Pernahkah kita terjebak dalam sebuah perlombaan sunyi, sebuah kompetisi tak terucap untuk menamatkan Al-Qur’an secepat mungkin? Kita menghitung lembar, menandai juz, dan merasa bangga saat berhasil mengkhatamkan dalam waktu singkat. Namun, ada sebuah pertanyaan fundamental yang mungkin terlupa: berapa banyak dari ayat-ayat itu yang benar-benar menyentuh, mengubah, dan meresap ke dalam relung jiwa kita? Di sinilah letak pergeseran paradigma yang esensial, sebuah pemahaman bahwa membaca Al-Qur’an dengan tadabbur lebih utama daripada sekadar mengejar kuantitas.

Dialog Ibn Abbas: Sebuah Pelajaran tentang Prioritas

Sebuah kisah sarat hikmah datang dari sahabat mulia, Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika, seorang pria bernama Abu Jamrah ad-Duba’i datang menemuinya dan dengan penuh semangat berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang yang cepat dalam membaca. Aku bisa membaca (mengkhatamkan) Al-Qur’an dalam tiga hari.”

Sebuah pencapaian yang mungkin akan mengundang decak kagum dari banyak orang. Namun, respons Ibn Abbas justru memberikan sebuah perspektif yang menyejukkan sekaligus mendalam. Beliau berkata:

لَأَنْ أَقْرَأَ الْبَقَرَةَ فِي لَيْلَةٍ، فَأَتَدَبَّرهَا، وَأُرَتِّلهَا أحبُّ إِلَيَّ مِنْ أَن أَقْرَأَ كَمَا تَقُولُ

“Sungguh, aku membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam, lalu aku mentadabburinya dan membacanya dengan tartil, itu lebih aku sukai daripada aku membaca (keseluruhan Al-Qur’an) seperti yang engkau katakan.”

Jawaban ini bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan sebuah kaidah emas dalam berinteraksi dengan Kalamullah. Ibn Abbas, sang “Penerjemah Al-Qur’an” (Turjumanul Qur’an), mengajarkan kita bahwa tujuan utama membaca Al-Qur’an bukanlah kecepatan, melainkan kedalaman. Satu surah yang dibaca dengan perenungan, diresapi maknanya, dan dinikmati keindahan susunannya, jauh lebih bernilai di sisinya daripada seluruh Al-Qur’an yang dibaca tergesa-gesa tanpa jejak di hati. Kisah ini menjadi penegas bahwa membaca Al-Qur’an dengan tadabbur lebih utama.

Mengapa Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur Lebih Utama?

Prinsip ini bukanlah inovasi para sahabat, melainkan pengejawantahan dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Allah menurunkan Al-Qur’an bukan sebagai bacaan yang harus dikejar targetnya, melainkan sebagai petunjuk yang harus dipahami dan diamalkan. Perhatikan firman-Nya:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Artinya: “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. Al-Isra’: 106).

Kata kunci dalam ayat ini adalah frasa ‘alā muktsin. Para ahli tafsir, seperti Imam Mujahid, menafsirkannya sebagai ‘alā tu’adatin, yang berarti “dengan tenang, perlahan, dan tidak tergesa-gesa”. Ini adalah perintah langsung agar kita melambatkan ritme bacaan, memberikan setiap huruf haknya, dan memberi ruang bagi pikiran serta hati untuk mencerna pesan ilahi yang terkandung di dalamnya.

Ketika kita membaca dengan perlahan dan penuh perenungan, dua manfaat besar akan kita rasakan secara langsung. Pertama, kita sebagai pembaca akan mendapatkan manfaat maksimal. Hati menjadi hidup, iman bertambah, dan ayat-ayat tersebut seolah berbicara langsung kepada kita, menjawab kegelisahan dan memberikan petunjuk. Kedua, orang yang mendengarkan bacaan kita pun akan ikut merasakan ketenangan dan keagungan Al-Qur’an. Bacaan yang tartil dan merdu akan lebih mudah masuk ke dalam hati pendengar, menumbuhkan kecintaan mereka pada Kalamullah.

Nasihat Para Salaf: Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur Lebih Utama

Semangat ini diwarisi dan dijaga oleh para ulama salaf. Imam Muhammad ibn al-Husayn al-Ajurri rahimahullah menegaskan prinsip ini dalam kitabnya dengan indah. Beliau berkata, “Sedikit pelajaran Al-Qur’an yang disertai dengan berpikir dan mentadabburinya lebih aku sukai daripada membaca banyak Al-Qur’an tanpa tadabbur dan tanpa perenungan.”

Beliau kemudian menegaskan bahwa prinsip ini didukung oleh dalil yang jelas dari Al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para imam kaum muslimin. Ini menunjukkan adanya sebuah konsensus tak tertulis di kalangan orang-orang saleh terdahulu, bahwa kualitas interaksi dengan Al-Qur’an jauh lebih diutamakan daripada sekadar kuantitas capaian.

Mereka memahami bahwa Al-Qur’an adalah surat cinta dari Sang Pencipta. Tidakkah kita akan membaca surat dari orang yang paling kita cintai dengan perlahan, berulang-ulang, dan mencoba memahami setiap nuansa maknanya? Begitulah seharusnya adab kita terhadap Al-Qur’an. Inilah esensi mengapa membaca Al-Qur’an dengan tadabbur lebih utama.

Transformasi dari Pembaca menjadi Penghayat

Mari kita ubah target kita. Dari “berapa juz hari ini?” menjadi “ayat mana yang menyentuh hatiku hari ini?”. Dari “kapan aku khatam lagi?” menjadi “pemahaman baru apa yang kudapatkan dari bacaanku hari ini?”.

Pergeseran ini tidak berarti kita meremehkan amalan mengkhatamkan Al-Qur’an. Sama sekali tidak. Namun, ini adalah ajakan untuk meningkatkan kualitasnya. Biarlah setiap huruf yang kita ucapkan diiringi dengan kesadaran, setiap ayat yang kita lewati diiringi dengan perenungan, dan setiap halaman yang kita tutup meninggalkan jejak kebaikan dalam diri kita.

Membaca cepat mungkin akan membawa kita ke akhir mushaf, tetapi membaca dengan tadabbur akan membawa kita lebih dekat kepada Pemilik mushaf tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla. Itulah tujuan tertinggi dari setiap interaksi kita dengan Al-Qur’an. Maka, marilah kita memilih kualitas, karena sejatinya, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur lebih utama dalam perjalanan spiritual kita.

Semoga Allah membimbing kita untuk tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sahabat setia Al-Qur’an yang senantiasa merenungi, menghayati, dan mengamalkan isinya dalam setiap tarikan napas kehidupan.

Untuk mendalami keindahan Al-Qur’an, baik dari segi bacaan maupun pemahaman, dibutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan pengalaman belajar yang transformatif.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Isra’: 106.
  • Al-Ajurri, Muhammad ibn al-Husayn. Mukhtasar Akhlaq Hamalat al-Qur’an, disajikan oleh Dr. Khalid bin ‘Utsman as-Sabt, hlm. 69, Cet. 2, Dar Ibn al-Jauzi, 1438 H.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,