Dalam samudra luas khazanah Islam, terkadang ada permata berharga yang luput dari perhatian kita, padahal ia menyimpan kemuliaan dan keberkahan yang luar biasa. Salah satunya adalah tradisi agung di kalangan para penghafal Al-Qur’an, khususnya para qurra’ dari Makkah, yaitu Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat. Praktik ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan sebuah warisan spiritual yang mengakar kuat pada generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

Mari kita selami lebih dalam hakikat dan keutamaan dari kebiasaan mulia ini. Bayangkan, setiap kali kita mencapai Surah Ad-Duha saat membaca Al-Qur’an, kita dianjurkan untuk mengumandangkan takbir hingga tuntas seluruh mushaf. Ini adalah sebuah isyarat, sebuah penegasan iman, dan sebuah pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT yang tak terhingga.

Memahami Akar Tradisi Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat

Praktik Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat bukanlah sekadar kebiasaan yang muncul begitu saja. Ia memiliki landasan kuat dari para ulama terkemuka di masa lalu. Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, menyebutkan:

يُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ مِنَ الضُّحَى إِلَى آخِرِ الْقُرْآنِ وَهِيَ قِرَاءَةُ الْمَكِّيِّينَ. أَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ وَابْنُ خُزَيْمَةَ مِنْ طَرِيقِ ابْنِ أَبِي بَزَّةَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ سُلَيْمَانَ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَكِّيِّ فَلَمَّا بَلَغْتُ الضُّحَى قَالَ: كَبِّرْ حَتَّى تَخْتِمَ فَإِنِّي قَرَأْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَثِيرٍ فَأَمَرَنِي بِذَلِكَ وَقَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مُجَاهِدٍ فَأَمَرَنِي بِذَلِكَ وَأَخْبَرَنِي مُجَاهِدٌ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَأَمْرَهُ بِذَلِكَ.

Artinya: “Dianjurkan untuk bertakbir dari (permulaan Surah) Ad-Duha sampai akhir Al-Qur’an, dan ini adalah bacaan (qira’ah) para ahli Makkah. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Asy-Syu’ab dan Ibnu Khuzaimah dari jalur Ibnu Abi Bazzah, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah bin Sulaiman berkata, ‘Aku membaca Al-Qur’an kepada Ismail bin Abdillah Al-Makki. Ketika aku sampai pada Surah Ad-Duha, ia berkata, ‘Bertakbirlah sampai engkau mengkhatamkan Al-Qur’an.’ Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membaca Al-Qur’an kepada Abdullah bin Katsir, lalu ia memerintahkanku dengan demikian.’ Dan ia berkata, ‘Aku telah membaca Al-Qur’an kepada Mujahid, lalu ia memerintahkanku dengan demikian.’ Dan Mujahid mengabarkan kepadaku bahwa ia membaca Al-Qur’an kepada Ibnu Abbas, lalu ia memerintahkannya dengan demikian.”

Riwayat yang shahih ini menunjukkan bahwa tradisi bertakbir ini memiliki sanad yang sangat kuat, bersambung hingga sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, seorang ahli tafsir dan salah satu sahabat yang paling memahami Al-Qur’an. Ini bukan sekadar inovasi, melainkan sebuah sunah yang diamalkan oleh generasi terbaik umat ini.

Mengapa Takbir? Menghayati Kebesaran Ilahi dalam Setiap Ayat

Takbir, atau ucapan “Allahu Akbar,” adalah manifestasi pengakuan akan kebesaran Allah. Ketika kita Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat, kita sedang menegaskan bahwa tidak ada yang lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada Allah SWT. Ini adalah pengingat konstan bahwa segala kebaikan, petunjuk, dan kemudahan datang dari-Nya.

Para ulama menjelaskan bahwa takbir ini diucapkan karena Surah Ad-Duha, Al-Insyirah, dan surah-surah setelahnya seringkali berbicara tentang nikmat dan anugerah Allah kepada Rasulullah ﷺ. Seolah-olah, setiap kali kita membaca ayat-ayat yang penuh dengan karunia Ilahi, kita diundang untuk mengumandangkan takbir sebagai ungkapan syukur dan pengagungan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini, meskipun dalam konteks perintah puasa Ramadhan, menyoroti esensi takbir sebagai bentuk pengagungan dan rasa syukur atas hidayah Allah. Begitu pula, ketika kita khatam Al-Qur’an, kita bersyukur atas hidayah yang telah membimbing kita membaca dan memahami kalam-Nya.

Transformasi Spiritual dengan Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat

Mengintegrasikan takbir dalam rutinitas tilawah kita bukan hanya tentang mengikuti sunah, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas spiritual kita. Ketika kita secara sadar Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat, ada beberapa perubahan positif yang mungkin kita rasakan:

  • Meningkatkan Kekhusyukan

  • Ucapan takbir mengembalikan fokus kita pada kebesaran Allah. Di tengah kekhilafan dan kelalaian yang mungkin menyertai bacaan kita, takbir menjadi pengingat yang kuat, membumikan hati kita untuk kembali merenungi makna setiap ayat.

  • Menumbuhkan Rasa Syukur

  • Surah Ad-Duha hingga surah-surah akhir Al-Qur’an banyak berisi tentang nikmat dan anugerah Allah. Bertakbir di sela-sela bacaan ini akan memperdalam rasa syukur kita atas setiap karunia, baik yang tampak maupun tidak tampak.

  • Meneguhkan Tawhid

  • Setiap “Allahu Akbar” adalah proklamasi tauhid, bahwa hanya Allah yang pantas diibadahi, hanya Dia yang Maha Besar. Ini memperkuat keimanan kita dan menjaga hati dari kesyirikan.

  • Meneladani Generasi Salaf

  • Dengan mengamalkan tradisi ini, kita secara tidak langsung terhubung dengan para sahabat dan tabiin yang mulia. Kita mengikuti jejak mereka dalam memuliakan Al-Qur’an dan mengagungkan Dzat yang menurunkannya.

Praktik ini mengajarkan kita untuk tidak hanya sekadar membaca huruf demi huruf, melainkan menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap helaan napas dan getaran hati. Ia mengajak kita untuk senantiasa merasakan kehadiran dan kebesaran Allah di setiap penggalan firman-Nya.

Bagi kita yang ingin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dengan cara yang lebih mendalam, lebih bermakna, dan sesuai dengan tradisi para ulama salaf, Mengamalkan Takbir Saat Membaca Al-Qur’an dari Surah Ad-Duha hingga Tamat adalah sebuah langkah awal yang indah. Ini adalah undangan untuk merenungi, bersyukur, dan mengagungkan Allah SWT dalam setiap jengkal perjalanan tilawah kita.

Mari kita hidupkan kembali sunah yang mulia ini dalam setiap kesempatan kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Rasakan perbedaannya dalam hati dan jiwa, bagaimana takbir mampu menambah cahaya pada setiap ayat yang kita baca, menjadikan perjalanan kita bersama Al-Qur’an lebih dari sekadar membaca, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh pengagungan dan rasa syukur.

Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam interaksi Anda dengan Al-Qur’an, memahami setiap detailnya, dan mengamalkan sunah-sunah yang terkandung di dalamnya, Qur’an Learning Center Yogyakarta dengan program Executive Tahfizh-nya siap membimbing Anda. Bersama kami, Anda tidak hanya menghafal, tetapi juga menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, didampingi oleh metode yang teruji dan para pengajar yang berdedikasi.

Daftar Referensi

  • As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyah Al-Ammah Lil Kitab, 1394 H/1974 M, Juz 1, Halaman 294-295.
  • Q.S. Al-Baqarah: 185.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,