Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,

Adab Berbuka Puasa: Menyegerakan Kebaikan & Meraih Rahmat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Amma ba’du.”

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Waktu berbuka puasa adalah salah satu momen yang paling dinantikan dan penuh dengan kegembiraan. Rasulullah SAW bersabda bahwa bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya. Namun, kebahagiaan saat berbuka ini akan jauh lebih bernilai dan berpahala jika kita menghiasinya dengan adab-adab yang diajarkan oleh manusia teladan, Nabi Muhammad SAW.

1. Menyegerakan Berbuka (Ta’jil)

Berbeda dengan sahur yang disunnahkan untuk diakhirkan, ketika matahari telah benar-benar terbenam dan adzan Maghrib berkumandang, kita sangat dianjurkan untuk segera membatalkan puasa. Menyegerakan berbuka adalah tanda kebaikan dan kejayaan umat Islam, karena hal ini menyelisihi kebiasaan umat terdahulu yang suka menunda-nunda.

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berbuka dengan Kurma atau Air Putih

Saudara-saudaraku sekalian,

Sebelum menikmati hidangan utama, sunnahkanlah diri kita untuk berbuka dengan kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, gunakanlah kurma kering (tamr). Dan jika kurma pun tidak tersedia, cukuplah dengan beberapa teguk air putih. Ini adalah adab yang sangat menyehatkan pencernaan sekaligus mendatangkan keberkahan, karena kita mengikuti persis apa yang dikonsumsi oleh lisan dan perut manusia paling mulia.

3. Membaca Doa Berbuka yang Shahih

Saat dahaga hilang dan kerongkongan kembali basah, jangan lupa untuk memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Waktu berbuka adalah salah satu waktu di mana doa tidak akan tertolak. Di antara doa berbuka puasa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

4. Tidak Berlebihan dalam Makan dan Minum

Ini adalah adab yang sering kali kita lupakan. Saat lapar mendera, hawa nafsu mendorong kita untuk menyantap segala hidangan. Padahal, makan berlebihan akan menimbulkan kemalasan. Khususnya bagi para santri tahfizh dan jamaah sekalian, perut yang terlalu penuh akan membuat tubuh terasa berat untuk melaksanakan shalat Isya berjamaah, Tarawih, dan muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Berbukalah secukupnya, jadikan makanan sebagai penegak tulang punggung kita untuk beribadah, bukan sebagai pemuas hawa nafsu semata.

Kesimpulan dan Doa

Menjaga adab berbuka bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang ketaatan dan pengendalian diri. Mari kita jadikan momen berbuka puasa sebagai sarana untuk mendulang pahala sunnah, agar puasa kita semakin sempurna di hadapan Allah SWT.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah kami. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Adab Sahur Sesuai Sunnah: Kunci Keberkahan Puasa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Amma ba’du.”

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Sahur seringkali dipandang sebatas rutinitas fisik untuk mengisi energi sebelum menahan lapar dan dahaga seharian. Padahal, dalam kacamata syariat, sahur adalah sebuah ibadah yang membedakan puasa umat Islam dengan puasanya umat-umat terdahulu. Di balik hidangan sahur kita, terdapat nilai-nilai adab dan sunnah yang apabila diamalkan, akan melipatgandakan pahala puasa kita.

1. Mengakhirkan Waktu Sahur

Berbeda dengan berbuka puasa yang disunnahkan untuk disegerakan, sahur justru dianjurkan untuk diakhirkan. Batas waktu sahur terbentang hingga terbitnya fajar shadiq (waktu subuh). Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT agar umat Islam memiliki tenaga yang cukup serta tidak melewatkan shalat Subuh berjamaah.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

2. Mengonsumsi Kurma

Saudara-saudaraku sekalian,

Mungkin kita terbiasa sahur dengan porsi makanan yang mengenyangkan. Hal itu tentu tidak mengapa, namun tahukah kita apa hidangan sahur yang paling dipuji oleh Rasulullah SAW? Beliau mengajarkan bahwa sebaik-baik bekal sahur seorang mukmin adalah buah kurma.

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik sahurnya orang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Baihaqi)

Jika tidak memiliki kurma, niatkanlah sahur mengikuti sunnah Rasulullah SAW walau hanya dengan seteguk air putih. Jangan sampai kita meninggalkan sahur karena dikalahkan oleh rasa kantuk dan malas.

3. Memperbanyak Istighfar Menjelang Subuh

Waktu sahur yang berada di sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat mustajab untuk memohon ampunan. Sembari menanti adzan subuh, basahilah lisan kita dengan istighfar. Khususnya bagi para santri tahfizh dan pencari ilmu, waktu menjelang subuh ini adalah saat yang emas untuk memuroja’ah hafalan sembari menata hati menghadap Allah SWT, bukan sekadar dihabiskan untuk menonton televisi atau bermain gawai.

Kesimpulan dan Doa

Menghidupkan adab-adab sahur adalah wujud cinta dan ketaatan kita kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Mari jadikan sahur kita bukan sekadar urusan perut semata, melainkan momen spiritual yang bernilai ibadah besar di mata Allah SWT.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, berkahilah rezeki yang telah Engkau karuniakan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan terimalah taubat kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Menghidupkan Sunnah di Bulan Ramadhan: Meraih Pahala Berlipat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Amma ba’du.”

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh dengan limpahan keberkahan. Di bulan yang mulia ini, Allah SWT tidak hanya mewajibkan kita berpuasa, namun juga membuka pintu selebar-lebarnya untuk meraih pahala melalui kesunnahan yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Mengapa sunnah ini penting? Karena sunnah-sunnah inilah yang akan menyempurnakan kekurangan pada ibadah wajib kita dan memperindah akhlak kita di hadapan Sang Khalik.

Mengawali Kebaikan dengan Makan Sahur

Seringkali kita meremehkan sahur dan menganggapnya sekadar makan agar tidak lapar. Padahal, di dalam sahur terdapat keberkahan yang besar. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk tidak meninggalkannya, meskipun hanya dengan seteguk air.

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyegerakan Berbuka dan Berdoa

Salah satu keindahan Islam adalah sifatnya yang memudahkan. Ketika adzan maghrib berkumandang, sunnah hukumnya bagi kita untuk menyegerakan berbuka. Selain itu, saat berbuka adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Mintalah apa saja yang menjadi hajat hati kepada Allah SWT di detik-detik penuh rahmat tersebut.

Meningkatkan Kedermawanan dan Membaca Al-Qur’an

Saudara-saudaraku sekalian,

Khusus bagi para santri tahfizh dan pecinta Al-Qur’an, Ramadhan adalah bulannya Al-Qur’an. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan, namun kedermawanan beliau meningkat drastis saat bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril mendatangi beliau untuk mudarosah (menyimak) Al-Qur’an.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Mari kita isi malam-malam kita dengan shalat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah kepada sesama. Jangan biarkan lisan kita kering, basahilah dengan dzikir dan hindarilah perkataan yang sia-sia apalagi maksiat, agar puasa kita tidak sekadar mendapatkan lapar dan dahaga.

Penutup dan Doa

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan lahir dan batin untuk istiqamah menjalankan sunnah-sunnah Nabi-Nya selama bulan Ramadhan ini, sehingga kita keluar sebagai hamba yang bertaqwa.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan, tolonglah kami untuk berpuasa dan shalat malam di dalamnya, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diterima amalnya.”

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Syarat Wajib Puasa & Keadilan Islam Bagi Orang Gila

Mukadimah dan Puji Syukur

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘alaa umuuriddunya waddiin, wasshalatu wassalamu ‘alaa asyrafil mursaliin, nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihi ajma’iin, Amma ba’du.

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan rahmat-Nya kita masih diberikan nikmat iman, Islam, dan yang paling penting adalah nikmat kesehatan serta kewarasan akal pikiran. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, teladan terbaik umat manusia, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Syarat Wajib Puasa: Kepada Siapa Panggilan Puasa Ditujukan?

Hadirin kaum muslimin wal muslimat, jamaah yang senantiasa dirahmati oleh Allah.

Setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Namun, pernahkah kita merenung sejenak, kepada siapakah sebenarnya kewajiban berpuasa ini ditujukan? Apakah seluruh manusia di bumi wajib berpuasa tanpa terkecuali?

Mari kita perhatikan panggilan mesra dari Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an terkait kewajiban puasa ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dari ayat di atas, jelas bahwa panggilan puasa ditujukan kepada mereka yang beriman. Para ulama fiqih kemudian merumuskan syarat wajib puasa (mukallaf) yang mencakup: Islam, baligh (dewasa), mampu, suci dari haid/nifas bagi wanita, dan yang sangat krusial adalah berakal sehat (tidak gila).

Mengapa Orang Gila (ODGJ) Tidak Diwajibkan Berpuasa?

Hadirin yang dimuliakan Allah, di sinilah letak keindahan dan keadilan syariat Islam. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, agama yang tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Orang yang kehilangan akalnya, atau dalam istilah medis disebut Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tidak dikenai kewajiban berpuasa dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Mengapa demikian? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang sangat indah:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga ia berakal (waras).” (HR. Abu Daud no. 4403, dishahihkan Al-Albani)

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah ibadah yang membutuhkan niat. Niat letaknya di dalam hati dan dikendalikan oleh kesadaran atau akal pikiran. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki kesadaran penuh bisa berniat untuk beribadah? Akal adalah mahkota manusia; di saat akal itu dicabut oleh Allah, maka gugurlah segala beban hukum (taklif) atas orang tersebut.

Kisah Inspiratif: Keadilan Sahabat Ali dan Umar

Hadirin yang dirahmati Allah, keadilan Islam terhadap orang yang hilang akalnya telah dipraktikkan sejak zaman sahabat. Ada sebuah kisah masyhur di masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Suatu hari, seorang wanita yang dikenal memiliki gangguan jiwa (gila) dibawa kepada Khalifah Umar karena dituduh melakukan perbuatan zina. Berdasarkan hukum yang tampak, Umar hendak menjatuhkan hukuman had kepadanya. Namun, Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang saat itu berada di sana segera mencegahnya.

Ali berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau lupa bahwa pena catatan amal telah diangkat dari tiga golongan? Salah satunya adalah orang gila sampai ia kembali waras?”

Mendengar teguran lembut namun sarat ilmu itu, Khalifah Umar bin Khattab seketika tersadar dan membatalkan hukuman tersebut. Umar sangat bersyukur dan berkata, “Seandainya tidak ada Ali, celakalah Umar.”

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa hukum Islam sangat melindungi hak-hak penyandang disabilitas mental. Mereka disayangi, dilindungi, dan tidak dihakimi atas tindakan yang berada di luar kendali akal sehat mereka.

Kesimpulan dan Penutup

Hadirin jamaah sekalian,

Dari pembahasan kita hari ini, ada pelajara besar yang bisa kita petik. Pertama, hukum wajib puasa hanya berlaku bagi mereka yang memiliki akal sehat. Orang gila dibebaskan dari kewajiban beragama karena akal adalah syarat mutlak diterimanya sebuah niat. Kedua, ini adalah teguran keras sekaligus pengingat bagi kita yang saat ini duduk di sini, mendengarkan ceramah dalam keadaan sehat dan waras.

Jika orang gila saja dimaklumi oleh Allah karena tidak punya akal, lalu alasan apa yang akan kita pakai di hadapan Allah kelak, jika kita yang berakal sehat ini justru sengaja meninggalkan puasa Ramadhan? Sungguh, nikmat kewarasan ini akan dimintai pertanggungjawabannya.

Mari kita tutup majelis ilmu yang penuh berkah ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah, kesehatan jasmani dan rohani, serta kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar.

Kebenaran mutlak hanya milik Allah, dan segala kekhilafan murni dari kelemahan saya sebagai manusia biasa. Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan di hati jamaah sekalian.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dengan Bijak

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan agama. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul yang paling mulia, suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du.

Dinamika Perbedaan Awal Ramadhan di Indonesia

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Setiap kali bulan suci Ramadhan menjelang, umat Islam di Indonesia seringkali dihadapkan pada sebuah dinamika yang terus berulang dari tahun ke tahun, yaitu perbedaan penetapan awal Ramadhan. Seringkali, ada sebagian saudara-saudara kita yang memulai ibadah puasa lebih awal karena bersandar pada metode Hisab (perhitungan matematis dan astronomis), sementara di sisi lain ada pula yang memulainya di hari berikutnya berlandaskan metode Rukyatul Hilal (pengamatan bulan secara langsung).

Sayangnya, di tengah era kemudahan informasi saat ini, perbedaan penentuan puasa Ramadhan ini seringkali memicu perdebatan yang menguras energi, bahkan terkadang memercikkan pertikaian di media sosial maupun di kehidupan nyata. Padahal, jika kita telaah dengan kejernihan hati dan pikiran, setiap keputusan yang diambil oleh para ulama ahli falak maupun pemerintah melalui sidang isbat sama sekali tidak dilandasi oleh ego atau hawa nafsu belaka.

Kedua metode tersebut didasarkan pada ilmu pengetahuan astronomi tingkat tinggi, metodologi sains yang presisi, serta kajian fikih komprehensif yang bersumber dari dalil yang kuat. Baik Hisab maupun Rukyat, keduanya adalah kekayaan intelektual umat Islam dalam menerjemahkan isyarat alam ciptaan Allah SWT.

Dalil Toleransi dan Penghargaan Terhadap Ijtihad Ulama

Islam adalah agama persatuan. Allah SWT telah memberikan panduan yang tegas kepada kita mengenai pentingnya menjaga tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) di atas segala perbedaan pandangan. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat mulia ini sejatinya menjadi rem dan teguran keras bagi kita agar tidak mudah terpecah belah hanya karena persoalan furu’iyah (cabang agama) semacam penentuan tanggal jatuh awal puasa atau Idul Fitri. Menghormati ijtihad ulama adalah sikap yang harus kita kedepankan.

Dalam menyikapi berbedanya metode ini, kita harus menyadari bahwa para ulama sedang melakukan ijtihad. Sebuah usaha bersungguh-sungguh dalam menggali hukum syariat. Rasulullah SAW bahkan memberikan jaminan pahala dan apresiasi yang luar biasa bagi seorang mujtahid (ulama yang berijtihad) yang mengerahkan segenap ilmunya untuk kebaikan umat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim (pemimpin/ulama) menetapkan hukum lalu dia berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila dia menetapkan hukum lalu berijtihad kemudian ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikanlah betapa indahnya syariat Islam. Ulama yang ijtihadnya dianggap “salah” di mata manusia pun tetap mendapatkan satu pahala di sisi Allah karena kesungguhan mereka menggunakan ilmu pengetahuan. Lalu, pantaskah kita yang hanya sebagai orang awam ini merasa paling benar, saling mencela, dan merendahkan pandangan saudara kita sendiri?

Kisah Inspiratif: Akhlak Ulama Salaf Menghadapi Perbedaan

Untuk melembutkan hati kita dalam menyikapi perbedaan, mari kita meneladani akhlak luar biasa dari para ulama salaf. Ada sebuah kisah masyhur dan sangat menyentuh yang datang dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, seorang imam mazhab besar yang banyak diikuti di Indonesia.

Di dalam Fikih Mazhab Syafi’i, membaca doa Qunut pada saat shalat Subuh dihukumi sebagai sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Namun, suatu ketika Imam Asy-Syafi’i melakukan perjalanan ke Kufah dan melaksanakan shalat Subuh di sebuah masjid yang lokasinya berdekatan dengan makam Imam Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi).

Tahukah Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian apa yang terjadi saat itu? Pada rakaat kedua shalat Subuh tersebut, Imam Asy-Syafi’i sengaja tidak membaca doa Qunut sama sekali. Ketika selesai shalat, murid-muridnya merasa sangat keheranan dan bertanya mengapa sang Imam meninggalkan amalan yang selama ini selalu beliau yakini dan ajarkan.

Dengan penuh adab dan kebijaksanaan tingkat tinggi, Imam Asy-Syafi’i menjawab: “Apakah pantas aku menyalahinya (pandangan Imam Abu Hanifah), sementara saat ini aku sedang berada di hadapannya (di lingkungan tempat tinggal penganut mazhabnya)?”

Allahu Akbar! Begitulah kelas dan standar akhlak seorang ulama pewaris nabi yang sejati. Tingginya ilmu yang mereka miliki tidak lantas membuat mereka bersikap arogan. Perbedaan pendapat dalam masalah ilmu sama sekali tidak menghalangi mereka untuk saling menghormati, mengasihi, dan memuliakan satu sama lain.

Kesimpulan dan Penutup Kultum Ramadhan

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,

Sebagai kesimpulan dari ceramah agama Islam hari ini, mari kita ubah cara pandang kita. Perbedaan awal Ramadhan hendaknya kita sikapi bukan sebagai ajang permusuhan, melainkan sebagai rahmat dan bukti betapa kayanya khazanah keilmuan dalam peradaban Islam. Mari kita saling menghargai pilihan masing-masing.

Bagi jamaah yang meyakini dan memulai puasa lebih dulu sesuai perhitungan hisab, silakan laksanakan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Bagi jamaah yang bersabar menunggu pengumuman rukyatul hilal dari pemerintah, laksanakan pula ibadah Anda dengan penuh kemantapan hati. Ketahuilah, hal yang paling berbahaya dan merugikan bukanlah tentang perbedaan “kapan” kita mulai berpuasa, melainkan jika kita justru tidak berpuasa tanpa adanya uzur syar’i, sambil sibuk mencela amalan ibadah saudaranya sendiri.

Sebagai penutup dari perjumpaan kita, mari kita menundukkan kepala dan hati sejenak, menengadahkan tangan memohon kepada Sang Maha Pengasih, agar bulan suci Ramadhan tahun ini membawa ketenteraman, membersihkan dosa-dosa kita, dan menyatukan hati umat Islam di seluruh penjuru dunia.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dan menerima setiap amal ibadah kita. Segala kebenaran mutlak datangnya hanya dari Allah, dan segala kekurangan serta kesalahan bertutur kata murni dari kekhilafan saya pribadi. Mohon maaf lahir dan batin.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja