Bayangkan Sahabat sedang berjalan jauh membawa sebuah karung beras di punggung. Sepanjang perjalanan, Sahabat terus-menerus memungut beras di jalan dan memasukkannya ke dalam karung dengan penuh semangat. Sahabat merasa bangga karena karung terasa semakin berat. Namun, Sahabat tidak menyadari bahwa di bagian bawah karung itu terdapat lubang kecil yang terus membesar. Semakin banyak beras yang dimasukkan dari atas, semakin deras pula beras yang tumpah dari bawah.
Sesampainya di garis finish, Sahabat membuka karung itu dengan wajah sumringah, namun apa yang terjadi? Karung itu nyaris kosong. Hanya tersisa sedikit beras yang baru saja dipungut.
Sahabat Qur’an, ilustrasi menyakitkan ini adalah gambaran nyata dari kita yang tidak pandai menyeimbangkan ziyadah dan murajaah. Kita terlalu terobsesi dengan “menambah” (ziyadah) karena sensasinya menyenangkan; ada rasa pencapaian, ada rasa “naik level”. Sementara itu, kita malas “menambal lubang” (murajaah) karena rasanya membosankan, mengulang hal yang sama terus-menerus.
Candu Bernama “Target Setoran”
Dunia modern mengajarkan kita untuk memuja angka. Berapa halaman hari ini? Sudah juz berapa? Kapan wisuda? Pertanyaan-pertanyaan ini, meski niatnya memotivasi, seringkali menciptakan tekanan psikologis yang salah. Kita jadi menghafal demi mengejar angka, bukan demi mengejar ridha Allah.
Akibatnya, kita memaksakan diri menambah hafalan baru meskipun hafalan kemarin masih samar-samar. Kita membangun rumah tingkat dua, padahal tiang lantai satu masih basah dan goyah. Apa yang terjadi? Runtuh. Saat kita sampai di Juz 10, Juz 1 sudah hilang entah ke mana. Ini bukan menghafal, ini hanya “numpang lewat”.
Seni Berhenti Sejenak (The Power of Pause)
Salah satu nasihat paling bijak dalam dunia tahfizh adalah: “Haram hukumnya menambah hafalan baru jika hafalan lama belum lancar.”
Berani mengambil keputusan untuk berhenti menambah adalah tanda kedewasaan seorang penghafal. Jangan takut dibilang lambat. Katakan pada diri sendiri: “Saya sedang tidak macet, saya sedang menguatkan pondasi.”
Cobalah buat aturan emas: Untuk setiap 1 jam waktu menghafal, gunakan 40 menit untuk murajaah hafalan lama, dan cukup 20 menit untuk menambah hafalan baru. Atau jika hafalan lama sedang kacau, dedikasikan 100% waktu untuk memperbaikinya dulu. Al-Quran tidak akan lari. Ia setia menunggu kita yang bersabar. Kita juga perlu setia pada satu mushaf untuk hafalan Al-Quran.
Menikmati Proses, Bukan Hasil Akhir
Tujuan kita menghafal bukanlah sekadar untuk cepat sampai di Juz 30 lalu berhenti. Tujuan kita adalah bersahabat dengan Al-Quran seumur hidup.
Jika kita terburu-buru, kita akan kehilangan nikmatnya meresapi makna ayat. Allah menurunkan Al-Quran secara berangsur-angsur (bertahap) kepada Rasulullah selama 23 tahun, bukan sekaligus satu malam. Tujuannya apa? Agar hati Rasulullah dan para sahabat menjadi kuat dan teguh. Ini menunjukkan betapa pentingnya proses dan bimbingan, seperti halnya saat kita belajar dengan seorang guru tahfizh.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
“Berkatalah orang-orang yang kafir: ‘Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)
Kualitas di Atas Kuantitas
Sahabatku, kelak di akhirat, kita tidak akan ditanya “Berapa lama kamu khatam?”, tapi kita akan disuruh “Bacalah dan naiklah!”. Yang dinilai adalah kualitas bacaan yang menempel di dada, bukan sekadar pernah hafal lalu lupa. Ini juga mengingatkan kita untuk selalu membangun keyakinan dalam menghafal Al-Quran.
Jadi, mari kita atur ulang strategi kita dalam menyeimbangkan ziyadah dan murajaah. Jangan biarkan karung kita bocor. Lebih baik membawa pulang satu genggam berlian yang utuh, daripada memikul sekarung pasir yang bocor tercecer di jalan. Selamat merawat hafalan dengan penuh cinta!
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


