Pernahkah kita membayangkan, sebuah hukuman dijatuhkan bukan karena pencurian atau kejahatan besar, tapi karena satu huruf? Satu saja.
Sebuah kisah yang mungkin terasa asing di zaman kita, namun sarat dengan pelajaran agung. Ini terjadi di masa kepemimpinan seorang khalifah yang terkenal adil dan zuhud, cucu dari Umar bin Khattab, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Seorang juru tulis di hadapannya baru saja menerima hukuman cambuk. Perkaranya sepele menurut ukuran kita, namun fundamental menurut standar langit.
Ketika ditanya, apa gerangan kesalahannya hingga sang Amirul Mukminin menjatuhkan hukuman? Jawaban penulis itu singkat, padat, dan menusuk kalbu.
Jawaban yang terpatri dalam catatan para ulama.
Kisah Satu Huruf ‘Sin’
Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya Fadha’il al-Qur’an merekam sebuah riwayat yang mengguncang kesadaran kita tentang bagaimana para salaf memuliakan Kalamullah. Mereka tidak main-main. Bahkan untuk urusan satu titik atau satu harakat.
Bahwa Umar bin Abdul Aziz memukul (menghukum) seorang penulis yang menulis huruf ‘mim’ sebelum ‘sin’ (saat menulis Basmalah). Salah seorang dari tiga perawi berkata dalam haditsnya: Dikatakan kepada penulis itu, “Karena apa Amirul Mukminin memukulmu?” Ia menjawab, “Karena sebuah ‘sin’.” (Fadha’il al-Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)
Bayangkan. Sang penulis, mungkin karena kurang teliti, menulis بِسْمِ (Bismillah) menjadi بِمْسِ (Bimsillah). Huruf ‘mim’ mendahului ‘sin’. Sebuah kesalahan kecil yang mengubah struktur kata suci itu. Bagi Umar bin Abdul Aziz, ini bukan sekadar salah ketik. Ini adalah bentuk kelalaian terhadap firman Allah yang paling agung. Sebuah kecerobohan yang tidak bisa ditoleransi.
Hanya karena sebuah ‘sin’.
Pelajaran ini begitu dalam. Ini bukan tentang kekerasan, tapi tentang ghirah; sebuah rasa cemburu yang suci dan semangat menjaga kemurnian wahyu. Jika posisi satu huruf saja begitu diperhatikan, bagaimana dengan makna dan pengamalannya? Renungkanlah.
Dari Tulisan Menuju Bacaan Shalat
Ketelitian luar biasa ini tidak berhenti pada urusan tulis-menulis. Para ulama terdahulu membawa semangat ini ke dalam ranah ibadah yang paling inti: shalat. Imam Abu ‘Ubaid melanjutkan penjelasannya, mengaitkan semangat ini dengan cara kita membaca Basmalah itu sendiri.
“Adapun riwayat-riwayat yang kami sebutkan tentang meninggalkan bacaan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, itu bukanlah tentang meninggalkan membacanya sama sekali, melainkan tentang tidak mengeraskan suaranya (jahr). Sesungguhnya mereka menganggap berat jika bacaan itu ditinggalkan (tidak dibaca sama sekali) baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hanya saja, sunnahnya adalah membacanya dengan lirih (sirr) di dalam shalat.”
Lihatlah benang merahnya. Sama seperti penulisan Basmalah yang harus presisi, cara membacanya dalam shalat pun ada adab dan sunnahnya. Tidak ditinggalkan, namun dilirihkan suaranya sebagai bentuk ittiba’ atau mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap detail, dari goresan pena hingga getaran lisan, semuanya diatur dan dijaga dengan penuh penghormatan.
Ini adalah warisan. Warisan kecintaan dan pengagungan terhadap Al-Qur’an. Kisah hukuman karena satu huruf ‘sin’ adalah pengingat abadi tentang pentingnya penulisan basmalah yang benar dan betapa sakralnya setiap jengkal dari firman-Nya.
Sudahkah kita memiliki ghirah yang sama? Sudahkah kita teliti dalam membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebagaimana para pendahulu kita yang mulia? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, tapi untuk direnungkan dalam-dalam. Semangat inilah yang seharusnya menjadi denyut nadi setiap penghafal Al-Qur’an, memastikan setiap huruf terjaga, baik dalam tulisan, lisan, maupun amalan.
Semangat inilah yang coba kami hidupkan di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat kita belajar memuliakan Al-Qur’an, huruf demi huruf, makna demi makna. Tetapi tentu saja kesalahan bacaan, kesalahan tulisan, maupun kesalahan hafalan tidak ditegur dengan cambuk melainkan dengan teguran lisan yang mendidik serta dengan dicontohkan bacaan yang benar.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an wa Ma’alimuhu wa Adabuhu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pasti rasanya nyess banget ya, Sahabat, kalau mendengar lantunan ayat suci yang merdu. Suara yang menggetarkan jiwa itu seringkali membuat hati kita yang keras mendadak jadi lunak dan tenang. Jujur saja, wajar kok kalau kita merasa kagum pada seorang qari’ atau guru yang begitu fasih lidahnya melantunkan Kalamullah. Kita semua pasti merindukan keindahan itu.
Namun, di tengah kekaguman itu, pernahkah kita berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu bertanya pada hati kecil kita: “Sebenarnya, untuk apa semua ini dilakukan? Untuk siapa bacaan indah ini dipersembahkan?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya menembus langsung ke “jantung” niat kita. Karena di sanalah letak penentunya.
“Pelajarilah Al-Qur’an dan mintalah kepada Allah dengannya, sebelum datang suatu kaum yang mempelajarinya untuk meminta-minta dunia. Sesungguhnya Al-Qur’an itu dipelajari oleh tiga macam orang: Seseorang yang berbangga-bangga dengannya, seseorang yang mencari makan dengannya, dan seseorang yang membacanya karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Tiga jalan. Satu untuk berbangga. Satu untuk mencari makan. Dan hanya satu yang lurus. Untuk Allah.
Peringatan ini bukan main-main. Ini adalah tentang menjaga kemurnian dan kesucian Kalam ilahi. Jangan sampai ia ternodai oleh motif-motif duniawi yang fana. Rasulullah ﷺ mengatakannya dengan sebuah kalimat yang begitu gamblang, begitu telak.
“Bacalah Al-Qur’an, jangan berlebihan padanya, jangan menjauh darinya, jangan makan dengannya, dan jangan memperbanyak harta dengannya.” (Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibl)
“Jangan makan dengannya.” Empat kata yang menusuk. Sebuah larangan lugas untuk tidak menjadikan Al-Quran sebagai profesi untuk mengeruk keuntungan materi. Karena ia diturunkan bukan untuk itu. Ia adalah petunjuk. Cahaya. Obat bagi jiwa. Bukan barang dagangan.
Sebuah Busur dari Api Neraka
Mungkin kita berpikir, bagaimana jika itu bukan upah, tapi sekadar hadiah? Tanda terima kasih. Bukankah itu wajar? Mari kita lihat sebuah kisah yang begitu mengguncang, yang terjadi pada sahabat mulia Ubadah bin Shamit.
Beliau adalah salah satu guru Al-Quran pertama di Madinah. Atas perintah Rasulullah ﷺ, beliau mengajar para sahabat Muhajirin yang baru tiba. Salah seorang muridnya, setelah bisa membaca Al-Quran, menghadiahkan sebuah busur panah. Hadiah yang bagus. Berguna untuk jihad. Tampak mulia.
Ubadah pun melaporkan hal ini kepada Sang Nabi. Apa jawabannya? Jawabannya menghunjam jantung.
جَمْرَةٌ بَيْنَ كَتِفَيْكَ تَقَلَّدْتَهَا
“Itu adalah bara api di antara kedua pundakmu yang engkau kalungkan.” (Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit)
Allahu Akbar. Sebuah busur panah yang gagah. Di tangan pejuang. Berubah menjadi bara api neraka. Kenapa? Karena ia menjadi imbalan dari mengajarkan ayat-ayat Allah. Dalam riwayat lain yang serupa menimpa Ubay bin Ka’ab, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau ingin dikalungkan busur dari api neraka, maka ambillah.”
Begitu seriusnya perkara ini. Hadiah yang terlihat tulus pun bisa menjadi jerat jika ia mengubah ibadah menjadi transaksi.
Garis Batas: Hidangan Biasa dan Hadiah Istimewa
Lalu, apakah semua pemberian menjadi haram? Di sinilah letak keindahan dan detail syariat Islam. Ada sebuah kisah lain dari Ubay bin Ka’ab yang memberikan kita pemahaman lebih dalam.
Beliau rutin mengajar Al-Quran kepada seorang sahabat yang tunanetra. Setiap selesai mengajar, sahabat ini menyuguhkan makanan untuk Ubay. Makanan yang sangat lezat, yang jarang beliau temui di Madinah. Hati Ubay merasa tidak tenang. Ada yang mengganjal.
Beliau pun menghadap Rasulullah ﷺ dan menceritakan semuanya. Jawaban Nabi ﷺ sungguh menenangkan sekaligus memberikan garis batas yang jelas.
“Jika makanan itu adalah makanan (biasa) miliknya dan keluarganya yang mereka makan, maka makanlah. Namun jika itu adalah makanan istimewa yang ia khususkan untukmu (sebagai hadiah), maka jangan engkau makan.” (Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab)
Lihatlah perbedaannya. Sangat tipis, namun begitu prinsipil. Jika suguhan itu adalah bagian dari keramahan biasa, makanan sehari-hari yang juga disantap oleh keluarga si murid, maka itu adalah rezeki yang halal. Itu adalah bentuk silaturahim. Namun, jika makanan itu sengaja dibuat istimewa, disiapkan khusus sebagai imbalan atas pengajaran Al-Quran, maka di situlah letak larangannya.
Ini adalah tentang menjaga agar kemuliaan mengajar Al-Quran tidak ditukar dengan hidangan istimewa, apalagi dengan rupiah. Pahalanya terlalu besar untuk dinilai dengan materi. Pahalanya hanya pantas diharapkan dari Allah semata.
Maka, mari kita jaga hati kita. Baik sebagai pengajar maupun sebagai murid. Biarlah interaksi kita dengan Al-Quran tetap murni. Sebuah perjalanan spiritual untuk mencari ridha-Nya, bukan untuk mengisi pundi-pundi dunia. Karena pahala di sisi-Nya jauh lebih kekal dan jauh lebih baik daripada busur termahal atau hidangan termewah sekalipun. Itulah kemuliaan sejati seorang Ahlul Quran.
Ini bukan berarti seorang guru Quran tidak boleh sejahtera, namun kesejahteraannya datang dari pintu rezeki lain yang Allah bukakan, bukan dari ‘menjual’ pengajaran ayat yang ia ajarkan. Sebaliknya Guru Al-Quran dapat menjual fasilitas belajar seperti menjual modul pembelajaran, menjual sewa tempat belajar seperti penginapan/pemondokan, listrik yang perlu dibayar, serta waktu mengajar yang tersita untuk mengajar. Intinya bahwa belajar mengajar Al-Quran ini gratis dan fasilitas untuk kelancaran pembelajaran inilah yang perlu ditopang oleh pendanaan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan).
Semoga kita semua terhindar dari menjadikan Al-Quran sebagai kendaraan dunia, dan semoga kita semua termasuk golongan ketiga: yang membaca dan mempelajarinya murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Daftar Referensi
Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il Al-Qur’an. Bab tentang Qari’ yang Mencari Makan dengan Al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah Anda merasakan sebuah kehilangan yang mendalam? Bukan kehilangan harta. Bukan pula jabatan. Tapi kehilangan sesuatu yang pernah begitu menyatu dengan jiwa, bersemayam di dalam dada, lalu perlahan memudar dan pergi. Inilah perasaan getir saat Kalam Allah yang pernah kita hafal, ayat demi ayat, mulai terlepas dari ingatan. Sebuah anugerah ditarik kembali.
Kita sering menganggap lupa itu manusiawi. Lupa kunci, lupa janji, itu biasa. Tapi bagaimana jika yang kita lupakan adalah firman-Nya? Ternyata, ini bukan perkara sepele. Ini adalah salah satu musibah terbesar yang bisa menimpa seorang mukmin. Rasulullah ﷺ pernah diperlihatkan pahala dan dosa umatnya. Dan pemandangan yang beliau saksikan sungguh mengejutkan.
“Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku, hingga (pahala) kotoran dan debu yang dikeluarkan seseorang dari masjid. Dan diperlihatkan pula kepadaku dosa-dosa umatku, maka aku tidak melihat dosa yang lebih besar daripada satu ayat atau satu surah dari Kitabullah yang telah diberikan kepada seseorang, lalu ia melupakannya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi. Hadits ini memiliki kelemahan dari sisi sanad, namun maknanya didukung oleh riwayat-riwayat lain yang kuat).
Bayangkan. Dosa melupakan hafalan Al Quran disandingkan sebagai dosa terbesar. Kenapa bisa begitu berat? Karena ini bukan sekadar hilangnya ingatan. Ini adalah tanda berpalingnya kita dari sebuah kemuliaan yang agung.
Bukan “Aku Lupa”, Tapi “Aku Dibuat Lupa”
Ada sebuah detail kecil dalam bahasa yang diungkap oleh Nabi ﷺ, namun maknanya begitu dalam. Beliau tidak menyukai seseorang berkata, “Aku lupa ayat anu dan itu.” Seharusnya tidak begitu.
“Alangkah buruknya salah seorang dari kalian yang berkata, ‘Aku lupa ayat ini dan itu.’ Bukan dia yang lupa, tetapi dia telah dibuat lupa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan frasa “dibuat lupa” (nussiya). Ini bukan kejadian pasif. Ini adalah sebuah akibat. Sebuah konsekuensi. Allah mencabut nikmat hafalan itu dari dada kita. Mengapa? Ad-Dahhak bin Muzahim, seorang Tabi’in, memberikan jawaban yang menohok.
“Tidaklah seseorang yang belajar Al-Qur’an kemudian melupakannya, melainkan karena dosa yang ia perbuat. Karena Allah berfirman, ‘Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri’ (QS. Asy-Syura: 30). Dan sesungguhnya, melupakan Al-Qur’an adalah salah satu musibah terbesar.”
Hening. Renungkanlah. Hafalan yang hilang itu bisa jadi alarm dari langit. Sebuah teguran bahwa ada yang salah dalam hidup kita. Mungkin ada maksiat yang kita remehkan. Ada hak yang kita abaikan. Hati yang mulai diisi oleh dunia, perlahan-lahan menumpahkan Kalam Allah yang suci. Na’udzubillah.
Ibarat Unta yang Lepas dari Ikatan
Hafalan itu tidak menetap begitu saja. Ia butuh dijaga. Diikat. Dirawat setiap hari. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat nyata bagi masyarakat Arab waktu itu, dan relevan bagi kita hari ini.
“Perumpamaan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat. Jika pemiliknya senantiasa menjaganya, ia akan dapat mempertahankannya. Namun jika ia melalaikannya, maka unta itu akan pergi (lepas).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, Al-Quran lebih cepat lepasnya dari dada seseorang daripada unta dari ikatannya. Begitu liar. Begitu cepat ia bisa pergi jika kita lengah. Muraja’ah (mengulang hafalan) bukanlah pilihan. Ia adalah nafas bagi seorang penghafal Al-Quran. Tanpanya, hafalan itu akan mati.
Ancaman yang Tak Main-Main
Bukan hanya kehilangan di dunia. Ancaman bagi yang meremehkan dosa melupakan hafalan Al Quran berlanjut hingga ke akhirat. Sebuah hadits dari Sa’ad bin ‘Ubadah melukiskan gambaran yang mengerikan.
“Tidak ada seorang pun yang belajar Al-Qur’an kemudian ia melupakannya, melainkan ia akan bertemu Allah dalam keadaan ajdzam (terputus anggota badannya/kusta).” (HR. Abu Dawud)
Para ulama menjelaskan, ini adalah gambaran balasan yang setimpal. Ketika di dunia ia memutuskan hubungannya dengan Kalam Allah, maka di akhirat Allah putuskan anggota tubuhnya. Sebuah cerminan fisik dari kelalaian spiritual yang ia lakukan.
Maka, apa yang harus kita lakukan? Kuncinya ada pada semangat yang dicontohkan oleh ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau wafat dalam keadaan belum menyelesaikan hafalannya. Namun, beliau berkata, “Aku mati dalam keadaan menambah (hafalan) lebih aku sukai daripada aku mati dalam keadaan mengurangi (karena lupa).”
Inilah spiritnya. Perjalanan bersama Al-Quran bukanlah sprint menuju garis finis, melainkan maraton seumur hidup. Teruslah berinteraksi. Teruslah menjaga. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat unta hafalan kita lepas tanpa kita sadari. Karena menjaga apa yang telah Allah titipkan di dada kita adalah bentuk syukur tertinggi, dan melalaikannya adalah musibah yang teramat pedih.
Daftar Referensi
Ad-Darimi, Abdullah bin Abdurrahman. Sunan ad-Darimi, Bab tentang ancaman keras bagi orang yang lupa Al-Qur’an setelah menghafalnya.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita membayangkan sebuah wajah di Hari Kiamat? Wajah yang hanya tersisa tulang belulang. Tanpa daging sedikit pun. Kering. Penuh kengerian. Gambaran yang begitu dahsyat ini bukanlah untuk seorang pembunuh atau pendosa besar dalam pandangan umum. Ancaman ini ditujukan untuk mereka yang membaca Al-Qur’an, tetapi dengan niat yang salah.
Sebuah niat untuk “memakan” manusia. Menjadikan Kalamullah sebagai alat untuk meraup keuntungan duniawi.
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an untuk mencari makan dari manusia, ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah berupa tulang belulang tanpa daging.” (Diriwayatkan dari Zazan)
Betapa beratnya peringatan ini. Para salafus shalih, generasi terbaik umat ini, memahami betul akan hal ini. Mereka menjaga kemuliaan Al-Qur’an lebih dari apapun. Lihatlah bagaimana sikap Abdullah bin Mughaffal saat diamanahi menjadi imam shalat di bulan Ramadhan. Setelah tugasnya selesai, Mush’ab bin Zubair mengirimkan hadiah untuknya. Lima ratus dirham dan satu setel pakaian. Jumlah yang tidak sedikit.
Apa jawabannya? Beliau menolaknya. Beliau berkata, “Aku tidak akan mengambil upah atas Al-Qur’an.”
Subhanallah. Kehormatan dirinya, kemuliaan Al-Qur’an dalam hatinya, jauh lebih berharga daripada ratusan dirham. Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah prinsip. Prinsip yang juga dipegang teguh oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika beliau mendengar Sa’ad memberikan upah kepada para pembaca Al-Qur’an, beliau murka. “Uffan, uffan!” serunya. Sebuah ekspresi kejijikan. “Apakah Kitabullah ‘Azza wa Jalla diberi upah?”
Memahami Makna Sejati “Yataghanna bil Qur’an”
Lalu, bagaimana kita memahami sebuah hadits yang sangat populer? Sebuah sabda dari lisan mulia Rasulullah ﷺ yang seringkali diartikan sebatas melagukan bacaan.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Bukan dari golongan kami orang yang tidak ‘yataghanna’ dengan Al-Qur’an.” (Diriwayatkan dari Sa’ad)
Banyak yang memahami ‘yataghanna’ sebagai ‘taghanni’ yang berarti melagukan atau memperindah suara. Tentu, memperindah suara saat membaca Al-Qur’an adalah sebuah anjuran. Namun, seorang ulama besar, Abu ‘Ubayd, memberikan sebuah penafsiran yang begitu dalam, yang menyatukan semua riwayat di atas menjadi sebuah permadani makna yang indah.
Beliau menjelaskan, makna ‘yataghanna’ di sini bukanlah soal suara. Bukan soal nada.
Ia adalah tentang al-istighna’. Tentang merasa cukup.
Abu ‘Ubayd berkata, makna ‘yataghanna’ adalah merasa cukup dan menjaga kehormatan diri (ta’affuf) dari meminta-minta kepada manusia dengan perantara Al-Qur’an. Menjadi seorang yang di dalam jiwanya telah merasa kaya dengan membawa Al-Qur’an, sekalipun hartanya tidak ada.
Allahu Akbar. Renungkanlah.
Jadi, makna hadits yataghanna bil Qur’an yang sesungguhnya adalah tentang mentalitas. Tentang jiwa seorang penghafal Qur’an. Bahwa Al-Qur’an yang ada di dalam dadanya sudah menjadi kekayaan terbesar. Harta yang membuatnya tidak lagi silau dengan dunia. Kehormatan yang membuatnya terlalu tinggi untuk menadahkan tangan kepada makhluk.
Inilah yang membedakan. Antara mereka yang menjadikan Qur’an sebagai kekayaan jiwa, dengan mereka yang menjadikan Qur’an sebagai alat mencari kekayaan dunia. Yang pertama akan mulia di dunia dan akhirat. Yang kedua, datang dengan wajah tanpa daging.
Kekayaan sejati seorang ahlul Qur’an bukanlah amplop yang ia terima, bukan pula pujian yang ia dapatkan. Kekayaan sejatinya adalah ketenangan saat membacanya, kemuliaan saat menjaganya, dan rasa cukup yang Allah tanamkan di dalam hatinya. Inilah esensi dari makna hadits yataghanna bil Qur’an.
Memahami kedalaman makna seperti inilah yang menjadi pondasi dalam perjalanan menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an. Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang lisan, tapi tentang jiwa yang kaya. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami meyakini bahwa proses menghafal adalah proses membangun karakter mulia ini, karakter ahlul Qur’an yang sejati.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam, Fadhail Al-Qur’an. Riwayat-riwayat di atas dinukil dari kitab tersebut.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Pernahkah kita menetapkan target? Satu bulan harus khatam. Atau bahkan lebih ambisius, satu minggu. Ada semacam kebanggaan saat berhasil menaklukkan 30 juz dalam waktu singkat. Tapi, sebuah pertanyaan penting seringkali terlupa. Apakah kita sedang berlomba dengan waktu, atau sedang mencoba berbincang dengan Sang Pencipta waktu?
Al-Qur’an bukan garis finis. Ia adalah cakrawala. Semakin kita mendekat, semakin luas ia terbentang. Para salafus shalih telah mengajarkan kita sebuah seni yang agung, sebuah etika luhur dalam berinteraksi dengan Kalamullah. Inilah yang kita sebut sebagai adab membaca Al-Quran dengan tartil.
Perintah Langit untuk Membaca Perlahan
Jauh sebelum kita membahas nasihat para ulama, Allah sendiri telah menetapkan standarnya. Perintah-Nya begitu jelas, turun kepada Rasul-Nya yang mulia sebagai panduan abadi bagi kita semua.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Q.S. Al-Muzzammil: 4)
Apa makna sesungguhnya dari tartil? Mujahid rahimahullah, seorang murid utama dari Ibnu ‘Abbas, menafsirkannya dengan sebuah kalimat yang dalam: «تَرَسَّلْ فِيهِ تَرْسِيلًا» yang artinya, “Bacalah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”
Tenang. Tidak terburu-buru. Inilah kunci pertamanya.
Potret Bacaan Sang Teladan, Muhammad ﷺ
Bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktikkan perintah ini? Siapa yang lebih tahu selain istri beliau yang senantiasa membersamainya? Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memberikan kita sebuah potret yang luar biasa indah.
Bahwa beliau (Ummu Salamah) menyifati bacaan Rasulullah ﷺ sebagai bacaan yang sangat jelas, huruf demi huruf. (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Bayangkan. Bacaan yang terperinci. Jernih. Seolah setiap hurufnya diperkenalkan satu per satu kepada pendengarnya. Tidak ada yang tumpang tindih, tidak ada yang terlewat. Begitu sempurna. Bahkan, beliau memberikan jeda yang begitu teratur dalam bacaannya.
“Rasulullah ﷺ biasa menghentikan bacaannya (ayat per ayat): (Beliau membaca) Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, lalu berhenti. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, lalu berhenti. Ar-raḥmānir-raḥīm, lalu berhenti. Māliki yaumid-dīn.” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Beliau berhenti di setiap akhir ayat. Memberi napas bagi jiwa untuk meresapi makna, memberi ruang bagi hati untuk terkoneksi. Inilah puncak dari adab membaca Al-Quran dengan tartil, yang dicontohkan langsung oleh Sang Nabi.
Pemahaman ini diwarisi dengan sangat baik oleh para sahabat. Suatu ketika, ‘Alqamah, yang terkenal memiliki suara merdu, membaca Al-Qur’an di hadapan Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Tampaknya bacaannya sedikit terburu-buru. Maka, Ibn Mas’ud memberikan nasihat yang begitu menyentuh.
“Tebusanku adalah ayah dan ibuku, bacalah dengan tartil, karena sesungguhnya tartil itu adalah perhiasan Al-Qur’an.”
Perhiasan Al-Qur’an. Renungkanlah. Tartil bukanlah sekadar aturan teknis, ia adalah mahkota yang memperindah Kalamullah saat keluar dari lisan kita.
Logika ‘khatam cepat lebih baik’ pernah diuji di hadapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Seseorang berkata padanya, “Aku ini orang yang cepat membacanya, aku bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari.” Apa jawaban sang lautan ilmu? Jawaban yang seharusnya menampar kita semua.
“Sungguh, aku membaca surat Al-Baqarah dalam satu malam, lalu mentadabburinya dan membacanya dengan tartil, itu lebih aku sukai daripada aku membaca (keseluruhan Al-Qur’an) seperti yang engkau katakan… Lebih aku sukai daripada membaca Al-Qur’an seluruhnya dengan hadzramah (bacaan super cepat).” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Subhanallah. Satu surat dengan tadabur dan tartil, nilainya mengalahkan seluruh Al-Qur’an yang dibaca tergesa-gesa. Prinsip ini begitu kokoh. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu bahkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an khatam dalam 20 hari lebih ia sukai daripada khatam dalam 7 hari, karena memberinya kesempatan untuk mengulang-ulang dan berhenti merenung.
Hiasilah dengan Suaramu
Setelah pondasi tartil dan tadabur kokoh, ada satu lagi sentuhan keindahan yang disunnahkan: memperindah bacaan dengan suara. Ini bukan tentang lagu yang dibuat-buat hingga merusak tajwid, melainkan tentang melantunkan ayat-ayat suci dengan suara terbaik yang kita miliki sebagai bentuk pengagungan.
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (H.R. An-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkannya. Saat penaklukan kota Makkah, di atas untanya, beliau membaca surat Al-Fath dengan suara yang bergetar indah (tarji’), sebuah lantunan yang begitu menyentuh hati para sahabat yang mendengarnya.
Maka, mari kita ubah cara pandang kita. Interaksi dengan Al-Qur’an bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke halaman terakhir, tapi tentang seberapa dalam makna dari setiap halaman meresap ke dalam hati. Praktikkan adab membaca Al-Quran dengan tartil: baca perlahan, pahami maknanya, berhenti untuk merenung, dan lantunkan dengan suara terindah yang kita punya. Karena kita tidak sedang membaca buku biasa, kita sedang berbincang dengan Rabb semesta alam.
Memahami dan mempraktikkan adab membaca Al-Quran dengan tartil ini memang membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Di sinilah pentingnya memiliki guru yang dapat mengarahkan kita, memastikan setiap huruf terlafaz dengan benar dan setiap jeda diletakkan pada tempatnya, membawa kita lebih dekat pada cara membaca Sang Teladan kita, Rasulullah ﷺ.
Daftar Referensi
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Fadha’il al-Qur’an wa Ma’alimuhu wa Adabuhu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta