Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,

Amalan Sedekah di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Saat Sedekah Rp 10.000 Bisa Bernilai Miliaran Pahala

Bukan hiperbola. Di 10 hari terakhir Ramadhan, terutama jika bertepatan dengan Lailatul Qadar, satu sedekah bisa dilipatgandakan hingga nilai ibadah lebih dari 83 tahun. Matematika pahala ini nyata, bukan sekadar motivasi.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya memuncak di bulan Ramadhan. Ibnu Abbas berkata, “Beliau lebih dermawan dari angin yang berhembus.” Lembaga pendidikan Quran seperti Executive Tahfizh adalah salah satu ladang sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah Ramadhan usai.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau paling tinggi terjadi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 6)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan sedekah di Ramadhan bukan hanya karena waktu yang mulia, tetapi karena kebutuhan orang-orang fakir juga meningkat di bulan ini. Oleh karena itu, sedekah di Ramadhan menggabungkan dua kebaikan: ibadah temporal dan sosial sekaligus.

Penutup

Jangan tahan tangan dari sedekah di hari-hari mulia ini. Investasi akhirat terbaik dimulai sekarang. Hubungi +6281224003100.

Referensi

Imam An-Nawawi. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Juz 15. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1392 H.

Syarah hadits yang membahas keutamaan kedermawanan Nabi ﷺ di bulan Ramadhan dan hikmah di balik pelipatgandaan pahala sedekah.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Memaafkan Sesama Hati Tenang

Melepaskan Beban, Meraih Kemerdekaan Jiwa

Pernahkah kita menyadari betapa beratnya beban tak kasat mata yang kita bawa setiap hari? Dendam, amarah yang terpendam, dan luka batin yang tidak kunjung sembuh adalah racun yang secara perlahan merusak kualitas hidup kita. Syawal menawarkan momentum detoksifikasi jiwa yang paling ampuh: seni memaafkan. Saat kita memutuskan untuk memaafkan, sesungguhnya kita sedang membebaskan tawanan yang paling menderita, dan tawanan itu adalah diri kita sendiri.

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan spiritual dan kekuatan mental yang luar biasa. Ia adalah kemampuan untuk melampaui rasa sakit demi meraih rida Sang Pencipta. Ketika kita melapangkan dada untuk orang yang pernah menyakiti kita, energi negatif yang selama ini menyumbat aliran keberkahan akan langsung terurai. Pikiran menjadi jernih, tidur menjadi lebih nyenyak, dan ibadah terasa jauh lebih nikmat dan khusyuk.

Menumbuhkan karakter pemaaf membutuhkan lingkungan yang senantiasa mengingatkan kita pada nilai-nilai keilahian. Kita dapat melatih kelembutan hati ini dengan terus berinteraksi dengan ayat-ayat suci, seperti lingkungan kondusif yang diciptakan oleh Executive Tahfizh, yang membimbing kita untuk menginternalisasi akhlak Al-Quran dalam kehidupan nyata.

Ketegaran Hati Para Pemaaf

Ingatlah kisah mulia sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang sempat bersumpah untuk menghentikan nafkah kepada kerabatnya, Mistah, yang ikut menyebarkan fitnah keji terhadap putrinya, Aisyah. Namun, ketika turun ayat Al-Quran yang menganjurkan untuk memaafkan dan berlapang dada, seketika itu pula Abu Bakar kembali memberikan nafkahnya dengan penuh keikhlasan. Inilah puncak kendali diri yang sejati, di mana petunjuk Ilahi menang telak di atas ego manusia.

Lapangkanlah dadamu, dan saksikan bagaimana Pencipta Alam Semesta akan melapangkan jalannya untuk semua urusanmu.

Kondisikan jiwa kita untuk selalu melihat hikmah di balik setiap peristiwa tidak menyenangkan. Sadarilah bahwa orang yang menyakiti kita hanyalah ujian dari Allah untuk menaikkan derajat kesabaran dan keimanan kita.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

Praktik Memaafkan Secara Sadar

Pejamkan mata sejenak, hadirkan wajah orang yang paling sulit kita maafkan. Tarik napas panjang, dan ucapkan dengan tulus di dalam hati: “Aku memaafkanmu karena Allah.” Lakukan berulang kali hingga ada kelegaan yang menjalar di dada. Jangan menunggu mereka meminta maaf terlebih dahulu, melangkahlah lebih awal menjemput pahala yang tak terbatas. Ubah keluhan menjadi doa kebaikan bagi mereka. Ini adalah terapi spiritual tertinggi yang akan memancarkan aura positif dari dalam diri kita secara nyata.

Penutup

Memaafkan adalah ciri jiwa yang merdeka. Ya Rabb, karuniakanlah kami kelapangan dada, bersihkan hati kami dari dengki, dan jadikan kami hamba yang pemaaf.

Daftar Pustaka:

Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Madarij as-Salikin. Juz 2. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2011.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Metode 2 Lembar Per Salat Rahasia Khatam Tanpa Berat

Kenapa Banyak Orang Gagal Khatam Meski Sudah Berniat?

Bukan karena tidak mau, tapi karena targetnya terasa terlalu besar sekaligus. Membayangkan “30 juz” langsung membuat otak menyerah sebelum mulai. Padahal solusinya sederhana: pecah menjadi bagian terkecil yang tidak bisa ditolak.

Metode 2 lembar per salat bekerja persis seperti itu. Lima waktu salat dikalikan 2 lembar menghasilkan 10 lembar atau 1 juz per hari. Dalam 30 hari, khatam tercapai tanpa tekanan. Pendekatan inilah yang juga diajarkan di Executive Tahfizh kepada para profesional yang memiliki waktu terbatas namun ingin istiqomah.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (terus-menerus), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464, Muslim no. 783)

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan prinsip ini. Konsistensi mengalahkan intensitas. Seseorang yang membaca 2 lembar setiap salat selama sebulan penuh jauh lebih utama daripada yang membaca 5 juz sehari lalu berhenti seminggu. Imam An-Nawawi dalam At-Tibyân fî Âdâb Hamalat Al-Qur’ân menegaskan bahwa membaca Al-Quran dengan tartil dan konsisten lebih disukai daripada terburu-buru tanpa penghayatan.

Penutup

Mulai dari 2 lembar sekarang. Konsisten itu lebih mulia dari banyak tapi berhenti. Semoga Allah berkahi setiap langkah tilawah kita. Aamiin.

Referensi

Imam An-Nawawi. At-Tibyân fî Âdâb Hamalat Al-Qur’ân. Beirut: Dâr Al-Fikr, 1996.

Kitab klasik ini membahas adab membaca Al-Quran secara lengkap termasuk anjuran konsistensi dalam tilawah harian.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Doa Lailatul Qadar yang Diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah

Ketika Aisyah Bertanya: Doa Apa yang Paling Tepat di Malam Lailatul Qadar?

Di antara ribuan doa yang tersebar dalam literatur Islam, ada satu doa yang secara khusus Rasulullah SAW ajarkan untuk momen paling agung dalam setahun. Doa ini tidak panjang, tidak rumit, tidak memerlukan hafalan berhari-hari. Tapi maknanya begitu dalam sehingga para ulama menyebutnya sebagai “doa yang merangkum seluruh kebutuhan manusia.” Apa rahasianya?

Kisah di balik doa ini bermula dari sebuah pertanyaan Aisyah RA kepada suaminya, Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Pertanyaan ini bukan pertanyaan biasa—ia mencerminkan kecerdasan spiritual Aisyah yang memahami bahwa di momen paling berharga dalam hidupnya, ia ingin mengucapkan kata-kata yang paling tepat, paling bermakna, paling dicintai oleh Allah. Dan Rasulullah SAW menjawab dengan sebuah kalimat yang menjadi warisan peradaban Islam hingga hari ini.

Doa tersebut adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”. Terjemahannya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.” Pada pandangan pertama, doa ini terkesan terlalu sederhana untuk momen seluar biasa Lailatul Qadar. Mengapa tidak meminta surga? Mengapa tidak meminta kesehatan, rezeki berlimpah, atau keturunan yang shaleh? Mengapa justru meminta ampunan?

Para ulama memberikan penjelasan yang sangat illuminating tentang mengapa doa pengampunan ini adalah yang paling tepat di Lailatul Qadar. Pertama, ampunan adalah fondasi dari segala karunia Allah. Seorang yang belum diampuni dosanya berada dalam kondisi spiritual yang tidak optimal untuk menerima nikmat-nikmat Allah lainnya. Dengan memulai dari pengampunan, kita “membersihkan” wadah jiwa kita agar siap menampung segala berkah yang akan Allah tuangkan. Ibarat gelas yang kotor—tidak peduli seberapa bersih air yang dituangkan, jika gelasnya kotor, air itu tidak akan murni.

Kedua, meminta ampunan di Lailatul Qadar adalah bentuk pengakuan yang paling jujur tentang kondisi diri kita. Di hadapan malam yang paling mulia, di hadapan jutaan malaikat yang turun ke bumi, seorang hamba yang sadar akan kelemahan dirinya seharusnya pertama kali berkata: “Ya Allah, aku datang dengan membawa beban dosa. Sebelum apapun, bersihkan aku terlebih dahulu.” Kerendahan hati ini adalah kunci dibukanya pintu rahmat yang lebih besar.

Ketiga—dan ini mungkin yang paling mendalam—meminta ampunan berarti meminta salah satu sifat Allah yang paling Ia cintai untuk ditunjukkan. Perhatikan struktur doanya: “Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pengampunan.” Kata “tuhibbul afwa” (Engkau menyukai pengampunan) mengisyaratkan bahwa Allah tidak hanya mampu mengampuni—Ia sesungguhnya senang mengampuni. Ketika kita meminta ampunan, kita sedang mengundang Allah untuk melakukan sesuatu yang Ia sukai. Dan siapa yang menolak undangan untuk melakukan hal yang ia sukai?

Dari sisi linguistik Arab, doa ini memiliki keindahan tersendiri. Kata “‘afuwwun” adalah bentuk mubalaghah (hiperbola) dari kata “‘afuu”—artinya bukan sekadar “yang mengampuni” melainkan “yang sangat banyak mengampuni”, “yang sering mengampuni”, “yang ampunannya tiada batas.” Pemilihan kata ini bukan kebetulan—Rasulullah SAW sebagai seorang yang memahami Al-Qur’an secara sempurna memilih kata yang paling ekspresif untuk menggambarkan sifat Allah yang akan menjadi dasar doa kita.

Dalam konteks pengembangan karakter anak-anak Muslim, mengajarkan doa ini sejak dini adalah salah satu hadiah terbaik yang bisa diberikan orang tua. Anak yang tumbuh dengan pemahaman bahwa Allah adalah Yang Maha Pengampun akan memiliki hubungan dengan Allah yang jauh lebih sehat—tidak dibangun di atas rasa takut semata, tetapi di atas harapan dan cinta. Inilah nilai-nilai yang ditanamkan dalam program-program unggulan di Executive Tahfizh, di mana hafalan Al-Qur’an dipadukan dengan pemahaman mendalam tentang makna ayat-ayat yang dihafal.

Bagaimana cara mengoptimalkan pengamalan doa Lailatul Qadar ini? Para ulama memberikan beberapa panduan praktis. Pertama, baca doa ini dengan penuh kehadiran hati—bukan sekadar menggerakkan bibir, tetapi benar-benar merasakan makna setiap kata yang diucapkan. Kedua, ulangi doa ini sebanyak-banyaknya di sepanjang malam, terutama di antara rakaat-rakaat shalat dan setelah sujud terakhir. Ketiga, sebelum mengucapkan doa ini, hadirkan dalam hati gambaran dosa-dosa yang pernah dilakukan—bukan untuk merasa hancur, tetapi untuk memunculkan rasa taubat yang tulus yang akan membuat doa kita lebih bermakna dan lebih kuat.

Selain doa utama ini, Rasulullah SAW juga mengajarkan beberapa doa lain yang sangat dianjurkan di Lailatul Qadar. Di antaranya adalah doa memohon keselamatan di dunia dan akhirat: “Allahumma innii as’aluka al-‘afiyata fid-dunya wal-akhirah”. Ada juga doa memohon keistiqamahan: “Allahumma ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘ala diinik”—Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ketiga doa ini bisa dikombinasikan dalam satu sesi munajat yang dalam dan penuh makna.

Satu hal yang perlu diingatkan adalah bahwa doa terbaik bukan selalu doa yang paling panjang atau paling banyak permintaannya. Imam As-Suyuthi pernah menulis bahwa kualitas doa ditentukan oleh tiga hal: kehadiran hati, keyakinan akan dikabulkannya doa, dan ketulusan niat semata-mata karena Allah. Seorang yang membaca “Allahumma innaka ‘afuwwun” dengan ketiga komponen ini hadir dalam hatinya jauh lebih baik daripada seseorang yang membaca ratusan doa panjang dengan hati yang kosong dan pikiran yang melayang.

Kisah yang sangat mengharukan datang dari seorang ulama tabi’in yang dikenal sebagai Fudhail bin Iyadh—seorang yang dulunya perampok sebelum bertobat dan menjadi salah satu ulama zuhud paling masyhur. Beliau dikenal selalu menangis tersedu-sedu di setiap malam Lailatul Qadar, mengulang-ulang doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah. Ketika muridnya bertanya mengapa beliau terus menangis, Fudhail menjawab: “Karena aku tahu betapa besarnya dosa yang pernah kuperbuat, dan aku tahu betapa luasnya ampunan Allah. Jika Allah mengampuniku, berarti seluruh hidupku yang buruk itu bisa menjadi bersih dalam satu malam. Bagaimana aku tidak menangis bahagia sekaligus takut?”

Perspektif Fudhail ini mengajarkan kita bahwa Lailatul Qadar bukan hanya untuk orang-orang yang hidupnya sudah bersih. Justru bagi mereka yang merasa paling jauh dari Allah, malam ini adalah kesempatan terbesar untuk kembali. Pintu ampunan Allah terbuka paling lebar di malam yang paling mulia—dan tidak ada logika yang lebih indah dari ini.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Aisyah RA—Hadis Sahih)

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa-nya menyebutkan bahwa doa ini adalah salah satu doa yang paling komprehensif dalam Islam. “‘Afwu” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti penghapusan dosa—ia berarti penghapusan bekas-bekas dosa. Jika dianalogikan, dosa itu seperti coretan di kertas putih. Maghfirah (ampunan biasa) menghapus coretatannya, tetapi bekas dari coretan masih terlihat. Sedangkan ‘afwu menghapus coretan sekaligus bekas-bekasnya, seolah-olah kertas itu tidak pernah tercoreng sama sekali. Inilah mengapa ‘afwu adalah tingkatan ampunan tertinggi yang bisa kita minta.

Dengan memahami kedalaman makna doa ini, seharusnya kita tidak hanya menghafalnya sebagai ritual, melainkan menjadikannya sebagai ekspresi terdalam dari jiwa kita yang merindukan Allah. Setiap kata dalam doa singkat ini adalah jembatan antara kelemahan manusia dan keagungan Allah—dan di Lailatul Qadar, jembatan itu lebih kokoh dan lebih mudah dilalui dari kapanpun.

Penutup

Hafal dan hayati doa Lailatul Qadar dengan sepenuh hati. Ampunan Allah menanti setiap hamba yang sungguh-sungguh memohon. Ingin anak hafal Al-Qur’an? Hubungi +6281224003100 sekarang.

Referensi

Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan Al-Tirmidzi. Di-tahqiq oleh Ahmad Muhammad Syakir. Jilid 5. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, tanpa tahun.

Kitab ini memuat hadis doa Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA beserta keterangan derajat kesahihannya yang menjadi landasan utama pembahasan dalam artikel ini.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Mengatasi Gangguan Konsentrasi Saat Menghafal Al-Quran

Pikiran Melayang Saat Menghafal: Tantangan yang Bisa Diatasi
Anda sudah duduk tenang, mushaf terbuka, suasana hening — tapi tiba-tiba pikiran melompat ke masalah pekerjaan, urusan keluarga, atau notifikasi yang belum dibuka. Gangguan konsentrasi adalah keluhan nomor satu para penghafal Al-Quran dari berbagai usia dan latar belakang.
Konsentrasi bukan bakat bawaan lahir, melainkan kemampuan yang bisa dilatih. Para ulama hafizh masa lalu memiliki satu kebiasaan yang hampir seragam: mereka selalu memulai sesi hafalan dengan thaharah — bersuci secara fisik dan mental. Wudhu bukan sekadar ritual kebersihan; penelitian menunjukkan bahwa sensasi air dingin pada wajah dan tangan mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang menciptakan kondisi tenang dan fokus. Selain itu, lingkungan fisik sangat memengaruhi konsentrasi — minimalkan stimulus visual dengan menjauhkan gadget, pilih ruangan yang minim dekorasi berlebihan, dan pastikan pencahayaan cukup namun tidak silau. Teknik deep breathing selama 60 detik sebelum memulai hafalan juga terbukti secara ilmiah meningkatkan aktivitas prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas fokus dan pengambilan keputusan. Dari sisi metodologi hafalan, menggunakan teknik vocal repetition — membaca ayat dengan suara keras berulang kali — jauh lebih efektif dalam mempertahankan konsentrasi dibandingkan membaca dalam hati, karena melibatkan lebih banyak indera sekaligus. Di Executive Tahfizh, para santri diajarkan teknik-teknik konsentrasi yang telah teruji, memadukan pendekatan klasik ulama dengan temuan sains modern untuk menghasilkan hafalan yang kuat dan tahan lama. Faktor terakhir yang tidak boleh diabaikan adalah kondisi spiritual — dosa dan maksiat secara langsung melemahkan cahaya ilmu dalam hati. Maka memperbanyak istighfar dan menjaga kesucian hati adalah bagian tak terpisahkan dari strategi memperkuat konsentrasi.
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waki’, maka ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Ia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.” (Imam Syafi’i)
Syair Imam Syafi’i ini adalah obat paling mujarab untuk masalah konsentrasi dan hafalan. Kebersihan hati adalah fondasi kekuatan hafalan. Sebelum memperbaiki teknik, perbaiki dahulu hubungan Anda dengan Allah — maka hafalan akan mengalir dengan kemudahan yang tidak terduga.
Penutup
Tingkatkan konsentrasi hafalan dengan menjaga hati dan menerapkan teknik yang tepat. Hubungi +6281224003100 untuk bergabung bersama Executive Tahfizh.
Referensi
Imam Al-Khatib Al-Baghdadi. Al-Jami’ li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’. Di-tahqiq oleh Mahmoud Al-Tahhan. Riyadh: Maktabah Al-Maarif, 1983.
Kitab ini membahas adab menuntut ilmu termasuk pentingnya menjaga kesucian hati sebagai syarat utama keberhasilan hafalan dan pemahaman ilmu.\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta