oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 16, 2025 | Artikel
Dalam perjalanan spiritual kita, setiap tuntunan dari Rasulullah ﷺ adalah permata berharga yang menerangi jalan. Mengikuti sunnah bukan sekadar meniru gerakan, melainkan menyelami makna, meneladani karakter, dan menghidupkan esensi ajaran. Sebuah tradisi yang mungkin luput dari perhatian banyak orang adalah praktik takbir setelah pembacaan Surah Ad-Dhuha. Ini bukan hanya sebuah kebiasaan, melainkan sebuah jejak kenabian yang membawa kita pada pemahaman lebih dalam tentang iman dan keteguhan hati. Mari kita selami lebih jauh tentang Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi.
Imam Asy-Syafi’i, seorang ulama besar yang keilmuwannya tak diragukan, pernah berpesan, sebagaimana diriwayatkan oleh Musa bin Harun dari Al-Bazzy: “Jika engkau meninggalkan takbir, engkau telah kehilangan satu sunnah dari sunnah nabimu.” Pernyataan ini, yang dikomentari oleh Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir sebagai isyarat persetujuan Imam Asy-Syafi’i terhadap hadis terkait, menggarisbawahi betapa pentingnya menjaga setiap detail ajaran Rasulullah ﷺ. Pesan ini mendorong kita untuk merenungi, adakah sunnah-sunnah lain yang tersembunyi, yang justru mengandung `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` yang luar biasa?
Meneladani Jejak Sunnah dalam Setiap Lafaz Takbir
Ketika kita berbicara tentang sunnah, kita berbicara tentang teladan terbaik. Nabi Muhammad ﷺ adalah suri teladan yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Meninggalkan sebuah sunnah, betapapun kecilnya di mata manusia, berarti mengabaikan warisan berharga dari beliau. Takbir setelah Surah Ad-Dhuha, meskipun mungkin tidak sepopuler sunnah-sunnah lain, membawa sebuah pesan fundamental tentang pentingnya penghambaan total kepada Allah SWT.
Takbir adalah pernyataan keagungan Allah, sebuah deklarasi bahwa tiada yang lebih besar, lebih mulia, dan lebih berkuasa daripada-Nya. Dalam konteks sunnah ini, ia menjadi pengingat akan kebesaran-Nya yang selalu hadir, terutama di saat-saat sulit. Memahami `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` berarti menghidupkan kembali semangat keteladanan yang mungkin telah meredup dalam kesibukan dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (Q.S. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menegaskan kewajiban kita untuk mengikuti setiap ajaran Rasulullah ﷺ, baik perintah maupun larangan, termasuk setiap sunnah yang beliau wariskan kepada umatnya.
Kisah Inspiratif di Balik Turunnya Surah Ad-Dhuha
Latar belakang di balik praktik takbir setelah Surah Ad-Dhuha adalah sebuah kisah yang menyentuh hati dan penuh hikmah. Diriwayatkan oleh Abul ‘Ala’ Al-Hamdani dari Al-Bazzy bahwa asal mula praktik ini bermula ketika wahyu terputus dari Nabi Muhammad ﷺ untuk sementara waktu. Para kaum musyrikin saat itu mencemooh dan berkata, “Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.” Dalam suasana kegelisahan dan kesedihan, turunlah Surah Ad-Dhuha, yang membawa kabar gembira dan penegasan kasih sayang Allah SWT kepada Nabi-Nya. Setelah turunnya surah ini, Nabi ﷺ pun bertakbir.
Meskipun Al-Hafizh Ibnu Katsir mengemukakan bahwa riwayat ini tidak memiliki sanad yang dapat dihukumi sahih atau lemah, esensi kisahnya tetap memberikan gambaran akan betapa besarnya ujian yang dihadapi Nabi ﷺ dan bagaimana Allah SWT selalu memberikan pertolongan dan penghiburan pada waktu yang tepat. Ini mengajarkan kita tentang kesabaran, kepercayaan penuh kepada takdir Allah, dan pentingnya merespons setiap nikmat dengan takbir, sebagai bentuk syukur dan pengagungan. Memahami konteks ini adalah bagian penting dalam meresapi `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi`.
Lebih dari Sekadar Lafaz: Makna Spiritual Takbir
Takbir, lafaz “Allahu Akbar”, adalah inti dari pengagungan Allah. Ia bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan sebuah deklarasi keyakinan yang mengakar kuat di dalam hati. Ketika wahyu terhenti, Nabi Muhammad ﷺ berada dalam kondisi yang sangat berat. Cemoohan kaum musyrikin mungkin terasa menusuk, namun turunnya Surah Ad-Dhuha menjadi oase penyejuk, menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan beliau.
Pekikan takbir beliau setelahnya adalah ekspresi syukur yang meluap, pengakuan akan kebesaran Allah yang telah menghilangkan kesedihan dan menggantinya dengan harapan. Bagi kita, takbir ini menjadi pengingat bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan di setiap ujian selalu ada pertolongan dari Allah. Ia mengajarkan kita untuk selalu melihat kebesaran-Nya dalam setiap peristiwa, baik suka maupun duka. Inilah salah satu inti dari `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` yang dapat kita ambil.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)
Takbir adalah salah satu bentuk zikir dan syukur yang paling agung, yang Allah janjikan akan dibalas dengan ingatan dan rahmat-Nya.
Mengaplikasikan Semangat Takbir dalam Kehidupan Kita
Maka, apa relevansi `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` bagi kita di masa kini? Pertama, ia mengajarkan kita untuk tidak mudah berputus asa saat menghadapi cobaan. Sebagaimana Nabi ﷺ yang tetap tegar meski dicemooh, kita pun harus yakin bahwa Allah SWT selalu bersama hamba-Nya yang beriman. Kedua, ia mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Setiap nikmat, sekecil apapun, adalah karunia dari Allah yang layak disambut dengan takbir dan pujian.
Mari kita jadikan praktik takbir, khususnya setelah membaca Surah Ad-Dhuha, sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan janji-Nya untuk tidak meninggalkan hamba-Nya. Biarkan lafaz “Allahu Akbar” menggemakan harapan, keteguhan, dan keimanan dalam setiap sendi kehidupan kita. Dengan menghidupkan sunnah ini, kita bukan hanya mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan yang kokoh dalam diri.
Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa menjaga sunnah Nabi ﷺ, merasakan manisnya iman, dan meraih keberkahan dalam setiap langkah. Untuk mendalami Al-Qur’an dan sunnah secara komprehensif, kami mengajak Anda untuk bergabung dengan Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sana, Anda akan dibimbing untuk memahami Al-Qur’an dengan metode yang mudah dan efektif, sehingga setiap ayat dan sunnah menjadi penerang jalan hidup.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Hasyr: 7
- Q.S. Al-Baqarah: 152
- Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim
- Kitab: الإتقان في علوم القرآن, Penulis: عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي (t. 911 H)
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 16, 2025 | Artikel
Dalam khazanah keilmuan Islam, ada sebuah narasi yang merekam interaksi antara dua pilar ilmu: Abdullah bin Abbas dan Ubay bin Ka’b. Dikisahkan bahwa Ibnu Abbas pernah membacakan (Al-Qur’an) kepada Ubay bin Ka’b, lalu Ubay memerintahkannya dengan hal tersebut. Peristiwa ini, yang oleh para ulama dicatat dengan teliti, bukan sekadar cerita lampau, melainkan sebuah cerminan mendalam tentang etika keilmuan dan transmisi pengetahuan yang sahih. Ia menegaskan bagaimana transfer ilmu tidak hanya berupa hafalan belaka, namun juga bimbingan langsung dari seorang ahli.
Kisah ini menjadi fondasi yang kokoh untuk memahami Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an. Tanpa jejak riwayat yang jelas dan sanad yang tersambung, kemurnian ajaran dapat tergerus oleh waktu dan interpretasi pribadi. Kita diajak untuk meninjau kembali esensi bagaimana Al-Qur’an sampai kepada kita hari ini, yaitu melalui mata rantai transmisi yang tak terputus, dari lisan ke lisan, dari generasi ke generasi.
Meneladani Para Sahabat dalam Menjaga Transmisi Al-Qur’an
Interaksi antara Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’b adalah salah satu contoh nyata betapa para sahabat Nabi ﷺ sangat menjunjung tinggi keaslian dan akurasi dalam penerimaan serta penyampaian ilmu agama, khususnya Al-Qur’an. Ubay bin Ka’b adalah salah satu dari sedikit sahabat yang dijuluki “Sayyidul Qurra'” (pemimpin para qari’), sementara Ibnu Abbas adalah sang “Turjumanul Qur’an” (penerjemah Al-Qur’an) berkat doa khusus dari Rasulullah ﷺ. Ketika seorang ahli seperti Ibnu Abbas pun masih merasa perlu membaca di hadapan Ubay untuk mendapatkan bimbingan dan pengesahan, ini menunjukkan betapa fundamentalnya peran guru yang bersanad dalam proses belajar Al-Qur’an. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga memastikan setiap huruf, harakat, dan makhraj sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Peristiwa ini, yang diriwayatkan dalam bentuk “mawquf” (pernyataan sahabat) oleh sebagian ulama, kemudian ditemukan pula dalam jalur “marfu'” (pernyataan yang disandarkan kepada Nabi ﷺ) melalui penelitian mendalam para muhaddits seperti Al-Bayhaqi dan Al-Hakim. Kerumitan dan ketelitian ulama dalam menelusuri setiap jalur periwayatan ini menggambarkan Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an yang tidak bisa ditawar. Ini adalah warisan metodologi ilmiah yang memastikan keotentikan teks suci kita.
Mengenal Klasifikasi Riwayat: Mawquf dan Marfu’
Dalam disiplin ilmu hadis, ulama membedakan antara riwayat “mawquf” dan “marfu'”. Riwayat mawquf adalah perkataan, perbuatan, atau ketetapan yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi, tidak sampai kepada Nabi ﷺ. Sementara itu, riwayat marfu’ adalah yang secara jelas atau implisit disandarkan kepada Nabi ﷺ. Ketelitian para ulama seperti Al-Bayhaqi yang meriwayatkan kisah Ibnu Abbas dan Ubay dari jalur lain secara marfu’, dan Al-Hakim yang mensahihkannya dalam kitabnya Al-Mustadrak, adalah bukti nyata bagaimana mereka mendedikasikan hidup untuk menjaga kemurnian ilmu.
Meskipun klasifikasi ini lebih dominan dalam ilmu hadis, semangat di baliknya sangat relevan dengan pemahaman kita tentang Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an. Ini adalah tentang verifikasi, tentang memastikan bahwa sumber informasi kita terhubung dengan mata rantai yang paling sahih. Para ulama tidak hanya sekadar menerima, tetapi menelusuri, membandingkan, dan mengotentikasi setiap detail. Ini adalah metodologi yang sama yang melandasi proses periwayatan qira’at Al-Qur’an, memastikan bahwa bacaan kita hari ini identik dengan apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ.
Urgensi Sanad untuk Kesahihan Bacaan Kita
Dalam konteks tahfizh Al-Qur’an, sanad bukan sekadar formalitas, melainkan adalah jiwa dari kesahihan bacaan. Sanad adalah mata rantai guru-murid yang tidak terputus hingga Rasulullah ﷺ, yang setiap mata rantainya terjamin keilmuan dan integritasnya. Tanpa sanad, kita akan kehilangan jaminan bahwa bacaan Al-Qur’an yang kita lafalkan sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya dan bagaimana Nabi mengajarkannya kepada para sahabat.
Bayangkan, jika setiap orang membaca Al-Qur’an hanya berdasarkan pemahaman dan ijtihadnya sendiri tanpa bimbingan guru yang bersanad, niscaya akan terjadi penyimpangan besar. Kesalahan dalam makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), sifatul huruf (sifat-sifat huruf), hingga hukum-hukum tajwid, akan sangat mudah terjadi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl: 43)
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kita untuk merujuk kepada ahli ilmu ketika kita tidak mengetahui. Dalam konteks Al-Qur’an, “ahli dzikir” ini adalah para guru Al-Qur’an yang memiliki sanad yang kuat dan terpercaya. Mempelajari Al-Qur’an dari mereka adalah bentuk ketaatan terhadap perintah Ilahi dan bentuk ikhtiar kita dalam menjaga kemurnian wahyu.
Implikasi Praktis bagi Penuntut Ilmu Al-Qur’an
Memahami Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an memiliki implikasi praktis yang besar bagi setiap penuntut ilmu Al-Qur’an. Pertama, ini menuntut kita untuk mencari guru Al-Qur’an yang berkualitas dan memiliki sanad yang jelas. Guru yang bersanad tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga mengajarkan adab, akhlak, dan tata cara membaca yang benar sesuai dengan riwayat yang sahih. Kedua, kita harus memiliki kesabaran dan ketekunan dalam proses talaqqi (belajar langsung kepada guru) dan musyafahah (menerima bacaan langsung dari mulut guru). Ini adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa setiap huruf dan kalimat Al-Qur’an yang kita hafal telah sesuai dengan riwayat yang mutawatir.
Menghindari belajar mandiri tanpa bimbingan adalah langkah bijak. Meskipun banyak sumber belajar daring, keberadaan guru yang bersanad tetap tak tergantikan. Guru dapat mengoreksi kesalahan secara langsung, membimbing pengucapan yang benar, dan menanamkan ruh Al-Qur’an yang mendalam. Pengalaman Ibnu Abbas yang belajar kepada Ubay bin Ka’b adalah teladan abadi bagi kita untuk senantiasa merendahkan diri di hadapan ilmu dan para ahli ilmu.
Mengapa Memahami Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an Begitu Mendesak?
Di era informasi yang begitu deras, di mana setiap orang bisa dengan mudah mengakses berbagai konten, pemahaman akan Pentingnya Sanad dan Riwayat dalam Tahfizh Al-Qur’an menjadi sangat mendesak. Tanpa pondasi sanad yang kuat, sangat mudah bagi kita untuk terjerumus pada kesalahan fatal dalam memahami atau melafalkan Al-Qur’an. Kesalahan bacaan dapat mengubah makna, dan interpretasi yang keliru dapat menyesatkan. Sanad adalah benteng pelindung dari distorsi dan bid’ah dalam agama.
Para ulama salaf telah mengingatkan akan bahaya mengambil ilmu dari sembarang orang. Abdullah bin Sirin, seorang tabi’in terkemuka, pernah berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ.
Artinya: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (H.R. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya)
Nasihat ini menegaskan bahwa ilmu agama, termasuk ilmu Al-Qur’an, adalah bagian integral dari praktik keimanan kita. Oleh karena itu, sumber pengambilan ilmu haruslah terpercaya dan terverifikasi. Inilah esensi dari sanad, sebuah jaminan kualitas yang diberikan oleh Allah melalui para ulama-Nya untuk menjaga kemurnian Kitabullah hingga akhir zaman. Dengan memahami dan mengamalkan prinsip sanad, kita tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga turut serta dalam menjaga salah satu mukjizat terbesar Allah.
Semoga kita semua diberikan kemudahan dan taufik untuk selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an secara benar dan sesuai tuntunan para ahli, meneladani jejak salafus shalih dalam menjaga warisan Ilahi ini. Mari kita menjadi bagian dari mata rantai kebaikan yang menjaga keaslian Al-Qur’an dengan bergabung dalam program tahfizh yang berlandaskan sanad dan metodologi yang sahih.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Q.S. An-Nahl: 43
- H.R. Muslim, Muqaddimah Shahih Muslim
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 16, 2025 | Artikel
Dalam samudra luas khazanah Islam, terkadang ada permata berharga yang luput dari perhatian kita, padahal ia menyimpan kemuliaan dan keberkahan yang luar biasa. Salah satunya adalah tradisi agung di kalangan para penghafal Al-Qur’an, khususnya para qurra’ dari Makkah, yaitu Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat. Praktik ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan sebuah warisan spiritual yang mengakar kuat pada generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.
Mari kita selami lebih dalam hakikat dan keutamaan dari kebiasaan mulia ini. Bayangkan, setiap kali kita mencapai Surah Ad-Duha saat membaca Al-Qur’an, kita dianjurkan untuk mengumandangkan takbir hingga tuntas seluruh mushaf. Ini adalah sebuah isyarat, sebuah penegasan iman, dan sebuah pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT yang tak terhingga.
Memahami Akar Tradisi Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat
Praktik Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat bukanlah sekadar kebiasaan yang muncul begitu saja. Ia memiliki landasan kuat dari para ulama terkemuka di masa lalu. Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, menyebutkan:
يُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ مِنَ الضُّحَى إِلَى آخِرِ الْقُرْآنِ وَهِيَ قِرَاءَةُ الْمَكِّيِّينَ. أَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ وَابْنُ خُزَيْمَةَ مِنْ طَرِيقِ ابْنِ أَبِي بَزَّةَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ سُلَيْمَانَ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَكِّيِّ فَلَمَّا بَلَغْتُ الضُّحَى قَالَ: كَبِّرْ حَتَّى تَخْتِمَ فَإِنِّي قَرَأْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَثِيرٍ فَأَمَرَنِي بِذَلِكَ وَقَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مُجَاهِدٍ فَأَمَرَنِي بِذَلِكَ وَأَخْبَرَنِي مُجَاهِدٌ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَأَمْرَهُ بِذَلِكَ.
Artinya: “Dianjurkan untuk bertakbir dari (permulaan Surah) Ad-Duha sampai akhir Al-Qur’an, dan ini adalah bacaan (qira’ah) para ahli Makkah. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Asy-Syu’ab dan Ibnu Khuzaimah dari jalur Ibnu Abi Bazzah, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah bin Sulaiman berkata, ‘Aku membaca Al-Qur’an kepada Ismail bin Abdillah Al-Makki. Ketika aku sampai pada Surah Ad-Duha, ia berkata, ‘Bertakbirlah sampai engkau mengkhatamkan Al-Qur’an.’ Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membaca Al-Qur’an kepada Abdullah bin Katsir, lalu ia memerintahkanku dengan demikian.’ Dan ia berkata, ‘Aku telah membaca Al-Qur’an kepada Mujahid, lalu ia memerintahkanku dengan demikian.’ Dan Mujahid mengabarkan kepadaku bahwa ia membaca Al-Qur’an kepada Ibnu Abbas, lalu ia memerintahkannya dengan demikian.”
Riwayat yang shahih ini menunjukkan bahwa tradisi bertakbir ini memiliki sanad yang sangat kuat, bersambung hingga sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, seorang ahli tafsir dan salah satu sahabat yang paling memahami Al-Qur’an. Ini bukan sekadar inovasi, melainkan sebuah sunah yang diamalkan oleh generasi terbaik umat ini.
Mengapa Takbir? Menghayati Kebesaran Ilahi dalam Setiap Ayat
Takbir, atau ucapan “Allahu Akbar,” adalah manifestasi pengakuan akan kebesaran Allah. Ketika kita Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat, kita sedang menegaskan bahwa tidak ada yang lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada Allah SWT. Ini adalah pengingat konstan bahwa segala kebaikan, petunjuk, dan kemudahan datang dari-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa takbir ini diucapkan karena Surah Ad-Duha, Al-Insyirah, dan surah-surah setelahnya seringkali berbicara tentang nikmat dan anugerah Allah kepada Rasulullah ﷺ. Seolah-olah, setiap kali kita membaca ayat-ayat yang penuh dengan karunia Ilahi, kita diundang untuk mengumandangkan takbir sebagai ungkapan syukur dan pengagungan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini, meskipun dalam konteks perintah puasa Ramadhan, menyoroti esensi takbir sebagai bentuk pengagungan dan rasa syukur atas hidayah Allah. Begitu pula, ketika kita khatam Al-Qur’an, kita bersyukur atas hidayah yang telah membimbing kita membaca dan memahami kalam-Nya.
Transformasi Spiritual dengan Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat
Mengintegrasikan takbir dalam rutinitas tilawah kita bukan hanya tentang mengikuti sunah, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas spiritual kita. Ketika kita secara sadar Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat, ada beberapa perubahan positif yang mungkin kita rasakan:
Meningkatkan Kekhusyukan
Ucapan takbir mengembalikan fokus kita pada kebesaran Allah. Di tengah kekhilafan dan kelalaian yang mungkin menyertai bacaan kita, takbir menjadi pengingat yang kuat, membumikan hati kita untuk kembali merenungi makna setiap ayat.
Menumbuhkan Rasa Syukur
Surah Ad-Duha hingga surah-surah akhir Al-Qur’an banyak berisi tentang nikmat dan anugerah Allah. Bertakbir di sela-sela bacaan ini akan memperdalam rasa syukur kita atas setiap karunia, baik yang tampak maupun tidak tampak.
Meneguhkan Tawhid
Setiap “Allahu Akbar” adalah proklamasi tauhid, bahwa hanya Allah yang pantas diibadahi, hanya Dia yang Maha Besar. Ini memperkuat keimanan kita dan menjaga hati dari kesyirikan.
Meneladani Generasi Salaf
Dengan mengamalkan tradisi ini, kita secara tidak langsung terhubung dengan para sahabat dan tabiin yang mulia. Kita mengikuti jejak mereka dalam memuliakan Al-Qur’an dan mengagungkan Dzat yang menurunkannya.
Praktik ini mengajarkan kita untuk tidak hanya sekadar membaca huruf demi huruf, melainkan menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap helaan napas dan getaran hati. Ia mengajak kita untuk senantiasa merasakan kehadiran dan kebesaran Allah di setiap penggalan firman-Nya.
Bagi kita yang ingin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dengan cara yang lebih mendalam, lebih bermakna, dan sesuai dengan tradisi para ulama salaf, Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat adalah sebuah langkah awal yang indah. Ini adalah undangan untuk merenungi, bersyukur, dan mengagungkan Allah SWT dalam setiap jengkal perjalanan tilawah kita.
Mari kita hidupkan kembali sunah yang mulia ini dalam setiap kesempatan kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Rasakan perbedaannya dalam hati dan jiwa, bagaimana takbir mampu menambah cahaya pada setiap ayat yang kita baca, menjadikan perjalanan kita bersama Al-Qur’an lebih dari sekadar membaca, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh pengagungan dan rasa syukur.
Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam interaksi Anda dengan Al-Qur’an, memahami setiap detailnya, dan mengamalkan sunah-sunah yang terkandung di dalamnya, Qur’an Learning Center Yogyakarta dengan program Executive Tahfizh-nya siap membimbing Anda. Bersama kami, Anda tidak hanya menghafal, tetapi juga menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, didampingi oleh metode yang teruji dan para pengajar yang berdedikasi.
Daftar Referensi
- As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyah Al-Ammah Lil Kitab, 1394 H/1974 M, Juz 1, Halaman 294-295.
- Q.S. Al-Baqarah: 185.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 16, 2025 | Artikel
Dalam perjalanan spiritual kita mengarungi samudra Al-Quran, ada satu puncak kenikmatan yang begitu dinanti, yaitu momen khatam. Ia bukan sekadar penanda selesainya membaca 30 juz, namun lebih dari itu, ia adalah titik istimewa di mana rahmat ilahi berlimpah, doa-doa diijabah, dan hati terasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Kita seringkali terfokus pada kuantitas bacaan, namun melupakan substansi dan keberkahan yang menyelimuti setiap lembar yang telah kita tadabburi. Padahal, memahami Adab dan Keutamaan Khatam Al-Quran yang Menginspirasi adalah kunci untuk merasakan manisnya hidayah secara utuh.
Khatam Al-Quran adalah sebuah perayaan ruhani, penanda telah selesainya satu siklus ibadah yang agung. Ia adalah pencapaian yang semestinya kita syukuri dengan sepenuh hati, sebuah penanda bahwa kita telah menunaikan hak Kalamullah untuk dibaca, direnungi, dan diamalkan. Lebih dari itu, tradisi para ulama dan salafus shalih mengajarkan kepada kita tentang adab-adab yang menyertai momen suci ini, menjadikannya kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon segala kebaikan.
Adab dan Keutamaan Khatam Al-Quran yang Menginspirasi
Mari kita selami lebih dalam tentang tuntunan dan keutamaan yang menyertai momen khatam Al-Quran ini. Para ulama terdahulu, dengan kedalaman ilmunya, telah menunjukkan jalan bagi kita. Ibnu Al-Mubarak, salah seorang imam terkemuka, menganjurkan waktu-waktu terbaik untuk khatam Al-Quran; di musim dingin, disunnahkan pada awal malam, sementara di musim panas, dianjurkan pada awal siang. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat memperhatikan detail-detail kecil yang dapat memaksimalkan nilai ibadah kita.
Kita juga mendapati sebuah sunnah yang indah terkait hari khatam. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari sejumlah tabi’in bahwa disunnahkan berpuasa pada hari khatam Al-Quran. Ini adalah bentuk penghormatan dan syukur kita atas karunia Allah yang telah memudahkan kita menyelesaikan bacaan firman-Nya. Puasa pada hari itu menjadi pelengkap kesempurnaan ibadah, membersihkan jiwa dan raga, serta menambah kekhusyuan dalam bermunajat. Bayangkan, betapa agungnya momen itu ketika kita berpuasa, lalu mengakhiri bacaan Al-Quran, dan kemudian mengangkat tangan untuk berdoa!
Mengabadikan Momen Khatam dengan Doa Mustajab
Salah satu keutamaan paling agung dari khatam Al-Quran adalah terkabulnya doa. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Al-Hakam bin Utbah, bahwa Mujahid dan Ibnu Abi Umamah pernah mengutus seseorang kepadanya seraya berkata, “Kami mengutusmu karena kami ingin mengkhatamkan Al-Quran, dan doa akan diijabah ketika khatam Al-Quran.” Ini adalah kabar gembira yang luar biasa bagi setiap hamba yang merindukan terkabulnya hajat-hajatnya. Momen khatam adalah waktu yang sangat mustajab untuk memanjatkan doa, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun kaum muslimin secara keseluruhan.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menegaskan janji Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Dan pada momen khatam Al-Quran, janji itu terasa begitu dekat dan nyata. Ini menjadikan Adab dan Keutamaan Khatam Al-Quran yang Menginspirasi sebagai motivator utama bagi kita untuk tidak pernah berhenti berinteraksi dengan kitab suci ini.
Menyemarakkan Khatam Al-Quran Bersama Keluarga dan Sahabat
Khatam Al-Quran juga menjadi momen yang sempurna untuk mempererat tali silaturahim. Imam At-Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau, jika selesai mengkhatamkan Al-Quran, akan mengumpulkan keluarga dan berdoa. Ini adalah tradisi yang sangat indah, di mana keberkahan Al-Quran tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga dibagi bersama orang-orang terkasih. Kehadiran keluarga dan sahabat pada momen tersebut bukan hanya menambah kemeriahan, tetapi juga mengundang turunnya rahmat Allah. Seperti yang dikatakan Mujahid, “Mereka (para sahabat dan tabi’in) berkumpul ketika khatam Al-Quran, dan mereka berkata: ‘Pada saat itu, rahmat diturunkan.'”
Momen kebersamaan ini menjadi ajang untuk saling menguatkan, berbagi kebahagiaan, dan menanamkan kecintaan pada Al-Quran di tengah keluarga. Anak-anak akan melihat orang tuanya begitu bersemangat dengan Al-Quran, sahabat akan termotivasi, dan lingkungan pun akan dipenuhi aura spiritual yang menyejukkan. Ini adalah salah satu wujud nyata dari Adab dan Keutamaan Khatam Al-Quran yang Menginspirasi yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadikan Khatam Al-Quran sebagai Titik Balik Spiritual
Khatam Al-Quran seharusnya bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari perjalanan baru yang lebih mendalam. Setelah menyelesaikan bacaan, kita diharapkan semakin dekat dengan Al-Quran, bukan menjauhinya. Kita harus menjadikan setiap khatam sebagai evaluasi diri, sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan isi Al-Quran dalam kehidupan kita. Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 2)
Dengan demikian, Adab dan Keutamaan Khatam Al-Quran yang Menginspirasi semestinya memicu kita untuk terus-menerus kembali pada Al-Quran, menjadikannya sahabat sejati dalam setiap langkah. Setiap kali kita khatam, itu adalah kesempatan untuk memperbaharui niat, memperkuat tekad, dan menata ulang orientasi hidup agar senantiasa selaras dengan tuntunan Ilahi. Mari kita jadikan Al-Quran sebagai cahaya yang membimbing kita di dunia dan kelak menjadi syafaat di akhirat.
Semoga kita semua dapat mengamalkan adab-adab mulia ini dan meraih keutamaan-keutamaan besar yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang istiqamah dengan Al-Quran. Jadikanlah setiap momen khatam sebagai puncak kebahagiaan spiritual dan titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Sang Pencipta, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat Ghafir Ayat 60
- Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 2
- As-Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyyah Al-Ammah Lil Kitab, 1974 M. Jilid 4, halaman 241-242. (Rujukan untuk riwayat Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Abi Dawud dari tabi’in, Thabrani dari Anas, Ibnu Abi Dawud dari Al-Hakam bin Utbah dari Mujahid, dan Mujahid tentang turunnya rahmat).
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Nov 16, 2025 | Artikel
Dalam setiap langkah kehidupan, kita senantiasa mendambakan keberkahan, sebuah sentuhan ilahi yang menjadikan setiap upaya bernilai lebih, setiap detik terisi makna, dan setiap hembusan napas mendekatkan diri pada-Nya. Pencarian akan keberkahan ini seringkali membawa kita pada amalan-amalan istimewa, salah satunya adalah berinteraksi intensif dengan kalamullah, Al-Qur’an. Namun, tahukah kita bahwa ada waktu-waktu tertentu yang secara khusus diistimewakan Allah untuk kita mengkhatamkan Al-Qur’an, di mana pada waktu tersebut, para malaikat turut serta memanjatkan doa bagi kita? Ini adalah sebuah rahasia yang terhampar bagi hati-hati yang merindu, sebuah janji agung yang menunjukkan keutamaan khatam Al-Qur’an di awal waktu.
Keutamaan Khatam Al-Qur’an di Awal Waktu: Bisikan Langit untuk Jiwa
Al-Qur’an bukanlah sekadar untaian kata, melainkan cahaya yang membimbing jiwa, penawar bagi hati yang gundah, dan petunjuk menuju jalan kebahagiaan hakiki. Setiap hurufnya adalah pahala, setiap ayatnya adalah hikmah. Lebih dari itu, saat kita menuntaskan bacaan seluruh Al-Qur’an atau yang kita kenal dengan istilah khatam, ada momentum spiritual yang begitu berharga. Para ulama telah mengisyaratkan adanya waktu-waktu terbaik untuk meraih keberkahan istimewa ini.
Kalam hikmah yang bersumber dari para salafus shalih mengingatkan kita akan keutamaan agung ini. Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dengan sanad yang hasan, dari Sahabat Sa’d bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, sebuah bisikan langit diungkapkan:
وَالْأَفْضَلُ الْخَتْمُ أَوَّلَ النَّهَارِ أَوْ أَوَّلَ اللَّيْلِ لِمَا رَوَاهُ الدَّارِمِيُّ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ إِذَا وَافَقَ خَتْمُ الْقُرْآنِ أَوَّلَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُصْبِحَ وَإِنْ وَافَقَ خَتْمُهُ أَوَّلَ النَّهَارِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُمْسِيَ
Artinya: “Yang lebih utama adalah mengkhatamkan Al-Qur’an di awal siang atau awal malam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dengan sanad yang hasan dari Sa’d bin Abi Waqqas, beliau berkata: ‘Apabila khatam Al-Qur’an bertepatan dengan awal malam, para malaikat akan bershalawat (mendoakan) baginya hingga Shubuh. Dan apabila khatamnya bertepatan dengan awal siang, para malaikat akan bershalawat (mendoakan) baginya hingga petang.'”
Subhanallah, sebuah janji yang sungguh mengharukan! Bayangkan, saat kita menuntaskan Al-Qur’an pada waktu-waktu tersebut, jutaan malaikat Allah yang suci turut mendoakan kita. Doa para malaikat adalah doa yang mustajab, sebuah bentuk pengakuan dan kemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas upaya kita mendekatkan diri melalui kalam-Nya. Inilah esensi dari keutamaan khatam Al-Qur’an di awal waktu, sebuah kesempatan emas untuk meraih dukungan spiritual dari makhluk-makhluk pilihan Allah.
Menjemput Berkah di Dua Waktu Istimewa: Pagi dan Senja
Lalu, kapan persisnya “awal siang” dan “awal malam” yang dimaksudkan ini? Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin memberikan penjelasan yang lebih rinci, yang kemudian dikutip oleh Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an:
قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ وَيَكُونُ الْخَتْمُ أَوَّلَ النَّهَارِ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ وَأَوَّلَ اللَّيْلِ فِي رَكْعَتَيْ سُنَّةِ الْمَغْرِبِ.
Artinya: “Beliau (Imam Al-Ghazali) berkata dalam Al-Ihya’: ‘Dan khatam di awal siang adalah pada dua rakaat shalat Fajar (Shubuh), dan awal malam adalah pada dua rakaat shalat sunnah Maghrib.'”
Khatam di Awal Siang: Memulai Hari dengan Cahaya Qur’an
Khatam Al-Qur’an di waktu Fajar, yang bertepatan dengan shalat Shubuh, memiliki makna yang mendalam. Fajar adalah permulaan hari, saat dunia baru terbangun dari tidurnya, saat jiwa-jiwa kembali disegarkan dari istirahatnya. Mengakhiri bacaan Al-Qur’an di momen sakral ini seolah menancapkan fondasi spiritual yang kokoh untuk seluruh aktivitas kita sepanjang hari. Kita membuka lembaran baru kehidupan dengan pancaran cahaya Al-Qur’an, memastikan setiap langkah yang kita pijak berada dalam bimbingan-Nya. Doa malaikat yang mengiringi kita hingga petang akan menjadi benteng pelindung dan penambah keberkahan dalam setiap urusan, menjadikan setiap pekerjaan kita bernilai ibadah.
Khatam di Awal Malam: Menutup Hari dengan Keteduhan Ilahi
Demikian pula dengan khatam Al-Qur’an di awal malam, bertepatan dengan shalat sunnah Maghrib. Maghrib adalah waktu transisi, saat mentari terbenam, dan kegelapan mulai menyelimuti. Ini adalah momen untuk merefleksikan hari yang telah berlalu, mengkoreksi diri, dan mempersiapkan jiwa untuk beristirahat. Mengkhatamkan Al-Qur’an di waktu ini bagai menutup buku hari ini dengan sebuah mahkota kemuliaan. Doa malaikat yang membersamai kita hingga Shubuh akan menjadi penenang dalam tidur, penjaga dalam kegelapan, dan penjamin ketenangan jiwa di sepanjang malam. Ini juga menjadi bekal spiritual terbaik untuk menyambut hari esok.
Transformasi Diri Melalui Kebiasaan Khatam Al-Qur’an
Lebih dari sekadar mengejar waktu-waktu istimewa, esensi dari keutamaan khatam Al-Qur’an di awal waktu adalah bagaimana kebiasaan ini membentuk dan mentransformasi diri kita. Membiasakan diri dengan Al-Qur’an, bahkan hingga khatam pada waktu-waktu yang dianjurkan, adalah latihan kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan niat. Ini adalah proses pembentukan karakter yang berlandaskan wahyu ilahi.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
تْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an, baik dalam bacaan maupun shalat, memiliki kekuatan untuk menjauhkan kita dari kemungkaran. Saat kita menjadikan khatam Al-Qur’an sebagai target rutin, terutama di waktu-waktu terbaik, kita sedang melatih jiwa untuk selalu terhubung dengan sumber kebaikan. Kita akan merasakan peningkatan ketenangan batin, kejernihan pikiran, dan kekuatan spiritual yang luar biasa dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Ini bukan hanya tentang menyelesaikan 30 juz, melainkan tentang membangun hubungan yang erat dengan kalamullah. Dengan merencanakan dan menjalankan target khatam di awal waktu, kita juga belajar manajemen waktu yang efektif dan komitmen spiritual. Hal ini akan berdampak positif pada seluruh aspek kehidupan, menjadikan kita pribadi yang lebih bertanggung jawab, berintegritas, dan senantiasa mengharapkan ridha Allah dalam setiap perbuatan.
Maka, mari kita jadikan momentum khatam Al-Qur’an ini bukan hanya sebagai pencapaian, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual kita. Dengan memahami keutamaan khatam Al-Qur’an di awal waktu, kita akan semakin termotivasi untuk menjadwalkan, merencanakan, dan konsisten dalam tilawah kita. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita dalam berinteraksi dengan kitab suci-Nya, dan menganugerahkan kepada kita keberkahan serta doa para malaikat di setiap hela napas kita.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
Daftar Referensi
- Imam As-Suyuti, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, jilid 1. (Mengutip riwayat Ad-Darimi dari Sa’d bin Abi Waqqas dan pendapat Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin).
- Q.S. Al-Ankabut: 45.