Dalam perjalanan spiritual kita, setiap tuntunan dari Rasulullah ﷺ adalah permata berharga yang menerangi jalan. Mengikuti sunnah bukan sekadar meniru gerakan, melainkan menyelami makna, meneladani karakter, dan menghidupkan esensi ajaran. Sebuah tradisi yang mungkin luput dari perhatian banyak orang adalah praktik takbir setelah pembacaan Surah Ad-Dhuha. Ini bukan hanya sebuah kebiasaan, melainkan sebuah jejak kenabian yang membawa kita pada pemahaman lebih dalam tentang iman dan keteguhan hati. Mari kita selami lebih jauh tentang Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi.

Imam Asy-Syafi’i, seorang ulama besar yang keilmuwannya tak diragukan, pernah berpesan, sebagaimana diriwayatkan oleh Musa bin Harun dari Al-Bazzy: “Jika engkau meninggalkan takbir, engkau telah kehilangan satu sunnah dari sunnah nabimu.” Pernyataan ini, yang dikomentari oleh Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir sebagai isyarat persetujuan Imam Asy-Syafi’i terhadap hadis terkait, menggarisbawahi betapa pentingnya menjaga setiap detail ajaran Rasulullah ﷺ. Pesan ini mendorong kita untuk merenungi, adakah sunnah-sunnah lain yang tersembunyi, yang justru mengandung `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` yang luar biasa?

Meneladani Jejak Sunnah dalam Setiap Lafaz Takbir

Ketika kita berbicara tentang sunnah, kita berbicara tentang teladan terbaik. Nabi Muhammad ﷺ adalah suri teladan yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Meninggalkan sebuah sunnah, betapapun kecilnya di mata manusia, berarti mengabaikan warisan berharga dari beliau. Takbir setelah Surah Ad-Dhuha, meskipun mungkin tidak sepopuler sunnah-sunnah lain, membawa sebuah pesan fundamental tentang pentingnya penghambaan total kepada Allah SWT.

Takbir adalah pernyataan keagungan Allah, sebuah deklarasi bahwa tiada yang lebih besar, lebih mulia, dan lebih berkuasa daripada-Nya. Dalam konteks sunnah ini, ia menjadi pengingat akan kebesaran-Nya yang selalu hadir, terutama di saat-saat sulit. Memahami `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` berarti menghidupkan kembali semangat keteladanan yang mungkin telah meredup dalam kesibukan dunia.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (Q.S. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan kewajiban kita untuk mengikuti setiap ajaran Rasulullah ﷺ, baik perintah maupun larangan, termasuk setiap sunnah yang beliau wariskan kepada umatnya.

Kisah Inspiratif di Balik Turunnya Surah Ad-Dhuha

Latar belakang di balik praktik takbir setelah Surah Ad-Dhuha adalah sebuah kisah yang menyentuh hati dan penuh hikmah. Diriwayatkan oleh Abul ‘Ala’ Al-Hamdani dari Al-Bazzy bahwa asal mula praktik ini bermula ketika wahyu terputus dari Nabi Muhammad ﷺ untuk sementara waktu. Para kaum musyrikin saat itu mencemooh dan berkata, “Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.” Dalam suasana kegelisahan dan kesedihan, turunlah Surah Ad-Dhuha, yang membawa kabar gembira dan penegasan kasih sayang Allah SWT kepada Nabi-Nya. Setelah turunnya surah ini, Nabi ﷺ pun bertakbir.

Meskipun Al-Hafizh Ibnu Katsir mengemukakan bahwa riwayat ini tidak memiliki sanad yang dapat dihukumi sahih atau lemah, esensi kisahnya tetap memberikan gambaran akan betapa besarnya ujian yang dihadapi Nabi ﷺ dan bagaimana Allah SWT selalu memberikan pertolongan dan penghiburan pada waktu yang tepat. Ini mengajarkan kita tentang kesabaran, kepercayaan penuh kepada takdir Allah, dan pentingnya merespons setiap nikmat dengan takbir, sebagai bentuk syukur dan pengagungan. Memahami konteks ini adalah bagian penting dalam meresapi `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi`.

Lebih dari Sekadar Lafaz: Makna Spiritual Takbir

Takbir, lafaz “Allahu Akbar”, adalah inti dari pengagungan Allah. Ia bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan sebuah deklarasi keyakinan yang mengakar kuat di dalam hati. Ketika wahyu terhenti, Nabi Muhammad ﷺ berada dalam kondisi yang sangat berat. Cemoohan kaum musyrikin mungkin terasa menusuk, namun turunnya Surah Ad-Dhuha menjadi oase penyejuk, menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan beliau.

Pekikan takbir beliau setelahnya adalah ekspresi syukur yang meluap, pengakuan akan kebesaran Allah yang telah menghilangkan kesedihan dan menggantinya dengan harapan. Bagi kita, takbir ini menjadi pengingat bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan di setiap ujian selalu ada pertolongan dari Allah. Ia mengajarkan kita untuk selalu melihat kebesaran-Nya dalam setiap peristiwa, baik suka maupun duka. Inilah salah satu inti dari `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` yang dapat kita ambil.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)

Takbir adalah salah satu bentuk zikir dan syukur yang paling agung, yang Allah janjikan akan dibalas dengan ingatan dan rahmat-Nya.

Mengaplikasikan Semangat Takbir dalam Kehidupan Kita

Maka, apa relevansi `Hikmah Takbir Setelah Surah Ad-Dhuha dan Kaitannya dengan Sunnah Nabi` bagi kita di masa kini? Pertama, ia mengajarkan kita untuk tidak mudah berputus asa saat menghadapi cobaan. Sebagaimana Nabi ﷺ yang tetap tegar meski dicemooh, kita pun harus yakin bahwa Allah SWT selalu bersama hamba-Nya yang beriman. Kedua, ia mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Setiap nikmat, sekecil apapun, adalah karunia dari Allah yang layak disambut dengan takbir dan pujian.

Mari kita jadikan praktik takbir, khususnya setelah membaca Surah Ad-Dhuha, sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan janji-Nya untuk tidak meninggalkan hamba-Nya. Biarkan lafaz “Allahu Akbar” menggemakan harapan, keteguhan, dan keimanan dalam setiap sendi kehidupan kita. Dengan menghidupkan sunnah ini, kita bukan hanya mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan yang kokoh dalam diri.

Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa menjaga sunnah Nabi ﷺ, merasakan manisnya iman, dan meraih keberkahan dalam setiap langkah. Untuk mendalami Al-Qur’an dan sunnah secara komprehensif, kami mengajak Anda untuk bergabung dengan Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sana, Anda akan dibimbing untuk memahami Al-Qur’an dengan metode yang mudah dan efektif, sehingga setiap ayat dan sunnah menjadi penerang jalan hidup.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Hasyr: 7
  • Q.S. Al-Baqarah: 152
  • Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim
  • Kitab: الإتقان في علوم القرآن, Penulis: عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي (t. 911 H)
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,