Khutbah Jum’at

Menata Hati dengan Menghafal Al-Qur’an

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di tempat mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Sebagai pembuka khutbah hari ini, mari kita merenungkan satu hal yang mendasar dalam kehidupan seorang Muslim: bagaimana kita menjaga hati agar tetap bersih dan jernih di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin menantang. Salah satu jalan terbaik untuk menata hati adalah dengan berinteraksi secara intensif dengan Al-Qur’an, termasuk dengan upaya menghafal Al-Qur’an.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Menghafal Al-Qur’an bukanlah sebuah beban yang berat, melainkan sebuah anugerah yang Allah titipkan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Ketika seseorang memutuskan untuk memulai langkah menghafal Al-Qur’an, sejatinya ia sedang membuka pintu dialog langsung dengan Sang Pencipta. Hati yang tadinya gersang akan disirami oleh ayat-ayat suci, dan pikiran yang tadinya semrawut akan tertata oleh keagungan firman-Nya.

Dalam kehidupan modern ini, kita seringkali merasa lelah dengan beban pekerjaan, tekanan ekonomi, dan ekspektasi sosial. Kita mencari ketenangan di luar sana, padahal ketenangan sejati ada di dalam dada, yakni ketika ayat-ayat Allah bersemayam di dalamnya. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Menghafal Al-Qur’an adalah bentuk zikir yang paling utama. Ketika lidah melafalkan ayat, telinga mendengar, dan pikiran meresapi maknanya, maka seluruh raga kita sedang berada dalam frekuensi kedekatan dengan Allah. Inilah investasi terbaik yang bisa kita miliki, baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk bekal kita di akhirat kelak.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Seringkali muncul pertanyaan, apakah menghafal Al-Qur’an hanya bagi mereka yang masih muda? Tentu tidak. Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah sepanjang hayat. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Bagi kita yang disibukkan dengan urusan dunia, menghafal Al-Qur’an justru akan menjadi penyeimbang. Dengan menghafal, waktu kita menjadi lebih teratur, niat kita menjadi lebih lurus, dan setiap langkah kita menjadi lebih terarah.

Bayangkan betapa mulianya seseorang yang dalam dadanya terdapat kalamullah. Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa orang yang paling mulia di antara umatnya adalah para penghafal Al-Qur’an. Meskipun kita merasa diri ini belum mencapai derajat para ulama atau penghafal besar, langkah kecil yang kita mulai hari ini dengan niat tulus karena Allah akan dihitung sebagai amal jariyah yang luar biasa.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan waktu-waktu luang kita, perjalanan kita, dan saat-saat sebelum tidur kita untuk menyetorkan hafalan meski hanya satu atau dua ayat setiap harinya. Konsistensi jauh lebih berharga daripada kecepatan. Menghafal Al-Qur’an dengan cara yang disiplin dan terjadwal akan melatih kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan kita.

Bagi Bapak dan Ibu yang memiliki keinginan untuk lebih mendalami interaksi dengan Al-Qur’an, jangan ragu untuk mencari lingkungan yang mendukung, seperti program-program tahfizh yang dirancang untuk membantu kita berinteraksi lebih baik dengan Al-Qur’an, termasuk bagi para profesional yang memiliki waktu terbatas. Lingkungan yang shalih akan menjaga semangat kita agar tidak padam di tengah jalan.

Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk mencintai, menghafal, dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Amin ya Rabbal Alamin.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَا يَنْفَعُكُمْ إِلَّا عَمَلُكُمُ الصَّالِحُ

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di akhir khutbah ini, marilah kita senantiasa memperbarui niat. Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan menuju surga-Nya. Jangan biarkan semangat kita surut hanya karena tantangan waktu atau kesulitan hafalan. Teruslah membersamai Al-Qur’an, jadikan ia teman bicara di saat sepi, dan jadikan ia cahaya di saat gelap.

Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh




Menjaga Kemurnian Hati dengan Al-Qur’an

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Takwa adalah satu-satunya perbekalan terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Di tengah riuhnya kehidupan modern yang penuh dengan godaan duniawi, menjaga kemurnian hati dengan Al-Qur’an menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap jiwa yang merindukan ketenangan.

Hati manusia diibaratkan seperti cermin. Jika cermin itu bersih, ia akan memantulkan cahaya kebenaran dengan jelas. Namun, jika cermin itu terkena noda dosa, debu kemaksiatan, dan karat kelalaian, maka cahaya petunjuk Allah akan sulit menembus masuk ke dalam relung jiwa kita. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Itulah hati.

Bagaimana cara kita menjaga kemurnian hati tersebut? Jawabannya ada pada Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan *syifa* atau penawar bagi penyakit-penyakit hati. Di zaman yang penuh dengan distraksi ini, seringkali kita lebih banyak memberi makan jasad kita dengan nutrisi duniawi, namun membiarkan hati kita lapar dan dahaga akan siraman ruhani.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an—membacanya dengan tartil, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari—kita sedang melakukan proses detoksifikasi spiritual. Ayat-ayat Allah akan membersihkan noda-noda kesombongan, rasa iri, dengki, dan ketamakan yang sering kali mengerak di hati. Menjaga kemurnian hati dengan Al-Qur’an berarti menempatkan kalam Allah sebagai standar utama dalam mengambil keputusan, melangkah, dan berinteraksi dengan sesama.

Seringkali kita merasa cemas, tidak tenang, dan hidup terasa hampa. Padahal, kita sudah memiliki segalanya secara materi. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Al-Qur’an adalah dzikir yang paling agung. Ketika hati telah terikat dengan Al-Qur’an, ia akan menjadi sensitif terhadap dosa. Ia akan merasa tidak nyaman ketika melakukan kemaksiatan, dan ia akan merasa rindu kepada Allah setiap kali mendengar ayat-ayat suci dibacakan. Inilah tanda-tanda hati yang hidup dan terjaga kemurniannya.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Mari kita jadikan waktu-waktu luang kita untuk berinteraksi lebih intensif dengan Al-Qur’an. Bagi yang memiliki waktu dan kesempatan, belajar menghafal Al-Qur’an merupakan cara yang sangat efektif untuk menjaga kemurnian hati. Proses menghafal memaksa kita untuk mengulang-ulang ayat, merenungkan maknanya, dan menjaga lidah serta perilaku agar selaras dengan apa yang kita hafal. Komunitas yang baik seperti program Executive Tahfizh juga dapat menjadi pendukung bagi kita yang ingin fokus memurnikan hati melalui interaksi mendalam dengan Al-Qur’an di sela-sela kesibukan.

Marilah kita berupaya agar Al-Qur’an tidak hanya menjadi penghias rak buku di rumah kita, melainkan menjadi napas kehidupan. Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita, menjadikan kita hamba yang mencintai kalam-Nya, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang shalih di surga-Nya kelak.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ تَقْوَى اللهِ هِيَ طَرِيقُ النَّجَاةِ وَعِمَادُ الْفَلَاحِ

Di akhir khutbah ini, marilah kita memperkuat niat untuk terus menjaga kemurnian hati dengan Al-Qur’an. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Jangan biarkan hati kita terikat terlalu kuat pada perhiasan dunia yang sementara, hingga melupakan rumah abadi kita di akhirat. Jadikanlah setiap ayat yang kita baca sebagai cahaya yang menuntun langkah kita menuju keridhaan-Nya.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh




Meraih Keberkahan Hidup dengan Menjaga Amanah

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Sidang Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ujian. Salah satu ujian terbesar yang dipikulkan kepada manusia di muka bumi ini adalah tanggung jawab dalam menjaga amanah.

Amanah bukanlah sekadar tanggung jawab duniawi, melainkan sebuah kontrak ilahiah antara seorang hamba dengan Penciptanya. Dalam ajaran Islam, menjaga amanah merupakan salah satu indikator utama keimanan seseorang. Manusia sering kali lalai bahwa setiap posisi, harta, waktu, bahkan anggota tubuh yang kita miliki saat ini adalah bentuk titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an mengenai beratnya beban amanah ini:

اِنَّ عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُ ۗاِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab: 72)

Ayat di atas memberikan peringatan keras kepada kita. Bahwa menjaga amanah adalah perkara besar yang bahkan makhluk yang kuat seperti gunung pun merasa gentar. Namun, manusia dengan segala keterbatasannya sanggup memikulnya. Masalah muncul ketika kita menganggap amanah hanya sebatas pada hal-hal besar seperti jabatan atau kepemimpinan. Padahal, setiap detik dalam hidup kita adalah amanah.

Menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari bisa dimulai dari hal-hal kecil. Seorang ayah yang menjaga keluarganya dengan nafkah yang halal adalah bentuk amanah. Seorang karyawan yang bekerja dengan jujur tanpa mengambil yang bukan haknya adalah menjaga amanah. Seorang siswa yang belajar dengan tekun adalah menjaga amanah ilmu. Termasuk pula dalam menjaga kesehatan, waktu luang, dan kesempatan beribadah, semua itu adalah bentuk amanah yang harus kita tunaikan.

Sifat amanah adalah cerminan dari kejujuran hati. Rasulullah SAW adalah sosok yang paling terjaga amanahnya hingga dijuluki Al-Amin. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji. Kita harus menyadari bahwa integritas diri kita diuji saat tidak ada orang lain yang melihat. Inilah esensi dari iman, di mana kita merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Keberkahan hidup yang sering kita cari sering kali tersumbat justru karena kelalaian kita dalam menjaga amanah. Harta yang diperoleh dari cara yang curang atau waktu yang disia-siakan akan menghilangkan keberkahan. Sebaliknya, ketika seseorang berusaha keras untuk menunaikan amanah, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan hidupnya, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an bahwa barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar.

Mari kita lakukan muhasabah atau evaluasi diri. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang amanah dalam setiap peran yang kita jalani? Jika kita seorang pemimpin, apakah kita adil? Jika kita seorang pekerja, apakah kita telah memberikan yang terbaik? Jika kita seorang penuntut ilmu, apakah kita telah menghargai waktu dan kesempatan yang diberikan? Menjaga amanah membutuhkan perjuangan, namun buah manisnya adalah keridaan Allah SWT dan ketenangan jiwa yang luar biasa.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menunaikan amanah-amanah tersebut dengan cara terbaik. Semoga kita digolongkan ke dalam golongan hamba-Nya yang beruntung, yang senantiasa menjaga janji-Nya dan tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang khianat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ وَأَدَاءَ الْأَمَانَةِ هُمَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ

Sidang Jumat yang mulia, di penutup khutbah ini, mari kita kembali mengingat bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Segala bentuk amanah yang kita pikul akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Kekuatan untuk menjaga amanah terletak pada hubungan kita dengan Allah. Semakin erat hubungan kita dengan Al-Qur’an dan ibadah, semakin kuat pula integritas diri kita dalam menunaikan tanggung jawab.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar dikuatkan dalam memegang teguh amanah ini hingga akhir hayat.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh




Memurnikan Tauhid untuk Tahun Penuh Berkah

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Pencipta, Maha Pengatur, dan Maha Pemelihara alam semesta. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak kita sembah, kita taati, dan kita mintai pertolongan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada setiap lembaran waktu yang baru, terbentang kesempatan bagi kita untuk merenungi perjalanan hidup. Pergantian tahun seringkali menjadi momen refleksi: apa yang telah kita raih di masa lalu dan apa yang akan kita perjuangkan di masa depan. Harapan kita tentu adalah kebaikan dunia dan akhirat. Namun, terwujudnya harapan tersebut sangat bergantung pada pondasi terpenting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu kemurnian tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“…Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia; dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)

Ayat ini mengingatkan kita pada perintah terpenting setelah keimanan, yaitu untuk tidak menyembah selain Allah. Di awal tahun yang baru ini, sungguh merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi dan pemurnian terhadap hakikat tauhid kita.

Menyemai Niat Ikhlas Semata Karena Allah di Awal Tahun

Setiap langkah, setiap usaha, setiap hembusan nafas kita di tahun yang baru harus senantiasa diniatkan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niat adalah kompas spiritual yang mengarahkan seluruh aktivitas kita. Tanpa niat yang tulus ikhlas karena Allah, sekecil apapun amal perbuatan kita tidak akan bernilai di sisi-Nya, bahkan bisa menjadi sia-sia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah karena apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pergantian tahun kerap kali membawa serta berbagai harapan, resolusi, dan target baru. Mari kita pastikan, seluruh agenda dan rencana kita di tahun ini, baik yang bersifat personal, profesional, maupun spiritual, semuanya kita landasi dengan niat karena Allah. Misalnya, saat kita bertekad untuk meningkatkan kualitas karier, niatkan agar kita dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat, serta agar rezeki yang halal dapat kita gunakan untuk menegakkan ketaatan kepada Allah. Saat kita bertekad untuk menuntut ilmu, niatkan agar pemahaman agama kita semakin mendalam, sehingga semakin kokoh dalam beribadah dan menebar kebaikan. Intinya, segala sesuatu harus berpusat pada satu titik: Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Membebaskan Diri dari Belenggu Ketergantungan pada Makhluk

Bersamaan dengan upaya menetapkan niat yang ikhlas, momentum awal tahun ini juga menjadi saat yang sangat strategis untuk mengevaluasi dan membebaskan diri dari segala bentuk ketergantungan yang berlebihan pada makhluk. Seringkali, tanpa kita sadari, hati kita ini menjadi begitu rapuh dan rentan tergoda. Kita mendambakan pujian manusia, gentar akan celaan manusia, berambisi besar untuk mendapatkan pengakuan dari pihak tertentu, atau merasa cemas berlebihan jika tidak mendapatkan perhatian dari orang lain. Ketergantungan pada makhluk inilah yang perlahan namun pasti menggerogoti kemurnian tauhid kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah, kepada (sembahan-sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa) mereka sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf [46]: 5)

Ayat ini dengan tegas mengingatkan kita bahwa siapa pun yang menggantungkan harapan, ketakutan, atau kecintaannya pada selain Allah, sesungguhnya ia telah tersesat. Betapa lemahnya kedudukan makhluk di hadapan Allah, betapa tidak berdayanya mereka untuk memberikan kebaikan atau mencegah keburukan tanpa izin dari-Nya. Menggantungkan harapan pada makhluk seringkali bermakna menyembah makhluk tersebut. Ini merupakan bentuk syirik kecil yang sangat berbahaya dan dapat merusak keislaman seseorang.

Di tahun yang baru ini, marilah kita latih hati kita untuk senantiasa bersandar hanya kepada Allah. Ketika kita membutuhkan sesuatu, kembalikanlah permohonan kita kepada Allah. Ketika kita dilanda ketakutan, mohonkanlah perlindungan hanya kepada Allah. Ketika kita menginginkan kebaikan, berharaplah segala sesuatu hanya dari Allah semata. Dengan demikian, hati kita akan menjadi lebih tenang, teguh, dan terbebas dari belenggu ketergantungan pada makhluk.

Waspada Terhadap Syirik Terselubung di Momentum Awal Tahun

Selain ketergantungan pada makhluk, terdapat pula bahaya syirik terselubung yang seringkali muncul, terutama pada momen-momen seperti pergantian tahun. Salah satu contohnya adalah kebiasaan meramal nasib atau mendatangi peramal.

Banyak orang merasa terdorong untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, baik terkait karier, jodoh, kesehatan, maupun keberuntungan. Padahal, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui segala sesuatu yang gaib. Percaya pada ramalan atau mendatangi peramal adalah bentuk syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari lingkaran Islam. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi seorang peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang mendatangi seorang peramal atau dukun lalu mempercayai apa yang ia katakan, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, dengan sanad yang hasan)

Sungguh ancaman yang sangat berat. Meramal nasib atau mendatangi peramal merupakan bentuk syirik karena menyandarkan pengetahuan gaib, yang hanya dimiliki Allah, kepada makhluk-Nya. Ini sama saja dengan menduakan Allah dalam hal keyakinan dan keghaiban.

Di tahun yang baru ini, mari kita perkuat komitmen kita untuk menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung. Hendaknya kita senantiasa meyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Fokuslah pada ikhtiar dan doa, lalu serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Jika ada prediksi yang baik, jangan sampai hal itu membuat kita terlena dan lalai dari kewajiban. Jika ada prediksi yang buruk, jangan sampai hal itu membuat kita putus asa dan berputus asa dari rahmat Allah.

Marilah kita jadikan tahun yang baru ini sebagai titik tolak untuk memurnikan tauhid kita secara total. Dengan tauhid yang murni dan kokoh, insya Allah hidup kita akan menjadi lebih bermakna, hati kita akan senantiasa diliputi ketenangan, dan seluruh amal perbuatan kita akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاصْرِفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الشِّرْكِ كُلِّهِ، دِقِّهِ وَجِلِّهِ، ظَاهِرِهِ وَخَفِيِّهِ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا نَعْلَمُ وَلِمَا لَا نَعْلَمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh



Hakikat Ihsan dalam Empat Dimensi Kehidupan | Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Segala puji hanya milik Allah, Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang tak henti-hentinya mengalirkan nikmat-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, teladan terbaik dalam mewujudkan Hakikat Ihsan dalam Kehidupan. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas takwa kita. Takwa yang bukan sekadar ucapan, melainkan manifestasi nyata dalam bentuk amal saleh dan penghambaan yang tulus kepada-Nya.

Hari ini kita hidup di tengah zaman yang penuh dengan dinamika dan godaan materi. Seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang membuat kita lupa akan hakikat keberadaan kita sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Islam hadir bukan hanya sebagai ritual ibadah lahiriah, tetapi sebagai panduan universal untuk mencapai derajat tertinggi dalam beragama, yaitu Ihsan. Secara bahasa, ihsan berarti berbuat baik, memperbagus, atau menyempurnakan. Namun, secara maknawi, ihsan mencakup empat dimensi utama: kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta.

Pertama: Hakikat Ihsan kepada Allah dengan Memurnikan Ibadah

Dimensi pertama dan yang paling mendasar adalah ihsan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mendefinisikan ihsan dalam sebuah hadits masyhur ketika menjawab pertanyaan Malaikat Jibril. Beliau bersabda bahwa ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Inilah puncak dari ketauhidan, di mana seorang hamba menyadari sepenuhnya kehadiran Sang Pencipta dalam setiap embusan napasnya.

Berbuat baik atau ihsan kepada Allah berarti memberikan hak-hak Allah dengan penuh ketaatan dan kekhusyukan. Kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An-Nisa: 36)

Kezaliman terbesar kepada Allah adalah ketika kita menduakan-Nya atau menganggap ada kekuatan lain yang setara dengan-Nya. Hakikat Ihsan dalam Kehidupan dimulai dari hati yang bersih dari noda syirik, baik syirik yang tampak maupun yang tersembunyi seperti riya atau pamer dalam beribadah. Mari kita audit kembali shalat kita, zakat kita, dan seluruh amal kita. Apakah sudah benar-benar murni karena Allah, ataukah masih terselip keinginan untuk dipuji manusia? Ihsan menuntut kita untuk menghadirkan Allah di setiap saat, sehingga kita merasa malu untuk bermaksiat dan merasa tenang dalam ketaatan.

Kedua: Ihsan kepada Diri Sendiri dengan Menjaga Fitrah

Banyak dari kita yang sangat sibuk mengurusi urusan orang lain, namun justru abai terhadap keselamatan dirinya sendiri. Berbuat baik pada diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan pemenuhan amanah Allah atas raga dan jiwa yang kita miliki. Tubuh kita, mata kita, telinga kita, dan hati kita adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Janganlah kita menzalimi diri sendiri dengan menjerumuskannya ke dalam lembah maksiat atau gaya hidup yang merusak. Setiap dosa yang kita lakukan sebenarnya tidak merugikan Allah sedikit pun, melainkan merusak diri kita sendiri. Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Implementasi nyata dari ihsan kepada diri sendiri mencakup menjaga kesehatan jasmani dengan mengonsumsi makanan yang halal lagi baik, serta memberikan nutrisi bagi ruhani dengan ilmu, dzikir, dan tadabbur Al-Qur’an. Seseorang yang membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut, kemalasan yang kronis, atau kecanduan terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat, sesungguhnya ia telah menzalimi dirinya sendiri. Hakikat Ihsan dalam Kehidupan menuntut kita untuk mencintai diri sendiri dengan cara membimbingnya menuju ridha Allah agar selamat di dunia dan akhirat.

Ketiga: Ihsan kepada Sesama dengan Menebar Kedamaian

Dimensi ketiga yang sangat ditekankan dalam Islam adalah ihsan kepada sesama manusia. Islam bukan sekadar hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan horizontal yang harmonis. Tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Berbuat baik kepada sesama berarti memberikan hak-hak mereka, menghargai martabat mereka, dan memberikan bantuan saat mereka membutuhkan.

Kezaliman sosial seperti ghibah (menggunjing), fitnah, adu domba, hingga penipuan dalam muamalah adalah perbuatan yang menghancurkan tatanan kehidupan. Kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi orang banyak. Rasulullah SAW memberikan standar kemuliaan seseorang pada kebermanfaatannya. Beliau bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Mari kita renungkan interaksi kita sehari-hari. Apakah kehadiran kita membawa ketenangan atau justru menjadi sumber kegelisahan bagi tetangga? Apakah lisan kita memotivasi atau justru melukai hati kawan kita? Hakikat Ihsan dalam Kehidupan bermasyarakat adalah memperlakukan orang lain dengan akhlak yang mulia, membantu yang lemah, serta memberikan rasa aman. Ingatlah bahwa doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang antara dirinya dengan Allah. Oleh karena itu, berbuat baik kepada sesama adalah investasi pahala yang luar biasa besar.

Keempat: Ihsan kepada Lingkungan dan Alam Semesta

Terakhir, yang sering kali terlupakan, adalah ihsan kepada lingkungan dan alam semesta. Allah menempatkan manusia di bumi sebagai khalifatullah fil ardh, yang bertugas sebagai pengelola dan pemakmur, bukan sebagai perusak. Seluruh komponen alam semesta, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga udara yang kita hirup, adalah ayat-ayat Allah yang nyata yang harus dijaga kelestariannya.

Kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini—seperti polusi udara yang menyesakkan, banjir akibat sampah, hingga krisis iklim yang ekstrem—sebagian besar merupakan dampak dari hilangnya Hakikat Ihsan dalam Kehidupan manusia terhadap alam. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Berbuat baik pada lingkungan bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana namun konsisten: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, menanam pohon di lingkungan sekitar, serta tidak menyiksa binatang. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menceritakan seseorang yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebaliknya, ada seorang wanita yang diancam neraka karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan. Hal ini membuktikan bahwa ihsan kepada makhluk tak bernyawa sekalipun memiliki nilai yang sangat berat dalam timbangan amal kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Keempat dimensi ihsan ini adalah satu kesatuan yang utuh. Seseorang tidak bisa dikatakan benar-benar berbuat ihsan jika ia hanya rajin shalat namun kasar kepada tetangga, atau rajin bersedekah namun merusak alam sekitarnya. Mari kita jadikan Hakikat Ihsan dalam Kehidupan sebagai prinsip utama dalam setiap aktivitas kita. Bagi jamaah yang ingin mendalami Al-Qur’an lebih jauh sebagai panduan hidup, program Executive Tahfizh Yogyakarta hadir untuk membantu kita berinteraksi lebih dekat dengan kalamullah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar mampu menjadi golongan Al-Muhsinin—orang-orang yang senantiasa memperbagus amalnya dalam setiap dimensi kehidupan. Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kezaliman dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup dari rangkaian ibadah Jumat ini, mari kita kuatkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ihsan adalah ruh dari setiap amal perbuatan kita. Tanpa ihsan, amal ibadah kita hanyalah rutinitas kosong tanpa makna. Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Mari kita jaga kesehatan raga dan kesucian hati kita sebagai bentuk syukur. Mari kita jalin silaturahmi yang hangat dengan sesama tanpa prasangka buruk. Dan mari kita jaga lingkungan tempat kita berpijak agar bumi ini tetap layak dihuni oleh generasi mendatang.

Dengan menerapkan Hakikat Ihsan dalam Kehidupan secara komprehensif, kita memohon agar Allah SWT menurunkan keberkahan-Nya dari langit dan mengeluarkan keberkahan dari dalam bumi, memberikan ketentraman dalam keluarga kita, serta memberikan kejayaan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِينَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ الَّذِينَ يَعْبُدُونَكَ كَأَنَّهُمْ يَرَوْنَكَ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِينَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي بِيئَتِنَا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.


Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh

Muhasabah dan Hijrah Tahun Baru 1 Muharram 1448 H | Khutbah Jum’at

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Memperjalankan waktu, yang menggulung siang dan malam sebagai tanda bagi orang-orang yang berakal. Tidak terasa, kita kini berada di penghujung tahun 1447 Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang perjuangan hijrahnya telah membawa cahaya iman hingga sampai kepada kita hari ini.

Sebagai khatib, kami berwasiat kepada diri kami pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Takwa adalah satu-satunya bekal yang tidak akan pernah kedaluwarsa. Takwa adalah pakaian terbaik saat kita menghadap Sang Pencipta. Mari kita pastikan bahwa di sisa usia ini, setiap langkah kita selalu berada dalam payung ketaatan kepada-Nya.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Waktu adalah modal utama kita di dunia ini. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa hal yang paling jauh dari kita adalah masa lalu. Seberapa pun kuatnya kita berlari mengejarnya, seberapa pun kayanya kita untuk membelinya kembali, masa lalu tidak akan pernah kembali. Ia telah pergi dengan membawa seluruh catatan amal kita, baik atau buruk, tanpa sisa.

Saat ini, kita berada di ambang pintu Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Momen ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan sebuah jeda krusial bagi setiap jiwa untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Perintah “waltandzur nafsun ma qaddamat lighad” — hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang disiapkan untuk hari esok — adalah perintah untuk menimbang amal sebelum kelak ditimbang di hadapan Allah. Jika kita seorang pebisnis, kita pasti akan menghitung untung dan rugi di akhir tahun. Maka, bagaimanakah dengan perniagaan kita dengan Allah? Sudahkah kita beruntung dengan pahala, atau justru merugi karena tumpukan dosa selama 1447 Hijriah ini?

Muhasabah Spiritualitas dan Kedekatan dengan Al-Qur’an

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Mari kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam. Selama setahun terakhir ini, bagaimanakah interaksi kita dengan kitab suci Al-Qur’an? Apakah kita telah menjadikannya sebagai petunjuk hidup, atau sekadar pajangan yang berdebu di sudut rumah? Kita sering mengeluh hidup kita sempit, dada kita sesak, dan masalah datang bertubi-tubi, namun mungkin itu semua karena kita telah jauh dari cahaya Kalamullah.

Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H adalah waktu yang paling tepat untuk memperbaiki hubungan tersebut. Jika selama ini kita sulit menghafal atau memahami Al-Qur’an karena kesibukan, mungkin kita perlu mengatur ulang prioritas kita. Program-program pengembangan diri spiritual seperti Executive Tahfizh bisa menjadi salah satu sarana untuk mengembalikan kedekatan kita dengan Al-Qur’an secara terarah di tengah padatnya rutinitas.

Banyak di antara kita yang mungkin merasa sudah terlambat untuk memulai. Namun ingatlah, tidak ada kata terlambat selama napas masih berhembus. Hijrah itu dimulai dari niat yang kuat untuk menjadi lebih baik. Jika di tahun 1447 Hijriah interaksi kita dengan Al-Qur’an masih sangat minim, mari berazam agar di tahun 1448 Hijriah nanti, tiada hari yang terlewat tanpa membaca dan mentadabburi ayat-ayat-Nya.

Esensi Hijrah di Era Modern

Sidang Jumat yang berbahagia,

Tahun baru Hijriah mengingatkan kita pada peristiwa agung, yakni Hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Esensi hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah keadaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).

Dalam konteks menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, mari kita aplikasikan makna hijrah ini dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita hijrah dari lisan yang sering menggunjing menjadi lisan yang basah dengan dzikir. Mari kita hijrah dari mata yang sering melihat yang haram menjadi mata yang sering menangis karena takut kepada Allah. Mari kita hijrah dari hati yang penuh iri dengki menjadi hati yang bersih dan penuh kasih sayang.

Mari kita renungkan, apakah kita masih sering menunda-nunda shalat karena alasan pekerjaan? Apakah kita masih sering kikir dalam bersedekah padahal Allah telah melimpahkan banyak rezeki? Momentum 1 Muharram 1448 H harus menjadi titik balik. Kita ingin menutup lembaran lama yang penuh noda dengan taubat yang sungguh-sungguh, dan membuka lembaran baru dengan tinta ketaatan.

Mengingat Kematian Sebagai Pengingat Waktu

Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,

Pergantian tahun juga merupakan pengingat yang sangat nyata tentang kematian. Bertambahnya angka tahun berarti berkurangnya jatah umur kita di dunia. Setiap kali matahari terbenam di akhir tahun, itu artinya kita semakin dekat satu tahun menuju liang lahat. Kematian tidak menunggu kita siap. Kematian tidak menunggu kita tua. Kematian datang secara tiba-tiba.

Oleh karena itu, orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan bekal sebelum ajal menjemput. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal saat nyawa sudah di kerongkongan, seraya berkata, “Ya Allah, kembalikan aku ke dunia agar aku bisa beramal shalih.” Saat itu, penyesalan sudah tidak lagi berguna. Mari kita jadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H sebagai tahun peningkatan kualitas iman. Jika tahun lalu kita masih lalai, mari kita perbaiki di tahun ini.

Sebagai kesimpulan khutbah pertama ini, mari kita renungkan nasihat dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang (di hari kiamat).”

Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus memperbaiki diri dan menjadikan tahun yang akan datang sebagai tahun penuh keberkahan dan ketaatan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita manfaatkan beberapa hari terakhir di bulan Dzulhijjah ini untuk memperbanyak istighfar. Mari kita memohon maaf kepada orang-orang yang mungkin pernah kita sakiti, dan mari kita memohon ampun kepada Allah atas segala kewajiban yang kita telantarkan. Sungguh, Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau kembali.

Menyongsong Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, mari kita bangun tekad baru. Tekad untuk menjadi hamba yang lebih baik, tekad untuk menjadi kepala keluarga yang lebih bertanggung jawab, tekad untuk menjadi masyarakat yang lebih peduli, dan tekad untuk menjadi hamba yang lebih mencintai Al-Qur’an. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita agar selalu berada di jalan yang diridhai-Nya.

Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon kebaikan untuk diri kita, keluarga kita, dan umat Islam secara keseluruhan.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَواتِ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَامَنَا الْمَاضِيَ كَفَّارَةً لِذُنُوبِنَا، وَاجْعَلْ عَامَنَا الْقَادِمَ عَامَ بَرَكَةٍ وَفَتْحٍ وَتَوْفِيْقٍ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh