Artikel

Ciri-Ciri Malam Lailatul Qadar Jangan Sampai Terlewat

Malam yang Nilainya Lebih Baik dari 83 Tahun Beribadah

Kita tidak tahu persis malam mana itu. Tapi Allah tidak membiarkan kita dalam kegelapan total — ada tanda-tandanya. Dan mereka yang tahu tandanya akan bersiap, bukan hanya menunggu.

Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar jatuh di salah satu malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan. Persiapan terbaik bukan menebak tanggalnya, melainkan mengisi semua malam ganjil itu dengan penuh. Konsep ini diajarkan secara mendalam di Executive Tahfizh sebagai bagian dari pembentukan karakter ruhani peserta.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Dari hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tanda Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, tidak panas tidak dingin, bulan terlihat separuh, dan matahari terbit tanpa sinar yang menyengat. Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bâri mengingatkan bahwa tanda-tanda ini bersifat umumnya dan tidak mutlak di setiap tempat dan zaman. Maka persiapkan semua malam ganjil dengan sungguh-sungguh.

Penutup

Jangan tunggu tandanya dulu baru beramal. Isi setiap malam ganjil 10 terakhir Ramadan dengan doa, tilawah, dan taubat. Semoga Allah pertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Referensi

Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fath Al-Bâri Syarh Shahîh Al-Bukhâri. Jilid 4. Beirut: Dâr Al-Ma’rifah, 1379 H.

Syarah hadis paling otoritatif ini membahas tanda-tanda dan keutamaan Lailatul Qadar secara rinci dan komprehensif.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Makna Surat Al Qadr dan Tafsir Malam Lailatul Qadar Lengkap

Surat Terpendek dengan Makna Terdalam: makna Surat Al Qadr

Hanya lima ayat. Tiga puluh kata. Satu surat yang namanya diabadikan sebagai salah satu momen paling agung dalam sejarah alam semesta. Surat Al-Qadr bukan hanya bacaan ritual Ramadan—ia adalah “surat yang menjelaskan dirinya sendiri”, menceritakan sebuah malam yang ia namai, mengungkap keistimewaannya, dan menutup dengan pernyataan yang membuat setiap Muslim gemetar dalam keindahan: “Salam—kedamaian—hingga terbitnya fajar.”

Memahami Surat Al-Qadr ayat per ayat adalah salah satu cara terbaik untuk mendalami esensi Lailatul Qadar. Mari kita telusuri bersama, dengan panduan dari para mufassir (ahli tafsir) terbesar dalam sejarah Islam. Ayat pertama: “Innaa anzalnaahu fii lailatul qadr”—”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan.” Siapa yang dimaksud “kami”? Ini adalah “kami” dalam pengertian keagungan (nunu al-‘azhama), bukan berarti Allah lebih dari satu. Dan “nya” yang diturunkan adalah Al-Qur’an.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada Lailatul Qadar dalam dua pengertian. Pertama, turun secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia (Baitul Izzah). Kedua, inilah malam di mana wahyu Al-Qur’an pertama kali turun kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril. Kedua pengertian ini tidak bertentangan—keduanya bisa terjadi bersamaan atau pada momen yang saling berkaitan. Yang penting adalah: Al-Qur’an dan Lailatul Qadar memiliki ikatan yang tidak bisa dipisahkan.

Ini mengandung pesan yang sangat dalam: malam ini bukan sekadar malam biasa yang diberi label istimewa. Lailatul Qadar menjadi mulia justru karena Al-Qur’an diturunkan di dalamnya. Ini berarti kedekatan dengan Al-Qur’an adalah kunci untuk merasakan kemuliaan Lailatul Qadar. Mereka yang hidupnya dipenuhi dengan Al-Qur’an—membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya—memiliki koneksi yang lebih organik dengan malam ini dibanding mereka yang hanya mengenal Al-Qur’an di bulan Ramadan saja.

Ayat kedua: “Wa maa adraaka maa lailatul qadr”—”Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” Ini adalah gaya bahasa Al-Qur’an yang sangat khas ketika ingin menekankan sesuatu yang sangat besar. Pola “wa maa adraaka” muncul beberapa kali dalam Al-Qur’an, selalu mendahului penjelasan tentang sesuatu yang melampaui kemampuan pikiran manusia untuk memahaminya secara penuh. Allah seolah berkata: “Kamu tidak akan bisa memahaminya secara sempurna hanya dengan akal—biarkan Aku yang menjelaskannya.”

Pertanyaan retoris ini juga mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dimensi-dimensi yang tidak sepenuhnya tersingkap kepada manusia. Ada aspek-aspek dari malam ini yang hanya diketahui oleh Allah dan para malaikat—keagungan yang melampaui kapasitas persepsi manusiawi. Rasa rendah hati di hadapan misteri ini seharusnya menjadi sikap yang mengiringi setiap Muslim dalam mencari Lailatul Qadar.

Ayat ketiga: “Lailatul qadri khairum min alfi syahr”—”Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Inilah ayat yang menjadi fondasi dari seluruh diskusi tentang Lailatul Qadar. Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa “lebih baik” di sini bermakna bahwa nilai ibadah di satu malam Lailatul Qadar melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadar. Ini bukan perbandingan yang bisa dikalkulasi oleh matematika manusia—ini adalah keputusan Allah yang melampaui logika transaksional.

Seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan. Ini bukan angka yang dipilih secara sembarangan. Para ulama menyebutkan bahwa ini adalah rata-rata usia orang-orang shaleh di antara umat-umat sebelum Islam. Dengan kata lain, seorang Muslim yang mendapatkan Lailatul Qadar dan beribadah di dalamnya telah mengimbangi amal ibadah seumur hidup seseorang dari generasi sebelumnya—yang mungkin hidup jauh lebih lama. Ini adalah “subsidi” Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW yang umurnya relatif lebih pendek.

Kaitan antara Al-Qur’an dan Lailatul Qadar seharusnya mendorong setiap orang tua untuk memikirkan investasi terbaik bagi masa depan spiritual anak-anaknya. Anak yang hafal Al-Qur’an bukan hanya memiliki aset dunia—ia membawa cahaya yang akan menerangi keluarganya di akhirat. Untuk informasi lengkap tentang bagaimana memulai perjalanan ini, kunjungi Executive Tahfizh dan temukan metode yang telah terbukti menghasilkan generasi Qur’ani yang unggul.

Ayat keempat: “Tanazzalul malaa’ikatu war-ruuhu fiihaa bi’idzni rabbihim min kulli amr”—”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” Kata “tanazzalu” dalam bahasa Arab menggunakan bentuk mudhari’ (present tense) yang mengisyaratkan kejadian yang berulang—bukan hanya terjadi sekali di masa lalu, melainkan terus terjadi setiap Lailatul Qadar hingga hari kiamat.

Imam Al-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa jumlah malaikat yang turun di Lailatul Qadar melampaui jumlah kerikil di muka bumi. Ini bukan hiperbola puitis—ini adalah gambaran tentang betapa seriusnya “operasi langit” yang berlangsung di malam tersebut. Setiap malaikat turun dengan misi tertentu: ada yang mengaminkan doa, ada yang mencatat amal, ada yang membawa rahmat, dan ada yang ditugaskan untuk hal-hal lain yang hanya Allah ketahui.

Frase “bi’idzni rabbihim” (dengan izin Tuhannya) adalah detail yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa seluruh aktivitas kosmis di Lailatul Qadar berada di bawah kendali penuh Allah—tidak ada malaikat yang bergerak atas inisiatif sendiri. Setiap keberkahan yang turun, setiap doa yang dikabulkan, setiap rahmat yang diberikan—semuanya adalah hasil dari izin dan keputusan Allah yang Maha Kuasa. Ini memperkuat keyakinan kita bahwa beribadah di Lailatul Qadar bukan tentang “memancing” keberuntungan, melainkan tentang menjemput kasih sayang Allah yang sudah disiapkan sejak langit dan bumi diciptakan.

Ayat kelima—ayat penutup yang paling indah: “Salaamun hiya hattaa mathla’il fajr”—”Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Kata “salaam” di sini diperdebatkan oleh para ulama: apakah ia berarti “selamat dari keburukan” atau “salam dari malaikat kepada orang-orang yang beribadah”? Ibnu Katsir mengambil posisi bahwa kedua makna ini bisa berlaku sekaligus—malam Lailatul Qadar adalah malam yang selamat dari segala keburukan, sekaligus malam di mana para malaikat menyampaikan salam kepada setiap mukmin yang beribadah.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ۝ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4-5)

Membaca Surat Al-Qadr dengan pemahaman yang dalam seharusnya menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar kagum. Ia seharusnya menghasilkan tekad yang membara untuk tidak menyia-nyiakan satupun malam dari sepuluh malam terakhir Ramadan. Setiap ayatnya adalah undangan personal dari Allah kepada setiap Muslim: “Malam ini Aku siapkan segala sesuatunya. Pintu-Ku terbuka lebar. Malaikat-Ku sudah siap mengaminkan doamu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah datang—dengan hati yang tulus dan tekad yang bulat.”

Tradisi membaca Surat Al-Qadr sebagai wirid malam—khususnya di malam-malam sepuluh terakhir Ramadan—adalah praktik yang sangat dianjurkan. Membacanya tujuh kali setiap selesai shalat fardhu di sepuluh hari terakhir adalah amalan yang diamalkan oleh banyak ulama salaf. Bukan karena angka tujuh memiliki kekuatan magis, tetapi karena pengulangan yang konsisten membantu meresapkan makna ayat-ayat tersebut ke dalam kesadaran kita, memperbarui niat kita, dan menjaga fokus kita pada tujuan utama Ramadan.

Penutup

Pahami Surat Al-Qadr bukan hanya di bibir, tapi di hati. Al-Qur’an adalah kunci Lailatul Qadar sejati. Daftarkan anak Anda di program tahfizh terbaik: +6281224003100. Semoga Allah memberkahi.

Referensi

Al-Razi, Fakhruddin Muhammad bin Umar. Mafatih Al-Ghaib (Al-Tafsir Al-Kabir). Jilid 32. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Keutamaan Menjadi Penghafal Al Quran di Era Modern

Menjaga Kemuliaan di Tengah Arus Perubahan Dunia

Berdiri tegak dengan Al Quran dalam genggaman jiwa adalah sebuah prestasi yang tidak tertandingi oleh jabatan duniawi mana pun. Kita hidup di masa di mana informasi membanjir tanpa henti, namun seringkali meninggalkan kekosongan dalam batin. Di sinilah letak keistimewaan kita: ketika kita memilih untuk memenuhi ruang jantung kita dengan susunan kalimat Tuhan yang sempurna, kita sebenarnya sedang membangun perisai baja dari segala bentuk kegelisahan zaman.

Al Quran bukan sekadar teks masa lalu, melainkan energi hidup yang mampu menyeimbangkan kesehatan mental, emosional, dan spiritual kita. Bergabung dengan Executive Tahfizh berarti kita sedang menginvestasikan waktu yang paling berharga untuk mendapatkan jaminan keamanan di hari di mana tidak ada lagi perlindungan selain dari rahmat-Nya.

Penghafal Al Quran adalah keluarga Allah yang berjalan di muka bumi dengan penuh martabat dan ketenangan.

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahli Al-Qur’an, merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad)

Kisah kemuliaan penghafal Quran sudah dimulai sejak masa sahabat. Mush’ab bin Umair, seorang pemuda ningrat yang meninggalkan segala kemewahan demi memeluk cahaya iman, menjadi duta pertama yang membawa Al Quran ke Madinah. Kemuliaannya terpancar bukan dari pakaian sutranya, melainkan dari kemampuannya mentransformasi masyarakat melalui untaian wahyu yang ia hafal dan amalkan dengan sepenuh hati.

Di era modern ini, kecerdasan buatan dan teknologi mungkin bisa menyimpan data Quran, namun mereka tidak memiliki ruh. Kitalah yang bertugas memberikan ruh itu ke dalam masyarakat. Menghafal Quran meningkatkan kapasitas kognitif kita, memperhalus budi pekerti, dan memberikan ketajaman dalam mengambil keputusan. Ini adalah bentuk pengembangan diri yang paling holistik karena menyentuh aspek ketuhanan dalam diri manusia.

Setiap huruf yang kita baca mengandung sepuluh kebaikan, dan bayangkan jika jutaan huruf sudah menetap dalam ingatan kita. Keberkahan akan mengalir dalam bisnis kita, dalam keluarga kita, dan dalam setiap langkah kaki kita. Dunia akan mengejar kita ketika kita memilih untuk mengejar apa yang dicintai oleh Sang Pemilik Dunia.

Kesimpulan

Duhai Rabb, muliakanlah kami dengan Al Quran, hiasilah akhlak kami dengan keindahannya, dan kumpulkanlah kami bersama para Nabi di surga-Mu kelak. Amin.

Referensi:
As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Quran. Kairo: Dar al-Salam, 2008.
Sebuah karya ensiklopedis yang membahas berbagai sisi keagungan Al Quran dan keistimewaan yang terkandung di dalam setiap ayatnya.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Zakat Fitrah Waktu Terbaik dan Cara Menunaikannya

Jangan Sampai Zakat Fitrahmu Jadi Sedekah Biasa

Tahukah Anda bahwa zakat fitrah yang dibayar setelah sholat Idul Fitri statusnya hanya menjadi sedekah biasa, bukan zakat? Ini bukan masalah kecil. Banyak Muslim yang tidak tahu batasan waktu ini dan merugi tanpa disadari.

Zakat fitrah wajib ditunaikan mulai dari awal Ramadhan hingga sebelum sholat Id. Namun waktu paling afdhal adalah setelah subuh hingga sebelum sholat Id di hari pertama Syawal. Di Executive Tahfizh, pemahaman fiqh zakat diajarkan agar santri tidak hanya hafal Quran tetapi juga paham kewajiban-kewajiban Islam secara menyeluruh.

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud no. 1609, dishahihkan Al-Albani)

Imam Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa besaran zakat fitrah adalah satu sha’ (sekitar 2,5-3 kg) dari makanan pokok daerah setempat. Di Indonesia, ini setara dengan 2,5 kg beras atau nilai uangnya. Fungsinya adalah menyucikan puasa dan membahagiakan fakir miskin di hari raya.

Penutup

Jangan tunda zakat fitrah hingga malam takbiran. Tunaikan segera dan sempurnakan puasamu. Info Quran: +6281224003100.

Referensi

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Al-Kafi fi Fiqh Al-Imam Ahmad. Di-tahqiq oleh Abdullah bin Abdul Muhsin Al-Turki. Juz 1. Beirut: Hijr, 1997.

Kitab fiqh ringkas namun komprehensif yang membahas hukum zakat fitrah beserta besaran, waktu, dan syarat-syarat penyalurannya kepada mustahiq.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Taubat Nasuha di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Pintu Ampunan Paling Lebar Hanya Terbuka Sebentar Lagi

Ada orang yang telah berbuat dosa selama bertahun-tahun, lalu ia bertaubat dengan sungguh-sungguh di satu malam Ramadhan, dan Allah hapus semua dosanya seolah tidak pernah ada. Kisah ini bukan dongeng, ini janji Allah yang tertulis dalam Al-Quran.

10 hari terakhir Ramadhan adalah momentum taubat yang tidak ada duanya. Dosa-dosa yang terasa berat pun bisa luruh jika syarat taubat terpenuhi. Program pembinaan karakter di Executive Tahfizh menempatkan taubat dan perbaikan diri sebagai fondasi sebelum menghafal Al-Quran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh (nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Imam An-Nawawi merumuskan bahwa taubat nasuha memiliki tiga syarat pokok: berhenti dari dosa, menyesali perbuatan tersebut, dan berazam untuk tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ada syarat keempat yaitu mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.

Penutup

Ramadhan hampir usai. Taubat hari ini bisa jadi taubat terakhir yang Allah terima. Jangan tunda. Hubungi +6281224003100.

Referensi

Imam An-Nawawi. Riyadh As-Shalihin. Di-tahqiq oleh Syuaib Al-Arnauth. Juz 1. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1997.

Kitab hadits populer yang memuat bab khusus tentang taubat nasuha beserta syarat-syaratnya dan kisah-kisah nyata taubat dari generasi salaf.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta

Panduan Iktikaf bagi Pekerja Kantoran Tetap Produktif Berpahala

Siapa Bilang Iktikaf Hanya untuk Orang yang Tidak Kerja?

Banyak profesional mengurungkan niat iktikaf karena merasa tidak punya waktu. Padahal, iktikaf bisa dilakukan secara fleksibel — bahkan beberapa jam saja sudah bernilai, menurut sebagian ulama. Pertanyaannya bukan “apakah kamu bisa?” tapi “seberapa kuat niatmu?”

Iktikaf adalah berdiam di masjid dengan niat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi pekerja, iktikaf akhir pekan di 10 malam terakhir sudah cukup sebagai titik awal. Metode manajemen waktu ibadah seperti ini juga diajarkan secara praktis di Executive Tahfizh agar Al-Quran dan dunia kerja bisa berjalan beriringan.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ

“Nabi ﷺ selalu beri’tikaf setiap Ramadan selama sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044)

Jadwal iktikaf yang realistis untuk pekerja: Jumat malam hingga Senin pagi di tiga akhir pekan terakhir Ramadan. Isi waktu dengan tahajud, tilawah, zikir, dan meminimalkan akses gadget. Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughnî menjelaskan bahwa syarat sah iktikaf adalah niat, berada di masjid, dan muslim yang mumayyiz — tidak harus penuh 10 hari bagi yang terhalang uzur.

Penutup

Niatkan iktikaf walau satu malam. Allah menghargai setiap langkah menuju-Nya. Semoga Allah mudahkan dan menerima ibadah kita di akhir Ramadan ini.

Referensi

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Al-Mughnî. Ditahqiq oleh Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Al-Hulw. Jilid 4. Kairo: Hajr, 1992.

Kitab fikih Hanbali ensiklopedis ini membahas syarat, rukun, dan hukum iktikaf secara lengkap dengan perbandingan mazhab.

\n\n


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Berlisensi Neuro Linguistic Programming (NLP)

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta