Pernahkah hati Sahabat terasa nyeri, seperti ada cubitan kecil di dada, saat melihat foto teman seperjuangan sedang memegang sertifikat wisuda 30 Juz di media sosial?
Padahal dulu kalian memulainya bersama-sama. Duduk di halaqah yang sama, dengan guru yang sama. Tapi hari ini, dia sudah sampai di garis finish, sedangkan Sahabat masih tertatih-tatih berjuang di Juz 5 atau Juz 10.
Muncul bisikan-bisikan jahat di kepala: “Ah, saya memang payah,” atau “Mungkin saya memang tidak bakat jadi penghafal.” Jika pikiran ini terus menghantui, waspadalah karena hafalan Al-Quran bisa macet akibat kondisi hati yang tidak tenang.
Sahabat Qur’an, izinkan saya memeluk perasaan itu. Rasa sedih itu manusiawi. Namun, jangan biarkan ia berlarut-larut menjadi racun. Racun yang bernama “Membanding-bandingkan” ini adalah pembunuh motivasi nomor satu. Saat kita sibuk melihat “kertas ujian” orang lain, kita jadi lupa mengerjakan “kertas ujian” kita sendiri. Padahal, Allah menciptakan setiap kita dengan cetakan yang unik dan jalan takdir yang berbeda. Jangan membandingkan pencapaian hafalan kita dengan siapa pun, karena lintasan lari kita tidak sama.
Bunga Mawar Tidak Iri pada Bunga Matahari
Lihatlah ke taman. Bunga matahari mekar dengan gagah di pagi hari yang terik. Sedangkan bunga sedap malam baru menyebarkan wanginya saat gelap gulita. Apakah bunga sedap malam merasa gagal karena tidak mekar di pagi hari? Tidak. Ia tahu waktu terbaiknya.
Begitu juga kita. Ada teman yang Allah beri kelebihan kecerdasan otak, sekali baca langsung hafal. Tapi mungkin, Allah memberi Sahabat kelebihan lain: Kesabaran yang luas, keistikamahan dalam mengulang, atau air mata yang tulus saat berdoa.
Bisa jadi, teman yang cepat hafal itu ujiannya adalah menjaga hati dari kesombongan. Sedangkan Sahabat yang lambat hafal, ujiannya adalah menjaga asa dalam kesabaran. Keduanya sama-sama sedang diuji. Keduanya sama-sama mulia jika tujuannya Allah.
Allah Menilai “Keringat”, Bukan “Kalender”
Di akhirat nanti, Allah tidak akan bertanya: “Tanggal berapa kamu khatam?” atau “Berapa tahun kamu selesaikan?”
Tidak. Allah Maha Tahu betapa kerasnya Sahabat berjuang melawan kantuk. Allah Maha Melihat betapa seringnya Sahabat mengulang satu ayat yang susah masuk. Setiap tetes keringat dan lelah itu dicatat sebagai pahala jihad.
Bahkan, bisa jadi pahala Sahabat yang terbata-bata selama 10 tahun menghafal, jauh lebih banyak tumpukannya daripada mereka yang hafal kilat dalam 1 tahun. Kenapa? Karena durasi interaksi Sahabat dengan Al-Quran lebih lama dan perjuangannya lebih berat. Jadi, untuk apa bersedih?
Renungan Ayat:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing (bakat/pembawaan/niatnya)’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra: 84)
Fokus pada “Hari Ini”, Bukan “Nanti”
Obat terbaik untuk menyembuhkan hati yang iri adalah “Kacamata Kuda”. Fokuslah hanya ke depan, ke mushaf Sahabat sendiri.
Tutuplah telinga dari berita pencapaian orang lain jika itu membuat hati Sahabat keruh. Rayakanlah kemajuan kecil diri sendiri. “Alhamdulillah, hari ini saya berhasil menambah 3 baris.” Itu adalah prestasi!
Sahabatku, menghafal Al-Quran itu bukan lomba lari cepat (sprint), melainkan perjalanan panjang (maraton) menuju kematian. Tidak masalah siapa yang sampai duluan, yang penting kita semua sampai di garis akhir dalam keadaan Husnul Khatimah.
Tetaplah berjalan, meski pelan. Karena kura-kura yang terus berjalan akan sampai ke tujuan, sedangkan kelinci yang cepat tapi tertidur (berhenti) tidak akan sampai ke mana-mana.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

