam hidup kita.
Membangun jaringan persaudaraan yang berlandaskan keimanan akan mengokohkan pilar-pilar sosial kita. Interaksi mulia ini bisa kita perluas dengan bergabung dalam komunitas pembelajar Al-Quran seperti di Executive Tahfizh, di mana persaudaraan dijalin di atas tujuan yang sama, yaitu menggapai ridha Allah melalui firman-Nya.
Kisah Hikmah Penyambung Tali Kasih
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menolak duduk bersama seseorang yang memutus tali silaturahmi dalam sebuah majelis karena khawatir doa majelis tersebut tidak akan dikabulkan oleh Allah. Begitu besarnya dampak sebuah persaudaraan terhadap turunnya rahmat Ilahi. Kita diajarkan bahwa kebaikan sosial berbanding lurus dengan kebaikan spiritual. Mari kita evaluasi daftar kontak kita, temukan nama kerabat yang sudah lama tidak kita sapa, dan jadilah inisiator kebaikan.
Ketulusan dalam menjalin hubungan sesama manusia adalah magnet terkuat yang menarik rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Hancurkan ego yang menghalangi kita untuk meminta maaf atau memberi maaf lebih dulu. Ketenangan batin yang didapat dari tersambungnya persaudaraan jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah perdebatan gengsi semata.
Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. (HR. Bukhari dan Muslim)
Langkah Aksi Mempererat Ikatan
Jadikan hari ini sebagai titik balik. Ambil ponsel kita, kirimkan pesan sapaan yang tulus, atau lebih baik lagi, luangkan waktu untuk berkunjung secara langsung tanpa mengharapkan balasan. Bawa bingkisan kecil sebagai tanda kasih sayang. Dengarkan cerita mereka dengan empati, rasakan denyut kehidupan saudara kita. Saat kita membahagiakan orang lain, sesungguhnya kita sedang menanam benih kebahagiaan untuk diri kita sendiri di masa depan yang akan panen pada waktu yang tepat.
Penutup
Silaturahmi adalah jembatan kasih sayang menuju rida-Nya. Ya Allah, tautkanlah hati kami dalam ukhuwah Islamiyah dan berkahilah rezeki serta umur kami.
Daftar Pustaka:
Ibn Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Juz 10. Riyadh: Dar Taiba, 2005.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100