oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Pendahuluan: Al-Qur’an Sebagai Hidangan Allah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang bertaqwa. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad yang akhlaknya adalah Al-Qur’an, juga bagi keluarga dan para sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, Al-Qur’an bukan sekadar pajangan di lemari atau bacaan saat ada musibah. Ia adalah Madubatullah (hidangan Allah) bagi hamba-Nya. Jika kita ingin mengenal sejauh mana cinta kita kepada Allah, maka lihatlah seberapa besar cinta kita terhadap Kalam-Nya. Pentingnya mencintai Al-Qur’an seperti para Salafus Shalih adalah kunci untuk meraih kejayaan umat sebagaimana mereka meraihnya dahulu.
Al-Qur’an Sebagai Penenang Hati
Para generasi terbaik (Salaf) memandang Al-Qur’an sebagai surat cinta dari Tuhan mereka. Mereka membacanya dengan tadabbur, seolah-olah Allah sedang berbicara langsung kepada mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hadirin sekalian, mencintai Al-Qur’an berarti memberikan waktu terbaik kita—bukan waktu sisa—untuk membacanya, menghafalnya, dan yang terpenting, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan Salaf: Interaksi yang Luar Biasa
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan RA, beliau berkata: “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah kenyang dari membaca Kalam Tuhan kalian.” Inilah standar cinta para Salaf. Mereka sanggup berdiri shalat malam dengan membaca satu surat panjang tanpa merasa lelah, karena manisnya iman telah meresap dalam jiwa mereka.
Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana disebutkan sebelumnya, mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali di bulan Ramadhan. Mengapa mereka bisa melakukan itu? Karena bagi mereka, Al-Qur’an adalah kebutuhan pokok, bukan sekadar tambahan amal. Mereka tidak merasa tenang sebelum mata mereka menatap mushaf dan lisan mereka melantunkan ayat-ayat suci.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, mencintai Al-Qur’an adalah jalan menuju kemuliaan. Barangsiapa yang memuliakan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakannya. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam setiap keputusan kita. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa tadabbur, agar kita mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak.
Mari kita memohon agar hati kita terpaut pada Al-Qur’an:
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penghilang kesedihan kami.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan Ahlul Qur’an. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Pendahuluan: Teladan Bagi Jiwa yang Sedang Diuji
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصَّبْرَ ضِيَاءً، وَأَثْنَى عَلَى عِبَادِهِ الصَّابِرِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan sabar sebagai cahaya, dan memuji hamba-hamba-Nya yang bersabar. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam kehidupan ini, tidak ada satu pun manusia yang luput dari ujian. Ada yang diuji dengan harta, keluarga, maupun kesehatan. Namun, jika kita berbicara tentang puncak keteguhan hati, maka kesabaran Nabi Ayyub AS adalah rujukan utama. Beliau membuktikan bahwa seberat apa pun penderitaan fisik dan kehilangan materi, iman tidak boleh goyah sedikit pun.
Pujian Allah Atas Kesabaran yang Sempurna
Nabi Ayyub AS semula adalah seorang yang kaya raya, memiliki banyak anak, dan fisik yang kuat. Namun Allah mengujinya dengan mencabut semua harta, mewafatkan anak-anaknya, dan memberikan penyakit kulit yang sangat berat selama bertahun-tahun. Di tengah semua itu, lisan beliau tidak pernah berhenti berdzikir. Allah memuji beliau dalam Al-Qur’an:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)
Hadirin sekalian, hikmah ujian hidup dari kisah ini adalah bahwa musibah bukan tanda kebencian Allah, melainkan sarana untuk mengangkat derajat seorang hamba menuju kedudukan yang lebih mulia.
Doa Nabi Ayyub: Adab Meminta Kepada Sang Khalik
Satu hal yang sangat menyentuh adalah cara Nabi Ayyub berdoa. Beliau tidak mengeluh atau protes kepada Allah. Beliau hanya menyebutkan kondisinya dengan penuh kerendahan hati. Doa ini menjadi wasilah turunnya kesembuhan dan kembalinya semua nikmat yang hilang:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)
Keajaiban terjadi; Allah memerintahkan beliau menghentakkan kaki ke bumi, muncul air yang menyembuhkan, dan Allah mengembalikan keluarga serta hartanya berlipat ganda. Ini adalah bukti bahwa sabar dan tawakal selalu berujung pada kebahagiaan yang tak terduga.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, jika hari ini kita merasa berat menghadapi ujian, ingatlah Nabi Ayyub. Jangan biarkan musibah menjauhkan kita dari Allah, justru jadikan ia alasan untuk semakin mendekat. Sabar adalah kunci kemenangan, dan doa yang tulus adalah jalan keluar dari segala kesempitan.
Mari kita memohon agar dikaruniai kesabaran yang indah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صَبْرًا جَمِيلاً وَقَلْبًا سَلِيمًا
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran yang indah dan hati yang selamat (bersih).”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua dikuatkan dalam setiap ujian. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Pendahuluan: Tangan Di Atas Sang Miliarder Madinah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ، وَيَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan melapangkan serta menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam deretan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, terdapat sosok pebisnis ulung bernama Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah bukti nyata bahwa kekayaan yang melimpah tidak akan menghalangi seseorang masuk surga selama hatinya tidak diperbudak oleh hartanya. Keajaiban sedekah yang beliau lakukan menjadi legenda yang menginspirasi umat hingga hari ini.
Logika Allah dalam Bersedekah
Abdurrahman bin Auf memahami betul bahwa harta yang ia miliki hanyalah titipan untuk menolong agama Allah. Beliau tidak takut jatuh miskin karena ia memegang janji Allah dalam Al-Qur’an:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Bagi Abdurrahman, sedekah bukanlah pengurangan, melainkan investasi yang pasti untung. Semakin banyak beliau memberi, semakin deras rezeki yang Allah alirkan kepadanya, hingga beliau pernah berucap, “Seandainya aku mengangkat sebuah batu, aku merasa di bawahnya akan ada emas atau perak.”
Kisah Inspiratif: Getaran Madinah karena 700 Unta
Suatu hari, kota Madinah bergetar karena suara gemuruh yang dahsyat. Ibunda Aisyah RA bertanya, “Suara apa itu?” Para sahabat menjawab bahwa itu adalah kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang baru datang dari Syam. Kafilah itu terdiri dari 700 ekor unta yang memikul gandum, tepung, dan bahan makanan lainnya.
Mendengar itu, Aisyah teringat sabda Nabi bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dalam keadaan merangkak (karena hisab hartanya yang panjang). Ketika berita itu sampai ke telinga Abdurrahman, beliau langsung berkata, “Jika aku bisa masuk surga dengan berdiri, maka aku akan melakukannya.” Seketika itu juga, beliau mensedekahkan seluruh 700 ekor unta beserta muatannya di jalan Allah. Inilah dahsyatnya kedermawanan seorang mukmin yang merindukan surga.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita bahwa kekayaan bukanlah untuk ditumpuk, melainkan untuk diputar menjadi pahala. Mari kita jadikan harta yang kita miliki—sekecil apa pun itu—sebagai jembatan menuju surga melalui sedekah. Jangan menunggu kaya untuk memberi, tapi memberilah agar Allah memberkahi hidupmu.
Mari kita memohon keberkahan harta kepada Allah:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu agar aku terjauh dari yang haram, dan perkaya lah aku dengan karunia-Mu agar aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga kita bisa meneladani kedermawanan para sahabat Nabi. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Pendahuluan: Jihad Terbesar Adalah Melawan Diri Sendiri
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِصْمَةَ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَأَدَّبَهُمْ بِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan penjagaan bagi para Nabi, dan mendidik mereka dengan akhlak yang terbaik. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam Al-Qur’an terdapat satu surat yang Allah sebut sebagai Ahsanul Qashash atau kisah terbaik, yaitu kisah Nabi Yusuf AS. Salah satu babak paling krusial dalam sejarah hidup beliau adalah ujian ketampanan dan godaan hawa nafsu. Hikmah di balik kisah Nabi Yusuf ini memberikan pelajaran abadi tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap di hadapan fitnah dunia yang menyilaukan.
Kesadaran akan Kehadiran Allah (Muraqabah)
Ketika digoda oleh seorang wanita bangsawan yang cantik (Zulaikha) di dalam kamar yang terkunci rapat, Nabi Yusuf tidak melihat pada kesempatan, melainkan melihat pada keagungan Tuhannya. Beliau berkata, “Ma’adzallah” (Aku berlindung kepada Allah). Allah SWT berfirman menggambarkan keteguhan hati beliau:
كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)
Hadirin sekalian, kunci utama menahan nafsu dalam kisah ini adalah muraqabah atau perasaan selalu diawasi oleh Allah. Beliau menyadari bahwa meski pintu dunia terkunci, pintu pengawasan Allah tetap terbuka lebar.
Memilih Penjara Daripada Maksiat
Nabi Yusuf AS memberikan teladan yang sangat radikal dalam menjaga kehormatan. Beliau lebih memilih hidup di balik jeruji besi daripada hidup mewah namun dalam lumuran dosa. Beliau berdoa:
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33)
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebebasan sejati adalah ketika jiwa kita tidak diperbudak oleh keinginan rendah. Seringkali, kita harus berani “memenjarakan” nafsu kita agar ruh kita bisa terbang bebas menuju ridha Allah SWT.
Kisah Inspiratif: Jaminan Naungan di Hari Kiamat
Rasulullah SAW menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat saat tidak ada naungan selain dari-Nya. Salah satunya adalah: “Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berkedudukan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.”
Nabi Yusuf telah membuktikan hal ini. Hasil dari kesabaran menahan nafsu itu tidak hanya berbuah keselamatan di dunia—di mana akhirnya beliau menjadi penguasa Mesir—tapi juga kemuliaan abadi di akhirat. Pelajaran berharganya adalah: barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.
Kesimpulan dan Penutup
Sebagai penutup, marilah kita jadikan Nabi Yusuf sebagai idola dalam menjaga pandangan dan hati. Di zaman penuh fitnah media sosial ini, godaan nafsu ada dalam genggaman tangan kita. Ingatlah “Ma’adzallah” setiap kali godaan itu datang. Semoga Allah menguatkan hati kita untuk selalu berada dalam kesucian.
Mari kita memohon perlindungan dari fitnah nafsu:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, hatiku, dan keburukan nafsuku.”
Semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100
oleh Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., | Feb 24, 2026 | Artikel
Pendahuluan: Pemimpin adalah Pelayan Umat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَدْلَ قِوَامَ الرَّعِيَّةِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْقَائِلِ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan keadilan sebagai tegaknya rakyat. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad yang bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam sejarah Islam, nama Umar bin Khattab tercatat dengan tinta emas sebagai simbol keadilan dan empati. Beliau bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di singgasana menerima laporan. Baginya, jabatan adalah beban berat yang akan dihisab di akhirat. Keteladanan Umar bin Khattab mengajarkan kita bahwa kekuasaan sejati adalah tentang seberapa besar manfaat kita bagi mereka yang paling lemah.
Rasa Takut kepada Allah atas Nasib Rakyat
Umar bin Khattab dikenal dengan perkataannya yang sangat masyhur: “Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Irak karena jalanan rusak, aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku: ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'” Jika terhadap hewan saja beliau begitu peduli, apalagi terhadap nasib rakyatnya.
Allah SWT berfirman mengenai pentingnya menegakkan keadilan dan memperhatikan kaum dhuafa:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat…” (QS. An-Nahl: 90)
Kisah Inspiratif: Memikul Gandum untuk Janda Miskin
Suatu malam, saat Umar melakukan ronda (blusukan) untuk melihat kondisi rakyatnya, beliau menemukan sebuah tenda di mana seorang ibu sedang merebus batu di dalam panci. Anak-anaknya menangis kelaparan, dan ibu itu sengaja merebus batu agar anak-anaknya mengira makanan sedang dimasak hingga mereka tertidur karena lelah menunggu.
Mendengar keluhan ibu itu yang menyalahkan “Umar sang Khalifah”, Umar langsung menangis. Beliau segera kembali ke baitul mal, mengambil sekarung gandum dan lemak, lalu memikulnya sendiri di atas punggungnya. Ketika pengawalnya (Aslam) hendak membantu, Umar menolak dengan tegas sambil berkata: “Apakah kamu mau memikul beban dosaku di hari kiamat kelak?” Umar sendiri yang memasakkan makanan itu hingga anak-anak tersebut kenyang dan tertawa.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, Umar bin Khattab mengajarkan bahwa pemimpin harus merasakan lapar sebelum rakyatnya lapar. Keteladanan ini tidak hanya berlaku bagi penguasa, tapi bagi kita semua dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Mari tumbuhkan kepekaan sosial, terutama di bulan penuh berkah ini, untuk membantu mereka yang kekurangan.
Mari kita memohon kepada Allah agar dikaruniai sifat amanah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤَدُّونَ الْأَمَانَةَ وَارْزُقْنَا قَلْبًا رَحِيمًا بِالْمَسَاكِينِ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menunaikan amanah dan anugerahkanlah kami hati yang penyayang terhadap orang-orang miskin.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga kita bisa meneladani sifat mulia sang Al-Faruq. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100