Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,

Mengatasi Bau Mulut Saat Berpuasa Secara Alami

Mukadimah: Kebersihan Sebagian dari Iman

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الطَّهَارَةَ شَطْرَ الْإِيمَانِ، وَأَمَرَنَا بِتَطْيِيبِ الْأَفْوَاهِ لِذِكْرِ الرَّحْمَنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan kebersihan sebagai separuh dari iman, dan memerintahkan kita untuk mengharumkan mulut guna berdzikir kepada Allah Yang Maha Pengasih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan kita nikmat untuk menjalankan ibadah puasa. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang sangat menjaga kebersihan diri dan sangat menganjurkan umatnya untuk bersiwak guna menjaga kesegaran mulut.


Mengapa Mulut Berbau Saat Berpuasa?

Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu tantangan saat menjalankan puasa adalah munculnya aroma kurang sedap dari mulut. Secara medis, hal ini terjadi karena produksi air liur (saliva) berkurang akibat tidak adanya asupan makanan dan minuman, sehingga bakteri di mulut berkembang lebih cepat. Namun, Islam memandang hal ini dengan sudut pandang yang sangat mulia.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis qudsi mengenai kemuliaan bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadirin sekalian, meski harum di sisi Allah, kita tetap diperintahkan untuk menjaga kenyamanan sesama manusia (hablum minannas) agar tidak terganggu saat berinteraksi atau shalat berjamaah. Menjaga kebersihan mulut adalah bagian dari adab berpuasa.

Solusi Alami: Sunnah Siwak

Rasulullah SAW sangat mencintai kebersihan mulut. Beliau hampir tidak pernah meninggalkan siwak, terutama saat hendak shalat atau membaca Al-Qur’an. Penggunaan siwak secara alami mengandung zat antibakteri yang jauh lebih efektif daripada pasta gigi biasa dalam menjaga kesegaran mulut dalam waktu lama.

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu pembersih bagi mulut dan sebab datangnya rida Allah.” (HR. An-Nasa’i)

Hukum bersiwak atau menggosok gigi saat puasa adalah diperbolehkan, terutama sebelum waktu Dzuhur menurut sebagian besar ulama, guna menghilangkan kotoran yang menempel sisa sahur.

Kisah Ketelitian Nabi dalam Menjaga Aroma

Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling wangi. Beliau tidak menyukai aroma yang tajam atau tidak sedap jika harus bertemu dengan Jibril atau para sahabatnya. Pernah suatu ketika beliau menunda memakan sesuatu yang beraroma tajam karena hendak menghadap Allah. Hal ini mengajarkan kita bahwa kesalehan pribadi harus dibarengi dengan kenyamanan publik. Menjaga nafas tetap segar saat berpuasa adalah bentuk penghormatan kita kepada malaikat dan sesama mukmin.

Tips Praktis Mengatasi Bau Mulut Secara Alami

Bagaimana cara menjaga nafas tetap segar selama 13 jam berpuasa? Pertama, perbanyak minum air putih saat sahur untuk mencegah dehidrasi yang memicu mulut kering. Kedua, konsumsi buah dan sayur seperti apel atau mentimun saat sahur; serat alaminya membantu membersihkan plak di gigi.

Ketiga, jangan lupa membersihkan lidah. Sebagian besar bakteri penyebab bau mulut bersarang di pangkal lidah. Keempat, hindari makanan beraroma tajam seperti jengkol atau petai saat sahur jika Anda berencana menghadiri majelis ilmu atau shalat berjamaah. Dengan ikhtiar alami ini, insyaAllah puasa kita tetap nyaman dan nafas tetap terjaga.


Penutup: Kesimpulan dan Doa

Sebagai kesimpulan, meskipun bau mulut orang berpuasa mulia di sisi Allah, menjaga kebersihan adalah bagian dari kesempurnaan iman. Mari kita hiasi Ramadhan dengan ketaatan yang bersih dan menyenangkan bagi lingkungan sekitar.

اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan fisikku, maka baguskanlah pula akhlakku.”

Demikian tausiyah singkat ini. Semoga bermanfaat bagi kesehatan dan ibadah kita. Mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Jantung dan Pencernaan

Mukadimah: Islam, Agama yang Menjaga Jiwa dan Raga

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصِّيَامَ صِحَّةً لِلْأَبْدَانِ، وَنُورًا لِلْقُلُوبِ وَالْإِيمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَامَ وَقَامَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan puasa sebagai kesehatan bagi badan, serta cahaya bagi hati dan iman. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, sebaik-baik orang yang berpuasa dan shalat malam. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, Dzat yang mensyariatkan ibadah tidak hanya untuk pahala, tetapi juga untuk kemaslahatan hamba-Nya. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengingatkan kita bahwa perut adalah rumah bagi penyakit, dan penjagaan makan adalah obatnya.


Puasa: Detoksifikasi Pencernaan Secara Alami

Hadirin yang dirahmati Allah, selama sebelas bulan, organ pencernaan kita bekerja tanpa henti mengolah berbagai jenis makanan. Puasa Ramadhan hadir sebagai waktu “istirahat” bagi lambung dan usus. Dengan berpuasa, tubuh melakukan proses autofagi, yaitu kondisi di mana sel-sel tubuh membersihkan diri dari komponen yang rusak dan beracun.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 mengenai hikmah di balik kewajiban ini:

وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Hadirin sekalian, kata “lebih baik” dalam ayat ini mencakup segala aspek, termasuk kesehatan. Saat pencernaan beristirahat, energi tubuh dialihkan untuk memperbaiki jaringan sel yang rusak dan menyeimbangkan kadar enzim dalam perut.

Kesehatan Jantung Melalui Pengendalian Nafsu

Tidak hanya pencernaan, kesehatan jantung pun mendapatkan manfaat luar biasa. Puasa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menstabilkan tekanan darah. Dengan berkurangnya asupan lemak dan gula yang berlebih secara konsisten selama 30 hari, beban kerja jantung menjadi lebih ringan.

Rasulullah SAW memberikan panduan gaya hidup sehat yang menjaga jantung melalui pengaturan pola makan:

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

“Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya.” (HR. Tirmidzi)

Puasa melatih kita untuk berhenti makan sebelum kenyang, yang secara medis terbukti mencegah obesitas—faktor risiko utama penyakit jantung kronis.

Kisah Kedisplinan Makan Para Ulama

Para ulama salaf terdahulu sangat menjaga apa yang masuk ke perut mereka. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata bahwa beliau tidak pernah merasa kenyang selama 16 tahun kecuali sekali, karena rasa kenyang hanya akan memberatkan badan, mengeraskan hati, dan melemahkan kecerdasan. Disiplin inilah yang membuat mereka memiliki ketahanan fisik yang luar biasa untuk beribadah dan berkarya meski dalam kondisi ekonomi yang sederhana.

Menjaga Manfaat Kesehatan Saat Berbuka

Agar manfaat jantung dan pencernaan ini maksimal, kita harus memperhatikan adab berbuka. Seringkali, manfaat kesehatan puasa hilang karena kita “balas dendam” saat Maghrib dengan makanan berlemak dan manis yang berlebihan. Hal ini justru membebani jantung secara mendadak dan mengagetkan sistem pencernaan.

Ikutilah sunnah Nabi dengan berbuka menggunakan kurma atau air putih, lalu berikan jeda sebelum makan besar. Dengan cara ini, puasa benar-benar menjadi obat, bukan sekadar perpindahan jam makan saja.


Penutup: Doa Memohon Kesehatan Lahir dan Batin

Sebagai kesimpulan, syariat puasa adalah bukti cinta Allah kepada kita. Allah ingin kita sehat agar bisa beribadah dengan optimal. Mari kita jaga pola makan kita, baik saat sahur maupun berbuka, agar tujuan La’allakum Tattaquun (agar kamu bertaqwa) tercapai dengan raga yang kuat.

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي

“Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku.”

Demikian tausiyah ini. Semoga Allah memberkahi kesehatan kita semua di bulan suci ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Menjadi Pemuda yang Dirindukan Surga: Inspirasi Ramadhan

Mukadimah: Masa Muda Adalah Amanah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَزَّ الْإِسْلَامَ بِالشَّبَابِ، وَجَعَلَهُمْ عِمَادَ الدِّينِ وَفَخْرَ الْأُمَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْقَائِلُ: “نُصِرْتُ بِالشَّبَابِ”. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam melalui para pemuda, dan menjadikan mereka pilar agama serta kebanggaan umat. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya yang bersabda: ‘Aku ditolong melalui perantara pemuda’. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah menganugerahkan energi dan semangat masa muda kepada kita. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang sangat mencintai pemuda dan selalu memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya di jalan dakwah.


Masa Muda yang Berbeda

Hadirin yang dirahmati Allah, masa muda adalah fase di mana syahwat sedang memuncak dan dunia terlihat begitu menggoda. Namun, di mata Allah, ada satu golongan pemuda yang kedudukannya sangat istimewa. Mereka bukan pemuda yang sekadar menghabiskan waktu untuk hura-hura, melainkan mereka yang mampu menaklukkan nafsu demi ketaatan kepada Sang Khalik.

Allah SWT memuji ketaatan para pemuda dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi ayat 13:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Menjadi pemuda yang dirindukan surga berarti berani tampil beda. Di saat teman sebaya sibuk dengan kesia-siaan, ia sibuk dengan perbaikan diri. Di saat yang lain terlelap, ia bersujud memohon ampunan. Itulah pemuda yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat.

Naungan Allah bagi Pemuda Beribadah

Rasulullah SAW menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah di hari ketika tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Salah satunya adalah sosok pemuda yang tumbuh dalam ketaatan:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadirin sekalian, mengapa pemuda? Karena ibadah di usia tua adalah hal biasa, namun ibadah di usia muda adalah hal yang luar biasa. Surga merindukan mereka yang memiliki kekuatan untuk bermaksiat, namun memilih untuk tunduk dan patuh karena rasa takut serta cinta kepada Allah.

Kisah Mus’ab bin Umair: Si Tampan yang Memilih Surga

Mari kita menengok kisah Mus’ab bin Umair. Di masa mudanya, ia adalah pemuda paling tampan, paling modis, dan paling kaya di Mekkah. Parfumnya tercium dari kejauhan. Namun, setelah mengenal Islam, ia meninggalkan segala kemewahan dunia tersebut. Ia memilih menjadi duta Islam pertama ke Madinah.

Saat ia gugur di Perang Uhud, kain kafannya tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Jika kepalanya ditutup, kakinya terlihat, dan sebaliknya. Rasulullah menangis melihatnya. Mus’ab telah menukar masa muda yang fana dengan kemuliaan abadi di surga. Ia membuktikan bahwa gaya hidup seorang pemuda sejati adalah gaya hidup yang berlandaskan tauhid.

Tips Maksimalkan Masa Muda di Bulan Ramadhan

Bagaimana cara kita agar dirindukan surga? Pertama, perbaiki shalat lima waktu dan tepat waktu. Kedua, manfaatkan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk maksiat mata. Ketiga, berbakti kepada orang tua. Keridaan mereka adalah tiket tercepat menuju surga.

Jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk melakukan “hijrah karakter”. Jadilah pemuda yang produktif, yang tangannya ringan menolong, yang lisannya basah dengan dzikir, dan yang hatinya terpaut pada masjid. Dunia mungkin memujimu karena prestasimu, tapi langit akan merindukanmu karena kesalehanmu.


Penutup: Doa Menjaga Masa Muda

Sebagai kesimpulan, masa muda adalah masa keemasan yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara khusus oleh Allah. Gunakanlah sebelum masa tuamu datang. Jadilah kebanggaan orang tua, umat, dan agama.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْهُمْ ذُخْرًا لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ

“Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemuda Muslim, dan jadikanlah mereka sebagai simpanan (kekuatan) bagi Islam dan orang-orang beriman.”

Demikian tausiyah singkat ini. Semoga kita semua termasuk pemuda-pemudi yang dicintai Allah dan dirindukan oleh surga-Nya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Pentingnya Mencari Circle Pertemanan yang Sholeh

Mukadimah: Memilih Sahabat Seperjuangan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَنَا بِصُحْبَةِ الصَّالِحِينَ لِنَنَالَ الرَّحْمَةَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ نَصَحَ وَأَوْصَى. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan orang-orang beriman bersaudara, dan memerintahkan kita untuk berteman dengan orang sholeh agar mendapat rahmat. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah memberikan panduan lengkap tentang bagaimana memilih kawan perjalanan menuju surga.


Teman Adalah Cerminan Diri

Hadirin yang dirahmati Allah, ada pepatah Arab mengatakan, “Ash-shohibu saahib”, yang artinya sahabat itu bisa menyeret. Jika kita bersahabat dengan orang yang rajin ibadah, kita akan terseret rajin. Jika kita berada dalam circle pertemanan yang toxic atau jauh dari agama, perlahan tapi pasti, warna hati kita akan ikut berubah.

Allah SWT mengingatkan betapa pentingnya menjaga lingkungan pergaulan dalam Surah Al-Kahfi ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”

Hadirin sekalian, ayat ini adalah perintah dari Allah untuk sengaja mencari dan bertahan di lingkungan orang-orang yang taat. Mengapa? Karena iman manusia itu fluktuatif, kadang naik dan kadang turun. Saat iman kita turun, circle yang sholeh lah yang akan menarik kita kembali ke jalan yang benar.

Perumpamaan Penjual Minyak Wangi

Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat mudah dipahami tentang pengaruh teman dalam sebuah hadis yang sangat populer:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi…” (HR. Bukhari & Muslim)

Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, meskipun kita tidak membeli dagangannya, kita akan tetap kecipratan harumnya. Sebaliknya, berteman dengan pandai besi, jika tidak terkena percikan apinya, minimal kita akan terkena bau asapnya. Itulah energi dari sebuah lingkungan pergaulan.

Kisah Syaikhul Islam dan Murid-muridnya

Dikisahkan para ulama terdahulu sangat selektif dalam memilih teman duduk. Mereka menyadari bahwa satu teman yang buruk bisa merusak hafalan dan kekhusyukan mereka. Namun, satu teman yang sholeh bisa menjadi pembela di hari kiamat.

Ada sebuah ungkapan indah dari ulama salaf: “Carilah teman yang jika engkau melihatnya, ia mengingatkanmu pada Allah. Jika ia berbicara, ia menambah ilmumu. Dan jika ia beramal, ia membuatmu rindu pada akhirat.” Inilah standar bestie dunia akhirat yang seharusnya kita kejar.

Cara Membangun Circle yang Positif

Hadirin sekalian, bagaimana jika saat ini kita merasa circle kita kurang mendukung pertumbuhan iman? Pertama, jangan langsung memusuhi, namun mulailah membatasi intensitas waktu yang tidak bermanfaat. Kedua, hadirilah majelis ilmu atau komunitas positif. Di sanalah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama dalam ketaatan.

Ketiga, manfaatkan teknologi. Ikutilah akun-akun atau grup yang rutin memberikan reminder islami. Memang mencari teman sholeh itu sulit, tapi jauh lebih sulit menanggung penyesalan di akhirat karena salah memilih kawan pergaulan.


Penutup: Doa Memohon Kawan yang Baik

Sebagai kesimpulan, janganlah meremehkan dengan siapa kita sering menghabiskan waktu. Masa depan kita, bahkan akhirat kita, sangat dipengaruhi oleh siapa teman terdekat kita. Mari kita bangun lingkungan yang saling menguatkan dalam kebaikan.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي جَلِيسًا صَالِحًا يُذَكِّرُنِي إِذَا نَسِيتُ وَيُعِينُنِي إِذَا ذَكَرْتُ

“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku teman duduk yang sholeh, yang mengingatkanku jika aku lupa dan membantuku jika aku ingat (pada ketaatan).”

Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang akan menggandeng tangan kita menuju surga-Nya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Bahaya Ngabuburit yang Mengarah pada Maksiat

Mukadimah: Menjaga Kesucian Waktu Buka

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً، وَأَمَرَنَا بِحِفْظِ الْجَوارِحِ عَنِ الْمَعَاصِي وَالْآثَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan puasa sebagai perisai, dan memerintahkan kita untuk menjaga anggota tubuh dari maksiat dan dosa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan kita kesempatan untuk beribadah di bulan yang mulia ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang paling gigih menjaga kesucian ibadahnya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.


Fenomena Ngabuburit: Antara Tradisi dan Ujian

Hadirin yang dirahmati Allah, istilah “Ngabuburit” sudah menjadi tradisi yang melekat di masyarakat kita untuk mengisi waktu menunggu adzan Maghrib. Secara asal, kegiatan ini bersifat mubah atau boleh-boleh saja. Namun, syaitan tidak pernah berhenti bekerja. Seringkali, waktu yang seharusnya penuh berkah ini justru berubah menjadi celah kemaksiatan yang dapat menggerogoti pahala puasa kita.

Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak mendekati hal-hal yang dilarang dalam Surah Al-An’am ayat 151:

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.”

Hadirin sekalian, bahaya ngabuburit muncul ketika niat mencari udara segar berubah menjadi ajang ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), cuci mata (tidak menjaga pandangan), hingga menghabiskan waktu dengan sia-sia di jalanan tanpa dzikir sedikit pun.

Puasa yang Hampa Tanpa Pahala

Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat serius mengenai hal ini:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali begadang.” (HR. An-Nasa’i)

Ngabuburit yang diisi dengan ghibah di tongkrongan, menggoda lawan jenis di jalanan, atau bahkan melalaikan kewajiban shalat Ashar demi berburu takjil, adalah jalan menuju puasa yang hampa tersebut. Kita seolah sedang membangun istana pahala di pagi hari, namun merobohkannya sendiri di sore hari menjelang berbuka.

Kisah Ibnu Umar dan Penjagaan Waktu

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin menjaga waktunya. Beliau tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa dzikir atau amal saleh. Baginya, waktu antara Ashar hingga Maghrib adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Beliau mengajarkan kita bahwa menunggu saat-saat paling membahagiakan (berbuka) seharusnya dilakukan dengan tadharru’ (merendahkan diri) kepada Allah, bukan dengan bersenda gurau yang melampaui batas di tempat-tempat keramaian yang penuh fitnah.

Tips Ngabuburit yang Syar’i dan Berkah

Lalu, bagaimana agar ngabuburit kita tetap bernilai ibadah? Pertama, pindah lokasinya ke masjid. Mengikuti kajian atau tadarus di masjid jauh lebih aman dari fitnah mata dan hati. Kedua, berbagi takjil. Daripada hanya berburu makanan untuk diri sendiri, luangkan waktu untuk membagikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Ketiga, jika harus keluar rumah, jaga adab di jalanan. Jangan mengganggu ketertiban umum dan tetap basahi lisan dengan istighfar. Ingatlah, doa orang yang sedang berpuasa di saat-saat menjelang berbuka adalah doa yang tidak akan ditolak oleh Allah SWT. Alangkah ruginya jika waktu mustajab itu terbuang hanya untuk mengejar kepuasan nafsu sesaat.


Penutup: Doa Perlindungan dari Kesia-siaan

Sebagai kesimpulan, mari kita lebih selektif dalam memilih kegiatan ngabuburit. Jangan biarkan tradisi merusak esensi ibadah puasa kita. Jadikan setiap detik di bulan Ramadhan sebagai investasi untuk tabungan akhirat kita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, dan jiwa yang tidak pernah merasa puas.”

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari segala perbuatan sia-sia dan menerima seluruh rangkaian ibadah kita. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja