Adakah yang lebih indah dari lantunan ayat suci Al-Quran? Namun, tahukah kita bahwa keindahan itu akan berlipat ganda jika dibarengi dengan adab yang benar? Seringkali, kita terlalu fokus pada target khatam, hingga melupakan esensi dari adab membaca Al-Quran yang seharusnya menjadi panduan utama.

Bayangkan, malaikat berkerumun di sekelilingmu saat engkau membaca Al-Quran. Mereka mendekat, menyimak setiap huruf yang terucap. Tapi, bagaimana jika mulutmu berbau tak sedap? Bagaimana jika hatimu penuh dengan kotoran dunia? Malaikat pun menjauh. Merindingkah kita?

Itulah mengapa, para ulama menekankan pentingnya menjaga adab lahir dan batin saat berinteraksi dengan Al-Quran. Bukan sekadar formalitas, tapi wujud penghormatan kita kepada Kalamullah.

Mengapa Adab Membaca Al-Quran Sering Terlupakan?

Di era serba cepat ini, banyak dari kita terjebak dalam rutinitas. Membaca Al-Quran seringkali hanya menjadi kewajiban yang harus ditunaikan, bukan kebutuhan yang dirindukan. Kita terburu-buru mengejar target, tanpa menyadari bahwa kualitas bacaan jauh lebih penting daripada kuantitas. Terjebak!

Selain itu, kurangnya pemahaman tentang keutamaan adab juga menjadi penyebabnya. Kita menganggapnya sebagai hal sepele, padahal dampaknya sangat besar bagi keberkahan hidup kita. Kita meremehkan.

Padahal, dengan memahami dan mengamalkan adab membaca Al-Quran, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga ketenangan hati, keberkahan hidup, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Adab Lahir: Membersihkan Diri, Mengharumkan Mulut

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Sebelum menyentuh mushaf, pastikan diri kita dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Berwudhu adalah langkah awal yang sangat dianjurkan. Segarkan diri. Bersihkan jiwa.

Selain itu, bersiwak atau menggosok gigi juga merupakan sunnah yang sangat dianjurkan sebelum membaca Al-Quran. Mulut yang bersih akan membuat bacaan kita lebih khusyuk dan nyaman. Bayangkan, jika kita hendak berbicara dengan seorang raja, tentu kita akan berpenampilan sebaik mungkin. Lalu, bagaimana mungkin kita menghadap Allah dengan mulut yang berbau tidak sedap?

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan kebersihan mulutnya, terutama saat hendak beribadah. Beliau bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

‘Siwak itu membersihkan mulut dan diridhai oleh Rabb.’ (HR. Ahmad)

Bahkan, Imam Nawawi dalam kitabnya, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, menyebutkan bahwa para ulama salaf sangat menekankan pentingnya bersiwak sebelum membaca Al-Quran. Mereka menganggapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap Kalamullah.

Adab Batin: Menghadirkan Hati, Merenungkan Makna

Lebih dari sekadar membersihkan diri secara fisik, adab membaca Al-Quran juga mencakup kesiapan hati. Hadirkan hati saat membaca. Jangan biarkan pikiran melayang ke mana-mana. Fokuskan diri pada setiap ayat yang dibaca.

Renungkan makna setiap ayat. Bayangkan seolah-olah Allah sedang berbicara langsung kepada kita. Rasakan getaran di dada saat membaca ayat-ayat tentang surga dan neraka. Teteskan air mata saat merenungi ayat-ayat tentang dosa dan ampunan. Biarkan Al-Quran meresap ke dalam jiwa kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

‘Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?’ (QS. Muhammad: 24)

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya membaca Al-Quran secara lahiriah, tetapi juga merenungkan maknanya. Hati yang terkunci tidak akan mampu memahami pesan-pesan Allah yang terkandung dalam Al-Quran.

Membaca dengan Tartil: Lebih Baik dari Khatam Tergesa-gesa

Membaca Al-Quran dengan tartil, yaitu membaca dengan pelan dan jelas, serta memperhatikan tajwidnya, jauh lebih utama daripada khatam dengan tergesa-gesa. Tartil memungkinkan kita untuk merenungkan makna setiap ayat dan menghayati pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Nikmati setiap huruf.

Allah SWT berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

‘Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.’ (QS. Al-Muzzammil: 4)

Jadi, mari kita ubah mindset kita. Bukan lagi sekadar mengejar target khatam, tetapi berusaha untuk membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya, dengan memperhatikan adab lahir dan batin. Dengan begitu, kita akan mendapatkan keberkahan yang berlimpah dari Allah SWT.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu menjaga adab membaca Al-Quran dan menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Amin.


Daftar Referensi

  • HR. Ahmad
  • At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Imam Nawawi

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100

Flyer
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri