Bukan Tongkat Musa: Mukjizat yang Bernapas di Zaman Kita
Layar gawai yang menyala. Notifikasi yang tak henti-hentinya bersahutan. Kebisingan dunia merangsek masuk tanpa izin, memenuhi setiap rongga pikiran hingga terasa sesak. Di tengah hiruk pikuk ini, seringkali hati kita merintih, mencari sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang luar biasa untuk membuktikan bahwa kita tidak sendirian.
Kita mencari tongkat yang membelah lautan. Kita menanti unta betina yang keluar dari batu. Kita mendamba mukjizat-mukjizat fisik yang bisa ditangkap oleh retina mata, yang gemuruhnya bisa didengar telinga. Kita ingin bukti yang spektakuler.
Tapi kita lupa. Kita salah tempat mencari.
Para ulama besar seperti Al-Khattabi, Ar-Rummani, hingga Al-Baqillani telah mengupas tuntas sebuah rahasia agung: I’jaz Al-Qur’an, kemukjizatan Kitabullah. Mereka menjelaskan bahwa mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang melumpuhkan kemampuan manusia untuk menirunya. Ada dua jenis: yang bisa dirasakan indera (hissiyah) dan yang hanya bisa dicerna oleh akal dan nurani (‘aqliyyah).
Mukjizat umat-umat terdahulu, seperti Bani Israil, kebanyakan bersifat inderawi. Kenapa? Karena disesuaikan dengan kondisi mereka saat itu. Namun, untuk umat ini, umat akhir zaman, Allah memberikan sebuah kehormatan yang berbeda. Mukjizat terbesar kita adalah mukjizat intelektual. Sebuah mukjizat yang tidak akan lekang oleh zaman. Sebuah mukjizat yang hidup.
Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ sendiri yang menegaskan perbedaan fundamental ini. Beliau, sang Nabi terkasih, menjelaskan esensi mukjizat yang dibawanya.
مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak ada seorang Nabi pun kecuali dia diberi suatu mukjizat yang serupa dengannya manusia akan beriman. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap, aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari)
Renungkan ini dalam-dalam. Mukjizat para Nabi terdahulu itu seperti pertunjukan kembang api yang dahsyat. Megah. Spektakuler. Tapi sesaat. Mereka yang hadir menyaksikannya, beriman. Setelah itu? Ia menjadi cerita. Sejarah. Kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Lalu selesai.
Mukjizat kita, Al-Qur’an, adalah matahari. Ia tidak meledak sekali lalu padam. Ia terbit setiap hari. Sinarnya terus-menerus menyapa zaman, melintasi abad, menyentuh setiap jiwa yang membuka diri padanya. Tongkat Musa tak lagi membelah lautan. Tapi ayat-ayat Qur’an terus membelah kegelapan hati, setiap saat, di mana pun Anda berada.
Inilah letak kemuliaan kita. Allah tidak memanjakan mata kita. Dia justru menantang dan memuliakan akal serta hati kita. Mukjizat Al-Qur’an tidak dilihat dengan mata kepala (al-abshar), tapi dengan mata hati (al-bashirah).
Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan bashirah kita untuk menyaksikannya?
Saat bisingnya dunia membuat Anda lelah, saat keraguan mulai merayap, jangan cari keajaiban di luar sana. Keajaiban terbesar, mukjizat yang paling relevan untuk Anda—seorang profesional, seorang pemikir, seorang hamba di abad ke-21—sudah ada di tangan Anda. Di rak buku Anda. Di aplikasi gawai Anda.
Solusinya bukan menunggu langit terbelah. Solusinya adalah membuka lembarannya. Membacanya bukan sekadar mengejar target juz, tapi dengan jiwa seorang saksi yang sedang berhadapan langsung dengan keajaiban. Mendengarkan lantunannya bukan sebagai musik latar, tapi sebagai Kalam Sang Pencipta yang sedang berbicara langsung kepada Anda. Menghafalnya bukan sebagai beban, tapi sebagai upaya menginternalisasi mukjizat itu ke dalam sel-sel ruhani kita.
Setiap kali ilmu pengetahuan modern menyingkap fakta baru, ternyata Al-Qur’an telah mengisyaratkannya 14 abad silam. Setiap kali jiwa merasa gundah, ternyata ada ayat yang menenangkannya dengan presisi luar biasa. Setiap kali kita kehilangan arah, ternyata petunjuknya tersurat dengan begitu jelas. Bukankah ini keajaiban yang terus hidup dan berdenyut?
Dunia boleh saja terus berteriak dengan segala pesonanya yang fana. Biarkan saja. Karena kita memiliki mukjizat yang takkan pernah usang. Mukjizat yang bisikannya lebih menenangkan dari seluruh kebisingan dunia.
Ia menantimu. Untuk disaksikan.
Daftar Referensi
- الكتاب: الإتقان في علوم القرآن
المؤلف: عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي (ت ٩١١ هـ)
المحقق: محمد أبو الفضل إبراهيم [ت ١٤٠١ هـ]
الناشر: الهيئة المصرية العامة للكتاب
الطبعة: ١٣٩٤ هـ/ ١٩٧٤ م
عدد الأجزاء: ٤
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100


