Mukadimah: Menjaga Kesucian Waktu Buka

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً، وَأَمَرَنَا بِحِفْظِ الْجَوارِحِ عَنِ الْمَعَاصِي وَالْآثَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan puasa sebagai perisai, dan memerintahkan kita untuk menjaga anggota tubuh dari maksiat dan dosa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan kita kesempatan untuk beribadah di bulan yang mulia ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang paling gigih menjaga kesucian ibadahnya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.


Fenomena Ngabuburit: Antara Tradisi dan Ujian

Hadirin yang dirahmati Allah, istilah “Ngabuburit” sudah menjadi tradisi yang melekat di masyarakat kita untuk mengisi waktu menunggu adzan Maghrib. Secara asal, kegiatan ini bersifat mubah atau boleh-boleh saja. Namun, syaitan tidak pernah berhenti bekerja. Seringkali, waktu yang seharusnya penuh berkah ini justru berubah menjadi celah kemaksiatan yang dapat menggerogoti pahala puasa kita.

Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak mendekati hal-hal yang dilarang dalam Surah Al-An’am ayat 151:

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.”

Hadirin sekalian, bahaya ngabuburit muncul ketika niat mencari udara segar berubah menjadi ajang ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), cuci mata (tidak menjaga pandangan), hingga menghabiskan waktu dengan sia-sia di jalanan tanpa dzikir sedikit pun.

Puasa yang Hampa Tanpa Pahala

Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat serius mengenai hal ini:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali begadang.” (HR. An-Nasa’i)

Ngabuburit yang diisi dengan ghibah di tongkrongan, menggoda lawan jenis di jalanan, atau bahkan melalaikan kewajiban shalat Ashar demi berburu takjil, adalah jalan menuju puasa yang hampa tersebut. Kita seolah sedang membangun istana pahala di pagi hari, namun merobohkannya sendiri di sore hari menjelang berbuka.

Kisah Ibnu Umar dan Penjagaan Waktu

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin menjaga waktunya. Beliau tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa dzikir atau amal saleh. Baginya, waktu antara Ashar hingga Maghrib adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Beliau mengajarkan kita bahwa menunggu saat-saat paling membahagiakan (berbuka) seharusnya dilakukan dengan tadharru’ (merendahkan diri) kepada Allah, bukan dengan bersenda gurau yang melampaui batas di tempat-tempat keramaian yang penuh fitnah.

Tips Ngabuburit yang Syar’i dan Berkah

Lalu, bagaimana agar ngabuburit kita tetap bernilai ibadah? Pertama, pindah lokasinya ke masjid. Mengikuti kajian atau tadarus di masjid jauh lebih aman dari fitnah mata dan hati. Kedua, berbagi takjil. Daripada hanya berburu makanan untuk diri sendiri, luangkan waktu untuk membagikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Ketiga, jika harus keluar rumah, jaga adab di jalanan. Jangan mengganggu ketertiban umum dan tetap basahi lisan dengan istighfar. Ingatlah, doa orang yang sedang berpuasa di saat-saat menjelang berbuka adalah doa yang tidak akan ditolak oleh Allah SWT. Alangkah ruginya jika waktu mustajab itu terbuang hanya untuk mengejar kepuasan nafsu sesaat.


Penutup: Doa Perlindungan dari Kesia-siaan

Sebagai kesimpulan, mari kita lebih selektif dalam memilih kegiatan ngabuburit. Jangan biarkan tradisi merusak esensi ibadah puasa kita. Jadikan setiap detik di bulan Ramadhan sebagai investasi untuk tabungan akhirat kita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, dan jiwa yang tidak pernah merasa puas.”

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari segala perbuatan sia-sia dan menerima seluruh rangkaian ibadah kita. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,