Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,

Perjuangan Para Sahabat di Perang Badar: Kemenangan Iman di Bulan Ramadhan

Pendahuluan: Ujian Fisik dan Spiritual di Tengah Puasa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya sendirian. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, sebaik-baik manusia.”

Hadirin yang dirahmati Allah, banyak dari kita menganggap bulan Ramadhan sebagai waktu untuk mengurangi aktivitas berat. Namun, sejarah mencatat bahwa pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, terjadi sebuah peristiwa besar yang menentukan nasib dakwah Islam, yaitu Perang Badar Al-Kubra. Di bawah terik matahari dan dalam keadaan berpuasa, para sahabat menunjukkan bahwa perjuangan para sahabat tidak terhalang oleh rasa lapar dan dahaga.


Pertolongan Allah bagi Pasukan yang Sedikit

Dalam perang ini, pasukan muslimin hanya berjumlah 313 orang dengan perlengkapan seadanya, harus menghadapi pasukan Quraisy yang berjumlah lebih dari 1.000 orang dengan persenjataan lengkap. Namun, Allah SWT menegaskan bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah, melainkan oleh ketaqwaan. Allah berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (orang-orang) yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 123)

Hadirin sekalian, Perang Badar mengajarkan kita bahwa ketika seorang hamba benar-benar menggantungkan harapannya hanya kepada Allah di tengah ketaatan (puasa), maka Allah akan mengirimkan bantuan-Nya, bahkan melalui ribuan malaikat.

Keteguhan Hati Sahabat: Kisah Sa’ad bin Muadz

Sebelum peperangan dimulai, Rasulullah SAW meminta pendapat para sahabat. Di sinilah terlihat kualitas iman mereka. Sa’ad bin Muadz, mewakili kaum Anshar, berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu. Demi Allah, jika engkau membawa kami ke laut ini lalu engkau terjun ke dalamnya, niscaya kami pun akan ikut terjun bersamamu!”

Inilah puncak loyalitas. Mereka tidak mengeluh tentang puasa yang melelahkan atau musuh yang banyak. Bagi mereka, Ramadhan adalah momentum untuk membuktikan bahwa iman lebih kuat daripada raga. Keikhlasan mereka inilah yang mengundang turunnya rahmat dan kemenangan mutlak bagi kaum muslimin.


Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan spirit Perang Badar sebagai motivasi dalam menjalani sisa Ramadhan. Jika para sahabat mampu memenangkan peperangan besar saat berpuasa, seharusnya kita mampu memenangkan peperangan melawan rasa malas dalam beribadah. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk tidak produktif, tapi jadikanlah ia sumber kekuatan spiritual.

Mari kita memohon keteguhan hati kepada Allah:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Semoga Allah memberikan kita kemenangan atas hawa nafsu kita sendiri. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Kisah Rasulullah Menjalani Ramadhan: Teladan Sejati

Pendahuluan: Meneladani Sang Cahaya di Bulan Suci

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَعَثَ فِينَا رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِنَا يَتْلُو عَلَيْنَا آيَاتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

“Segala puji bagi Allah yang mengutus kepada kita seorang Rasul dari kalangan kita sendiri untuk membacakan ayat-ayat-Nya. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Hadirin yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan yang agung, namun keagungannya menjadi sempurna melalui tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau tidak menjadikan Ramadhan sebagai waktu untuk beristirahat total, melainkan menjadikannya puncak dari segala ketaatan, kedermawanan, dan perjuangan. Menyimak kisah Rasulullah saat menjalani Ramadhan adalah kunci agar puasa kita memiliki nilai di atas sekadar menahan lapar.


Puncak Kedermawanan Sang Nabi

Salah satu sifat paling menonjol dari Rasulullah di bulan Ramadhan adalah kedermawanannya yang tak terbendung. Beliau mengajarkan bahwa puasa harus melahirkan empati yang nyata kepada sesama. Allah SWT berfirman tentang sosok beliau:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ibnu Abbas RA menceritakan bagaimana kecepatan kedermawanan beliau saat Ramadhan dalam sebuah hadis sahih:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Kedermawanan beliau digambarkan bahkan lebih cepat daripada angin yang berhembus. Beliau memberi tanpa takut miskin, memberikan teladan bahwa ibadah sosial sama pentingnya dengan ibadah ritual.

Kisah Inspiratif: Ramadhan Sebagai Bulan Jihad

Banyak yang menyangka bahwa Rasulullah menghabiskan Ramadhan hanya di dalam masjid. Sejarah mencatat hal yang berbeda. Dua peristiwa besar dalam Islam, yaitu Perang Badar dan Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), terjadi di bulan Ramadhan.

Saat Perang Badar, beliau dan para sahabat tetap berpuasa meski harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi musuh yang jumlahnya tiga kali lipat. Beliau menunjukkan bahwa lapar dan dahaga justru menjadi energi spiritual untuk meraih kemenangan. Rasulullah mengajarkan bahwa puasa bukanlah penghalang produktivitas, melainkan momentum untuk membuktikan kekuatan iman di atas fisik.


Kesimpulan dan Penutup

Hadirin, kisah Rasulullah menjalani Ramadhan mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara hubungan dengan Allah (lewat tadarus dan shalat malam) dan hubungan dengan manusia (lewat sedekah dan bantuan). Mari kita jadikan sisa hari Ramadhan ini sebagai ajang untuk meniru akhlak beliau yang mulia.

Mari kita memohon agar dikumpulkan bersama beliau kelak:

اللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَارْزُقْنَا شَفَاعَتَهُ

“Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam rombongan Nabi SAW dan anugerahkanlah kami syafaatnya.”

Semoga Allah memberkati puasa kita semua. Mohon maaf atas segala khilaf.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Menjaga Kebersihan Masjid: Syiar Iman di Bulan Suci

Pendahuluan: Masjid Sebagai Rumah Allah yang Suci

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ بُيُوتًا لِلْمُتَّقِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْقَائِلِ: بُنِيَ الدِّينُ عَلَى النَّظَافَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan masjid sebagai rumah-rumah bagi orang bertaqwa. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad yang bersabda: Agama dibangun di atas kebersihan, serta bagi keluarga dan para sahabatnya.”

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, selama bulan Ramadhan, masjid menjadi pusat kehidupan kita. Mulai dari shalat fardhu, tarawih, hingga i’tikaf. Namun, seringkali kita lupa bahwa mencintai masjid bukan hanya dengan mendatanginya, tetapi juga dengan menjaga kebersihan masjid. Masjid yang bersih bukan hanya soal estetika, melainkan cerminan dari kemuliaan iman seorang muslim.


Perintah Mengagungkan Rumah Allah

Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kita untuk memperhatikan keindahan dan kebersihan setiap kali memasukinya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)

Perintah memakai perhiasan atau pakaian indah ini mencakup pula menjaga kebersihan rumah Allah. Bagaimana mungkin kita bisa khusyuk bersujud jika sajadah berdebu atau tercium aroma tidak sedap dari sampah sisa takjil yang tidak dibuang pada tempatnya?

Kebersihan Adalah Bagian dari Iman

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat memperhatikan kebersihan masjid. Beliau bahkan menjanjikan pahala khusus bagi mereka yang mau memungut kotoran sekecil apa pun di masjid. Beliau bersabda:

الطَّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ

“Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

Tanggung jawab kebersihan masjid bukan hanya ada di pundak marbot atau pengurus, melainkan kewajiban setiap jamaah. Terutama saat Ramadhan, di mana intensitas kegiatan sangat tinggi, kita harus lebih waspada dalam menjaga kerapihan mukena, kebersihan tempat wudhu, dan area makan takjil.

Kisah Inspiratif: Wanita Pembersih Masjid di Zaman Nabi

Dikisahkan ada seorang wanita hitam (Ummu Mahjan) yang biasa membersihkan kotoran di masjid Nabi. Suatu hari, Rasulullah kehilangan wanita tersebut dan bertanya kepada para sahabat. Ternyata ia telah meninggal dunia dan dimakamkan di malam hari tanpa memberi tahu beliau.

Rasulullah SAW merasa sedih dan meminta ditunjukkan kuburannya. Beliau kemudian menshalatkan wanita tersebut di makamnya. Kisah ini menunjukkan betapa mulianya menjaga kebersihan masjid di mata Rasulullah. Pekerjaan yang mungkin dianggap rendah oleh manusia, justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.


Kesimpulan dan Penutup

Sebagai penutup, mari kita jadikan kebiasaan baik selama Ramadhan ini terus berlanjut. Jangan biarkan masjid kembali sunyi dan kotor setelah Idul Fitri berlalu. Menjaga kebersihan masjid adalah salah satu cara kita memakmurkan rumah-Nya. Semoga setiap debu yang kita bersihkan menjadi saksi pembela kita di hari kiamat kelak.

Mari kita memohon kepada Allah agar dijadikan hamba yang mencintai kesucian:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri.”

Semoga Allah memberkahi niat baik kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Syukur Atas Nikmat Dipertemukan dengan Ramadhan

Pendahuluan: Merayakan Hadiah Terindah dari Allah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا هَذَا الشَّهْرَ الْكَرِيمَ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ وَجُودِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita pada bulan yang mulia ini, dan memberikan nikmat kepada kita dengan karunia dan kedermawanan-Nya. Shalawat serta salam bagi Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.”

Hadirin yang dirahmati Allah, tahukah kita bahwa nikmat terbesar bagi seorang mukmin setelah iman dan Islam adalah nikmat dipanjangkan umur hingga bertemu kembali dengan bulan Ramadhan? Jutaan orang yang tahun lalu masih berpuasa bersama kita, kini telah berada di alam barzakh dan merindukan walau hanya satu kali ucapan “Subhanallah”. Maka, keberadaan kita di sini hari ini adalah sebuah “undangan eksklusif” dari Allah yang harus disyukuri dengan sepenuh hati.


Hakikat Syukur dalam Al-Qur’an

Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah di lisan, melainkan pengakuan dalam hati dan pembuktian melalui amal perbuatan. Allah Subhanahu Wata’ala menjanjikan tambahan nikmat bagi siapa saja yang mau mensyukuri setiap kesempatan ibadah yang diberikan. Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Hadirin sekalian, syukur atas nikmat dipertemukan dengan Ramadhan diwujudkan dengan cara mengoptimalkan setiap detiknya untuk ketaatan, karena kita tidak pernah tahu apakah ini akan menjadi Ramadhan terakhir bagi kita.

Ramadhan: Peluang Emas Pengampunan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seringkali memberikan kabar gembira bahwa Ramadhan adalah sarana pembersihan total bagi hamba yang bertaubat. Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bukankah ini nikmat yang sangat dahsyat? Kita datang membawa beban dosa selama setahun, lalu Allah menyediakan satu bulan untuk menghapusnya hingga bersih. Sungguh, hanya orang yang merugi yang tidak merasa bersyukur atas peluang maghfirah sebesar ini.

Kisah Inspiratif: Penyesalan Penduduk Kubur

Dikisahkan dari para ulama salaf, bahwa seandainya penduduk kubur diperbolehkan berbicara dan meminta satu permintaan kepada Allah, mereka tidak akan meminta harta atau jabatan kembali. Mereka hanya akan meminta: “Ya Allah, hidupkanlah aku kembali walau hanya satu jam di bulan Ramadhan agar aku bisa bersedekah dan bersujud.”

Mereka melihat betapa mahalnya nilai satu rakaat tarawih dan satu ayat Al-Qur’an di akhirat kelak. Kita yang hari ini masih bernafas, memegang tiket emas yang mereka idamkan. Maka, janganlah kesibukan dunia membuat kita lupa untuk bersyukur dan menghargai tamu agung ini sebelum ia pergi meninggalkan kita.


Kesimpulan dan Penutup

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai bentuk syukur terbaik kita kepada Allah. Jangan biarkan ia berlalu begitu saja tanpa ada perubahan kualitas iman. Syukur kita adalah dengan bangun di sepertiga malam, menjaga lisan, dan memperbanyak sedekah. Semoga syukur kita mengundang ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Mari kita memohon kepada Allah agar amalan kita diterima:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْكَرِيمِ

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu di bulan yang mulia ini.”

Demikian ceramah singkat ini. Semoga kita semua keluar dari Ramadhan sebagai hamba yang benar-benar pandai bersyukur. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja

Pentingnya Mencari Ilmu Meski Sedang Berpuasa

Pendahuluan: Ilmu Sebagai Cahaya Ibadah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ مَنْ تَعَلَّمَ وَعَلَّمَ

“Segala puji bagi Allah yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, sebaik-baik orang yang belajar dan mengajar.”

Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali rasa lemas dan kantuk di bulan Ramadhan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, termasuk dalam hal belajar. Padahal, mencari ilmu di tengah lapar dan dahaga puasa memiliki nilai jihad yang sangat tinggi. Ilmu adalah imamnya amal, dan amal tanpa ilmu laksana pengembara yang berjalan tanpa kompas di tengah kegelapan.


Kewajiban Menuntut Ilmu bagi Setiap Muslim

Islam tidak membatasi waktu untuk belajar. Justru di bulan Ramadhan, di mana setan dibelenggu, hati kita menjadi lebih jernih untuk menyerap kebenaran. Allah SWT berfirman mengenai tingginya derajat orang yang berilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Hadirin sekalian, pentingnya mencari ilmu saat puasa terletak pada kualitas ibadah kita. Dengan ilmu, kita tahu mana yang membatalkan puasa secara lahiriah dan mana yang membatalkan pahala puasa secara maknawi.

Ilmu Sebagai Jalan Pintas Menuju Surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan motivasi besar bagi mereka yang mau melangkahkan kaki ke majelis ilmu atau membuka buku pengetahuan meski tubuh sedang terasa letih. Beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Kehausan seorang penuntut ilmu di dunia akan dibalas dengan siraman air dari telaga Al-Kautsar di akhirat kelak. Menuntut ilmu saat puasa adalah bukti bahwa ruh kita lebih lapar akan hidayah daripada perut kita lapar akan makanan.

Kisah Inspiratif: Kegigihan Imam Syafi’i

Mari kita mencontoh Imam Syafi’i rahimahullah. Di bulan Ramadhan, beliau tidak hanya berpuasa dan shalat, tetapi juga tetap aktif mengajar dan menulis. Beliau bahkan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam sebulan, yang setiap ayatnya beliau tadabburi maknanya dengan pisau ilmu.

Beliau pernah berkata bahwa menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Ini menunjukkan bahwa beliau memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mencerdaskan umat. Jika para ulama terdahulu sanggup belajar dalam keterbatasan, mengapa kita yang memiliki kemudahan akses informasi justru memilih untuk tidur seharian?


Kesimpulan dan Penutup

Sebagai penutup, marilah kita jadikan sisa hari Ramadhan ini sebagai madrasah ilmu. Bacalah buku, dengarkan kajian, dan diskusikan kebaikan. Jangan biarkan otak kita tumpul saat perut kosong. Ingatlah, bahwa kemuliaan seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ia mengenal Tuhannya melalui ilmu.

Mari kita memohon tambahan ilmu yang bermanfaat:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَهْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku karunia untuk memahaminya.”

Demikian ceramah singkat ini. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang haus akan ilmu hingga akhir hayat. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja