Sebuah Hukuman Tak Terduga
Pernahkah kita membayangkan, sebuah hukuman dijatuhkan bukan karena pencurian atau kejahatan besar, tapi karena satu huruf? Satu saja.
Sebuah kisah yang mungkin terasa asing di zaman kita, namun sarat dengan pelajaran agung. Ini terjadi di masa kepemimpinan seorang khalifah yang terkenal adil dan zuhud, cucu dari Umar bin Khattab, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Seorang juru tulis di hadapannya baru saja menerima hukuman cambuk. Perkaranya sepele menurut ukuran kita, namun fundamental menurut standar langit.
Ketika ditanya, apa gerangan kesalahannya hingga sang Amirul Mukminin menjatuhkan hukuman? Jawaban penulis itu singkat, padat, dan menusuk kalbu.
Jawaban yang terpatri dalam catatan para ulama.
Kisah Satu Huruf ‘Sin’
Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya Fadha’il al-Qur’an merekam sebuah riwayat yang mengguncang kesadaran kita tentang bagaimana para salaf memuliakan Kalamullah. Mereka tidak main-main. Bahkan untuk urusan satu titik atau satu harakat.
أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ ضَرَبَ كَاتِبًا كَتَبَ الْمِيمَ قَبْلَ السِّينِ. وَقَالَ أَحَدُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ فِي حَدِيثِهِ: قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: فِيمَ ضَرَبَكَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ؟ فَقَالَ: فِي سِينٍ.
Bahwa Umar bin Abdul Aziz memukul (menghukum) seorang penulis yang menulis huruf ‘mim’ sebelum ‘sin’ (saat menulis Basmalah). Salah seorang dari tiga perawi berkata dalam haditsnya: Dikatakan kepada penulis itu, “Karena apa Amirul Mukminin memukulmu?” Ia menjawab, “Karena sebuah ‘sin’.” (Fadha’il al-Qur’an oleh Abu ‘Ubaid)
Bayangkan. Sang penulis, mungkin karena kurang teliti, menulis بِسْمِ (Bismillah) menjadi بِمْسِ (Bimsillah). Huruf ‘mim’ mendahului ‘sin’. Sebuah kesalahan kecil yang mengubah struktur kata suci itu. Bagi Umar bin Abdul Aziz, ini bukan sekadar salah ketik. Ini adalah bentuk kelalaian terhadap firman Allah yang paling agung. Sebuah kecerobohan yang tidak bisa ditoleransi.
Hanya karena sebuah ‘sin’.
Pelajaran ini begitu dalam. Ini bukan tentang kekerasan, tapi tentang ghirah; sebuah rasa cemburu yang suci dan semangat menjaga kemurnian wahyu. Jika posisi satu huruf saja begitu diperhatikan, bagaimana dengan makna dan pengamalannya? Renungkanlah.
Dari Tulisan Menuju Bacaan Shalat
Ketelitian luar biasa ini tidak berhenti pada urusan tulis-menulis. Para ulama terdahulu membawa semangat ini ke dalam ranah ibadah yang paling inti: shalat. Imam Abu ‘Ubaid melanjutkan penjelasannya, mengaitkan semangat ini dengan cara kita membaca Basmalah itu sendiri.
“Adapun riwayat-riwayat yang kami sebutkan tentang meninggalkan bacaan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, itu bukanlah tentang meninggalkan membacanya sama sekali, melainkan tentang tidak mengeraskan suaranya (jahr). Sesungguhnya mereka menganggap berat jika bacaan itu ditinggalkan (tidak dibaca sama sekali) baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hanya saja, sunnahnya adalah membacanya dengan lirih (sirr) di dalam shalat.”
Lihatlah benang merahnya. Sama seperti penulisan Basmalah yang harus presisi, cara membacanya dalam shalat pun ada adab dan sunnahnya. Tidak ditinggalkan, namun dilirihkan suaranya sebagai bentuk ittiba’ atau mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap detail, dari goresan pena hingga getaran lisan, semuanya diatur dan dijaga dengan penuh penghormatan.
Ini adalah warisan. Warisan kecintaan dan pengagungan terhadap Al-Qur’an. Kisah hukuman karena satu huruf ‘sin’ adalah pengingat abadi tentang pentingnya penulisan basmalah yang benar dan betapa sakralnya setiap jengkal dari firman-Nya.
Sudahkah kita memiliki ghirah yang sama? Sudahkah kita teliti dalam membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebagaimana para pendahulu kita yang mulia? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, tapi untuk direnungkan dalam-dalam. Semangat inilah yang seharusnya menjadi denyut nadi setiap penghafal Al-Qur’an, memastikan setiap huruf terjaga, baik dalam tulisan, lisan, maupun amalan.
Semangat inilah yang coba kami hidupkan di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat kita belajar memuliakan Al-Qur’an, huruf demi huruf, makna demi makna. Tetapi tentu saja kesalahan bacaan, kesalahan tulisan, maupun kesalahan hafalan tidak ditegur dengan cambuk melainkan dengan teguran lisan yang mendidik serta dengan dicontohkan bacaan yang benar.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an wa Ma’alimuhu wa Adabuhu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


