Bukan Balapan, Tapi Perbincangan
Pernahkah kita menetapkan target? Satu bulan harus khatam. Atau bahkan lebih ambisius, satu minggu. Ada semacam kebanggaan saat berhasil menaklukkan 30 juz dalam waktu singkat. Tapi, sebuah pertanyaan penting seringkali terlupa. Apakah kita sedang berlomba dengan waktu, atau sedang mencoba berbincang dengan Sang Pencipta waktu?
Al-Qur’an bukan garis finis. Ia adalah cakrawala. Semakin kita mendekat, semakin luas ia terbentang. Para salafus shalih telah mengajarkan kita sebuah seni yang agung, sebuah etika luhur dalam berinteraksi dengan Kalamullah. Inilah yang kita sebut sebagai adab membaca Al-Quran dengan tartil.
Perintah Langit untuk Membaca Perlahan
Jauh sebelum kita membahas nasihat para ulama, Allah sendiri telah menetapkan standarnya. Perintah-Nya begitu jelas, turun kepada Rasul-Nya yang mulia sebagai panduan abadi bagi kita semua.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Q.S. Al-Muzzammil: 4)
Apa makna sesungguhnya dari tartil? Mujahid rahimahullah, seorang murid utama dari Ibnu ‘Abbas, menafsirkannya dengan sebuah kalimat yang dalam: «تَرَسَّلْ فِيهِ تَرْسِيلًا» yang artinya, “Bacalah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”
Tenang. Tidak terburu-buru. Inilah kunci pertamanya.
Potret Bacaan Sang Teladan, Muhammad ﷺ
Bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktikkan perintah ini? Siapa yang lebih tahu selain istri beliau yang senantiasa membersamainya? Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memberikan kita sebuah potret yang luar biasa indah.
أَنَّهَا نَعَتَتْ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قِرَاءَةً مُفَسَّرَةً حَرْفًا حَرْفًا
Bahwa beliau (Ummu Salamah) menyifati bacaan Rasulullah ﷺ sebagai bacaan yang sangat jelas, huruf demi huruf. (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Bayangkan. Bacaan yang terperinci. Jernih. Seolah setiap hurufnya diperkenalkan satu per satu kepada pendengarnya. Tidak ada yang tumpang tindih, tidak ada yang terlewat. Begitu sempurna. Bahkan, beliau memberikan jeda yang begitu teratur dalam bacaannya.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْطَعُ قِرَاءَتَهُ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Rasulullah ﷺ biasa menghentikan bacaannya (ayat per ayat): (Beliau membaca) Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, lalu berhenti. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, lalu berhenti. Ar-raḥmānir-raḥīm, lalu berhenti. Māliki yaumid-dīn.” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Beliau berhenti di setiap akhir ayat. Memberi napas bagi jiwa untuk meresapi makna, memberi ruang bagi hati untuk terkoneksi. Inilah puncak dari adab membaca Al-Quran dengan tartil, yang dicontohkan langsung oleh Sang Nabi.
Warisan Para Sahabat: Kualitas di Atas Kuantitas
Pemahaman ini diwarisi dengan sangat baik oleh para sahabat. Suatu ketika, ‘Alqamah, yang terkenal memiliki suara merdu, membaca Al-Qur’an di hadapan Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Tampaknya bacaannya sedikit terburu-buru. Maka, Ibn Mas’ud memberikan nasihat yang begitu menyentuh.
“Tebusanku adalah ayah dan ibuku, bacalah dengan tartil, karena sesungguhnya tartil itu adalah perhiasan Al-Qur’an.”
Perhiasan Al-Qur’an. Renungkanlah. Tartil bukanlah sekadar aturan teknis, ia adalah mahkota yang memperindah Kalamullah saat keluar dari lisan kita.
Logika ‘khatam cepat lebih baik’ pernah diuji di hadapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Seseorang berkata padanya, “Aku ini orang yang cepat membacanya, aku bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari.” Apa jawaban sang lautan ilmu? Jawaban yang seharusnya menampar kita semua.
لَأَنْ أَقْرَأَ الْبَقَرَةَ فِي لَيْلَةٍ فَأَدَّبَّرُهَا وَأُرَتِّلُهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقْرَأَ كَمَا تَقُولُ… أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ أَجْمَعَ هَذْرَمَةً
“Sungguh, aku membaca surat Al-Baqarah dalam satu malam, lalu mentadabburinya dan membacanya dengan tartil, itu lebih aku sukai daripada aku membaca (keseluruhan Al-Qur’an) seperti yang engkau katakan… Lebih aku sukai daripada membaca Al-Qur’an seluruhnya dengan hadzramah (bacaan super cepat).” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Subhanallah. Satu surat dengan tadabur dan tartil, nilainya mengalahkan seluruh Al-Qur’an yang dibaca tergesa-gesa. Prinsip ini begitu kokoh. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu bahkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an khatam dalam 20 hari lebih ia sukai daripada khatam dalam 7 hari, karena memberinya kesempatan untuk mengulang-ulang dan berhenti merenung.
Hiasilah dengan Suaramu
Setelah pondasi tartil dan tadabur kokoh, ada satu lagi sentuhan keindahan yang disunnahkan: memperindah bacaan dengan suara. Ini bukan tentang lagu yang dibuat-buat hingga merusak tajwid, melainkan tentang melantunkan ayat-ayat suci dengan suara terbaik yang kita miliki sebagai bentuk pengagungan.
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (H.R. An-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkannya. Saat penaklukan kota Makkah, di atas untanya, beliau membaca surat Al-Fath dengan suara yang bergetar indah (tarji’), sebuah lantunan yang begitu menyentuh hati para sahabat yang mendengarnya.
Maka, mari kita ubah cara pandang kita. Interaksi dengan Al-Qur’an bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke halaman terakhir, tapi tentang seberapa dalam makna dari setiap halaman meresap ke dalam hati. Praktikkan adab membaca Al-Quran dengan tartil: baca perlahan, pahami maknanya, berhenti untuk merenung, dan lantunkan dengan suara terindah yang kita punya. Karena kita tidak sedang membaca buku biasa, kita sedang berbincang dengan Rabb semesta alam.
Memahami dan mempraktikkan adab membaca Al-Quran dengan tartil ini memang membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Di sinilah pentingnya memiliki guru yang dapat mengarahkan kita, memastikan setiap huruf terlafaz dengan benar dan setiap jeda diletakkan pada tempatnya, membawa kita lebih dekat pada cara membaca Sang Teladan kita, Rasulullah ﷺ.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Fadha’il al-Qur’an wa Ma’alimuhu wa Adabuhu.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


