Pendahuluan: Pemimpin adalah Pelayan Umat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَدْلَ قِوَامَ الرَّعِيَّةِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْقَائِلِ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan keadilan sebagai tegaknya rakyat. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad yang bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam sejarah Islam, nama Umar bin Khattab tercatat dengan tinta emas sebagai simbol keadilan dan empati. Beliau bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di singgasana menerima laporan. Baginya, jabatan adalah beban berat yang akan dihisab di akhirat. Keteladanan Umar bin Khattab mengajarkan kita bahwa kekuasaan sejati adalah tentang seberapa besar manfaat kita bagi mereka yang paling lemah.
Rasa Takut kepada Allah atas Nasib Rakyat
Umar bin Khattab dikenal dengan perkataannya yang sangat masyhur: “Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Irak karena jalanan rusak, aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku: ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'” Jika terhadap hewan saja beliau begitu peduli, apalagi terhadap nasib rakyatnya.
Allah SWT berfirman mengenai pentingnya menegakkan keadilan dan memperhatikan kaum dhuafa:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat…” (QS. An-Nahl: 90)
Kisah Inspiratif: Memikul Gandum untuk Janda Miskin
Suatu malam, saat Umar melakukan ronda (blusukan) untuk melihat kondisi rakyatnya, beliau menemukan sebuah tenda di mana seorang ibu sedang merebus batu di dalam panci. Anak-anaknya menangis kelaparan, dan ibu itu sengaja merebus batu agar anak-anaknya mengira makanan sedang dimasak hingga mereka tertidur karena lelah menunggu.
Mendengar keluhan ibu itu yang menyalahkan “Umar sang Khalifah”, Umar langsung menangis. Beliau segera kembali ke baitul mal, mengambil sekarung gandum dan lemak, lalu memikulnya sendiri di atas punggungnya. Ketika pengawalnya (Aslam) hendak membantu, Umar menolak dengan tegas sambil berkata: “Apakah kamu mau memikul beban dosaku di hari kiamat kelak?” Umar sendiri yang memasakkan makanan itu hingga anak-anak tersebut kenyang dan tertawa.
Kesimpulan dan Penutup
Kesimpulannya, Umar bin Khattab mengajarkan bahwa pemimpin harus merasakan lapar sebelum rakyatnya lapar. Keteladanan ini tidak hanya berlaku bagi penguasa, tapi bagi kita semua dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Mari tumbuhkan kepekaan sosial, terutama di bulan penuh berkah ini, untuk membantu mereka yang kekurangan.
Mari kita memohon kepada Allah agar dikaruniai sifat amanah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤَدُّونَ الْأَمَانَةَ وَارْزُقْنَا قَلْبًا رَحِيمًا بِالْمَسَاكِينِ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menunaikan amanah dan anugerahkanlah kami hati yang penyayang terhadap orang-orang miskin.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga kita bisa meneladani sifat mulia sang Al-Faruq. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

